
Di bagian Indonesia, hari sudah siang. Virus sedang bersiap pergi ke desa Karangasem setelah mendapatkan foto Marni yang terbaru. Ia meninggalkan Andi yang masih tertidur pulas. Setelah meninggalkan memo di nakas dekat tempat tidur. Pria itu bergegas pergi.
Pria itu menghirup napas yang dalam setelah mendekati kawasan yang dituju dan membuang napasnya dengan kasar. Berharap dia tidak mendapatkan caci makian dan semoga saja tidak ada yang mengenalinya.
Virus sengaja berjalan menuju ke dalam kampungnya, ia tidak ingin mobil yang dia sewa menarik perhatian. Pria itu memakai topi dan ditutup dengan tudung kepala jumpernya dia pun memakai kacamata agar wajah baratnya tidak terlihat mencolok.
Tempat itu masih sama hanya bedanya jalanannya saat ini sudah banyak yang beraspal. Virus berjalan cepat menuju rumahnya yang dulu, rumah Aryo dan Marni.
Orang tua Aryo sebenarnya orang Jawa namun ayah angkatnya itu lahir di Bali, dan mendapat jodoh orang Jawa. Karena senang dengan kehidupan di sana mereka pun menetap di Bali.
Untung saja saat itu suasana sepi karena panas terik matahari yang membuat orang-orang memilih masuk kedalam rumah dan beristirahat.
Sesampainya di depan rumahnya yang dulu, Virus tercengang karena ia melihat sebuah rumah yang hancur seperti rumah bekas terbakar. Atapnya rubuh, dindingnya pun sedikit berwarna hitam. Virus menatap sekeliling untuk bertanya dengan salah satu penduduk disana.
Ada segerombolan ibu-ibu sedang menganyam dan bersenda gurau sembari duduk di teras rumah. Jaraknya dua rumah dari seberang. Kemudian Virus datang menghampiri dan bertanya dalam bahasa Indonesia fasih.
"Hemm permisi, apakah kalian tahu dimana pemilik rumah yang disana, yang bekas terbakar itu," ucap Virus seraya menunjuk rumah yang di maksud.
"Oh, rumah itu sudah lama tidak dihuni. Tetapi pemilik rumahnya masih tinggal di daerah sini. Sedikit jauh ini belok ke kiri lalu lurus saja, ada rumah yang pagarnya ada patungnya dan banyak pohon Kamboja dihalaman rumahnya," ujar Ida, salah satu warga disana.
"Maaf anda mau cari siapa? Aryo atau Marni?" ujar ibu satunya yang bernama Galuh
"Saya mau mencari I Wayan Aryo Swastiko," jawab Virus
"Beli Wayan Aryo, dia sudah lama menghilang. Tidak ada yang tahu dia dimana. Kalau rumah yang saya tunjukkan tadi itu rumah Marni dan suami barunya," ujar Ida lagi
"Maaf sebentar, anda seperti orang barat ya? Anda siapanya Aryo?" Tanya Ibu yang satunya bernama Desiani, karena terus memperhatikan wajah Virus yang sedikit tinggi lebih tinggi dari pria Indonesia juga berwajah orang barat.
"Hemm iya, saya anaknya, Virus," ucap Virus yang kemudian semua ibu-ibu disana tercengang mendengarnya
"Hah Vi-Vi...Virus," ucap Ida yang kemudian menghentikan kegiatan menganyamnya.
Mereka semua ketakutan mendengar nama Virus, dan beberapa diantaranya berdiri dan berpura-pura pergi ada urusan lain.
"Aduh maaf aku lupa matiin kompor, Ida aku pulang dulu ya," ucap Desiani.
"Ya sudah saya juga permisi," ujar Virus berpamitan, namun Ida memberanikan diri menghentikan langkah pria itu.
"Virus tunggu," panggil Ida
Virus menoleh dan berbalik, Ida menghampirinya dan mengulurkan tangan.
"Kami minta maaf, saat itu memperlakukanmu dengan buruk tanpa tahu kebenaran yang terjadi. Setelah beberapa hari kepergian mu. Anakku Cemerlang buka suara, dia berkata jika Virus lama memendam rasa sakit hati karena pembullyan yang terjadi disekolah," ujar Ida kemudian menitikkan air matanya.
Galuh menghampiri Ida dan Virus, "Saya juga minta maaf terus mengatai kamu yang bukan-bukan. Kamu tidak dendam kepada kami kan?" ujar Galuh menyentuh lengan Virus.
Ada rasa penyesalan yang teramat dalam dari mereka. Dan perkelahian yang terjadi saat itu bukanlah permintaan Virus. Mereka tahu kejadian sebenarnya. Hanya saja takdir yang menjadikan Dimas harus meninggal saat itu adalah kecelakaan dari ketidaksengajaan. Kekuatan Virus yang tidak terkendali membuat Dimas kehilangan nyawanya.
Virus menerima uluran tangan Ibu Ida, "Aku sudah memaafkan Ibu Ida dan juga yang lainnya, aku juga tidak mempunyai dendam pada kalian hanya saja rasa sakit itu masih ada ketika mengingatnya," ujar Virus
"Terimakasih, kau sudah memaafkan kami," ucap Ida
"Sungguh kau telah memaafkan kami? Jangan dendam dengan warga desa di sini ya Virus. Selama ini jika mengingat kejadian itu, aku pun tidak nyenyak karena akulah yang paling berkata kasar padamu," sahut Galuh
"Namun yang tidak aku mengerti, kenapa Aryo tidak jua mendatangi ku," ujar Virus.
"Aku berpikir malah Aryo ada bersamamu. Aryo tidak pernah kembali setelah bertengkar hebat dengan Marni, aku tidak tahu mereka bertengkar tentang apa. Keesokan harinya setelah mengantar mu ke kota, lebih tepatnya.... malam hari setelah pertengkarannya dengan Marni, Aryo tidak kembali," ucap Ida sembari mengingat.
"Aku juga dengar banyak suara piring yang pecah saat itu, setelah itu Aryo menjalankan mobilnya dengan ngebut. Tentu saja aku ingat karena setelah itu rumah Marni terbakar. Dia terus menangis histeris. Sampai sekarang dia tidak pernah cerita. Kami pun tidak berani bertanya," jelas Galuh
Virus yang mendengarnya jadi ikut berpikir dan ingin segera menemui Marni, ia pun pamit kembali. Namun, tak berapa lama datang warga lain, Desiani yang memberitahu semua warga tentang kedatangan Virus saat itu. Desiani takut jika Virus kembali untuk membalas dendam pada semuanya.
"Virus," panggil Catur, Kepala Desa disana
"Iya," jawab Virus hampir tidak mengenalnya karena umurnya yang sudah tua.
Kepala desa itu datang mendekat dan memeluk Virus, mereka seperti Ida dan Galuh yang mempunyai perasaan bersalah yang mendalam.
"Saya sebagai kepala desa sedikit salah, karena tidak menanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi sebenarnya. Wasabi dan Cemerlang mendatangi ku dan memberi kesaksian jika kau terlalu sering di hina dan dibully, terutama tentang mendiang ibu kandung mu. Wasabi juga mengatakan padaku jika dirimu mempunyai kekuatan diluar batas. Seperti halnya Wasabi yang dapat berteleportasi. Kau juga memiliki kekuatan tenaga dalam. Memang tidak bisa dicerna dengan nalar namun itulah yang terjadi. Dan kejadian itu adalah kecelakaan yang sudah ditakdirkan. Namun rasa bersalahku terus menghinggapi. Sebelum kau memaafkan aku dan warga disini," sahutnya dengan tulus dan dengan penjelasan yang panjang lebar dengan raut wajah sedih
"Aku sudah memaafkan kalian, dan Maafkanlah Aku jika aku mempunyai salah,"
Semuanya bergiliran memeluk badan berjabat tangan. Bahkan ada yang berswa foto karena desa mereka kedatangan bule.
Virus mendatangi rumah Marni, setelah beberapa kali ketukan Marni baru membuka pintu rumahnya
Ceklek
"Hemm siapa ya? Mau cari siapa?" Tanya Marni berbicara bahasa Inggris, setelah melihat penampilan Virus yang berwajah barat dan masih muda.
Sorot matanya yang tajam membuat Marni mengingat seseorang namun ia menepis dugaannya. Ia berpikir mungkin saja itu wisatawan yang mencari suaminya. Karena suaminya yang baru bekerja sebagai Guide tour.
"Aku mencari suami mu," balas Virus dengan berbahasa Inggris
"Suami ku sedang kerja diluar, tapi nanti sore dia kembali. Jika tidak keberatan kau bisa menunggunya dengan beristirahat di rumahku," balas Marni sedikit genit dan dengan bahasa Inggris meskipun logatnya masih kebali-balian.
"Oh tentu, aku lelah sekali, dan bisakah kau mencari kan ku tenaga pijat," ujar Virus sedikit berdrama
"Kebetulan aku bisa pijat, kalau kau mau aku bisa melayani mu," ujar Marni bertambah genit sembari membelai dagu Virus
"Hemm aku tidak sabar ingin melayani mu juga," balas Virus dengan senyumnya padahal hatinya sangat marah.
"Kalau begitu kita masuk saja , ayo ku antar ke kamar," ucap Marni tingkahnya seperti seorang wanita penghibur.
Setelah menutup pintu dan menguncinya, dia menggandeng lengan Virus dan membawanya kedalam kamar. Virus mengikuti permainan Marni.
"Kau buka dulu pakaianmu, aku ambil minyak zaitun dulu ya, itu bagus untuk melancarkan peredaran darah sekaligus aroma terapi nya bisa membuatmu relaks," ucap Marni dengan nada dibuat sedikit mendeesah
Virus membuka jaketnya dia masih mengenakan kaos yang ketat membentuk bentuk tubuhnya yang kekar. Dia memasang kamera dan mengatur letaknya untuk mendapatkan posisi yang bagus. Marni tidak akan buka suara jika tidak diancam. Sehingga Virus berusaha untuk menggodanya.
Tak berapa lama terdengar suara langkah Marni yang menggunakan sandal didalam rumahnya. Virus pun segera duduk di ranjang.
"Kenapa belum di buka bajunya, atau mau aku yang bukakan?" Tawar Marni seraya mengelus bahu Virus
"Boleh tapi sebelumnya bagaimana jika kita melakukan pemanasan," balas Virus meraih pinggang Marni untuk lebih mendekat kepadanya
Marni pun duduk dipangkuan pria itu, bahkan kali ini ia melingkarkan kedua lengannya pada leher Virus.
"Pria bule sepertimu selalu suka pemanasan seperti apa," ucapnya seraya menyentuh rahang Virus dan mencoba menciumnya.
Virus mendekatkan wajahnya sangat dekat seperti orang yang akan berciuman.
"Terserah kau saja, lakukan sesukamu," balas Virus menggoda Marni dengan berbicara dekat, hanya tinggal satu senti saja bibir mereka bersentuhan.
"Tapi kau sudah bersuami, aku tidak ingin mengganggumu," ucap Virus kemudian menjauhkan wajahnya
"Aku akan meninggalkannya jika kau mau bersamaku," ujar Wanita gila itu.
"Memangnya siapa yang mau denganmu, wanita tua yang bermulut jahat," batin Virus
Marni yang tergila-gila dengan wajah Virus kemudian meraih wajah Virus dan mencium pipinya kemudian berbisik.
"Ayo kita lakukan, aku akan melayani mu sampai kau puas," ujar Marni menggoda Virus. Ingin rasanya Virus menampar Marni dan memberikan pelajaran untuknya.
"Aku akan melayani mu jika kau bilang padaku dimana Aryo," ucap Virus dengan bahasa Indonesia yang fasih, karena sebelumnya dia berbicara pada Marni dengan berbahasa Inggris
Virus menatap tajam Marni, dan wanita itu ingat akan tatapan Virus yang mematikan. Marni pun beranjak berdiri dari pangkuan Virus.
"Aku mencari Aryo, dimana dia?" Tanya Virus to the points dengan bahasa Indonesia lagi.
"Kau bisa bahasa Indonesia? Kau..Virus?" Terka Marni sedikit ketakutan
"Siapa lagi, aku anak yang kau buang," ujar Virus menatap sinis Marni yang berdandan menor. Dia masih menjadi wanita terkaya di desanya. Bahkan lebih kaya dari sebelumnya.
"Kau salah tempat, Aryo sudah lama meninggalkan ku tanpa kabar! Dia membuatku menjanda bertahun-tahun lamanya. Aku tidak ada urusan dengan orang itu lagi jadi lebih baik kau pergi saja," ucap Marni
Virus bangkit dari duduknya dan mengambil kamera ponselnya. Kemudian ia mematikan rekaman itu.
"Aku merekam adegan mu yang merayu ku tadi. Katakan padaku dimana Aryo atau Kau ingin rekaman ini sampai pada suamimu?" Tanya Virus
"Aku tidak tahu dimana pria itu, sumpah aku tidak tahu! Dia pergi setelah kami bertengkar, dia bilang akan ke menyusulmu ke kota tapi sampai sekarang dia tidak pernah kembali," ucap Marni dengan sedikit berteriak dan dengan air mata yang mengalir deras.
Virus merasa ada yang disembunyikan dari Marni, air matanya seperti air mata buaya. Jika begini kejadiannya Virus perlu menyelidikinya sendiri.
"Baiklah aku akan pergi, tapi jika hilangnya Aryo ada sangkut pautnya dengan mu aku akan membunuhmu," Ancam Virus dan seketika Marni tersentak. Melihat raut wajah terkejutnya itu membuat Virus lebih percaya pada nuraninya yang mengatakan hilangnya Aryo ada hubungannya dengan Marni. Pria itu lantas pergi dengan meninggalkan Marni.