
Ada sebuah pesan yang membalas Diego
"Maaf Diego, aku tidak diperbolehkan keluar dengan pacarku. Kau tidak marah kan?" balas Jessie
"Hemm kenapa dia tidak bilang dari tadi," gerutu Diego dalam hati tetapi berbeda tanggapannya di ponsel. Pria itu bahkan memberikan emoticon senyum dan menuliskan pesan.
"Tidak apa-apa Jessie, terimakasih ☺️," balas Diego pada pesannya
"Kritis?" Gumam Moza
Moza lalu menjalankan kursi rodanya sendiri dengan menggerakkan besi roda ke depan. Diego memasukkan kembali ponselnya, memanggil Moza, "Moza tunggu,"
"Biar aku yang menjalankan, memangnya penglihatan mu sudah membaik? Kalau menabrak gimana?"
Moza tidak menjawab dia ingin segera sampai. Tetapi sebelum mereka tiba, sang dokter keluar.
"Dokter," seru Diego menghentikan langkah Dokter yang sudah ingin meninggalkan ruangan operasi.
Sang Dokter pun menoleh dan berjalan mendekati Diego. Jika dilihat dari guratan wajahnya, dia ingin menyampaikan sesuatu yang buruk
"Bagaimana keadaan pasien?" Tanya Diego setelah mendekat
Sang Dokter menggelengkan kepala, "Maaf....Kami sudah melakukan hal yang terbaik. Namun takdir berkata lain, pasien telah meninggal dunia,"
Dokter itu pun sedikit menunduk penuh penyesalan dan rasa permintaan maaf yang dalam. Moza terpaku, rasanya tidak percaya Virus meninggalkannya secepat itu.
"Tidak...Ini tidak benar kan Dok? Katakan itu tidak benar kan Dok?" Pekik Moza dengan nada tinggi kemudian bergetar karena menangis.
Rachel ikut sedih, dia pun memeluk Moza menenangkan anaknya. Sementara Diego menutupi mukanya dengan rasa tak percaya. Dia sedih karena Virus baik padanya, sementara Diego merasa belum berbuat kebaikan untuknya.
"Maafkan Saya. Namun Saya dan para suster sudah melakukan hal yang terbaik. Kami sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di rongga jantungnya. Namun pasien sudah kekurangan darah dan tidak bisa menerima darah yang kami berikan,"
"Peluru? Maaf tapi keluarga kami mengalami luka tusuk, bukan luka tembak," jelas Diego
"Hah?"Sang Dokter sedikit bingung. Sebenarnya sang Dokter salah menyampaikan kabar atau Diegolah yang salah bertanya.
"Maaf Dok sepertinya ada kekeliruan. Kalau boleh tahu, siapa nama pasien yang meninggal itu?" Tanya Chris
"Namanya Firus,"
"Virus? V-I-R-U-S ?" Eja Diego
"Not V but F," jelas sang Dokter "Dia wanita nama sebenarnya zafirus tetapi karena keluarganya memanggilnya Firus, maka kami juga menyebut panggilannya agar sama," timpal dokter lagi.
"Lalu dimana Virus, suami saya?" Tanya Moza
"Saya tidak tahu, kau bisa menanyakannya dengan perawat atau suster disana," ucap Dokter
"Maaf saya harus permisi, ada pemeriksaan yang lain lagi," dokter pun pergi meninggalkan keluarga Moza dengan penuh pertanyaan.
"Astaga, aku berpikir jika itu Virus. Semoga Tuhan menyelamatkannya. Si tua bangka itu pasti telah membawa Virus ke tempat lain,"
"Bisa jadi, itu berarti operasi Virus sudah lancar," ucap Chris
"Lalu kenapa perawat tadi berkata jika pasien dipindahkan operasinya," Tanya Rachel
"Sudah pasti itu kerjaan Gordon, dia pasti ingin memisahkan Virus dengan Moza. Lihat saja nanti, jika benar dia ingin menjauhkan Moza dengan Virus maka aku tidak akan segan meninjunya lagi," ujar Diego
Segera saja Diego menanyakan pada perawat disana soal keberadaan Virus. Namun perawat itu seperti bungkam bahkan hampir semuanya berkata tidak tahu.
Kesabaran Diego ada batasnya, dia merasa dipermainkan di rumah sakit itu. Diambilnya kursi dan ingin melemparkannya ke meja administrasi. Tapi sayangnya itu hanya dipikirannya saja. Dia memikirkan anak yang dikandung Valeria, jika Diego marah seperti itu sudah pasti dia akan di penjara dan itu akan memperkeruh keadaan.
"Kita pulang saja, tidak mungkin kan kita membuka kamar pasien satu persatu," ujar Diego
"Lalu bagaimana dengan Virus, bagaimana operasinya, keadaanya? Aku tidak bisa pergi dengan ketidakpastian seperti ini,"
"Moza, perkataan Diego ada benarnya. Sepertinya Gordon telah membayar orang-orang di rumah sakit ini untuk tetap diam. Mereka semua makan uang suap, lihat saja nanti mereka akan mati dengan perut besar membengkak karena makan hasil suap," seru Rachel sengaja membesarkan suaranya agar petugas dan perawat disana mendengarnya.
Terlihat sekali mereka saling berbicara satu sama lain. Lalu kemana James, kenapa dia diam saja? Rupanya James telah pulang setelah mengantar Virus.
Diego mendekat dan berbisik ke telinga Moza, "Dengar Moza. Kau dan kita semua mengkhawatirkan Virus, sementara aku, Ibu dan Chris mengkhawatirkan dirimu juga. Aku akan mencari tahu tentang Virus. Tapi tidak sekarang, ini sudah larut dan kita semua sangat lelah," ucap Diego dengan lembut dan membelai pipi Moza.
"Tapi....,"
Diego menutup bibir Moza dengan satu jarinya, "Untuk hari ini saja, menurut lah," pinta Diego
"Baiklah, tapi janji begitu kau tahu tentang keadaan Virus atau dimana Virus, kau harus memberitahukan ku,"
"Aku janji,"
.
.
"Hahaha, mudah sekali membuatnya pergi," Gordon tertawa keras setelah mendapat kabar dari anak buahnya.
"Bos, Tuan Virus sudah bisa dipindahkan ke rumah sakit lain. Dokter mengatakan kondisi Virus sudah membaik," ucap salah satu anak buah Gordon.
"Hemm baguslah. Dan sebaiknya kau lenyapkan mereka sekarang," perintah Gordon
"Mo...za...," Virus mengucap nama Moza dalam tidurnya.
"Cih kenapa dia memanggil nama Moza. Apakah kau tidak tahu? Aku yang membawa dokter-dokter untukmu, untuk kau sembuh," batin Gordon sedikit kesal.
"Tunggu apa lagi, keluar dan lenyapkan keluarga Federic,"
"Baik Bos,"
Gordon bersiap pulang ke Los Angeles, petugas medis sedang mempersiapkan keadaan Virus, untuk dibawa serta ke kota Los Angeles
"Sudah siap Bos, tinggal mengangkut brangkar Tuan Virus beserta peralatan medisnya kedalam pesawat,"
"Bagus, ayo," seru Gordon
Akhirnya mereka pun bersiap, semuanya selesai dimasukkan ke dalam pesawat dan siap lepas landas.
"Semua barang ku di apartemen?"
"Sudah semua Tuan,"
"I-itu...maaf bos masih tertinggal,"
"Stupid, hah...Kita ke apartemen dulu, biar aku saja yang mengambil. Dasar tidak becus,"
Tak butuh waktu lama untuk sampai Apartemen, karena Gordon menaiki pesawat pribadi yang siap terbang kemana saja.
Terlihat ruangan itu sepi, sama seperti yang dulu. Tak ada yang berbeda. Paquina duduk di meja ruang tengah dengan menangis. Dia menangisi kepergian Sam. Tak ada orang yang begitu mencintainya, memujanya selain Sam.
Gordon memasuki apartemennya dan mendapati Paquina duduk bersedih, merenungi nasibnya.
"Huh, kau menangisi kematian pacarmu itu? Dasar wanita laknat," ujar Gordon berhenti sejenak dihadapannya kemudian melangkah menuju kamar.
Pria itu mengambil hal teristimewa baginya. Kemudian pergi dan melewati Paquina lagi tanpa berkata apapun
"Kau mengatai ku wanita laknat, bagaimana denganmu yang tidak pernah memperlakukan ku sebagai seorang istri," ucap Paquina tanpa menatap Gordon.
"Aku kan sudah bilang saat sebelum pernikahan. Aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah mencintaimu. Tapi kau tetap menikahi ku, itu pilihanmu bukan pilihanku. Aku hanya mementingkan keuntungan masa depanku,"
Paquina menyesap kembali minuman alkohol di atas meja, ia meneguknya sampai habis dalam gelas sedang.
"Ahh, anggur ini sepertimu. Memabukkan membuatku tak berdaya dihadapan mu. Andaikan cintamu seperti Sam, hahaa....," Paquina bangkit berdiri memeluk Gordon dari belakang.
Tak berapa lama sang asisten masuk
"Maaf tuan saya tidak tahu," ucapnya saat melihat Paquina memeluk Gordon.
"Ada apa? Katakan saja," pinta Gordon melepaskan pelukan Paquina
"Keluarga Federic sudah siap di lenyapkan. Mereka bertanya apakah istri Diego juga termasuk? Karena wanita itu tidak berada di mobil, dia ditempat lain,"
"Dia sudah menikah dengan Diego itu artinya dia sudah menjadi bagian dari keluarga Federic. Lenyapkan juga,"
"Termasuk Virus?"
"Kau ini, bodoh,"
"Haha dia benar sayang, kau bilang semua keluarga Federic. Virus juga sudah menikah dengan salah satu keluarga mereka. Dan aku kasihan dengan keluarga Federic," ucap Paquina
"Kasihan apa maksudmu?"
"Federic tak melakukan apapun padamu. Dia bahkan sangat baik padamu. Sam lah yang menyamar menjadi Federic dan melaporkan perbuatan mu. Membuat mu mendekam dipenjara lalu kau datang meminta bantuan padaku. Sehingga rencana ku untuk menikah dengan mu berjalan lancar. Oh iya...Sam juga yang membawa Ratih pulang ke Indonesia, dan selama ini dia tahu dimana Ratih tinggal," ucap Paquina tanpa sadar karena pengaruh alkohol yang memabukkannya.
"Apa! Kau....jadi selama ini kau dan Sam bekerja sama hah?"
Plaaaak
Gordon menampar Paquina keras hingga dirinya terhempas kelantai. Paquina malah tertawa dia sudah pasrah dengan perlakuan Gordon.
"Terus tampar aku sayang, ah aku semakin mencintaimu,"
"Jadi bagaimana bos? Kita batalkan misi ini atau tetap melenyapkannya?"
"Aku sudah salah paham pada orang yang salah dan kau masih mempertanyakannya? Batalkan misi itu! Sekarang!!"
"Segera laksanakan bos," asisten kemudian menelepon anak buahnya yang berada di lokasi.
Namun tak ada satupun yang mengangkat teleponnya
.
.
.
Mobil Diego masih dalam perjalanan menuju apartemennya. Ia melewati jembatan jalan tol. Tak berapa lama seseorang dengan truk besarnya berjalan dari sisi kiri. Dia terus mendekati mobil Diego, terpaksa Diego membanting stir ke kanan dengan pelan.
Semakin lama Truk itu semakin mendekati sisi mobilnya hingga Diego tak memiliki ruang berjalan, dia sedikit menabrak tepi jalan.
Diego membuka kaca mobilnya dan berteriak marah. Dia pun jadi tidak fokusnya menyetir padahal didepannya sedang ada galian jalan.
"Diego awas di depan mu!" Pekik Chris memberitahu.
Diego tak bisa berpikir, dia juga tidak dapat mengerem karena mobilnya sedang melaju kencang. Apalagi membanting setir ke kanan, bisa-bisa mereka menabrak pagar pembatas dan terjun ke jembatan.
Akhirnya Diego memilih menambah kecepatan dan sebisa mungkin dia harus menyalip si truk. Segera saja Diego menginjak pedal gas. Mobilnya melaju kencang dan sudah menyalip si Truk namun si truk ini malah berjalan perlahan. Rupanya didepan ada tikungan tajam. Diego tak bisa lagi mengelak meski sudah menginjak rem berkali-kali. Mobilnya akhirnya menabrak pagar pembatas dan tergelincir kemudian oleng.
Ciiiit Braammmm Jeduar
"Apa yang terjadi kak?" Tanya Moza saat mobilnya menabrak dan beberapa kali berputar hingga akhirnya oleng terbalik.
Diego tak menjawab dia lebih syok.
"Arghh," Rachel menutup matanya dia teringat kejadian lalu saat dirinya kecelakaan mobil dan menyebabkan kakinya sedikit pincang. Kini kejadian itu harus terulang lagi.
Mobil terbalik kesamping kanan beserta orang yang didalamnya.
Moza menutup matanya saat mobil mereka terbalik. Dalam batinnya semoga keluarganya baik-baik saja dan dia masih bisa bertemu dengan malaikat sejatinya.
Wajah cantik Moza penuh darah segar terkena pecahan kaca. Kepalanya yang belum sembuh benar kini merasakan denyut berlebihan. Ia kesakitan tapi percuma saja mengeluh, malah akan semakin memperkeruh suasana.
Terdengar sayup-sayup suara melenguh kesakitan kemudian memanggil namanya. Rachel yang memanggil Moza, dia masih sadar namun ia terjebak didalam. Sementara Chris dan Diego yang duduk di kursi depan, tak ada suara.
Moza membuka matanya perlahan karena mendengar seseorang memanggilnya dengan lemah. Sebuah cahaya masuk kedalam matanya.
Moza dapat melihat kembali, namun dia tak dapat bergerak. Badannya terjepit jok kursi depan yang lepas dari kaitnya. Wajahnya menyentuh aspal dengan puing-puing kaca dibawah pipinya.
Terakhir kalinya sebelum pingsan kembali, ia melihat beberapa orang berlarian menuju mobil mereka. Kecelakaan sudah terjadi.
.
.
"Arghh bodoh! Anak buah ku tak ada yang bisa diandalkan," Gordon memukul meja kaca dengan keras hingga pecah dan puing-puing kacanya berserakan di lantai.
Tangannya yang masih menggenggam, memerah tak sampai berdarah. Gordon melakukan kesalahan besar. Pria tua itu tak jadi meninggalkan Texas. Ia memilih memperbaiki hubungan yang sekian lama retak.