
"Jika kita punya rumah sendiri kau bisa bebas melakukannya dimanapun, tapi ini rumah Ayah. Ada dia disini," bisik Valeria yang enggan melakukannya di dapur rumahnya.
Diego tak menjawab, pria itu lalu mengecup leher jenjang Valeria yang membuat bulu kuduknya meremang karena geli terkena kumis dan janggut milik Diego. Pria itu membuat tanda merah disana. Kemudian beralih mengecupi pundak wanitanya. Kemudian lama memeluk tubuh Valeria seraya menempelkan bibirnya di pundaknya wanita itu.
"Ada apa? Kau terlihat memikirkan sesuatu," ucap Valeria karena tiba-tiba Diego memeluknya erat.
Pria itu melepaskan pelukannya dan menatap Valeria tajam.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, pakai jaketmu karena diluar dingin," titah Diego
"Memangnya kau mau mengajakku kemana?" Tanya Valeria
"Kalau ku katakan sekarang itu tidak surprise," ucap Diego
"Ok baiklah, aku juga akan mengganti pakaianku, sebentar ya," ucap Valeria.
Diego menunggu sembari menelepon seseorang. Setelah itu ia menutup telepon dengan rasa cemas. Apa yang sebenarnya terjadi?.
Tak berapa lama Valeria keluar dengan memakai blus berwarna merah dan celana jeans serta jaket yang ia selempangkan di lengan. Diego terpesona dengan penampilannya, hatinya pun berdebar kencang setiap melihat Valeria karena ia selalu cantik memakai apapun.
"Kau sangat cantik," puji Diego yang selalu terpesona dengan Valeria
"Ya untuk saat ini, tidak tahu jika 50 tahun nanti kau masih berkata cantik atau tidak," jawab Valeria
"Haha, kau selalu cantik dimata ku meskipun kau ompong sekalipun," ucap Diego dengan serius namun Valeria malan tertawa mendengarnya.
"Kita pergi sekarang, tinggalkan pesan pada Ayahmu jika kita pergi,"
"Iya aku sudah menulis pesan dan ku tempelkan di lemari pendingin,"
Setelah itu mereka bergegas pergi dengan menaiki motor milik Diego. Selama perjalanan Valeria memeluk kencang Diego, karena pria itu melaju dengan kecepatan tinggi. Membuat angin malam semakin terasa dingin.
Sampailah mereka di Las Vegas Fountains of Bellagio. Diego memarkirkan motornya tak jauh dari air mancur kemudian menggandeng tangan Valeria untuk melihat keindahan air mancur
"Kenapa kita kesini?" Tanya Valeria
"Sesekali, aku ingin kemari bersama orang yang aku sayangi," ucap Diego tiba-tiba berlaku sangat romantis. Saat berada ditepi air mancur itu Diego berdiri dibelakang Valeria dan memeluknya dari belakang
Ketika malam lebih tepatnya setelah pukul 8 hingga dini hari, air mancur itu muncul setiap 15 menit. Air mancur muncul kembali menari bergantian. Saat ini muncul air mancur kecil-kecil lalu Diego berbisik ditelinga Valeria, "Valeria, aku mencintaimu,"
Valeria berbalik dengan senyumnya dan berkata ,"Aku juga mencintai mu, Diego,"
Diego menggenggam tangan Valeria kemudian menyematkan cincin di jari manisnya. Ada rasa debaran yang semakin kencang dirasakan Diego dan Valeria juga merasakan hal yang sama.
Dan saat Air mancur raksasa muncul, Diego berkata pada Valeria, "Valeria, bersediakah dirimu menjadi pemilik hati ku, menikah dengan ku, selalu mendampingi ku dalam suka dan duka," Diego berkata dengan suara sedikit gugup. Pria itu baru saja melamar Valeria.
Sementara Valeria menatap tak percaya dengan mulut sedikit menganga tak berapa lama air mata kebahagiaan itu keluar dari sudut matanya
Valeria tersenyum dan menjawab ,"Ya, Aku bersedia, aku selalu bersedia menikah denganmu dan mendampingi mu sampai akhir hidup ku,"
Diego membalasnya dengan senyuman lebarnya. Kemudian ia merengkuh tubuh Valeria membawanya dalam dekapan dan mencumbu bibir manisnya bersamaan saat air mancur itu melambung tinggi keatas. Mereka pun berpelukan dan bersama-sama melihat keindahan air pancur dihadapan mereka
"Diego," ucap Valeria pelan
"Iya," jawab Diego sembari mengecup rambut Valeria yang wangi.
"Apa tidak terlalu cepat, kau melamar ku?" Tanya Valeria
"Tidak, aku tidak sabar ingin menikahi mu. Besok lusa bagaimana? Untuk pesta kita tunda dulu saja," seru Diego
"Hah besok lusa?" Tanya Valeria
"Kenapa? Jangan bilang besok lusa itu kau ada lomba offroad motorcross dan tidak meminta ijin padaku terlebih dahulu,"
"Aku dapat info dari temanku jika kau salah satu peserta lomba offroad. Vale tracking jalanannya itu berbahaya. Glen Helen Raceway, sirkuit legendaris itu sangat sulit dan butuh skill yang tinggi. Aku tidak ingin kau mengikutinya," seru Diego
"Tapi ini satu-satunya cara agar aku bisa melunasi hutang Ayah," ujar Valeria menatap Diego sendu berharap kekasihnya mengijinkannya.
"Aku sering juara balap motor, ya walaupun aku tidak pernah balapan di tempat seperti itu. Tapi aku akan mencoba yang terbaik, aku akan berhati-hati," janji Valeria.
"Tidak, maaf aku tidak bermaksud mengekang mu," ujar Diego
"Untuk hutang Ayah, besok akan ku lunasi. Aku akan meminta perusahaan untuk membayar gaji ku dimuka. Vale kau boleh mengikuti ajang balap motor lainnya, tetapi tidak d tracking itu. Tidak sayang," timpalnya lagi
"Aku tidak ingin merepotkan mu, apalagi memakai seluruh gaji mu," ujar Valeria
"Aku ini siapa mu?" Tanya Diego menatap penuh kedua bola mata Valeria
"Kekasih ku," jawab wanita itu
"Hanya kekasih? Aku baru saja melamar mu, Kau calon istriku," seru Diego dengan kata penegasan.
Tiba-tiba saja Valeria menghamburkan dirinya ke pelukan Diego, wanita itu menangis karena ternyata diam-diam Diego memahami keadaan wanita itu.
"Maaf kan aku, karena tidak memberi tahu soal lomba itu. Aku sungguh ingin berada disana dan memenangkan perlombaan. Itu jalan satu-satunya untuk melunasi hutang Ayah," lirih Valeria seraya menangis
"Masih ada aku, kau jangan sungkan untuk meminta apapun padaku, dan jangan ada rahasia diantara kita, oke. Aku menyayangimu," ucap Diego mengusap rambut panjang Valeria.
Setelah itu Diego mengajak Valeria untuk pulang sebelum larut malam.
Visual Glen Helen Sirkuit, di California
Sesampainya dirumah Valeria, Diego memarkirkan motornya dan mulai melangkah masuk. Lalu ada suara telepon dari saku celananya.
"Ya," jawab Diego
"Kau tidak pulang? Ibu mencarimu! Kau ini seperti anak yang kabur dari rumah, tidak ada kabar, di telepon susah, pesan pun tidak dibalas," seru Moza dari seberang telepon dan sedikit kesal
"Haha maaf, kan ibu sendiri yang bilang jangan pulang sebelum aku membawa calon istriku. Besok aku akan pulang, membawa kakak iparmu," ucap Diego, dan yang berada di sampingnya pun Valeria tersenyum.
"Hah, ya ya ya, apakah dia Valeria? Suruh dia kemari dan ambil kacamata miliknya yang tertinggal di mobil Virus," seru Moza
"Jadi kau sudah tau?"
"Bukan tahu lagi aku sudah melihat semuanya, kalian melakukannya di mobil Virus dan terekam cctv didalam mobilnya itu. Maka berhati-hatilah jika melakukan hubungan," ujar Moza kesal kemudian menutup telepon.
"Kenapa?" Tanya Valeria karena raut wajah Diego tiba-tiba berubah panik.
"Vale, sebentar lagi kita akan jadi artis," ucap Diego
"Apa maksudmu?"
"Sudah lupakanlah, lebih baik kau tidak mengetahuinya," ucap Diego kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi
"Hey, kau bilang jangan ada rahasia diantara kita, ayo katakan, ada apa?" Tanya Valeria lagi
"Hemm janji jangan marah?"
"Iya,"
"Apa yang kita lakukan di mobil Virus, semuanya itu terekam cctv di dalam mobilnya,"
"Apa!"
Diego kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan segera menutup pintunya.