My Name Is Virus

My Name Is Virus
Jealous



Keesokan harinya pagi-pagi buta saat langit masih berwarna gelap, mereka meninggalkan Los Angeles dan kembali ke Las Vegas tepatnya Nevada. Mereka menggunakan mobil Van dan hanya Virus yang menaiki Lamborghini tersebut, karena lebih nyaman menggunakan mobil Van.


Ditengah perjalanan hari menunjukkan pukul delapan pagi. Andi mengeluh untuk beristirahat dan ingin seseorang menggantikan dirinya mengemudi.


"Aku akan menggantikan mu tapi lebih baik kita istirahat, aku masih mengantuk," ujar Diego dengan mata masih terpejam.


"Baiklah kita istirahat sebentar, kita berhenti di dekat rumah makan itu ya," titah Wasabi seraya menunjuk pada Andi, dia sebenarnya juga ingin beristirahat untuk makan pagi.


Andi menepikan mobilnya dan berhenti di depan rumah makan yang dimaksud Wasabi. Virus juga ikut berhenti dan memarkirkan mobilnya disebelah mobil Van Wasabi. Semuanya turun dan memasuki rumah makan itu.


Namun Diego masih di mobil mencuci mukanya yang masih mengantuk. Hari ini ia tidak memakai rambut palsunya, kumis dan jambang. Rambutnya yang sepanjang 1,5 cm itu membuatnya terlihat seperti tentara dan Diego sedikit menyukai potongan itu. Disisi lain Valeria tidak ikut masuk, dia menunggu Virus.


"Kau tidak masuk?" Tanya Virus


"Aku menunggumu," jawab Valeria.


"Kau masuk saja dulu, aku ingin merokok sebentar," ucap Virus seraya melayangkan senyumnya pada Valeria.


Alasan Valeria menunggu Virus agar pria itu membantunya berjalan, sebenarnya kakinya masih terasa sakit. Terkadang efek obat pereda nyerinya sudah hilang dan terasa sakit di bagian luka tetapi setelah meminum obatnya ia merasa membaik. Dia mendapatkan obat dari polisi disana dan mereka memberi obatnya sangat sedikit, sehingga hari ini Valeria merasakan sakit di kakinya.


Virus bersandar pada mobilnya menyalakan korek api dan menyulutkannya pada batang rokok. Ia melihat ke arah luar, tidak memperhatikan Valeria karena ia pikir Valeria sudah masuk kedalam.



Visual Virus merokok


Sedangkan Valeria enggan untuk meminta tolong pada yang lain. Gadis itu merasa takut pada yang lain karena hanya Viruslah yang berbaik hati padanya.


"Hemm Virus," panggil Valeria dengan suara getir


"Ya," jawab Virus lalu menoleh pada Valeria. Ia melihat Valeria dengan wajah yang pucat.


"Kau kenapa?" Tanya Virus.


Pria itu bergegas mendekat tetapi Diego lebih dulu menangkap Valeria yang hampir pingsan.


"Vale kau tak apa? Astaga tanganmu sangat dingin, kau juga pucat," ucap Diego.


"Kau sakit?" Tanya Virus pada Valeria seraya mendekat kemudian membuang putung rokok yang baru saja ia nikmati.


"Obat pereda nyeriku habis dan luka tembakan itu masih terasa sakit," jawab Valeria lemah.


Ia benar-benar terlihat sakit bukan di buat-buat. Tanpa berpikir panjang Diego mengangkat Valeria ke dalam mobil Van untuk melihat lukanya. Virus menatapnya aneh biasanya pria itu tersulut emosi jika Diego mendekat Valeri.


Tak mau ambil pusing Virus menyusul mereka memberikan penolongan pada wanita itu.


Diego mendudukan Valeria diatas kursi dan mengambilkanya minum. Valeria hanya bisa diam, dia sungguh sungkan dengan pria itu terlebih lagi saat Diego tahu jika Valeria pernah mengidolakannya. Mungkin sekarang Valeria masih mengaguminya.


Virus masuk dan bertanya tentang obat yang polisi itu berikan, "Kau masih punya sisa obat yang mereka berikan?" Tanya Virus kemudian dijawab gelengan kepala oleh Valeria.


"Minumlah, hemm Vale maaf angkat kakimu ke kursi ini. aku akan membuka perbannya dan melihat lukamu. Jika lukamu memburuk kita sebaiknya ke klinik terdekat," ucap Diego seraya mengambil kursi kecil untuk meluruskan kaki Valeria yang terluka. Valeria mengambil gelas yang berisi air tersebut dan meminumnya.


Sementara Diego membuka balutan perban, Virus melihat rute jalan lewat aplikasi ponselnya untuk memastikan apakah ada klinik terdekat dari tempatnya sekarang .


"Astaga lukamu bernanah, Vale jika sakit kenapa kau tak mengatakannya pada kami?" Ujar Diego sedikit kesal.


"Aku takut, aku mengira kalian pasti akan membenciku makannya aku memilih diam," jawab Valeria dengan pelan.


"Ya kau benar aku membencimu, tapi bukan berarti aku dan mereka tak memiliki hati. Jika saat itu kau mengatakannya lukamu tak akan memburuk seperti ini, maaf jika aku sedikit membentak," ucap Diego seperti memarahi seorang anak kecil.


"Ada klinik di dekat sini, kita sebaiknya kesan," ujar Virus


"Kita? Kau atau aku?" ucap Diego seolah-olah dia tak ingin mengantarnya.


"Aku tak terbiasa mengemudikan mobil Van ini, jadi kau yang mengemudikan," ucap Virus menaikkan satu alisnya.


"Aku akan ke dalam sebentar dan memberitahukan kepada yang lain," ucap Virus lagi kemudian pergi ke dalam rumah makan itu.


Sesampainya di dalam Virus mencium aroma makanan kesukaannya, perutnya mendadak lapar dan melupakan Diego dan Valeria yang ada didalam mobil Van.


"Wow ini terlihat enak," ucap Virus seraya mengambil makanan yang sudah ada didepan meja kemudian memakannya dengan lahap.


"Mana Diego dan Valeria?" Tanya Wasabi


"Uhuk uhuk aku melupakannya, luka Valeria infeksi dan Diego berniat mengantarnya ke klinik. Ahh aku telepon saja dia," ucap Virus yang malas kembali ke mobil. Ia lebih mementingkan perutnya yang lapar. Matanya berbunga-bunga setelah melihat menu sayuran didepannya.


"Hey cepatlah," ucap Diego dari seberang telepon


"Kau saja yang mengantarnya, aku sedang makan," jawab Virus dengan mulut yang sudah penuh berisi makanan.


"What,"


Wasabi mengambil ponsel Virus dan berkata, Aku akan menemani kalian tunggu sebentar," Setelah itu Wasabi mengembalikan ponselnya pada Virus, pria itu sudah selesai makan. Kemudian ia mengajak Andi yang terlihat hampir menyelesaikan makanannya.


"Andi cepatlah," ucap Wasabi seraya menepuk pundak Andi. Wasabi ingin Andi ikut dengannya agar pria itu tak menjadi pengganggu


"Sebentar satu suapan, kau naiklah dulu nanti aku menyusul," ujar Andi.


Wasabi ke mobil Van dulu dan satu suapan pun segera dilahap habis oleh Andi. Ia terburu-buru mengunyah lalu mengambil minuman didepannya.


"Kalian cepat sekali makannya," ucap Moza yang terlihat masih banyak makanan di piringnya.


"Kita langsung menelannya Moza jadi jangan heran haha, Virus kau yang bayar semua ini ya?" ucap Andi dan langsung pergi setelahnya.


"Hah kalian yang makan, aku yang bayar?" Pekik Virus pada Andi yang sudah menjauh.


"Haha sudah, kalau kau tak mau membayarnya nanti aku yang bayar," sahut Moza.


"Bukan begitu hanya saja dia terlalu sering menyuruhku membayar semua makanannya, aku diperalat olehnya," ucap Virus


"Andi dan Wasabi tamu di negara kita, akan lebih baik kita mengenalkan mereka makanan khas Amerika," ujar Moza


"Aku suka cara pandang mu, tapi kau tak tahu ya, kalau sebenarnya masakan Indonesia itu lebih enak. Mereka mempunyai bumbu yang sangat khas, rempah-rempahnya yang sangat banyak. Suatu saat kau harus mencicipinya," ujar Virus sembari terus melahap habis makanan dimeja itu.


"Oh ya hemm aku juga ingin kesana mencicipi makanannya dan melihat pulau Bali," ucap Moza


"Bali, hemmm kota yang tak ingin aku datangi. Kota kelahiran ku dan aku membenci mereka yang ada disana," ucap Virus dengan lirih, ia menunjuk kata benci pada keluarga angkatnya dan penduduk desa tempat tinggalnya dahulu.


"Tak apa Moza, aku tahu maksud mu," ucap Virus yang masih melanjutkan makannya tetapi kali ini dengan tempo yang santai.


Moza tersadar jika sedari tadi ia memegangi tangan Virus. Wanita itu segera melepaskan tangannya. Tak berapa lama datang seorang pria dengan style pakaian kaos polos dan kemeja kotak-kotak yang tidak dikancing kemudian celana jeans hitam yang sobek pada bagian lutut, serta sepatu kets berwarna putih


"Moza, kau kah itu?" Tanya pria itu mendekat dan ingin mencium pipi Moza begitu saja. Moza refleks dengan cepat dan menghindari ciuman itu.


"Kau..." ucapan Moza terpotong


"Gio, kau tak ingat?" ujar Gio



Visual Gio


"Gio? Giordano?" Tanya Moza memastikan


"Yes sayang kau benar, astaga Moza kau tambah cantik sekarang," ucap Gio yang langsung duduk disamping Moza.


"Oh hay kau pindah kemari?" Tanya Moza


"Hemm," Virus berdehem ia tak suka dengan kedatangan pria itu. Moza langsung melihat Virus dan memperkenalkan mereka


"Oh kenalkan, Virus dia Gio teman kuliah ku dulu, dan Gio dia,"


ucapan Moza disela Virus


"Mikhael, tunangan Moza," aku Virus.


Moza menganga dibuatnya, sejak kapan mereka menjadi sepasang tunangan? Kemarin dia mengaku jika dirinya kekasih Moza, sekarang Virus mengaku pada temannya Moza jika dirinya tunangan Moza.


"Kau sudah tunangan?" Tanya Gio


"Hemm aku," ucapan Moza terpotong lagi


"Ya dan besok kita akan menikah," timpal Virus lagi.


"Oh selamat untuk kalian kalau begitu aku permisi dulu, aku tak mau mengganggu kalian," sahut Gio yang buru-buru beranjak dari duduknya dan pergi, namun beberapa langkah dia kembali lagi.


"Moza aku bisa minta nomor ponselmu? Karena aku berganti ponsel dan nomor kalian terhapus," ucap Gio seraya memberikan ponselnya pada Moza dan wanita itu dengan senang hati mengetik nomornya pada layar ponsel temannya itu. Virus menatapnya tidak senang, menurutnya temannya itu mengganggu makan siang Moza. Setelahnya Gio pergi dengan senyum dan memilih duduk di tempat yang tidak jauh dari tempat duduknya.


"Kau ini kenapa? Kemarin kau mengaku pada bos ku jika kau kekasihku dan sekarang kau mengaku tunangan ku, besok kau mengaku apalagi hah? Apa mau mu? Kau sama seperti Diego, arrgh bisa-bisa aku menjadi perawan tua," ucap Moza dengan berbisik pelan.


"Ya benar, aku hanya berlaku seperti Diego. Dia pernah mengatakan padaku jika dia tak menyukai semua pria yang mendekatimu," ucap Virus


"Lalu? Akhirnya aku akan menjadi perawan tua? Kalian senang melihatku seperti itu?" bisik Moza


"Tidak Moza, aku dan Diego hanya ingin kau mendapatkan seseorang sangat mencintaimu dan kau sangat mencintainya. Kita hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik," ujar Virus.


"Kau tahu siapa yang ku cintai?" Tanya Moza


"Tidak," jawab Virus, ia tidak peka dengan perasaan Moza terhadapnya.


"Sudahlah lupakan saja. Aku sudah selesai, cepatlah," Moza mengambil air minum dan menghabiskannya dengan cepat.


"Hemm ok, wait, ini dompetku kau bayarlah dan pesan juga untuk Diego dan Valeria," ucap Virus seraya memberikan dompetnya pada Moza.


"Kau menyerahkan dompetmu padaku? Kau tidak takut jika aku mengambil semua isinya?" Tanya Moza


"Hemm kalau kau mau ambil saja isinya,"


"Kau serius?"


"Ya, lalu aku akan melaporkan pada polisi jika kau mencurinya ahhahaa," canda Virus yang membuat Moza ikut tertawa


"Hahaha kalau begitu aku akan menghabiskan isinya. Aku yakin kau juga tidak akan berani melaporkanku pada polisi kan?" Tantang Moza yang sebenarnya dia tak berniat melakukannya.


"Oke aku mengaku kalah, aku tidak akan bisa melaporkan mu, ambil saja kalau kau mau," ucap Virus


"Sudah sana, bayar dan pesankan untuk Diego dan Valeria," timpalnya lagi.


"Iya-iya," Moza kemudian memesan makanan untuk dibungkus dan kemudian membayarnya. Setelah itu ia kembali duduk dan mengembalikan dompet itu pada Virus.


"Isinya belum habis?"Tanya Virus seraya melihat isi dompetnya.


"Belum masih ada banyak, tadi aku hanya bergurau," ucap Moza.


"Aku tidak masalah Moza jika kau ingin menghabiskannya. Apalagi jika itu untuk pengobatan Rachel, agar dia bisa berjalan normal, dapat mendengar juga melihat dengan baik," sahut Virus tiba-tiba yang teringat akan ibunya Moza.


"Kau ini bicara apa? Aku sudah menabung sedikit demi sedikit, aku ingin mengobati penglihatannya dahulu. Terimakasih untuk niat baikmu tapi aku tidak ingin bergantung pada orang lain," jawaban yang Moza berikan membuat Virus semakin ingin menolongnya. Ia bahkan ikut mencari pendonor mata untuk sebelah mata Rachel yang sudah tidak berfungsi.


"Permisi ini makanan yang dipesan tadi," ucap pelayan yang menghampiri Moza seraya memberikan makanan yang telah dibungkus.


"Terimakasih," ucap Moza dan Virus secara bersamaan.


"Aku sudah selesai, ayo kita ke klinik," ajak Virus.


Moza ingin tahu kenapa Virus tidak mengantar Valeria saat itu, kenapa Diego yang mengantarnya apakah Virus sudah tidak tertarik pada Valeria atau ada alasan lainnya. Namun Moza enggan bertanya.


Tiba-tiba ada telepon masuk dari nomor tak dikenali, Moza mengangkat ponselnya.


"Ya halo, siapa ini?" Tanya Moza kemudian


"Gio? Ok aku akan menyimpan nomormu, hah menikah, tidak itu tidak benar, dia hanya bercanda. Dia bukan tunanganku jadi santai saja," jawab Moza dari seberang telepon.


Virus menatap Moza dan membelalakkan matanya. Untuk apa Moza mengatakan kebenarannya pada pria itu. Kalau Virus bukanlah tunangannya dan entah mengapa Virus tak menyukainya. Seperti ada rasa yang sangat sakit didalam hati. Dan Virus tak bisa mengartikannya.


"Ada apa denganku kenapa aku tak suka jika Moza menerima telepon dari gio padahal mereka hanya teman, apa aku cemburu? Tidak mungkin aku menyukai Valeria bukan Moza tapi...," batin Virus. Virus menatap Moza yang tertawa dari ponselnya. Pria itu semakin panas, Virus menepikan mobilnya membuat Moza bertanya dan masih dalam keadaan menelepon


"Ada apa?" Tanya Moza


"Aku tidak bisa menyetir jika kau terus berkicau, matikan telepon mu," ucap Virus dengan tatapan dinginnya.


Tak salah lagi pria itu cemburu. Dan Virus masih bingung dengan perasaannya kini.