My Name Is Virus

My Name Is Virus
Jodoh Andi



"Hey kau diam saja sedari tadi, kau...tidak nyaman ya karena aku terus ngoceh," seru wanita itu.


"Hemm tidak, aku hanya lapar," jawab Andi yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu alasannya.


"Jika kita berhasil menangkap dua cecunguk itu, aku akan mentraktir mu makan daging," ucap wanita itu


Mendengar kata daging, perut pria itu semakin meronta dan mata Andi langsung berbinar. Daging adalah favoritnya dan ajaibnya Andi pun keluar dari zona tidak nyamannya tadi. Kali ini Andi-lah yang lebih cerewet dari wanita itu. Mereka berbicara dengan mata fokus mengejar penjambret, tapi saat di pertigaan tiba-tiba mereka kehilangan jejak.


"Sial kemana mereka, tadi aku lihat mereka lewat sini," ujar wanita itu


"Kau tahu berapa nomer kendaraan yang mereka pakai?" Tanya Andi seraya mengeluarkan ponsel canggihnya.


Wanita itu pun memberitahukan nomer kendaraan penjambret dan dalam hitungan detik Andi sudah bisa melacak keberadaan mereka


"Mereka masuk ke sebuah rumah di blok kanan dari gang depan," ujar Andi


"Hah, alat yang canggih atau kau yang pintar," puji wanita itu yang hanya dibalas senyuman oleh Andi.


"Ayo kita kesana!" serunya lagi yang belum Andi ketahui namanya


Wanita itu melajukan mobilnya dan menuju rumah yang disebutkan Andi. Sesekali Andi melirik wanita yang baru ia temui, semangat yang menggebu dari wanita itu menarik perhatiannya. Dia juga sangat cantik hingga Andi melupakan cinta yang baru saja patah.


Sesampainya di rumah penjambret, Andi mengetuk pintu dan menyuruh si wanita itu bersembunyi dibelakangnya.


Saat pintu di buka, Andi langsung meninju perut penjambret yang bertubuh kurus. Pria itu merintih kesakitan kemudian ia marah dan balas meninju Andi. Andi menepis tinjuan yang terus saja menyerang dari arah depannya.


Tak berapa lama datang dua pria dibelakangnya. Andi merobohkan pria kurus yang menyerangnya tadi.


Brukk


Pria kurus itu pun K.O.


"Huh kalau berani maju satu per satu," tantang Andi kepada dua penjambret lainnya yang ada di depan pintu.


Satu pria maju menghadapi Andi dan pria satunya mencoba menyerang si wanita yang bersama Andi tadi. Andi pun sedikit khawatir takut jika wanita itu tidak bisa melindungi dirinya sendiri, namun ternyata si wanita juga jago berkelahi. Semakin membuat Andi kagum tetapi seketika mengingatkannya akan bayangan Emi yang jago karate.


Selang beberapa waktu mereka berhasil merobohkan tiga penjambret. Si Wanita masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas miliknya yang mereka jambret.


Sementara di luar, Andi mengikat penjambret yang sudah pingsan. Namun satu penjambret bertubuh gemuk rupanya berpura-pura pingsan, saat Andi lengah pria itu menusukkan pisau kecil ke paha Andi.


"Aaargh," pekik Andi karena pisau itu menancap ke dalam pahanya.


Si penjambret yang bertubuh gemuk itu beranjak berdiri dan kabur. Karena tubuhnya yang gemuk ia pun susah untuk berlari cepat. Andi menarik pisau yang menancap dan semakin keluar darah segar dari pahanya. Ia pun kesakitan dalam waktu yang bersamaan si wanita keluar dari dalam dan melihat salah satu penjambret berlari dengan susah payah.


Ceklek


Suara pelatuk dibuka, "Berhenti kalau tidak kau akan ku tembak!" pekik si wanita menodongkan pistol ke arah penjambret yang hendak kabur.


Andi menoleh ke arah belakang dan melihat sang wanita sedang memegangi pistol dan mengarahkan ke arah penjambret.


Wanita itu mendekati penjambret dan memborgolnya bersama dengan penjambret yang lain.


"Kau seorang polisi?" Tanya Andi memastikan karena wanita itu tidak memakai seragam polisi.


"Iya, aku Indiana panggil saja Indi, kau...?" Tanya Indi dengan menaikkan satu alisnya.


"Andi," jawab Andi singkat kemudian meringis kesakitan.


"Astaga luka mu, setelah ini kita ke rumah sakit. Maaf ini semua gara-gara aku," ucap Indi menyalahkan dirinya.


Wanita itu segera mengambil syal yang menjadi aksesoris di lehernya lalu membuat gulungan panjang kemudian mengikatkannya pada paha Andi.


"Kalau kau tidak menabrak ku mungkin aku tidak akan bertemu bidadari cantik di depanku ini," ucap Andi mulai mengeluarkan gombalannya. Indi terkekeh geli .


"Hemm kau tidak keberatan kan jika membantuku membawa mereka ke dalam mobil?" Tanya Indi


"Oke, tidak aku tidak keberatan," ucap Andi kemudian mereka membawa tiga penjambret itu masuk ke dalam mobil Indi.


"Kau hebat seperti Andi Lau pemeran pendekar rajawali,"


"Kalau begitu, kau bibi lung nya,"


Obrolan mereka menjadi panjang kali lebar dengan candaan lainnya. Indi merasa nyaman dengan pria yang baru saja ditemuinya. Lalu tiba-tiba dia mendapatkan pesan dari Ibunya untuk pulang cepat.


Setelah memasukkan penjahat itu ke dalam sel tahanan, Indi lekas mengantarkan Andi ke rumah sakit. Karena antrian di rumah sakit itu panjang, mereka pun menyempatkan makan di kantin rumah sakit.


"Mie ayam juga daging kan, daging ayam hehe," jawab Andi yang terpenting saat itu adalah makan karena sedari pagi dia belum makan.


"Haha iya juga," ucap Indi yang kemudian sibuk ponselnya karena banyak notifikasi pesan yang masuk.


"Kau ingin pergi, pergi saja antrian dokternya masih lama. Aku bisa pulang sendiri," ucap Andi yang mengerti dengan gelagat Indi.


"Iya aku ada janji dengan seseorang. Yasudah kalau begitu aku pulang ya, terimakasih sudah membantuku menangkap penjambret itu. Bye," pamit Indi kemudian menghentikan aktivitas makannya


"Bye...," balas Andi kemudian ada sesuatu yang terlupakan. Ia lupa meminta nomor telepon wanita itu.


Seperti orang yang baru saja jatuh cinta, Andi sendiri tidak paham dengan perasaanya. Baru saja ia putus lalu bertemu seorang yang wanita baru dikenal dan Andi menyukainya.


Selesai berobat, Andi memesan ojek online, ia memilih kendaraan roda dua karena lebih praktis dan terjangkau. Andi menuju rumah sang Mama karena ia harus mengambil beberapa jaket tebalnya.


Begitu sampai di rumah Mamanya, Andi melihat mobil yang sangat ia kenali terparkir di depan rumah. Segera pria itu masuk dan mendapati sosok wanita yang baru saja ia kenal.


"Indi," sapa Andi


Indiana menoleh ke asal suara yang sudah berdiri di depan pintu, sama seperti Andi, wanita itu terkejut tak menyangka jika Mamanya akan menjodohkannya dengan Andi.


"Andi," gumam Indi kemudian tersenyum manis.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Dina


"Hemm iya Tante tadi dia membantu saya menangkap penjambret," jelas Indi


"Wah hebat juga ya Andi," puji Tito


"Iya hebat, dia juga cerdas," Indi menambahkan.


"Andi sini masuk, ini Pak Arif dan Nyonya Tito serta anaknya Indi, dan dia Andi anak saya. Dia baru pulang dari Las Vegas," ucap Dina seraya menunjuk dengan tangannya.


Andi pun masuk dengan canggung lalu menyalami Indi dan kedua orang tuanya. Kemudian mereka berbincang ringan dan sampailah pada maksud dari perbincangan itu sendiri.


"Karena waktu yang sudah cukup lama, Saya rasa langsung saja saya mengutarakan niat baik saya. Rencananya nanti malam saya yang datang ke tempat kalian...," ucapan Dina terpotong oleh Pak Arif.


"Tidak apa Nyonya Dina, karena saya tiba-tiba harus keluar kota malam harinya. Jadi karena merasa tidak enak maka kamilah yang bersilaturahmi kemari sekaligus membicarakan kelanjutan dari perjodohan Andi dan Indi," ujar Arif


"Iya benar kami para orang tua ingin menjodohkan Andi dengan nak Indi namun keputusan ada pada kalian. Lalu bagaimana tanggapan Andi dan Indiana sendiri mengenai perjodohan ini? Apakah mau menerimanya dan berlanjut ke jenjang pernikahan atau menolaknya?" Tanya Nyonya Dina kemudian.


"Sebelumnya terimakasih jika kalian ingin menjodohkan kami. Saya menerima perjodohan ini tetapi semua keputusan, saya serahkan kepada Indiana sendiri," jawab Andi dengan sedikit gugup


"Bagaimana Indi? Kau sudah melihat calon suamimu kan?" Tanya Tito


"Iya," jawab Indiana dengan menunduk malu dan wajah memerah


"Iya apa? Papa kurang jelas nih," ucap Pak Arif.


"Iya Pah, Indiana menerima perjodohan ini," ucap Indi kali ini dengan suara sedikit tegas meskipun masih dengan sikap malu.


"Alhamdulilah saya anggap perjodohan ini sama seperti lamaran ya, itu artinya lamaran kami untuk meminang Indiana juga diterima, begitu bukan?" Tanya Dina memastikan.


"Alhamdulillah....Benar, semoga kita bisa menjadi keluarga ke depannya. Untuk pembicaraan lebih lanjut mengenai pernikahan mereka, saya serahkan kepada istri saya," ucap Arif


"Bagaimana jika pernikahan dilakukan bulan depan?" Tanya Tito


"Wow cepat sekali tapi itu lebih baik dan saya setuju," jawab Dina


Andi dan Indiana sendiri tak menyangka jika mereka akan dinikahkan secepat itu.


Selesai dari perbincangan serius, keluarga Indi pamit undur diri. Saat mereka hendak pulang Andi memanggil Indiana dan meminta nomer teleponnya.


"Ini nomer telepon ku, ada disitu," ucap Indi seraya memberikan kartu namanya.


"Indi...kau...hemmm kenapa kau menerima perjodohan ini?" Tanya Andi pada Indiana sementara orang tuanya sudah menunggu Indi di dalam mobil.


"Restu Allah itu restu kedua orang tuaku, dan juga kau terlihat tampan dan baik. Jadi untuk apa menolak seseorang yang baik seperti mu. Sudah dulu ya kita lanjut lewat telepon," ucap Indi dengan lambaian tangan dan senyum manisnya.


Perkataan wanita itu membuat Andi semakin mantap dengan pilihannya.


"Polwan, cantik, berbakti pada orang tua, jago berkelahi pula tipe ku banget, Indi oh Indi," gumam Andi sembari menatap kepergian Indi dan keluarganya