
"Ayah... apa alasannya Ayah tidak menyetujuinya? Aku mencintai Diego," ucap Valeria dengan berlutut seraya menggenggam tangan Ayahnya.
Ayahnya yang duduk di kursi roda menatap Diego dan Valeria bergantian.
"Duduklah Vale," titah Chris, Ayah Valeria dengan nada yang sedikit dingin.
Valeria pun duduk disamping Diego, air matanya masih menggenang belum menetes. Diego menggenggam tangan Valeria dan berkata, "Aku dan Valeria saling menyayangi, apa yang membuat Ayah tidak menyetujuinya?" Tanya Diego dengan sedikit getir di dadanya
"Aku tidak menyetujuinya, jika kau terlalu lama menikahi putri kesayanganku. Aku ingin pernikahan dilakukan secepatnya," ucap sang Ayah kemudian mengumbar senyum lebar di raut wajahnya.
"Ayah, merestui kami?" Tanya Valeria dengan senyum yang merekah sebelumnya ingin menangis.
"Tentu saja Ayah merestui kalian, apalagi pria itu sudah menidurimu. Kalau dia tidak menikahimu segera, aku akan membunuhnya," ucap Chris dengan sebuah ancaman.
"Terimakasih Ayah," ucap Valeria
"Terimakasih...Aku..." ucapan Diego terputus karena Chris menyelanya
"Jadi hanya ucapan terimakasih yang ku terima? Kalian kemarilah dan peluk aku," ucap sang Ayah.
Mereka berdua pun mendekati Chris dan memeluk pria tua itu, saat Diego memeluknya. Chris menyambutnya dengan pelukan seorang Ayah yang telah lama tak dirasakan pria itu.
"Jaga Valeria, jangan pernah menyakiti hatinya," ucap Chris
"Pasti Ayah, aku sangat mencintainya mana mungkin aku menyakiti hatinya," janji Diego
Tak berapa lama Jesslyn datang kerumah itu melihat kebahagiaan yang baru saja terjadi.
Valeria tertawa bersama kedua pria disana kemudian ia tak sengaja melihat sosok sang ibu yang berdiri di balik kaca jendela ruang televisi.
"Ibu...," gumam Valeria yang didengar oleh sang Ayah membuat pria itu kemudian mencari sosok Jesslyn, mantan istrinya.
Jesslyn pergi setelah semuanya menyadari kehadiran wanita itu. Valeria mengejarnya dengan berlari kecil.
"Ibu...," teriak Valeria menuju keluar rumah.
Jesslyn menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Ia menatap Valeria yang tumbuh semakin dewasa dan cantik. Apalagi baru saja wanita paruh baya itu mendengar jika anaknya akan segera menikah.
"Kau... akan menikah? Selamat Vale...," ucap Jesslyn yang kemudian sedikit menangis. Ia sebenarnya merindukan putrinya, namun ia enggan memeluk dan lebih memilih menahan air mata kerinduannya.
"Ya aku akan menikah," jawab Valeria
"Maaf aku tidak bermaksud menganggu kalian. Aku kemari hanya memberitahu, jika aku akan menikah lagi. Pernikahan ketiga ku," ucap Jesslyn
"Lagi? Hah, jadi setelah meninggalkan Ayah, kau menikah lagi dan kemudian kau bercerai, dan sekarang kau menikah dengan pria lain lagi...," ucapan Valeria terhenti karena Jesslyn memutusnya.
"Hidup di dunia ini tidak mudah Vale, apalagi di Las Vegas! aku harus mencari pria yang terbaik untukku, menyayangiku dan mengerti aku!" Seru Jesslyn pada Valeria
Chris keluar dengan Diego, Jesslyn tak ingin melihat Chris lebih lama karena itu akan mengembalikan kenangannya yang lama. Jesslyn tetap dengan pendiriannya, tidak boleh menangis didepan anaknya dan mantan suaminya.
"Aku juga kemari karena mendapat kabar jika kau kesulitan dengan hutang pria tua itu. Aku sudah membayar hutang Ayahmu pada rentenir itu. Anggap saja sebagai ucapan maafku," ujar Jesslyn kemudian melangkah pergi meninggalkan Valeria dan mantan suaminya.
"Jesslyn, kembalilah," pekik Chris. Dia masih mengharapkan Jesslyn kembali padanya. Wanita itu tidak perduli dengan panggilannya, ia terus melangkahkan kakinya keluar dan semakin jauh kemudian melesat pergi dengan mobilnya.
Diego mengusap bahu Valeria yang menangis untuk lebih tegar dalam menjalani hidupnya. Broken home itulah yang terjadi pada keluarganya.
Selang beberapa menit setelah menenangkan Valeria, Diego pamit untuk pergi kerja.
"Hati-hati ya, nanti sore aku akan kerumah menemui Moza," ucap Valeria pada Diego
"Oke, jaga dirimu," balas Diego kemudian mengecup kening Valeria. Tak lupa ia pun pamit pada calon mertuanya.
Sesampainya di kantor, semua karyawan sudah menunggunya di ruang rapat. Belum terlambat untuk Diego karena masih ada waktu sebelum pukul delapan pagi.
Tak berapa lama pria itu datang dengan asistennya, Douglas. Ada hal yang harus dirubah dan diterapkan. Promosi yang kurang dan dana promosi yang tidak tersedia.
"Vie, kau bagian keuangan. Kemarin aku memintamu untuk membuatkan analisa data untuk menyisihkan dana promosi, bagaimana menurut mu?" Tanya Diego
"Ya tuan, menurut saya jika kita mengambil sebagian dari laba penjualan, maka secara tidak langsung akan mengurangi pembelian. Dan berdampak pada pendapatan karyawan juga. Karena sebenarnya kita mendapatkan laba yang sedikit, sedangkan promosi sebelumnya itu berasal dari kantong pribadi pemiliknya," jelas Vie yang bertugas sebagai administrasi keuangan.
"Hemm bagaimana jika kita berpromosi juga sekaligus membantu anak-anak seperti anak panti asuhan atau lembaga pendidikan penyandang cacat. Jadi jika pembeli membeli salah satu mobil atau motor aki, maka dengan begitu mereka telah menyumbangkan beberapa dollar dan jika uang sumbangan itu sudah terkumpul kita akan menyumbangkan beberapa mobil aki itu pada anak panti asuhan. Mereka bisa memakainya secara bergantian. Dengan begitu mereka yang tadinya tidak ingin membeli jadi tergerak untuk membeli produk kita. Dan bahkan jika mereka berbaik hati mereka juga pasti akan menyumbangkan dana atau malah langsung membeli mobil untuk mereka, bagaimana menurut kalian?" ucap Diego memberikan sebuah idenya dan kemudian diakhiri sebuah pertanyaan.
"Itu bagus menurut saya tidak ada salahnya, kita juga membantu dengan memberikan produk kita dari hasil sumbangan pembeli," ucap salah satu karyawan
"Jadi apakah kita akan menaikkan sedikit harga penjualannya?" Tanya Vie kembali
"Ya, coba kau hitung kembali nanti jika dalam seminggu kita harus memberikan satu unit produk kita pada anak panti asuhan, maka berapa dollar yang harus ditambah. Dan kita memberikan produk pada mereka dengan harga beli tentu kita masih mempunyai keuntungan sedikit nah jika keuntungan itu sudah terkumpul banyak. Kita akan menggunakan jasa anak artis untuk mempromosikan produk kita di channel YouTube," ujar Diego sembari berpikir.
"Dan sebaiknya kita harus menargetkan berapa penjualan yang harus terjual dalam sehari," ucap Diego yang tentu saja membuat beban untuk karyawan di bagian sales.
"Ini ide yang cemerlang Tuan," puji karyawan di bagian gudang tentu saja mereka senang karena jika penjualan banyak maka mereka juga akan bekerja dan tidak berleha-leha. Tetapi akan memusingkan bagi para sales-nya.
"Ada lagi tuan?" Tanya Douglas menunggu Diego yang terlihat berpikir.
"Aku rasa kita perlu iklan di media sosial lewat YouTube atau media sosial lainnya. Sebuah video tak hanya anak tetapi sang Ayah juga bisa memakai produk kita. Kita akan menunjukkan pada orang-orang jika produk kita kuat menahan beban orang dewasa. Tentu saja kita akan mencari model yang mempunyai berat tidak lebih dari 80kg dan tidak harus artis kalau bisa karyawan kita saja yang menjadi modelnya,"
"Aku rasa orang-orang akan tertarik. Dan dengan begitu mereka akan berpikir 'Aku ingin masa kecil anakku bahagia' Apa kalian paham maksudku? Di Video nanti sang Ayah tidak bahagia saat kecil karena dia berebutan mobil aki dengan sang anak. Dan itu membuat si pembeli berpikir untuk anaknya agar tidak seperti Ayah di Video itu,"
"Haha saya sudah bisa membayangkan seperti apa Videonya nanti, itu bagus dan saya akan membantu untuk pembuatan Video itu," ucap salah satu karyawan yang mahir membuat sebuah videoklip.
"Terimakasih Fox, untuk Video iklan aku akan memberikan tugas itu padamu. Aakah ada pendapat lain? Jika tidak ada kita akhiri rapat ini," ucap Diego mengakhiri rapat.
Satu langkah Diego, untuk memajukan perusahaan dengan berbagai trik promosinya dia berharap semoga saja produknya semakin dikenal dan semakin banyak pembeli.