My Name Is Virus

My Name Is Virus
Lantai Berdarah



"Sayang perasaanku kenapa jadi tidak enak ya?" Tanya Diego pada Valeria setelah mereka selesai bercinta.


"Memangnya apa yang kau rasakan? Apa yang ada dalam pikiranmu?"


"Entahlah, aku tak memikirkan apapun. Tapi rasanya hatiku tidak tenang,"


Praaaang


"Astaga, maaf Chris apakah pecahan kaca itu mengenai kakimu?" Rachel menjatuhkan gelasnya saat akan menaruhnya di meja dan terjatuh tepat di kaki Chris.


Wanita paruh baya itu segera memungut pecahan gelas.


"Tidak, Rachel tenanglah," ucap Chris santai seraya ikut memungut pecahan kaca sambil duduk. Pria itu duduk di sofa, tidak di dikursi rodanya agar lebih nyaman bersantai.


Rachel mengelus dadanya, perasaanya menjadi tidak tenang. Tapi dia tidak tahu apa yang membuatnya tidak tenang. Seperti halnya dengan Diego.


Diego dan Valeria keluar dari ruang kerja untuk melihat apa yang pecah. Tentu saja mereka keluar dengan pakaian yang komplit.


"Ada apa Bu?" Tanya Valeria seraya mendekati keduanya yang sedang menonton televisi.


"Maaf Vale, aku menjatuhkan gelas dan membuat lantai ini penuh dengan pecahan kaca," jelas Rachel.


"Ibu duduk saja, biar aku yang membersihkannya," pinta Valeria merasa tidak enak jika yang tua bekerja.


"Hah ini salahku kenapa jadi kau yang mengurusnya,"


"Sudahlah Bu, aku kan anakmu juga. Sebentar aku ambilkan sapu," Valeria lalu mengambil sapu dan tempat penadahnya.


"Hemm baiklah," Rachel pun duduk dan menaruh pecahan kaca yang bisa terambil olehnya di atas meja.


Tak berapa lama Valeria datang dan membersihkannya dengan cepat.


"Diego coba kau hubungi Virus, dan tanyakan kabar Moza. Aku mempunyai firasat buruk," seru Rachel


"Aku juga mempunyai firasat tak enak, tapi aku tidak tahu apa itu. Oke aku akan coba menghubungi Virus,"


Diego mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang kerja, kemudian kembali lagi sembari mencari nama Virus di buku telepon ponselnya lalu menekan tombol hijau dengan gambar telepon.


Tut...Tut...Tut...


"Ponselnya tidak aktif,"


"Hah kalau begitu kau pergilah kerumahnya. Aku sungguh tidak tenang," pinta Rachel seraya mengusap dadanya.


"Aku ikut, aku juga ingin menjenguk Moza," ucap Valeria


"Kalau begitu Aku mandi dulu," sahut Diego


"Terlalu lama, sudah tidak usah mandi. Lagipula sudah malam untuk apa mandi,"


"Haha aku berkeringat Bu, kami habis bercinta dan itu membuatku tubuhku lengket," ucapan Diego membuat Valeria menginjak kaki suaminya. Dia sangat malu karena Diego mengatakannya dengan jelas.


"Arghh Diego bisakah kau mengontrol ucapanmu?" ucap Rachel dan membuat Chris menggelengkan kepalanya.


"Haha Rachel dia sangat polos," ucap Chris.


"Bukan polos tapi memalukan,"


.


.


.


"Ahh dompetku tertinggal di rumah Tuan Virus," gumamnya


Pria itu pun membuka tasnya dan membayar belanjaannya dengan uang yang berasal dari amplop yang diberikan oleh Virus.


"Untung saja ada uang tunai, tapi aku harus kembali kerumah tuan Virus karena isi dompet itu penting," batin James.


Setelah melakukan pembayaran, ia pun pergi dari supermarket dan berbalik arah. Dia kembali ke rumah Virus.


.


.


.


"Tidak! Jangan sakiti Moza ku," Gumam Virus seraya berusaha bangkit berdiri menahan sakit akibat luka tusuk di perut.


Karena luka di perut yang dialaminya cukup parah sehingga ada darah yang keluar dari dalam mulutnya. Tubuhnya terus mengucur darah segar, tetapi Virus mencoba bertahan untuk menyelamatkan Istrinya.


Virus berjalan sempoyongan mendekati pria yang sudah mengangkat pisaunya tinggi. Pria bertopeng itu ingin menikam Moza yang sedang terbaring koma.


Braaak


Kursi besi menghantam keras di kepala sang penikam. Virus memukulnya hingga pria penikam itu ambruk dan tak bisa bangkit karena kepalanya pening.


Tak sampai disitu, Virus mengerahkan segala kekuatan yang masih tersisa meski dengan kondisi perut yang sudah sobek. Kemudian memukul tubuh si penikam tanpa henti dan tidak memberikannya jeda sedikitpun untuk bangkit.


Si penikam meringkuk dengan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Pisau kecil yang ia gunakan tadi pun terjatuh ke lantai. Kini si penikam tak memiliki senjata apapun. Ia hanya berharap ada celah saat Virus lengah. Si penikam berpura-pura lemah dan pingsan.


Virus ingin menghajar pria itu lagi, tetapi kekuatannya mulai menipis. Darah yang keluar amat banyak, membuat dirinya sedikit pening karena oksigen yang ada di kepala mulai menipis. Ia pun membuang kursi besi dan bersandar pada pegangan ranjang seraya memegang perutnya yang terasa sakit.


Selimut putih yang menyelimuti Moza bernoda merah darah. Si penikam tersenyum kemudian ia menunggu sedikit lagi agar Virus mendekat.


Benar saja dugaannya, Virus mendekat ingin menghajar lagi. Namun si penikam segera bergerak menjegal kaki Virus yang sudah tak kuat menapak. Virus pun terjatuh tetapi keberuntungan berpihak padanya. Pisau milik si penikam yang terjatuh tadi tepat berada di samping Virus.


Tak butuh waktu lama Virus meraih pisau itu dan menabrakkan dirinya ke atas tubuh si penikam. Virus tidak menikam dibagian dada atau perut namun ia langsung menusuk leher pria itu kemudian merobeknya hingga darahnya muncrat mengucur keatas bak air pancuran. Pria penikam itu tak bergerak, ia tewas setelah tubuhnya sedikit mengejang.


Virus membuka topeng si penikam dan ternyata pria itu adalah Sam. Virus terkejut, tak ada dipikirannya untuk membunuh Sam. Karena pria itu adalah adik dari Gordon, meski Gordon ingin sekali melenyapkannya tetapi Virus lebih memilih memberi pelajaran lain selain merenggut nyawanya. Namun takdir berkata lain. Sam yang memulai, maka dia sendirilah yang harus menanggungnya.


Merasa tak kuat lagi karena wajahnya telah memucat Virus beranjak dari lantai untuk menemui Moza. Karena sudah tak kuat berdiri Virus pun merangkak hingga saat berada di pinggir ranjang pria itu hanya mampu meraih tangan Moza. Genggaman terakhir sebelum Virus berakhir.


Tangan Virus mulai melemas hingga ia melepaskan genggaman dengan sendirinya. Tangan Moza yang tergenggam ikut terjatuh di tepi ranjang. Namun terlihat jari- jemarinya mulai bergerak pertanda Moza mulai mengakhiri masa komanya. Itu artinya dia kan kembali pulih.


Lalu siapa yang akan menyelamatkan Virus, sementara darah pria itu terus keluar dari tubuhnya. Virus tergeletak dilantai bersama dengan Sam yang sudah terbunuh lebih dahulu.


Ting Tong


James kembali dengan mobil ambulansnya. Setelah menekan bel ia menunggu si pemilik rumah keluar. Sembari melihat sekeliling rumah.


"Eh itu kenapa garasinya terbuka? Bukannya aku sudah menutupnya?" Batin James


Ia pun mengintip garasi yang terbuka sedikit lebar, masih ada mobil dan bus mewah miliknya terparkir didalam. Lalu kenapa terbuka?


James mungkin tidak sopan jika harus masuk kembali tapi dia tidak bisa menunggu terlalu lama. Akhirnya ia pun masuk dan kembali ke kamar Moza untuk mengambil dompetnya


"Permisi tuan, Maaf saya masuk ya. Dompet saya tertinggal,"


Tapi saat ia menuju ke kamar dari kejauhan sudah terlihat bercak darah tepat di lantai depan kamar. James berlari kecil dan melihat hal tragis yang membuat mulutnya menganga.