My Name Is Virus

My Name Is Virus
Pencarian Rambut Aryo



Malam harinya, Virus dan Andi ke rumah Marni yang lama. Mereka masuk secara sembunyi-sembunyi agar aksinya tidak diketahui oleh tetangga sekitar, termasuk Marni sendiri.


Di belakang rumahnya adalah kebun kosong milik orang. Lahan itu sudah lama tak terurus membuat Virus dengan mudah masuk kedalam dengan mencongkel pintu rumahnya bagian belakang.


Virus heran dengan rumah yang bekas terbakar itu, kenapa tidak diperbaiki atau direnovasi ulang. Jika Marni tidak ingin memperbaikinya dia bisa saja menjual rumahnya yang lama. Atau bisa saja Marni tidak dapat menjualnya karena rumah itu atas nama Aryo dan surat rumah itu tidak ada padanya.


Andi mengikuti Virus yang berjalan duluan setelah berhasil mencongkel pintu bagian belakang rumahnya. Rumah itu gelap namun ada cahaya di atas rumahnya.


"Seperti ada orang di dalam," bisik Andi kemudian ia menggunakan kacamata buatannya.


Kacamata anti gelap, jika memakainya ruangan akan terlihat terang. Dia bisa dengan mudah melihat ruangan yang gelap dengan kacamata itu. Andi lalu memberikan kacamata buatannya lagi pada Virus.


"Aku tidak tahu sebaiknya kita segera ke kamar Marni, kamarnya ada di samping ruang makan," bisik Virus dengan berjalan mengendap-endap.


Begitu mereka masuk ke dalam kamar, kamar itu sangat wangi dan bersih dan sepertinya Marni sering memakainya.


Virus menemukan rambut di sisir ia pun mengambilnya tanpa memilah. Karena akan memakan waktu jika harus memilah lagi. Sementara Andi memeriksa rambut yang jatuh di ranjang dan lantai dengan alat sensor miliknya. Yang berbentuk rambut akan berwarna merah menyala sehingga mudah untuk menemukannya. Andi menemukan beberapa helai rambut panjang dan kecil, langsung saja ia mengantonginya di sebuah plastik berukuran mini.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang turun dari tangga kayu, Virus dan Andi segera bersembunyi di bawah ranjang. Tapi Virus tidak muat kedalam kolong yang terlalu kecil. Badannya terlalu besar, Virus pun akhirnya bersembunyi di balik korden yang berdebu. Tak ada pilihan ia kemudian menutup hidungnya dengan kaos miliknya.


Langkah kaki itu semakin terdengar, disertai suara orang berbicara. Namun Virus tidak dapat mendengarnya. Dia fokus untuk menahan hidungnya yang semakin terasa gatal


"Wanita itu membersihkan kamarnya tapi tidak dengan kordennya, apa dia lupa mencuci kordennya atau sengaja membuat rumahnya ini nampak kosong jika dilihat dari luar," batin Virus


"Kau lama sekali, Aku sudah lama menunggu mu di atas," ucap Marni dengan sedikit berbisik.


Marni menunggu seseorang di ruang televisi yang ada di lantai atas karena dilantai atas tidak ada jendela. Ia sengaja menutupnya agar ruangan itu bisa dipakai.


"Maaf sayang, didepan masih ada orang dan aku lupa tidak membawa kunci pintu belakang," ucap seseorang bersuara pria.


"Ayo cepat sebelum suamiku pulang," ujar Marni kemudian membawa masuk pria itu ke kamarnya.


"Jadi Marni sengaja memakai rumah ini untuk tempat perselingkuhannya?" batin Virus.


Marni kemudian membuka pintunya namun pria itu menghentikannya. Mereka pun berdiri di depan pintu kamar.


"Aku ingin melakukannya di atas, aku sudah lama tidak melihat bodymu di ruangan terang," pinta sang pria.


"Haha kau ini, kan kita sering video call kau melihatnya juga kan?" jawab Marni dengan genitnya


"Beda dong sayang, aku kan juga ingin menyentuh ini," ucap si pria seraya menyentuh gunung kembar milik Marni.


Andi melihatnya tetapi tidak jelas siapa pria itu. Wajahnya terhalang kayu ranjang. Ia hanya melihat kedua tangan menyentuh gundukan Marni. Marni kemudian menutup kembali pintu kamarnya.


Sementara Virus sudah tidak tahan dengan debu korden itu. Hidungnya sudah sangat gatal dan tidak akan bisa lega jika menggaruknya. Pria itu harus mengeluarkan bersin yang akan membuat keberadaan mereka diketahui Marni.


Hatching


Dengan waktu yang bersamaan Andi dengan cepat keluar dan menutup wajah Virus dengan bantal. Virus lega mengeluarkan bersinnya meski tidak sangat lega karena tertahan dengan bantal.


"Hampir saja ketahuan," bisik Andi


"Thanks," jawab Virus


"Dimana kau menyimpan uban itu?" Tanya Andi


"Sialnya uban itu ada di atas, di kamarku yang dulu," ucap Virus


"Aku tidak yakin barang itu masih disana," sahut Andi


"Aku juga," ucap Virus kemudian sedikit berpikir.


"Tapi kita harus menunggunya, itu jalan satu-satunya," timpalnya lagi


"Menunggu? Jangan bilang kau ingin mengintip mereka," ucap Andi


"Cih untuk apa melihatnya aku juga sering melakukannya," ucap Virus berbohong padahal pria bule itu belum pernah melakukan hubungan inttim.


"Ya ya aku percaya kau sering melakukannya, wajahmu tampak pria seperti itu," ucap Andi yang kemudian mendapat sentilan di mulutnya.


"Awww itu sakitt," ucap Andi seraya memegangi bibinya yang terasa cenat-cenut


"Pasang kamera itu di luar dinding kamar, saat mereka turun dari tangga wajahnya akan terlihat. Sementara kita keluar dan bersembunyi di pohon pisang," ucap Virus


"Bagaimana kalau kita menyamar sebagai pocong, biar mereka segera menyelesaikan pestanya," ucap Andi memberikan ide briliannya.


"Tidak ada yang putih, seprei itu berwarna merah, korden pun pun berwarna," sahut Andi


"Kita belum cari di lemarinya," ucap Virus kemudian membuka lemari pakaian Marni.


"Ketemu, ini ada kain berwarna putih, tapi ada bunga-bunganya," ucap Andi


Virus kemudian menelisik kain yang ditemukan Andi dan sedikit berpikir.


"Bunga-bunga ini tidak banyak, kita bisa mengakalinya. Coretkan lipstik dan usap dengan air seakan-akan ini darah," ucap Virus kemudian berpikir kembali


"Tidak jangan lipstik. Aku tadi melihat sirup di meja makan, kita pakai sirup saja," ucapnya lagi


"Kau serius ingin memakai ide pocong dari ku ini, jika dia tidak takut maka akulah yang jadi sasaran pukulan mereka," ucap Andi yang enggan jika dia harus jadi pocong.


"Just do it!" seru pria bule itu dengan sorot mata tajamnya. Seketika Andi pun diam dan menurut.


Mereka pun ke atas dengan mengendap-endap, kemudian Virus mengikat tali pada kaki dan kepala Andi. Tak lupa Virus menuangkan sirup pada motif yang berbunga. Lingkaran mata Andi di beri warna hitam dengan spidol milik Virus. Andi sempat menolak namun Virus menawarkan sejumlah uang yang dapat membuatnya kaya dalam satu hari. Andi pun pasrah dan menurut.


Dalam hitungan menit Andi sudah berwujud seperti pocong berdarah. Virus mengeluarkan ponselnya dan mencari suara setan kemudian memutar suara dalam bentuk MP3 itu.


Hi...hi...hi...hi..(Tawa setan)


"Sayang kau dengar itu, ada suara setan," ucap Marni sedikit takut. Wanita itu sudah tak berbusana dan sedang duduk di atas pangkuan si pria sembari bergoyang pinggul.


"Mungkin setan iseng yang ingin mengganggu kita," jawab si pria.


Virus menyalakan kembali MP3 nya dan memutar suara tawa kuntilanak.


"Itu benar suara setan, suara kuntilanak," ucap Marni


"Heh setan jangan beraninya di belakang, sini tunjukkan wujudmu," tantang si pria


"Ih kau ini, kalau dia benar datang bagaimana?" ucap Marni seraya memukul dada si pria dengan pukulan genit.


"Haha tidak akan sayang, mereka tidak akan berani," ujar si pria


Tak berapa lama Virus membuka daun pintu dan membiarkan pintu masih menutup. Andi sudah bersiap di depan pintu.


"Siapa itu!" seru di pria


"Tuh kan itu setannya mungkin," ucap Marni kemudian menghentikan aktivitasnya.


Si pria beranjak bangun ingin membuka pintu yang tiba-tiba terbuka sendiri. Dia berjalan tanpa memakai sehelai kain di tubuhnya. Sementara Marni segera memakai pakaiannya dengan cepat takut jika itu bukan pocong melainkan tetangganya. Si pria membuka pintunya lebar dan ia pun menjerit.


"Po-po-pocong....." seru keduanya kemudian mereka terbirit-birit tapi si pria lupa akan pakaiannya, lucunya pria itu pun kembali ke kamar dan mengambil pakaiannya yang tertinggal. Sementara Marni sudah turun kebawah.


Setelah itu Virus masuk dan mencari botol yang berisi uban di dalam laci lemarinya. Betapa terkejutnya Virus karena sisa pakaiannya masih utuh namun berjamur dan usang dimakan waktu.


"Hey cepat!" Pekik Andi yang melihat Virus terdiam melihat isi pakaiannya.


Segera Virus membuka lemari dan menemukan apa yang dia cari. Uban itu masih tersimpan didalam kemasan botol. Setelah itu ia menutup kembali lemari dan membuka ikatan pocong pada Andi. Dan lari dengan segera meninggalkan rumah itu lewat pintu belakang, dan melewati kebun kosong.


Mereka berlari kecil menuju mobil yang terparkir jauh dari gangnya. Sesampainya di mobil


"Andi kau masih ingin menjadi pocong?" Tanya Virus sembari melihat apa yang di genggam Andi. Andi ikut melihat apa yang di tatap Virus. Rupanya kain itu pun ikut dibawa oleh Andi saking panik dan terburu-burunya.


"Hahaha ini untuk menghilangkan jejak, jadi ku bawa saja," ucap Andi sedikit beralibi.


"Ini ubannya, sekarang kita ke rumahmu dan aku serahkan semuanya padamu untuk mencari Aryo dan ayah kandungku," ujar Virus seraya melajukan mobilnya.


"Tidak kau disini saja, jangan ke Jakarta," ucap Andi


"Kenapa?"


"Jika Aryo ditemukan di Bali kau tidak perlu bolak-balik Jakarta-Bali lagi kan? Itu hanya akan memakan waktu," ucap Andi yang sebenarnya dia tidak ingin Virus bertemu dengan Emi. Namun perkataan Andi ada benarnya.


"Ucapan mu benar, tapi jika aku melepaskan mu, aku takut kau akan melupakan ku. Seperti istilah habis manis sepah dibuang, you know?" ucap Virus yang kemudian langsung mendapatkan jawaban dari Andi


"Tidak, ku bilang tidak ya tidak. Aku tidak ingin kau ke Jakarta. Jika kau ikut dengan ku maka aku tidak akan mengerjakannya, Aku akan mengembalikan uangmu," ancam Andi.


Pria itu benar-benar tidak mau, jika Virus bertemu Emi nantinya. Akhirnya Virus pun mengalah.