
Los Angeles.
Keesokan harinya, Gordon sedang menghadiri acara pelelangan apartemen milik temannya. Sebuah Gedung apartemen yang baru saja diresmikan. Dilelang dengan cara kotor.
Banyak pejabat, konglomerat dan memiliki peran penting di negara itu membelinya bukan dengan uang melainkan dengan kekuasaan yang mereka miliki. Seperti misalnya penghapusan pajak untuk pemilik gedung apartemen dan lain sebagainya.
Setelah menyelesaikan santapan makan malamnya, Gordon ke beranda balkon untuk merokok dan mengirup udara malam.
"Kau mendapatkan apartemenmu dengan mudah,"
Sebuah suara laki-laki datang dari arah belakangnya. Suara yang amat Gordon kenal.
"Virus, sejak kapan kau disini?" Tanya Gordon seraya menoleh dan membalikkan badannya bersandar pada dinding pagar.
"Kau tak ingin memelukku?" Tanya Virus mendekati Ayahnya.
"Haha, aku senang kau kemari. Tapi sebaiknya kau menghubungiku dahulu," ucap Gordon seraya membentangkan tangannya melangkah maju bersiap memeluk putra kandungnya.
Virus memeluknya dengan kekuatan penuh, sangat erat hingga Gordon kesulitan bernapas. Pria itu ingin melepaskan pelukannya namun tenaga Virus sangat kuat.
"Arghh kau kenapa, Virus lepaskan!"
Virus pun melepaskannya dengan sedikit dorongan.
"Bagaimana perasaanmu setelah tahu Moza dan keluarganya kecelakaan?"
"Tentu saja aku ikut sedih, aku langsung membawanya kerumah sakit karena saat itu kau belum sadarkan diri. Jadi aku yang mengurusnya. Kenapa kau tanyakan itu?"
"Haha kau tidak perlu memperlihatkan wajah baikmu. Karena apa? Semuanya palsu," desis Virus
"Itu tidak benar, kau ini kenapa?"
Buuugh
Virus meninju perut Gordon hingga pria tua itu kesakitan.
"Arghh! Kau berani memukul aku, ayahmu!" pekik Gordon
"Kau melukai Istriku dan keluarganya, kau berniat membunuhnya kan! Ayo mengaku saja!" ujar Virus
"Aku tahu kau tidak menyukai keluarga Federic, tapi sekarang mereka adalah keluarga ku! Jika kau ingin membunuh mereka, Kau harus membunuhku terlebih dahulu," Timpalnya lagi dengan mencengkeram kerah Gordon kemudian melepaskannya dengan mendorongnya sedikit keras, namun tidak sampai jatuh.
"Kau salah, dulu ku akui aku memang membenci mereka. Itu pun karena kesalahpahaman dan aku baru mengetahuinya dari Paquina. Sekarang aku dapat menerima mereka, aku sama sekali tidak membencinya lagi," jelas Gordon
"Katakan, apa kau yang membuat kecelakaan itu terjadi? Apa itu ulah mu? Jawab!" Pekik Virus dengan tegas.
Gordon menunduk kemudian mengangkat wajahnya lagi menatap Virus dengan penuh penyesalan.
"Ya, kecelakaan itu terjadi atas perintahku. Aku minta maaf,"
Virus langsung mengarahkan pistol kearah Gordon
"Kau ingin membunuh ku?" Tanya Gordon
Semua bodyguard Gordon yang berjaga disekitarnya mengarahkan pistol ke arah Virus. Namun Gordon memberi isyarat untuk menurunkan pistol yang mereka pegang.
Virus terdiam, masih mengarahkan pistol ke arah Gordon dengan hati yang sulit diartikan. Dia marah namun apa bisa dia membunuh orang tuanya sendiri. Apakah bisa dia memaafkan perbuatan Ayahnya?
"Semua orang berhak memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Maafkanlah mereka yang bersalah kepadamu. Meski itu berat untukmu," Virus tiba-tiba mengingat pesan Aryo, ayah tirinya sembari memejamkan matanya.
Ia pun membuka matanya kemudian menatap Gordon yang berdiri 5 langkah di depannya.
"Tidak aku tidak bisa, sejahat apapun dia. Aku tidak bisa melukainya," batin Virus yang heran dengan dirinya sendiri.
Sejak ia mengenal cinta, sifat pemarah, ambisi, dan emosinya menjadi lebih terkontrol.
Saat Virus ingin menurunkan pistolnya, Gordon tertembak. Tak ada suara tembakan, namun pelurunya jatuh ke dada Gordon.
"Arghh," Gordon kesakitan sembari memegangi dadanya dan terjatuh.
"Ayah," pekik Virus
"Aku tidak menembaknya," Virus masih terpaku melihat Gordon dengan darah
Kemudian semua bodyguard mengejar sembari menembak seseorang yang ada di belakang Virus. Mereka memakai pistol peredam suara. Sehingga para tamu tidak panik. Virus menoleh kebelakang. Penembak itu ada di belakangnya beberapa meter, bersembunyi dibalik pilar tembok. Berpakaian serba hitam dan langsung lari setelah penembakan terjadi.
Virus ingin mengejar penembak itu namun Gordon lebih membutuhkannya. Segera ia menelepon ambulans seraya mendekati Gordon.
"Ke gedung E-Center, ada korban terkena tembakan, segera!" Virus memasukkan ponselnya kedalam saku kembali dan membuka jasnya untuk menghentikan darah yang mengalir.
"Bertahanlah," ucap Virus panik namun dia tenang.
"Ma-maafkan aku," ucap Gordon dengan sedikit terbata karena menahan sakit.
"Aku sudah memaafkan mu," Aku Virus dengan tersenyum.
"Jangan mati, bertahanlah," Timpalnya lagi dan tanpa sengaja pria itu menangis.
Darah Gordon terus memuncrat keluar. Sepertinya tembakan itu tepat mengenai jantungnya. Tak sampai beberapa menit Gordon memejamkan matanya dan menghembuskan napas terakhirnya.
"Ayah.... ayah....," Virus menepuk-nepuk pipi Gordon dengan pelan
Gordon tidak bereaksi. Pria itu sudah meninggal. Virus memucat seluruh tubuh menggigil bukan karena kedingingan melainkan ia menangisi kepergian Ayahnya.
Pelukan terakhir ia berikan sembari menunggu kedatangan ambulans. Beberapa tamu yang ada didalam gedung terkejut melihat darah dan mulai berdatangan mendekati Gordon yang sudah tak bernyawa.
"Aku akan menyusul mu Gordon, cintaku," ucap penembak itu kemudian menembak dirinya sendiri sambil tersenyum puas.
Bodyguard Gordon baru saja sampai namun orang yang dikejarnya telah bunuh diri.
Seketika gedung E-Center, gedung aula serbaguna menjadi ramai karena ada kejadian penembakan dan seseorang yang bunuh diri. Saat petugas kepolisian dan petugas medis datang, baru diketahui penembak itu ialah Paquina.
.
.
.
Esoh harinya, pemakaman berlangsung. Moza dan keluarga lainnya datang menggunakan jet pribadi. Selama prosesi pemakaman Virus diam tak banyak bicara, tak juga menangis. Hanya perasaan sedih kehilangan yang menyelimuti dirinya.
Kalau sudah tiada baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh berharga. (Jangan nyanyi plis)
Bisnis gelap Gordon ditutup. Kekayaan yang dimilikinya sebagian di berikan kepada panti sosial lalu uang yang pernah ia gelapkan dikembalikan kepemiliknya.
Black Knight ditutup, Virus menjual semua produksi senjatanya dan mendirikan perusahaan lain. Virus membuka kehidupan barunya di Bali, Indonesia.
Sementara Rachel dan keluarga Diego kembali menetap di Nevada. Rumah Rachel yang terbakar di bangun kembali. Diego pun sukses menjalankan perusahaan mobil anak-anak. Dia berencana membuka toko mainan mengingat dirinya yang sebentar lagi memiliki seorang anak.
Satu setengah tahun kemudian.
Di Bali, Indonesia.
"Atur napasnya ya Bu, tarik dan buang napas. Hitungan ketiga dorong perutnya lagi ya," ucap bidan kepada Moza.
"Ok," Moza yang sudah mengerti bahasa Indonesia mendengarkan perintah bidan dengan seksama.
Dia sedang menjalankan proses persalinan normal. Semua keluarganya dari Nevada datang ke Indonesia seminggu sebelum Moza melahirkan. Dan saat ini sedang menunggu Moza di luar ruang bersalin. Sementara Virus mendampinginya, ia rela lengannya menjadi tempat cakaran Moza yang sedang melahirkan. Moza sendiri tidak sadar jika ia mencakar Virus, karena ia sedang berjuang dalam hidup dan mati.
Oek oek oek
Tangisan kencang dari seorang anak kecil yang baru saja lahir ke dunia terdengar hingga luar ruangan. Semua turut bahagia. Apalagi Virus yang berkaca-kaca saat melihat anaknya terlahir.
"Oh My God, dia sangat tampan," ucap Moza saat menerima bayinya yang sudah di bersihkan.
Bayi laki-laki kecil mungil itu sedang di rebahkan di atas dada Moza. Moza menangis bahagia, Virus mencium kening istrinya dan berkata, "Terimakasih sayang, Kau sudah menjadi Ibu yang hebat. I Love You, I love you too my baby," kata Virus pada Moza kemudian beralih mencium kepala bayinya.
Beberapa jam kemudian, sang bayi di balut kain agar tetap hangat. Diego dan keluarga lainnya diperbolehkan masuk kedalam ruangan.
"Hallo paman, Tante, aku datang," ucap Diego dengan menggendong anak perempuannya yang bernama Angel.
"Hai angel," sapa Virus dan Moza bersamaan.
"Bu, Diego, Vale dan paman Chris," sapa Moza sembari tertawa bahagia.
"Oh dia tampan sekali. So cute," ucap Valeria melihat sang bayi yang sedang digendong Virus.
Sementara Moza berbaring sejenak. Ia terlihat kelelahan.
"Ya dia tampan seperti Virus, siapa namanya?"
"Jangan memberinya nama yang aneh," pesan Chris membuat semua tertawa
"Haha, aku akan memberinya nama Vincenzo," ucap Moza
"Tidak, itu seperti nama tokoh di drama Korea. Vincenzo Cassano," tolak Virus.
"Tapi aku suka, aku ingin anakku sehebat Vincenzo," seru Moza
"No no no dia seorang consigliere, aku tidak ingin dia terlibat dalam mafia atau yang bersifat pembunuhan,"
"Ayolah itu hanya nama, bukan berarti dia seperti tokoh dalam film itu kan?" Moza dan Virus malah berdebat tentang nama.
"Hmmm bagaimana jika anak ini diberikan nama, Kevin Cakra," ucap Valeria
"Itu tokoh seorang fakboi di novel septira bukan? Jangan aku tidak ingin keponakanku menjadi sugar baby," seru Diego
"Astaga ada apa dengan kalian yang satu terobsesi dengan nama di sebuah film yang satunya lagi di sebuah novel," ucap Rachel.
"Ya benar, jangan terburu-buru memberikan nama, masih ada esok hari kan?" ucap Chris.
"Ya kau benar Chris, aku ingin anakku memiliki arti yang baik," ucap Virus
"Bagaimana jika tanyakan saja dengan dengan para reader, siapa nama yang cocok untuk anak Virus dan Moza," sela Diego
"Haha ide bagus," ucap Moza
Dan semuanya tertawa bahagia.
.
.
.
TAMAT