
"Valeria ada apa? Apa yang terjadi? Diego apa yang terjadi," Tanya Moza pada keduanya, dia sungguh tidak tahu apa yang terjadi disana.
"Moza, kau sudah sadar...aku senang melihatmu,"
Diego mendekati Moza tanpa menjawab pertanyaannya. Dia ingin mengalihkan perhatian.
"Tidak ada apa-apa Moza. Sebentar ada yang harus ku selesaikan," jawab Valeria.
Valeria berjalan ke depan mendekati Diego, sementara Diego sedikit menunduk tapi pandangannya masih melihat Valeria. Dia sudah ketakutan jika Valeria marah padanya. Namun apa yang dipikirkan ternyata salah. Valeria menarik Diego lalu menciumnya.
"Aku tidak ingin bibirmu di hinggapi bakteri yang sulit dihilangkan. Jadi biarkan aku memakannya sampai habis," ucap Valeria melepaskan kecupannya kemudian mencumbu bibir suaminya lagi.
"Jangan makan bakteri itu sendirian, bibirmu terlalu indah untuk dihinggapi bakteri," ujar Diego yang tak mau kalah, dia pun mencumbu bibir istrinya lagi.
Diego tersenyum dalam hatinya, dia senang ternyata tanggapan istrinya diluar perkiraan. Dia menarik pinggang Valeria hingga tubuhnya melekat ke pelukannya.
Sementara Kate mencibir melihat kemesraan yang terjadi didepan matanya.
"Dengar Valeria, suamimu ini selingkuh denganku," sela Kate dengan menuduh yang bukan-bukan.
"Hemm sayang apa kau seperti mendengar ada yang berbicara? Tapi wujudnya tidak terlihat, atau jangan-jangan yang berbicara barusan adalah Valak?" Mendengar ucapan istrinya itu Diego tertawa kecil kemudian Valeria ikut tertawa.
"Sialan, dia mengatai ku Valak! Dia tidak terpancing dengan ucapan ku," Kate mengepalkan tangannya.
"Hemm sebaiknya kita cepat ke dalam dan melihat kondisi Virus," ucap Valeria mengacuhkan Kate.
Diego mengamati Moza, di satu sisi dia senang karena adiknya telah melewati masa koma. Disisi lain Diego bertanya dalam hatinya, "Kenapa Moza tadi bertanya apa yang terjadi memangnya dia tidak melihat apa yang terjadi barusan? Kenapa pandangan Moza tidak terarah?"
"Ah iya ayo kita kedalam," Ajak Diego kemudian ia mengambil alih mendorong kursi roda Moza. Valeria berjalan disampingnya sembari menggandeng lengan Diego dan meninggalkan Kate.
"Hey dengar ya Valeria, kau jangan percaya dengan Diego. Dia bad boy, Dia tidak akan bertahan dengan satu wanita! Kau itu hanya boneka baginya. Lihat saja tidak lama lagi, dia akan meninggalkan mu," teriak Kate saat mereka sudah berjalan jauh.
Diego geram dengan ucapan Kate, yang bersikukuh ingin memisahkannya dengan Valeria. Pria itu ingin berbalik dan membuat perhitungan, tetapi Valeria menahannya.
"Ini urusan wanita," ucapnya kemudian datang menghampiri Kate
"Terimakasih sudah memberiku nasihat. Tetapi sayangnya boneka Diego itu kau, bukan aku. Yang ditinggalkan itu kau, not me. So, jika kau tidak dapat menutup mulutmu. Biarkan aku yang menutup,"
Plaaaak Plaaaak
Sebuah tamparan keras mendarat di kedua pipi Kate.
"Aku tidak peduli dengan masa lalu Diego dan jangan pernah berbicara buruk tentang suamiku!" ucap Valeria dengan marah. Kemarahannya yang sempat tertahan, saat melihat Kate menggoda suaminya itu pun diluapkan dengan sebuah tamparan.
Valeria pergi menyusul Diego dan Moza setelah menampar Kate.
.
.
.
Ting Tong
Andi terbangun mendengar bunyi bel rumahnya. Matanya masih terpejam dan enggan bangun. Namun bel pintu rumahnya kembali terdengar.
"Hmm siapa sih, ganggu aja! Gak tau apa lagi asik tidur siang?" sewotnya
Akhirnya Andi pun bangun juga meski dalam keadaan malas dan mata sesekali terpejam.
Ceklek
Pintu sudah terbuka namun Andi belum sadar orang yang ada dihadapannya adalah Indi. Ketika Andi membuka matanya perlahan, pria itu terkejut. Ia pun menggosok matanya agar pandangannya yang sedikit kabur menjadi jelas.
"Indi? Ah aku pasti mimpi. Bukannya dia lagi kerja ya?" Batin Andi
"Assalamu'alaikum mas?" Sapa Indi yang sangat santun, mendengar suaranya membuat hati Andi berdegup kencang padahal sebelumnya dia merasakan ada yang kurang terhadap perasaannya kepada Indi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Andi
"Kok aku deg-degan ya? Ah ini mimpi kan? Aku sering banget mimpi seperti nyata, lebih baik ku buktikan saja," gumam Andi yang belum sepenuhnya sadar karena masih sedikit mengantuk. Dia pun melangkah maju semakin mendekati Indi
"Kenapa mas?" Tanya Indi yang merasa aneh dengan sikap Andi, pria itu mendekatinya dan menyentuh tengkuknya kemudian ..
Cup
Andi mencium bibir Indi secara tiba-tiba, karena dia mengira itu adalah mimpi.
"Kok seperti asli ya, astaga ini beneran atau mimpi sih?" batin Andi tetapi dia terus mengecup bibir Indiana yang sangat lembut dan terasa manis.
Sementara Indiana tidak menolak saat dia di kecup tetapi ketika tangan nakal Andi menyentuh miliknya yang sensitif dengan spontan Indi mendorongnya untuk menghentikan perbuatan Andi yang sedikit nakal, ia pun berteriak dengan nada yang masih halus, "Mas!"
Deg deg deg
"Astaga ini nyata," ucap Andi terbangun sepenuhnya dari kantuk.
"Iya aku nyata mas! Memangnya aku setan? Mas jangan seenaknya pegang-pegang ya, meskipun kita dijodohkan tetapi kita belum halal," ujar Indi sedikit marah
"Astaghfirullahaladzim.... Astaghfirullahaladzim....Maaf Yank...aku kira aku mimpi...kan aku tadi tidur, trus tiba-tiba kamu datang padahal kamu lagi kerja kan?" jelas Andi, Indi masih menekukkan wajahnya.
"Maaf ya sumpah yank aku mengira tadi mimpi, jangan marah dong...Suer tekewer kewer aku janji gak akan ulangi hal tadi," timpalnya lagi dengan melingkarkan jari telunjuk dan tengah membentuk simbol sumpah. Tetapi Indi malah tertawa mendengarnya.
"Haha... Yaudah Indi percaya mas ngelakuin itu karena tidak sengaja," ucap Indi.
Indi terdiam sedikit malu ketika membayangkan dia dan Andi berciuman. Jujur saja itu pertama kalinya Andi mengecup bibirnya dan seketika pipinya merona merah.
"Makasih ya," Andi tersenyum memandangi wajah Indi yang sangat cantik ketika sedang malu.
Dan tiba-tiba keduanya saling pandang, hening tak ada percakapan lagi karena keduanya merasa malu.
"Sial, burungku tegang! Kenapa sih harus berdiri di saat seperti ini. Aku belum pernah menemui wanita yang wajahnya memerah saat dia merasa malu, cantik!" batin Andi sembari menutupi miliknya yang berdiri tegak dengan kaosnya.
"Hmm masuk yuk," ajak Andi memulai pembicaraan yang sempat hening.
"Oh ya sampai lupa, Indi mampir sebentar ada yang ingin di bicarakan," ucap Indi
"Kalau lagi kerja, kan bisa lewat telepon,"
"Karena ini sangat penting, hmm kita bicarakan didalam ya Mas?"
"Duh perasaanku kok gak enak ya?" batin Andi
"Oke, yuk masuk,"
Indi duduk sembari melihat sekeliling yang terasa sepi.
"Ibu kemana? Kok rumah sepi?" Tanya Indi setelah mendaratkan bokongnya di sofa.
"Tadi sih ibu bilang, mau pesan gedung untuk acara pernikahan nanti. Memangnya Indi mau bicara apa?"
"Hmm hehe gimana ya mulainya...jadi...Indi baru saja menerima kenaikan jabatan...,"
"Wah itu bagus dong, itu berarti kerja kamu bagus! Selamat ya sayang," potong Andi tetapi terlihat dari raut wajah Indi sedikit tidak senang.
"Kenapa?" Tanya Andi lagi
"Terimakasih Mas, tetapi dengan adanya jabatan baru yang Indi emban maka Indi harus bersedia di deportasi dan itu jauh dari Jakarta. Indi harus pindah ke Papua,"
"Lalu apa masalahnya?"
"Mas, sebentar lagi kita menikah dan Mas akan jadi kepala keluarga. Indi harus ikut kemana mas pergi, jadi kalau Indi ke Papua, bagaimana dengan Mas Andi?"
"Haha ya gak masalah sayang, aku nanti yang akan ikut kamu. Soal kuliahku yang belum selesai, nanti aku bisa bolak-balik Jakarta ke Papua toh tinggal skripsi lagi, kerjaanku juga tidak mengharuskan datang ke kantor kan?"
Mendengar jawaban Andi, Indi senang luar biasa. Ternyata calon suaminya itu penuh pengertian. Saking bahagianya Wanita itu spontan memeluk Andi yang duduk disebelah.
"Eh Mas... maaf," ucap Indi melepaskan pelukannya dan menatapnya malu-malu.
Andi tidak pernah menatap Indi sedekat itu dan tiba-tiba ada sesuatu yang menyuruhnya untuk tidak memalingkan wajah, bahkan Andi semakin mendekatkan wajahnya ke hadapan Indi, menyentuh rahangnya dan mengusap pipinya dengan ibu jarinya. Andi semakin dekat, dia bisa merasakan aroma napas Indi yang wangi pepsodent.
Indiana menangkap maksud Andi, pria itu ingin mengecup bibirnya lagi. Indi tidak munafik, dia juga menginginkannya. Debaran jantungnya berlomba-lomba menabuh hingga getarannya terdengar sampai luar.
"Andi, jangan! Dia terlalu suci, jangan ada dosa diantara kalian. Tunggu saatnya tiba, sebentar lagi. Dasar gak sabaran banget sih," batin Andi kemudian menghentikan keinginannya sesaat.
Ia memundurkan wajahnya tak jadi mencium Indi. Kemudian membelai rambut kekasihnya.
"Maaf, aku hampir saja tidak bisa mengontrol diri," ucap Andi tersenyum lalu ia menggenggam kedua tangan Indi dan mengecup punggung tangannya.
"Aku hampir berpikir jika aku tidak bisa mencintaimu. Tapi baru saja kau meruntuhkan iman ku. Indi aku mencintaimu. Jangan pernah selingkuh ya, atau aku akan mati, " ujar Andi yang penuh kelebaian
"Astaghfirullah, aku juga hampir tergoda mas," batin Indiana.
"Hehe... mas lucu, Aku juga mencintaimu Mas Andi. Aku tidak akan selingkuh karena orang seperti kamu itu limited edition dan lagi aku sudah yakin dengan pilihanku," jawab Indiana dengan suara lembut, pelan dan terdengar sangat tulus. Keduanya pun tertawa kecil bersama.
Andi tak ingin membandingkan Indi dengan Emi mantan kekasihnya, tetapi perlakuan kedunya sangatlah berbeda. Andi tidak pernah menemukan kelembutan dari seorang Emi, dia malah menemuinya dari sosok Indi. Padahal Indiana adalah polwan yang terkenal sangat tegas dan bijak. Tetapi wanita itu bisa menunjukkan sisi lembutnya kepada Andi.