
Moza kini berada diruang operasi. Kondisinya cukup kritis. Sang Dokter menanganinya langsung dengan sangat serius. Peluh bercucuran keluar dari dahi sang Dokter. Dengan sigap suster menyekanya dengan kapas agar tidak mengganggu jalannya operasi.
Terdengar bunyi detak jantung dengan ritme yang stabil serta diagram garis yang terlihat dari monitor EKG, menunjukkan jika Moza masih baik-baik saja.
Tembakan peluru pada bagian kepala hingga leher tentunya dapat menyebabkan kerusakan baik pada otak, tempurung kepala, tulang belakang, mata dan tentunya pembuluh darah utama yang terletak di kepala. Kondisi seperti ini biasanya sekitar 90%dapat menyebabkan kematian bahkan sebelum sampai ke rumah sakit. Tetapi Moza beruntung bisa bertahan sampai sejauh ini.
Peluru yang terlontar dan mengenai kepala belakangnya tidak sampai menembus otak dan bagian depan. Jika hal itu terjadi bisa saja Moza tidak tertolong. Wanita itu mengalami keretakan pada tengkorak dan perdarahan yang menggumpal di bagian kepala.
Dokter juga telah melakukan pemeriksaan tambahan seperti rotgen kepala, CT scan atau MRI. Setelah beberapa jam berada diruang operasi, dokter pun keluar memberikan kabar yang harus diterima oleh keluarganya.
"Koma," sebuah kata keramat yang terucap dari bibir sang dokter membuat kelu di bibir Rachel.
Mereka yang beraada diruangan itu mematung, berharap apa yang mereka dengar tidak pernah terjadi, namun ini kenyataan.
Syok
Itulah yang mereka alami sekarang, Diego mengepalkan tangannya merasa kesal pada orang yang telah merusak syaraf otak dikepala Moza.
"Kemungkinan jika keadaan Moza stabil dan terlepas dari masa komanya, 50% akan mengalami kejang terus menerus dan membutuhkan obat anti epilepsy seumur hidupnya, selain itu kelemahan pada anggota tubuh juga dapat dialami akibat dari cedera pada saraf di kepala. Saya tidak dapat mengatakan lebih lanjutnya karena pemeriksaan itu juga dibutuhkan setelah pasien dalam keadaan sadar," Dokter terdiam melihat keluarganya merasa terkejut dan hanya bisa pasrah.
"Jika ada hal lanjut yang ingin ditanyakan, silahkan temui saya di ruangan dokter. Saya berharap Moza cepat terlepas dari masa komanya. Saya permisi," pamit sang dokter bedah saraf.
"Terimakasih Dokter," ucap Valeria mewakili ucapan keluarganya.
Dokter pun meninggalkan lorong koridor tempat ruang tunggu operasi, tempat yang cukup sepi. Saking sepinya hingga membuat hingar-bingar gema isak tangis yang saling bersahutan di lorong itu.
"Aku akan membunuh mereka," Diego ingin membuat perhitungan pada orang yang telah mencelakai Moza
"Kau mau kemana?" Tanya Valeria yang tidak ingin Diego mencari masalah.
"Aku ingin membuat perhitungan pada orang yang telah mencelakai adikku,"
"Virus dan anak buahnya sudah mengatasinya," ujar Valeria
"Lalu aku harus duduk manis disini? Menangisi kondisi Moza tanpa berbuat apapun? Aku tidak bisa Vale. Moza itu adik ku! Dia berlian di keluarga ku," desis Diego dengan segala emosi dalam dirinya.
"Maaf, aku tahu yang kau rasakan. Tapi aku juga tidak ingin kau terluka," ucap Valeria dengan sesegukan menahan lengan Diego berharap pria itu tidak pergi berperang.
"Aku titip Ibu ku, jaga dia. Dan kabari aku jika ada kabar terbaru mengenai kondisi Moza," pamit Diego melepaskan tangan Valeria dan pergi dengan mantap tanpa memberinya kecupan maupun pelukan terakhir.
Chuck menghentikan mobilnya saat melihat satu mobil terbalik di tengah jalan dan mobil Virus terparkir di belakangnya dengan pintu terbuka.
Tak berapa lama truk sampah melewati mereka. Azkha melihat target yang ingin di kejar Virus. Berdiri dia atas truk sampah.
"Kita putar balik dan ikuti dia," Perintah Azkha pada Chuck.
"Lalu bagaimana dengan bos, kita harus menyusulnya kesana,"
"Dia pasti baik-baik saja, cepatlah sebelum kita kehilangan jejaknya!" seru Azkha yang masih mengamati truk sampah itu dari balik spion yang basah karena diluar masih hujan.
Chuck berputar dan mulai mengejar Sam yang sedang berdiri di atas truk sampah. Terlihat Sam ingin keluar dari tempat busuk itu. Ia berhasil keluar dari dalam truk tetapi pria itu masih berpegangan pada sisi badan truk.
Sam menjatuhkan dirinya dan berguling ke aspal, sebelum truk sampah masuk ke dalam terowongan. Tak berapa lama ada mobil yang menjemputnya. Azkha dan Chuck membuntutinya.
.
.
.
.
Gordon dan Paquina baru saja pulang dari rumah sakit. Pria itu kini dapat kembali berjalan, walaupun belum bisa berjalan cepat setidaknya dia bisa berdiri dan menggerakkan kakinya. Selain itu Gordon juga belum bisa berbicara dengan baik. Paquina memilih terapi yang sangat mahal agar suaminya dapat berjalan kembali. Butuh dua atau tiga kali terapi agar keadaan Gordon kembali normal
Sebenarnya istrinya sangat baik, dia terlalu memuja Gordon. Namun Gordon tidak memiliki hati untuknya. Cintanya hanya untuk Ratih seorang. Itulah yang membuat Paquina merasa sepi, sepi akan belaian kasih sayang seorang pria. Dia pun mencari kepuasan dengan berselingkuh dan menjadi partner ranjang dengan adik iparnya, Sam.
"Kau tidurlah, besok kita terapi lagi ya sayang. Agar kau bisa berbicara kembali," ucap Paquina seraya menciumi bibir Gordon yang sedikit miring akibat stroke dadakan. Stroke yang disebabkan karena meminum racun.
Gordon terlihat ingin menolak ciuman itu namun apa daya dia tak dapat menepis karena kondisinya. Setelah itu Paquina menggantikan pakaian tidur untuk Gordon.
Virus sampai di apartemen Gordon. Pria itu membekap mulut penjaga apartemen dan melumpuhkan sarafnya di bagian leher. Penjaga itu pingsan dan Virus harus bergerak cepat.
Setelah mengamankan penjaga, Virus pergi ke ruang resepsionis dan menggunakan hak penjaga keamanan untuk mengetahui di kamar berapakah Gordon berada.
Sang resepsionis pun tidak menaruh curiga sama sekali, karena Virus sedang menyamar sebagai penjaga keamanan disana. Dengan mudah pria itu masuk dan naik kedalam lift menuju lantai kamar tempat Gordon.
Sesampainya di depan kamar apartemen Gordon, Virus menempelkan kartu akses masuk khusus penjaga. Tetapi terdengar suara sepatu wanita mendekat pintu dan membukanya. Virus segera mundur dan berpura-pura sedang lewat.
Paquina melewati Virus, tetapi wanita dengan make up tebal dan pakaian super blink-blink berbalik dan mendekati Virus seraya mengendus aroma parfum yang membuatnya terpikat.
"Maaf, parfum mu sangat enak dan jujur saja membuatku tertarik. Itu pasti parfum mahal, kau membelinya dimana?" Tanya Paquina yang penasaran dengan aroma parfum Virus yang menggoda.
Virus membuat sendiri aroma parfum khusus untuk dirinya sendiri. Tidak dijual dipasaran, dan dapat membuat sang wanita mendekat. Virus sengaja memakainya dihari pernikahan, meskipun sudah terkena basah sekalipun aroma itu tetap melekat. Sayangnya pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia, menjadi duka untuknya.
"Saya tidak tahu Nyonya, ini hadiah dari istri saya," jawab Virus berbohong.
"Istrimu mempunyai selera yang bagus, hmm maaf sudah mengganggu mu," Paquina pergi meninggalkan Virus dan berjalan di sepanjang koridor lantai itu.
Setelah Paquina menghilang dari pandangannya, Virus kembali ke kamar apartemen Gordon. Dengan kartu akses yang dimilikinya, ia dapat dengan mudah masuk.
Virus berjalan pelan dan mengendap-endap seraya mengamati suasana. Sepi, tak ada yang berjaga. Tak berapa lama ada seseorang yang akan masuk. Dia sedang membuka pintu dengan kartu aksesnya. Virus kembali ke pintu depan seraya mematikan saklar lampu yang ada di dekat pintu kemudian bersembunyi di balik pintu utama.
Anak buah Gordon masuk dan saat pintu hendak ditutup, Virus membelit leher pria itu dengan rantai besi ditangannya.
Pria itu meronta-ronta berusaha melepaskan tubuhnya dari jerat lilitan rantai besi Virus, kemudian mati karena kehabisan oksigen. Ada membekas lilitan rantai besi merah pada leher pria itu.
Virus melanjutkan langkahnya dan membuka pintu disetiap ruangan. Ada dua kamar, satu kamar berukuran kecil telah ia masuki dan kosong tak ada siapapun didalm. Virus beralih ke kamar satunya.
"Itu pasti kamar utamanya," batin Virus