
Setelah membersihkan diri dan bersiap untuk pesta malam nanti, Diego malah mengumpulkan semua anggota keluarga untuk berdiskusi. Mengenai apakah pesta malam nanti tetap diadakan atau tidak.
"Undangan pesta sudah tersebar, akan jadi bahan omongan jika pesta itu di undur atau ditiadakan. Lebih baik tetap berjalan," ujar Chris yang juga ada di rumah Diego.
"Jujur saja aku takut akan datang ancaman saat pesta nanti," ucap Diego
"Tenang Diego, Aku sudah meminta bantuan polisi untuk berjaga nanti dan beberapa anak buahku akan datang sebagai tamu undangan. Aku malah punya ide untuk melarikan diri dan membuat kehidupan baru," ucap Virus.
"Apa maksudmu? Kau punya rencana?" Tanya Valeria yang kemudian dijawab anggukan kepala oleh Virus.
"Ya, Aku punya rencana. Kita tak perlu menunggu pesta usai, hanya dengan mendengar suara bom mereka akan pergi dari pesta," ujar Virus
"Jadi kita akan membuat bom bohongan?" Tanya Diego
"Ya, Andi akan membuat bom di belakang taman. Hanya suara bom dan efek merah seperti api kemudian jangan lupa dengan efek asap. Lalu Aku dan Diego bertugas seolah-olah kita mengamankan lokasi. Padahal kita bermaksud menghentikan pesta dan mengusir mereka. Setelah itu Aku akan membakar rumah ini, dengan begitu berita kebakaran itu akan berkata jika satu keluarga tewas dalam kebakaran saat pesta pernikahan," ujar Virus.
"Hah gila!? Kau tak punya ide lain?" Tanya Rachel sedikit tidak terima
"Hanya itu ideku, memalsukan kematian di saat pesta pernikahan. Dengan begitu berita ini akan masuk ke media sosial atau televisi. Lalu kabar itu akan terdengar sampai ke telinga mafia itu," jelas Virus
"Aku rasa ide ini masuk akal," ucap Moza
"Aku tahu yang Virus maksud. Aku bisa membuat ledakan dan api palsu untuk membuat tamu-tamu keluar dari pesta," sahut Andi
"Itu bagus Andi, urusan manipulasi kau ahlinya. Tapi sebelumnya kita harus mengemas semua barang yang penting dan memasukkannya ke dalam bus mini dari sekarang. Rencana ini sedikit gila, dan aku akan mengganti rugi biaya kebakaran nantinya," ucap Virus
"Sementara, aku berusaha membuat drama seolah-olah kehilangan kalian dan aku akan masuk ditengah kobaran api. Mungkin sedikit ekstreem tapi Aku akan memanjat tembok ke rumah sebelah dan keluar dengan Andi," jelas Virus menceritakan idenya.
"Kau akan masuk di tengah kobaran api? Tidak aku tidak setuju," ucap Moza
"Harus, karena saat panik orang tidak akan mengecek satu-satunya. Dan jalan satu-satunya harus ada seseorang yang memancing pemikiran mereka jika satu keluarga itu ada didalam. Seseorang itulah yang harus membuat warga dan para tamu percaya dan merasa iba. Percayalah sayang aku akan berhati-hati," ucap Virus.
"Itu tergantung Ibu, ini rumah dia," ucap Diego seraya melirik ke arah Rachel.
"Bagaimana Bu?" Tanya Virus pada Rachel dan semua mata tertuju padanya.
"Lalu kemana kita setelah kejadian ini?" Tanya Rachel
"Kita akan ke Texas membuat identitas baru dan kita akan pindah menetap ke Bali, atau India atau Paris. Terserah kalian kemana," ujar Virus.
"Tak ada rencana lain, selain membakar rumahku?" Tanya Rachel berharap ada rencana lainnya.
Virus menggelengkan kepalanya tanda tidak punya rencana lain. Rachel menatap Diego, lalu beralih ke Moza, Valeria, Andi dan terakhir Chris. Tak ada yang mempunyai ide. Rachel terdiam lama.
"Baiklah, demi keselamatan kita semua. Menghilangkan jejak dan hidup dengan nama baru," ucap Rachel.
"Oke aku akan menyiapkan Bus mini," ucap Virus
Andi mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja menyiapkan bom bohongan. Sementara yang lain mengemasi barang yang penting untuk di bawa. Chris dan Valeria diantar Diego untuk pulang ke rumahnya dahulu, mengemasi barang-barangnya yang penting. Dan mereka akan pergi jauh dari Nevada.
Tak banyak yang mereka bawa hanya identitas, surat berharga, dan pakaian. Selesai mengemasi barang, Chris terlihat sedih meninggalkan rumahnya.
Valeria datang mendekat dan mengusap punggung Ayahnya, "Ayo ayah kita tak punya banyak waktu,"
Setelah itu mereka kembali ke rumah Diego. Virus akan menggunakan truk sampah untuk pelarian diri nanti. Tentu saja truk sampah yang bersih. Sedangkan untuk barang-barang penting sudah mereka taruh di dalam bagasi Bus mini yang sedikit jauh dari lokasi.
Malam hari pun tiba, mereka berharap semua rencana yang sudah diatur secara dadakan itu akan membuahkan hasil yang maksimal.
Valeria dan Diego berada di depan menyalami para tamu. Beberapa menit pesta berjalan, kemudian Diego dan Valeria ijin ke belakang. Dan disaat seperti itulah bom palsu di luncurkan.
Asap hitam dan terlihat api berkobar dari dalam, Diego dan Virus menyuruh para tamu untuk segera keluar.
"Tadi ku lihat dia masuk kedalam," ujarnya.
"Sial,"
"Hey Diego berhati-hatilah," teriak tetangganya.
Padahal Diego kedalam dengan cepat berganti pakaian dan tak lupa ia memotong beberapa helai rambutnya dan menebarkannya di pakaian. Rachel, Chris, Valeria dan Moza melakukan hal yang sama tetapi tak semuanya memotong rambut, ada beberapa yang memakai bercak darah dan di usapkan pada pakaian yang berwarna terang.
Mereka harus bergerak cepat. Setelah itu mereka keluar dengan menggunakan wig dan pakaian lain. Harus ada api sungguhan setelah bom bohongan meledak.
"Aman," ucap Andi pada microphonenya.
Andi mengawasi di samping rumah, kini tinggal Virus yang ada di dalam. Ia memakai zat kimia yang tidak berbau dan mudah terbakar lalu menuangkannya di dalam rumah. Tak butuh waktu lama rumah itu pun berkobar dengan cepat.
"Uhuk...Uhuk...Hey apa kau lihat Diego? Moza? Penghuni rumah ini?" Tanya Virus yang keluar dari dalam dan berdrama seakan-akan ia sedang mencari-cari seseorang.
"Tidak aku tidak melihatnya," ucap salah seorang tamu.
"Aku tadi lihat Diego masuk saat api belum membesar, Ya Tuhan...Apa yang terjadi dengan mereka. Mereka didalam!" ucap tetangga itu
"Apa! Tidaaak... Aku harus kedalam menyusulnya," ucap Virus berpura-pura panik
"Jangan itu berbahaya," cegah salah satu warga karena api Sudah membesar.
"Tolong biarkan aku masuk kedalam, Aku mau menyusul Moza," ucap Virus seraya mendorong sedikit tetangga itu.
Virus berhasil masuk kedalam, seperti yang dia katakan sebelumnya. Virus harus masuk ditengah kobaran api. Dan harus cepat melarikan diri memanjat tembok tetangga
Para polisi yang sebenarnya adalah teman Virus mengamankan agar tak ada lagi orang yang masuk selain Virus dan memastikan hanya petugas kebakaran yang masuk.
Tak berapa lama pemadam kebakaran datang bersamaan dengan reporter dan wartawan.
"Sial aku tidak bisa memanjat tembok. Api itu sudah mengepung," ucap Virus. Semua mendengar ucapan Virus dari balik earphone.
"Ayo sayang cari cara lain, Kau ambil selimut dan basahi kain itu lalu kau lompat," ucap Moza terlihat panik.
Semua anggota keluarga itu ada di dalam truk sampah dan mereka sedang menuju kedalam bus mini
"I Can't," ucap Virus
"Arrghhh, oh my God, kaki ku... arghhh!"
Ngiiiiiiing
Sambungan earphone yang dipakai Virus berdenging. Semua orang panik. Terlebih Moza
"Virusss... hiks... Virus.... astaga Bu... aku harus kesana," ucap Moza
"Jangan sayang, jika kau kesana semua yang kita lakukan ini sia-sia," ucap Rachel
"Ya Moza dan usaha yang Virus lakukan untuk kita akan sia-sia," ujar Diego
"Lalu untuk apa aku disini jika dia disana membutuhkan pertolongan! Hiks..." pekik Moza
"Kita berdoa saja semoga Virus selamat dan berhasil melewati kobaran api itu," ucap Valeria memberi semangat pada Moza.
Semua orang yang ada disana terdiam dan berharap Virus selamat dari kobaran api.