
Sebelum benar-benar pergi, Virus menempelkan alat kamera pengintai yang kecilnya seperti kancing baju. Ia menempelkan kamera kecil di sudut televisi, lalu di vas bunga ruang tamu. Ia juga menaruhnya di bufet kamarnya sebelum adegan rayuan terjadi.
Virus melangkahkan kaki keluar dari rumah Marni, sebelum melewati pagar ia melihat ada keran di pojok halamannya. Langsung saja Virus mencuci mukanya dengan air keran itu. Ia takut mukanya akan tumbuh jamur atau terinfeksi kuman gatal yang sulit dihilangkan.
"Untung saja bibirku tidak bersentuhan dengan bibirnya, hemm tapi jika mengingatnya, rasanya aku ingin muntah," batin Virus sembari berkumur-kumur.
Virus mempunyai dua kamera pengintai lagi, ia menempelkannya di dinding pagar. Kamera kecil buatan Andi yang bisa di tempel dimana saja. Setelah itu ia bergegas pergi keluar.
Virus melewati rumah Marni yang lama dan menempelkan kamera itu di balik pagar. Masih ada satu kamera lagi dan dia segera menaruh kamera itu di dalam pagar rumah Marni yang lama.
Setelah itu Virus melangkah pergi meninggalkan desanya Setiap kali Virus melewati atau berpapasan dengan warga disana, mereka semuanya menyapa Virus. Dalam sekejap Virus sudah seperti artis di desa itu. Ia pun tak ingin lama-lama di desa itu, karena harus ada hal yang ia selidiki. Setelah ini dia harus menemui orang yang membawa mobil milik Aryo. Virus sudah mengantongi alamat rumahnya.
Beberapa jam kemudian, sampailah ia di kota. Virus menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah yang alamatnya tertulis di catatan ponselnya. Kemudian ia turun dari mobil dan perlahan masuk ke dalam rumah. Pagar rumah itu tidak terkunci, Virus dapat masuk begitu saja.
Dari luar, rumah itu terlihat sangat sepi. Halaman kebunnya dipenuhi rumput liar yang sudah meninggi dan bunga yang mengering. Banyak dedauan kering berjatuhan dan berserakan dihalaman rumah serta terasnya. Cat dindingnya pun terkelupas dan berganti warna. Banyak sarang laba-laba di atap rumahnya. Dan lantainya juga berdebu, namun ada jejak sepatu. Itu artinya sang pemilik rumah pernah ke rumahnya dalam waktu dekat. Atau bisa juga orang lain yang ingin menemui si pemilik rumah.
Virus juga tidak melihat adanya kehidupan didalam rumah, kendaraan pun tidak terparkir disana, namun tak ada salahnya mengetuk pintu rumah.
Seperti tebakannya beberapa kali ketukan dan panggilan untuk pemilik rumah, tidak ada sahutan dari dalam. Virus pun kembali pulang.
Di sisi lain, Andi terbangun karena ingin buang air kecil. Ia meraih ponselnya dan terkejut karena sudah pukul dua siang.
"Astaga, aku belum shalat!" ucap Andi yang teringat jika dia belum melaksanakan ibadah siangnya.
Segera pria itu beranjak dari ranjangnya menuju toilet untuk buang air kecil dan mengambil wudhu. Andi dan Wasabi beragama Islam. Berbeda dengan Virus yang menganut agama Kristen. Meskipun berbeda keyakinan namun persahabatan mereka terjalin baik.
Setelah menyelesaikan ibadahnya, Andi makan makanan yang ditinggalkan Virus. Meski sudah dingin tetapi makanan itu masih bagus dan tidak bau. Andi melahapnya dengan cepat. Tiba-tiba Virus datang mengejutkan dirinya hingga pria itu tersedak.
"Uhuk-uhuk...Tidak bisakah kau masuk dengan pelan-pelan?" Tanya Andi
"Untuk apa? Seperti maling saja," ujar Virus yang melihat Andi baru makan menu nasi gorengnya.
"Kau baru bangun?" Tanya Virus
"Ya, aku baru bisa tidur nyenyak haha," ucap Andi
"Aku baru dari desaku dan mereka tidak tahu dimana Aryo, setelah itu Aku ke alamat yang kau berikan, kosong tidak ada orang yang keluar untuk membuka pintu. Jendelanya tertutup tak ada suara apapun juga tidak ada mobil atau motor terparkir disana. Aku ingin menaruh kamera disana tapi sudah habis," Jelas Virus seraya duduk sembari meneguk air mineral dalam kemasan botol.
"Kau tidak perlu mengintai rumah itu," ucap Andi sembari mengunyah makanannya kemudian berhenti untuk menelan.
"Aku pernah membuat alat yang canggih, sensor DNA aku menggunakan kamera satelit. Tapi alatnya ada dirumahku, di Jakarta. Kalau kau punya DNA Aryo kita bisa melacaknya dengan mudah," ujar Andi
"Kenapa kau tak mengatakannya dari kemarin!" Seru Virus dengan nada dingin.
"Kau tak bertanya," jawab Andi enteng
Ingin rasanya Virus mencekik pria di hadapannya itu, tapi tentu saja bukan cekik dalam arti membunuh hanya saja ia kesal dengan tingkah Andi. Virus selalu menyuruhnya membuat alat pelacak tapi yang dikatakan Andi, dia akan membuatnya nanti dan nanti padahal dirumah nya, di Jakarta, pria itu memiliki alat pelacak hanya dengan menggunakan DNA.
"Jika menggunakan DNA itu artinya kau juga bisa melacak dimana keberadaan ayah kandungku?" Tanya Virus sedikit ragu.
"Bisa, aku akan mengambil sample darahmu dan menemukan kecocokan lewat sensor kamera. Tapi jika melacak Aryo, aku butuh sample rambutnya," jawab Andi yang kemudian menaruh piring kotornya di meja nakas dan mencuci tangannya di wastafel.
Virus terdiam, entah kenapa dia sangat tidak ingin tahu, tentang siapa Ayah kandungnya. Tapi disisi lain dia ingin bertemu dan mempertanyakan kenapa pria itu meninggalkan ibunya seorang diri sampai Virus terlahir ke dunia pun, pria itu tidak menampakkan dirinya.
"Malam nanti kita geledah rumah Marni yang lama, semoga saja ada bekas rambut Aryo yang tertinggal disana. Aku juga pernah menyimpan rambut uban milik Aryo di dalam botol kecil. Hah itu sudah lama aku tidak yakin apakah masih ada di lemari kamarku," ujar Virus.
"Haha untuk apa kau menyimpannya?" Tanya Andi dengan tertawa kecil
"Rambut mu lebih aneh lagi, jika di dalam ruangan seperti hitam namun jika diluar ruangan rambutmu sedikit merah,"
"Apa kau tahu, rambutku ini unik bisa berubah warna sendiri, mungkin saja aku keturunan bunglon," ucap Virus dengan candanya tetapi Andi tidak tertawa.
"Garing," jawab Virus dengan memasang raut wajah straight face. Virus pun melemparkan bantal pada wajahnya.
Pluk
"Hey kau! Tidak sopan!"
Andi dan Virus pun perang bantal, seperti anak kecil dan kemudian berlari-larian. Sampai akhirnya Andi tercebur di dalam kolam.
"Haha Kau kalah! I'm the winner," ujar Virus
"No no no, aku sengaja mengalah, aku tidak ingin bos ku kalah dan memotong gaji ku, jadi lebih baik aku mengalah ahhahaha," jawab Andi yang kemudian menenggelamkan dirinya dan berenang. Untung saja pria itu tidak mengantongi ponselnya.
"Hah kau kalah dan tidak mau mengakuinya huh loser ," ucap Virus dengan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Inggris.
Virus kemudian duduk di teras, meraih laptopnya dan menyalakannya. Ia membuka tampilan layar kamera pengintai mini yang tadi dipasangnya.
"Andi kemarilah, ada satu kamera yang tidak bisa terbuka. Apa aku salah setting atau kamera itu rusak?" Tanya Virus
"Ok sebentar," Andi naik ke permukaan dan melepaskan semua bajunya. Karena saat tercebur pria itu memakai pakaian lengkap.
Andi juga melepaskan celanna dalammnya didepan Virus dan kemudian dengan gerakan cepat ia menutupi miliknya dengan handuk.
"Oh My Gosh, kau sangat tidak tahu malu," ujar Virus
"Haha God not Gosh," ujar Andi membenarkan
"Itu sedang trend, you know! Cepatlah!" ujar Virus
"Ok, Let's see," ucap Andi seraya mengambil alih laptopnya
"Kau menyettingnya dengan benar, antara dua hal, bisa saja kamera itu rusak atau si pemilik rumah tahu keberadaan kamera itu. Tapi kita lihat dulu, bagian kamera mana yang tidak terlihat? Apakah Marni memiliki kamera cctv rumah?" Tanya Andi
"Kamera mini mu ku taruh pada dinding pagar rumahnya, ya aku lihat, Marni punya cctv di teras rumahnya ," ucap Virus
Andi lalu mengambil laptopnya dan menyalakannya, beberapa menit kemudian Andi sudah meretas cctv milik Marni lalu melihat apa yang terjadi.
"Kau memasangnya terlalu terburu-buru sehingga kamera itu terjatuh, kita bisa mendengar suaranya namun tidak bisa melihat gambarnya karena mata kameranya tertutup jalan. Berdoa saja Marni tidak menyapunya dan semoga dia tidak tahu itu apa," ucap Andi.
"Memangnya apa yang kau lakukan disana sampai kau mencuci muka mu seperti itu," ucap Andi
"Kepo," ucap Virus memakai istilah gaul orang Indonesia.
"Huh kau makin menjengkelkan awas saja nanti jika kau bertanya aku akan jawab bomat, haha," ucap Andi
"Apa itu Bomat?"
"Googling dong, katanya anak gaul haha," ujar Andi kemudian bergegas pergi sebelum Virus melemparkan sesuatu padanya lagi.
Virus mengamati CCTV nya berharap pengintaiannya tidak sia-sia. Pria itu masih menaruh curiga pada Marni. Siang menjelang sore pun silih berganti. Andi menjalankan ibadah sorenya.
Seketika Virus mengintip dari balik jendela teras, dan berkata dalam hatinya, "Andai saat itu aku tidak terpancing emosi, aku mungkin masih bersama Aryo dan kita bisa beribadah bersama ke gereja. Tapi apalah aku. Aku hanya manusia biasa yang penuh dosa. Semua sudah terjadi dan aku akan berubah menjadi Virus yang disukai semua orang. Tuhan...tuntunlah aku ke jalan mu,"