
Virus dan Moza bercerita di ruang tengah. Tidak akan ada rahasia lagi di antara keduanya.
"Sebelum aku bercerita mengenai diriku, aku ingin tahu cerita tentang kehidupan mu. Apapun rahasia yang kau miliki, karena setelah ini aku akan menjadi bagian dari hidupmu," ucap Virus dengan suara pelan karena keadaan suasana yang sunyi dan takut mengganggu orang yang tidur.
"Baiklah aku akan menceritakannya," Moza menarik napas panjang dan mulai bercerita.
Ia mulai bercerita tentang dirinya saat kecil, apa yang dia sukai dan tidak sukai. Mereka tertawa hingga terbahak-bahak. Sepertinya Virus menikmati perbincangannya dengan Moza.
"Aku ingin tahu, kenapa saat itu kau datang ke lorong gelap itu. Kau tidak takut jika anak laki-laki itu orang jahat?" Tanya Virus
"Aku tidak terpikir ke arah sana, aku hanya melihat ada seorang anak laki-laki yang sedang dipukuli oleh temannya tetapi ada juga orang dewasa yang ikut memukuli. Aku tidak tahu apa masalah anak laki-laki itu. Tetapi aku ingin berada disampingnya dan menenangkannya.,"
"Lalu," Tanya Virus penasaran
"Aku mendengarnya menangis, sesekali ia berteriak kesal. Hujan pun turun, aku ikut berteduh di lorong gelap dan sempit itu. Aku melihat anak itu meringkuk sambil memeluk lututnya. Udara semakin dingin, aku lalu memakaikan jaketku padanya dan merangkul anak laki-laki itu. Ia terkejut dan baru menyadari jika aku ada disana. Meski dia terlihat lebih tua tapi Aku berusaha untuk menenangkannya dengan kata-kata bijak,"
"Hari ini menangislah sepuas mu, berteriaklah seinginmu. Tapi besok kau harus bangkit, lupakan masa lalu dan raih masa depan yang lebih baik dari hari kemarin. Itu ucapan gadis kecil yang menyelimuti ku dengan jaketnya," ujar Virus melemparkan senyum manisnya dan membuat gadis pujaannya memerah.
"Aku tak menyangka kau masih ingat dengan ucapan ku," ucap Moza
"Virus, ini seperti takdir buatku. Sungguh aku terkejut karena aku bertemu lagi dengan anak laki-laki itu. Bahkan dia menjadi kekasih ku sekarang. Anak laki-laki yang tak lain adalah Virus ku," timpalnya lagi
Virus menghela napas pelan dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Pantas saja setiap melihat tatapan mu aku seperti mengenalnya, dan aku baru menyadari saat di kegelapan tadi. Iya, aku rasa takdir mengharapkan kita untuk bersama," balas Virus
Moza tersenyum dan ikut menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Sayang, saat kau melihatku dipukul. Saat itu kau ada dimana?" Tanya Virus
"Aku bermain di taman dekat penginapan. Lalu dari seberang aku melihatmu,"
"Kau sendirian?"
"Iya, Ayahku pergi kerja saat itu dan aku bermain di taman itu sendirian. Ayah mengijinkannya karena taman itu dekat dengan tempatku menginap, asalkan aku tidak keluar dari taman. Tapi tetap saja aku pergi kemana pun termasuk menemuimu di lorong kecil itu," Moza terdiam, Virus pun ikut terdiam sembari mengingat masa lalu
"Kenapa kau tidak membalas mereka yang memukuli mu?" Tanya Moza
"Aku tidak ingin mengulang kejadian lampau. Masalah yang membuatku terusir dari desaku sendiri membuatku berhati-hati dalam bertindak dan aku harus mengontrol emosi ku sendiri," jelas Virus
"Awal aku dipukuli, karena aku tidak pernah masuk sekolah. Marcos menyekolahkan ku hanya untuk mendapatkan ijasah pendidikan. Tetapi aku tidak pernah masuk, aku belajar dirumah sendiri secara mandiri dan selalu mendapat peringkat tertinggi," Virus berhenti untuk mengatur napas, lalu ia melanjutkan kembali.
"Sesekali aku masuk karena setiap murid harus mengikuti acara tahunan dan kami berlatih untuk pertunjukan bakat. Disekolah itu ada anak yang ditakuti dia pimpinan geng sekolahan. Saat jam istirahat aku duduk di tempat yang biasa ketua geng itu duduki. Mereka mengusir ku tetapi aku tidak mau, lalu mereka marah," jelas Virus
"Hah hanya karena kau duduk ditempatnya? Itu tempat umum kan? Semua orang bisa saja duduk disitu," ucap Moza
"Ya, maka dari itu aku tidak ingin menjadi orang yang mudah diperdaya. Siapa dia? Dia tidak memberiku makan, dan tempat itu milik umum, tetapi mereka menganggap jika aku menantangnya. Terjadilah aksi pengeroyokan itu, aku tidak membalas karena aku takut dia akan mati," ucap Virus
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Moza
"Marcos memenjarakannya, karena anak yang berstatus ketua geng disana sudah berusia 17 tahun. Sebenarnya Marcos baik, maka dari itu aku tidak berniat untuk membunuhnya. Aku hanya ingin lepas dari dirinya," jelas Virus
"Oh ya, aku masih menyimpan bungkus permen itu," timpalnya
"Benarkah?" Tanya Moza terkejut seraya melihat Virus dengan rasa tak percaya.
"Iya benar, jaket mu pun masih aku simpan dan biar tidak usang aku menaruhnya dalam kemasan plastik khusus dan membuatnya selalu kedap udara," jelas Virus
Tiba-tiba Virus beranjak dari duduknya. Dan meraih tangan Moza untuk ikut dengannya
"Sayang, ikut aku," ajak Virus
"Kemana?" Tanya Moza yang segera bangun dari duduknya mengikuti Virus dibelakangnya.
"Ke ruangan pribadiku," Virus terus melangkah ke depan dan masih menggenggam tangan Moza.
Virus membuka pintu yang ada di samping ruang tengah. Lalu menyalakan kontak lampu, seketika ruangan itu terlihat jelas. Ada anak tangga menuju ruang bawah. Moza mengikuti langkah Virus dan berhati-hati ketika menuruninya.
Virus menuju ruangan yang berdindingkan besi kemudian membuka pintu dengan sensor mata miliknya. Tak berapa lama pintu besi itu terbuka. Moza hanya diam, dengan banyak pertanyaan di kepala.
"Tempat rahasia mu?" Terka Moza
Virus menarik Moza untuk masuk, ruangan yang dingin karena semuanya terbuat dari besi dan aluminium. Virus menyetel suhu ruangan agar menjadi hangat dan mengatur kadar oksigen didalamnya.
"Jika mati listrik, apakah kita akan terkunci disini?" Tanya Moza yang ketakutan
"Haha, jika listrik mati maka dengan otomatis ia akan beralih ke tenaga baterai. Dan jika baterainya habis. Kita akan terjebak lalu menua di sini," ucap Virus menakut-nakuti
"Jangan bohong,"
"Haha tenang saja sayang jika benar-benar tidak ada daya, kita bisa keluar dari bawah sana," ucap Virus seraya menunjuk tempat untuk keluar
Virus lalu melangkah ke menuju pintu besar dan membukanya dengan beberapa kode.
"Ini brangkas besar ku, kode aksesnya 12-8-13-4. Tadinya aku juga menyimpan senjata-senjata ku disini tapi aku memindahkannya," ucap Virus
"Kau tidak takut jika aku menghianati mu?"
"Aku tidak peduli jika kau menghianati ku. Karena aku sudah cinta mati padamu," tegas Virus
Moza terkikik geli mendengarnya, pria yang dulu berhati dingin bisa juga melontarkan kata cinta untuknya.
Ketika brangkas itu terbuka, bola mata Moza membulat lebar. Satu sisi rak tersusun emas yang masih berupa batang, ada susunan uang kertas yang berjumlah milyaran dollar. Dan terlihat tempat kosong bersekat-sekat kecil dan rak-rak yang berpaku, tadinya tempat untuk menaruh pistol dan beberapa senapan. Tetapi semua senjata itu Virus pindahkan.
"Emas dan uang ini, kenapa menyimpannya disini?" Tanya Moza
"Orang sepertiku tidak bisa menaruh banyak uang di bank. Terkadang aku memakai nama lain untuk menyimpannya," jelas Virus
"Sebentar ada barang yang ingin ku berikan padamu," seru Virus kemudian mengambil sebuah kotak berukuran sedang dan ia berikan untuk Moza
"Apa ini?" Tanya Moza sembari membuka kotaknya
"Jaket mu yang lama ku simpan, dan sekarang akan kembali pada tuannya," jawab Virus. Moza sedikit terharu, bahkan ada bungkus permen diatasnya.
"Bungkus permen? Astaga...," Moza tertawa kecil
"Apa yang kau lakukan jika aku bukan gadis kecilmu? Atau jika kau bertemu dengan gadis kecil saat kau bersamaku, Kau tidak akan meninggalkan ku kan?" Tanya Moza
Virus menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Seperti yang kau bilang, aku tidak akan kembali ke masa lalu, aku akan terus melihat ke depan. Melihat mu, masa depanku,"
"Aku meleleh," ucap Moza kemudian memeluk erat kekasihnya.
Setelah itu mereka keluar dari dalam brangkas besar, keluar dari ruang bawah tanah menuju ke atas, di ruang tengah.
"Moza kembalilah tidur ya, dengarkan lagu-lagu dari headset. Itu akan membantumu tidur," pesan Virus
"Ponselku mati, sedangkan ponsel ibu tidak ada musiknya hehe," ucap Moza
"Pakai ponselku," Virus meminjamkan ponselnya untuk Moza
"Baiklah, aku pinjam ya,"
Moza kembali ke kamarnya dan Virus kembali ke tempat duduknya di ruang tengah. Melanjutkan kembali pekerjaannya yang belum selesai.
Sementara di waktu yang sama, Gordon masih bermain poker dengan kliennya. Anak buahnya datang menghampiri memberikan kabar bagus untuknya.
"Bos. Lokasi Mike kosong tidak berpenghuni namun kami menemukan informasi bahwa orang yang membunuh Darren mempekerjakan seorang yang ahli dalam komputer. Di kabarkan bahwa pria itu juga yang telah mengutak-atik bisnis kita, dia bernama Andi. Sebelum bekerja dengan pria Texas itu, Andi bekerja pada Wasabi. Kini kondisi Wasabi nyaris tewas," ucap anak buah Gordon.
"Jadi maksudmu, Wasabi yang kita tembak itu belum juga mati? Dan Andi tidak hanya bekerja pada Wasabi melainkan juga bekerja pada Mike, haha bagus sekali," seru Gordon.
Pria itu menghentikan permainannya dan berpikir sejenak.
"Sekarang dimana Andi?" Tanya Gordon
"Data terakhir menunjukkan pria itu menuju penerbangan Nevada namun setelah itu ia menghilang bersamaan dengan kabar kebakaran itu,"
"Wasabi sekarat, maka dia pasti kembali ke negaranya. Pantau semua penerbangan Nevada, Texas atau kota di sekitar Nevada yang melakukan penerbangan menuju ke Indonesia. Tangkap Andi dan ingat jangan menyiksanya. Dia aset cerdas dan aku menyukainya," perintah Gordon.