My Name Is Virus

My Name Is Virus
Problem



Pelelangan dimulai, membuat pembicaraan mereka terhenti dan fokus pada barang yang menjadi bahan lelang. Sang moderator membuka kain yang menutupi barang pertama untuk di lelang.


Barang lelang yang bernilai rendah mereka keluarkan lebih dahulu. Sementara Virus mencoba mengobrol dengan pria misterius namun dia selalu saja menghindari pembicaraan dan terus menyuruh Virus untuk diam.


Beberapa jam kemudian, saat yang mereka nantikan tiba. Para tamu sempat bosan karena mereka hanya mengincar barang yang bernilai tinggi.


Nampak sebuah tabung kecil berisi zat formula terpampang di dalam kotak kaca. Formula yang selama ini menjadi bahan rebutan mulai diperkenalkan. Seseorang yang pernah menjadi bahan percobaan zat tersebut dipersilahkan naik ke atas panggung. Dia seorang pria berjidat lebar dan mereka semua mengenalnya.


"Cezo," batin Virus


"Sudah ku duga," gumam Wasabi


Dari atas panggung Cezo dapat melihat jelas Valeria yang duduk disamping Diego. Valeria membalas tatapan Cezo dengan rasa takut.


"Diego, aku mau ke toilet sebentar," ucap Valeria dengan berbisik yang sebenarnya ingin menghindari Cezo


"Kau tak boleh kemanapun, tahanlah sebentar," bisik Diego tetapi wanita itu sudah pergi.


"Valeria mau kemana dia, Virus kau ikuti Valeria," titah Wasabi melalui earphone yang juga terpasang di telinga Virus.


Valeria ke toilet dengan tergesa-gesa, sementara Virus membuntutinya dengan langkah besar. Mereka sampai pada lorong menuju toilet, Virus menangkap lengannya menghentikan langkah Valeria.


"Virus aku mau ke toilet," ucap Valeria


"Kau bisa menahannya kan, kembali ke tempat mu?"


"Astaga kau tidak percaya padaku? Kalau aku tak bisa menahannya bisa-bisa aku terkencing dicelanaku," ujar Valeria


"Aku percaya padamu, ucap Virus menatap mata Valeria dengan lekat, pria itu malah mendekat.


"Kau mau apa?" Tanya Valeria karena Virus seperti ingin menciumnya.


Virus tak menjawab, matanya kini beralih memandangi telinganya, bukan bukan telinganya yang dilihat melainkan sesuatu berbentuk bulat dan hitam di tengahnya seperti mata kamera tetapi bukan milik Andi.


Virus mengambil paksa anting yang ditindik dan ternyata itu adalah sebuah kamera. Valeria merintih kesakitan seraya memegangi telinganya.


"Kau? Memata-matai kami?" Terka Virus dengan tatapan tajamnya kali ini raut wajah Virus berubah.


"Tidak, aku tidak memata-matai kalian. Itu hanya model antingnya saja," Valeria memucat dan peluh di dahinya mulai menetes.


"Kau pikir aku bodoh?" Ucap Virus yang tersenyum miring.


Valeria menatap Virus dengan rasa takut lalu bola matanya bergerak seperti melihat sesuatu di belakang Virus. Pria itu melirik belakangnya seraya berbalik dengan tangan yang bersiap menyikut.


Creeekk


Sikut Virus tepat mengenai batang hidung seseorang yang memakai jas serta membawa pistol ditangannya. Pria itu menunduk mengerang kesakitan. Virus mencengkeram kerah pria itu dan membuatnya berdiri. Kemudian ditinjunya pria itu dengan sekali pukulan. Pria itu tewas seketika.


Klek


Terdengar suara pistol dari arah belakang, rupanya Valeria mengokang pistol menggesernya kebelakang. Sehingga peluru masuk ke ruang peluru dan siap ditembakkan.


Virus tak berbalik ia tahu jika Valeria menodongkannya sebuah pistol


"Kau ingin membunuhku? Hah?" Tanya Virus


"Aku tak punya pilihan! Letakkan kedua tanganmu kebelakang, sekarang," titah Valeria.


Virus melakukan perintah wanita itu, pria itu bukan tak bisa mengambil alih pistolnya hanya saja dia tak akan tega jika harus berhadapan dengan wanita. Valeria ingin memasang borgol pada kedua tangan Virus namun dari arah samping, Moza datang dengan bergelayutan pada tali dan langsung menendang tangan Valeria serta tubuhnya hingga tubuhnya jatuh pistolnya pun ikut terpental.


"Akhh," ucap Valeria yang terbaring miring seraya mengusap pergelangan tangannya yang terkena tendangan.


Moza turun dari tali yang ia pegang dan menembak lantai tepat berada di samping Valeria. Valeria menjerit ketakutan. Ia sengaja menakuti wanita itu.


Dor


Untung saja pistol itu kedap suara. Virus menatap Moza penuh kekaguman ia tak menyangka Moza melakukannya seperti Angelina Jolie yang sukses berperan di film Tomb Rider atau Mr and Mrs Smith, artis idolanya.


Virus kemudian meraih borgol yang terjatuh dilantai kemudian memborgol kedua tangan Valeria serta membantunya berdiri.


"Kau menyakiti hatiku," ucap Virus kemudian meninggalkan Valeria dengan rasa sakit.


Tetapi belum sempat Virus meninggalkan lorong itu segerombolan bodyguard lain datang menghampiri mereka. Mereka saling menembak, sementara Wasabi menyuruh Moza untuk mengamankan Valeria.


Wasabi sendiri sudah memanggil bala bantuan dan mereka siap menyerang saat waktunya nanti. Saat Moza membawa Valeria ke tempat aman, kaki Valeria terkena tembakan.


"Aaakkhh, panas," pekik Valeria yang membuat Virus menengok kebelakang.


"Valeria!," gumam Virus.


"Valeria, bertahanlah," ucap Moza yang melihat banyak darah mengalir ia dengan cepat terus memapah Valeria dan mencari tempat aman. Ada banyak pintu di lorong itu dan Moza mencoba membukanya satu persatu.


"Kalian menyentuh Valeria ku, rasakan ini," ucap Virus seraya mengarahkan tembakan dan tepat mengenai sasaran membuat beberapa terluka dan ada juga yang tewas terkena peluru. Tujuh bodyguard tumbang, Virus pun segera berlari menyusul dua wanita itu. Virus membantu Moza mencari tempat aman


"Disini, masuk sini," ucap Virus yang berada beberapa meter didepan mereka.


Virus kembali lagi mendekati dua wanita itu kemudian pria itu melepaskan tangan Moza dan menggendong Valeria dengan berlari kecil ia membawa tubuh Valeria seperti tak ada beban.


Moza terpaku dengan perlakuan Virus. Meskipun ia di khianati Valeria tetap saja wanita itulah yang dicintainya.


Wasabi datang menyusul Virus dengan kekuatan teleportasinya.


"Kita bawa dia ke mobil Van, ada kotak P3K disana. Papah dia dan pegang tanganku," ucap Wasabi dengan terburu-buru.


Mereka harus menutup luka Valeria dengan cepat sebelum wanita itu kehabisan darah. Virus mengikuti perkataan Wasabi. Tetapi pria itu tidak memapahnya melainkan menggendongnya.


Whuuuus


Dalam hitungan detik mereka telah sampai di mobil Van. Andi yang sudah siap dengan peralatan medisnya menyuruh Virus untuk membaringkannya telungkup namun Virus malah mendudukkannya di kursi dengan kaki di selonjorkan.


"Yang terluka bagian belakang, kau ini bagaimana," ucap Andi


"Pakaiannya terbuka dan aku tidak ingin kau melihatnya," jelas Virus


"Pakai ini," ucap Wasabi menyodorkan sebuah jaket besar pada Valeria. Valeria tak bisa memakainya, tangannya masih diborgol di bagian depan.


"Mana kuncinya?" Tanya Virus


"Ada di cup bra ku. Aku bisa mengambilnya tetapi akan sedikit susah karena bagian dadaku tertutup. Jadi kalian harus memutar badan," ucap Valeria


"Aku tidak percaya padamu, aku akan tetap melihat mu tenang saja aku tidak akan melihat punyamu," ujar Wasabi


"Kakinya sakit, mana mungkin dia lari," ucap Virus kemudian menarik Wasabi agar membelakanginya. Mereka bertiga membelakangi Valeria Sementara Valeria mengambil kunci borgol itu.


"Sudah, kalian bisa berbalik," jawab Valeria dengan napas memburu menhan sakitnya.


Setelah memakai jaketnya wanita itu kemudian tidur telungkup karena Andi akan melakukan operasi kecil.


"Kau mau apakan dia?" ucap Virus panik.


"Aku akan mengeluarkan amunisi yang menancap di kakinya. Tenang saja aku pernah melakukan ini sebelumnya. Bedanya aku sudah menyiapkan bius," ucap Andi


Setelah melakukan bius lokal pada kaki Valeria Andi melakukan operasi kecilnya dan mengeluarkan peluru itu.


Sementara saat Wasabi menyusul Moza, wanita itu menghilang. Wasabi memanggilnya lewat earphone tak ada jawaban disana. Ia pun menemukan earphone milik Moza yang terjatuh dilantai.


Lalu Wasabi melihat kembali pelelangan. Masih dengan tawar menawar, sementara Diego menawar dengan harga tinggi saat ini. Pria misterius beranjak dari duduknya dan mendekati Diego.


"Hemm kau punya nyali juga untuk menampakkan dirimu, apa kau sudah siap ku bunuh haha," ucap Pria misterius pada Diego yang menyangka jika pria itu adalah Virus.


"Aku akan mendapatkan formula itu," ucap Diego, tetapi pria misterius itu menangkap keanehan karena suara Diego dan Virus tidak sama.


Pria misterius itu memandangi Diego dari atas kebawah dengan curiga. Diego memanjangkan lengannya menutupi tatto yang ada di tangannya.



Visual Pria Misterius



Visual Cezo