
Pukul tujuh pagi waktu Indonesia, Andi mengambil jadwal penerbangan ke Jakarta. Sementara Virus berada di Bali, menunggu informasi dari Andi berharap ada keajaiban tentang Aryo dan Ayah Kandungnya.
Sesampainya di Jakarta, Andi tidak langsung pulang ke rumah. Pria itu berencana memberikan kejutan pada Emi dengan langsung kerumahnya tanpa memberi kabar sebelumnya. Andi memakai mobilnya yang terparkir lama di parkiran bandara. Mobil yang dia dapatkan hadiah dari Tuan Paldo saat membantu Wasabi mencari anaknya yang hilang.
Tok Tok Tok
Andi mengetuk pintu rumah Emi yang hanya di huni oleh Emi dan pamannya, sedangkan Ibunya kerja di luar kota. Sangat lama Andi menunggu pintu itu terbuka, ia pun segera menelepon Emi.
Telepon tersambung akan tetapi Emi sangat lama mengangkatnya.
"Sudah pukul delapan, apa Emi masih tidur?" Gumam Andi
"Ya hallo," jawab Emi dari seberang telepon. Sepertinya Emi belum sadar sepenuhnya. Suaranya serak dan dia juga tidak melihat siapa si peneleponnya.
Saat Andi ingin membalas sapaan Emi, tiba-tiba Emi berbicara kembali, "Hallo? Nanti telepon lagi ya aku masih ngantuk," kemudian terdengar suara sambungan telepon di putus.
"Tidak biasanya Emi seperti itu," gumam Andi
Sementara didalam kamar, Emi melemparkan ponselnya dan sedikit marah dengan orang yang mendusel di belakangnya
"Aku sudah bilang jika aku terima telepon jangan ganggu aku," seru Emi kepada seseorang yang memeluknya dari belakang sambil tiduran.
"Maaf sayang habisnya kau sangat manis jika bangun tidur seperti ini," ucap suara pria seraya menciumi leher dan tengkuk Emi, membuat wanita itu tertawa geli.
"Haha itu geli haha," tawa Emi kemudian melepaskan pelukan pria itu dan beranjak bangun.
"Kau mau kemana hemm, aku belum puas semalam. Kita lakukan lagi yuk," ujar si pria namun Emi menolaknya dengan gelengan kepala.
"Ayolah," pinta si pria
"Haha coba saja kejar aku," tantang Emi kemudian berlari-larian di rumahnya
"Oke aku akan mengejar mu, jika aku menangkapmu jangan salahkan aku ya," ucapnya
"Itu seperti suara Emi, dia berbicara dengan siapa?" gumam Andi dan kemudian ia mengetuk pintu rumah Emi
Tok Tok Tok
"Stop, ada yang mengetuk pintu,"
"Biarkan saja, paling orang minta sumbangan," cibir si pria
"Jika itu paman ku bagaimana?" Tanya Emi
"Pamanmu punya kunci rumah kan? Dia tak perlu mengetuk pintu," ucap si pria
"Tapi jika sepagi ini, itu artinya bada hal penting atau tamu penting, aku buka dulu," ucap Emi
Andi semakin penasaran dengan suara pria yang berbicara dengan Emi didalam. Ia pun bersembunyi setelah mengetuk pintu, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Ceklek.
Emi membuka pintu dan melihat tidak ada siapapun disana, "Aneh tidak ada siapa-siapa," ucap Emi
Kemudian si pria mendekap Emi lagi dari belakang dan memeluknya erat.
"Sudah ku bilang kan, itu hanya orang yang minta sumbangan atau orang iseng," ucap si pria seraya mencium pipi Emi.
"Hey jangan disini tetangga bisa melihatnya," cegah Emi kemudian berbalik dan mendorong pelan pria itu.
Pintu belum tertutup namun si pria mendekati Emi dan mencium bibirnya. Pemandangan yang membuat Andi sakit hati. Andi tidak menyangka jika kekasih yang sudah 6 tahun ia pacari ternyata selingkuh di belakangnya. Bahkan sudah tidur bersama pria selingkuhannya itu.
Andi saja belum pernah menyentuh Emi. Dia begitu menghormati wanitanya. Yang lebih parahnya, pria yang menjadi selingkuhan Emi adalah Eros, sahabatnya sendiri.
Andi keluar dari persembunyiannya dan memukul keras pintu ruang tamunya.
"Hah," seru Emi terkejut dan langsung berbalik melihat siapa yang memukul pintunya.
"An-andi," ucap Emi dengan gagap ketika perselingkuhannya terkuak.
"Kau menghianati ku! Apa kurangnya aku hah?" ucap Andi
"Andi kau dengarkan aku dulu,"
"Dengarkan? Kau ingin bilang jika ciuman itu hanyalah sebuah khilaf! Begitu? Shiit!" Hardik Andi dengan murka yang membara. Maksud hati ingin memberi kejutan namun malah dia yang terkejut.
"Aku terus meminta mu agar menikahi ku, tapi apa? kau selalu bilang belum siap. Aku takut kau tidak serius denganku,"
"Memangnya kau ingin hanya makan cinta setelah kita menikah? Kita juga butuh uang, aku belum punya pekerjaan tetap, karena aku masih kuliah sama sepertimu... Aku...aku selalu berusaha menjagamu, tidak menyentuh kehormatan mu tapi kau... " Andi berhenti karena ia mencoba menahan tangis dan emosinnya.
"Kau memberikannya semudah itu padanya tanpa ikatan!? Kau anggap hubungan kita seperti apa? Kau ingin pria tampan? Ingin pria kaya!" pekik Andi kemudian mengatur napasnya mengontrol emosinya.
Emi menangis, di sisi lain Emi masih mencintai Andi namun disisi lain Emi menginginkan hubungan yang baru. Sementara Eros terdiam kaku tidak membela Emi sedikit pun, ia hanya menjadi penonton yang pasif tanpa suara.
"Andi, hiks.. Aku jenuh dengan hubungan kita yang selalu monoton," ucap Emi dengan lirihnya
"Oh... maksud mu kau ingin hubungan seperti kau dan dia hah? Hubungan perzinahan maksudmu! Aku masih punya iman Emi, Aku taat pada agama ku dan aku bukan pria seperti itu. Fiks, Kita putus!!" Pekik Andi kemudian pergi meninggalkan Emi tanpa toleran lagi.
Namun baru beberapa langkah pria itu melangkahkan kakinya, ia kembali lagi.
"Andi kau menarik ucapanmu kan?" Tanya Emi seraya memegang tangan Andi.
"Mimpi saja kau, lepaskan," ucap Andi dengan dinginnya seraya menepis tangan Emi.
Andi terus melangkah mendekati Eros, "Aku melupakan sesuatu,"
"A-pa?" Tanya Eros dengan santainya merasa tidak bersalah.
Debuuug
Sebuah tinju melayang cantik dan mendarat tepat di wajah Eros. Andi mengibaskan tangannya karena tangannya ikut terasa sakit. Sementara Eros merintih kesakitan.
"Arghh.. Andi hentikan, Aku bisa menjelaskan," lirih Eros
"Menjelaskan apa hah? Kau ingin Emi kan, ambil saja wanita itu, sangat cocok untukmu. Dan kau tidak akan menemukan sahabat yang terbaik seperti diriku," ucap Andi dengan pasrah memberikan Emi dan melepaskan persahabatannya.
Merasa kurang puas, Andi mencengkeram kerah Eros dan kembali meninjunya, kali ini Andi mendaratkan tinjunya pada bagian perut dan terakhir Andi menendang keras dada Eros hingga pria itu jatuh terduduk.
"Seharusnya aku mengajak Virus kemari, untuk menghajar mu," seru Andi kemudian ia melangkah keluar.
Emi terus berteriak memanggil Andi, ia tak rela jika harus berpisah. Tapi sia-sia sudah teriakannya, mau jungkir balik atau salto atau bunuh diri sekalipun, Andi tetap tak akan tergerak.
Andi masuk kedalam mobil dengan membanting keras pintu mobilnya.
"Arghh," keluh Andi seraya memukul setir kemudinya.
"Jika aku tahu kau wanita seperti itu lebih baik kita putus dari dulu. Astaga aku hanya membuang waktuku demi wanita seperti dia. Kau tidak layak untukku, benar kata Virus. Aku hanya menjaga jodoh orang," ucap Andi pada dirinya sendiri seraya melajukan mobilnya dengan kencang karena terbawa emosi
Beberapa meter Andi melajukan mobilnya, tiba-tiba saja pria itu menepikan mobilnya dan mengambil sebuah foto dari dalam dompetnya.
"Tawamu, janjimu, dan cinta mu semuanya palsu," ucap Andi kemudian menyobek-nyobek kertas Poto yang berukuran kecil itu.
______
Emi kau telah menyia-nyiakan pria cerdas yang bisa mengubah dunia. Kau bodoh Emi😤😤😪😪😴😴