
Darren mengusapkan hidungnya pada pipi Moza, "Moza aku tahu kau pernah menaruh hati padaku kan?"
'Percaya diri sekali orang ini,' batin Moza
Moza tidak pernah menaruh hati padanya, melihat wajahnya saja sudah seperti orang messum. Namun dari perkataan Darren membuat Moza memiliki ide untuk keluar dari jeratannya.
"Kau tahu dari mana jika aku pernah menyukaimu," ucap Moza dengan suara di maniskan. Ia sengaja membenarkan ucapan Darren padahal dia ingin muntah saat mengucapkan itu.
"Eve yang bilang padaku. Kau jangan malu mengakuinya, jika kau mau aku siap menerimamu sekarang dan bercinta denganmu," bisik Darren
"Kau mencengkeram tanganku bagaimana aku bisa melayani mu," ucapnya
Darren kemudian melepaskan tangan Moza dan menyentuh pinggang wanita itu. Moza sangat risih dengan sentuhan tangan Darren. Ia pun menyentuh rahang Darren seakan-akan ingin mengecup pipinya namun Moza melewati pipi dan beralih ke daun telinga Darren. Moza membuka mulutnya dan mulai menggigit dengan sangat keras.
"Arghhh," pekik Daren dan mendorong Moza dengan keras hingga membentur kaca dinding. Kepalanya pun menjadi pening.
Daun telinga Darren yang terkena gigitan pun berdenyut panas dan memerah. Pria itu tak segan-segan menampar Moza yang terduduk dilantai. Moza ingin beranjak namun belum sempat ia beranjak dari tempat jatuhnya, tamparan keras langsung mendarat di pipi.
Plaaak
"Ahhh," rintih Moza
Moza kembali jatuh karena Darren memukulnya dengan penuh emosi. Wanita itu memegangi pipinya yang memanas.
Merasa kurang puas pria itu menendang perut Moza. Moza meringkuk, baru kali ini perutnya terhantam sesuatu yang keras. Untung saja tidak mengenai ulu hatinya namun tulang rusuknya terasa sakit hingga berdenyut-denyut.
"Kau pikir aku tidak berani menyiksa mu hah! Mana pria yang mengatakan jika kau adalah istrinya hahaa. Aku akan membuat mu membayar pukulannya," seru Darren
"Berdiri! ku bilang berdiri!" pekiknya
Moza tetap pada posisinya, perlahan diraihnya sepatu high heels miliknya dengan sangat berhati-hati.
"Kau tuli hah! Berdiri ku bilang!" pekiknya lagi.
Karena tidak sabar dengan sikap Moza yang masih berada di posisi duduk sambil meringkuk itu Darren mendekat dan meraih kerah Moza. Segera saja saat pria itu benar-benar sudah dekat dengannya, Moza menamparkan ujung high heels itu dengan keras dan tepat mengenai tulang pipi Darren.
Pria itu berteriak kesakitan, " Fuckk!"
Moza segera beranjak dan berlari mendekati pintu. Tatapan Darren semakin mengerikan, dia pun membuang napas kasar mengejar Moza bagaikan banteng yang siap menyeruduk.
Peluh mulai bercucuran dari membasahi wajah dan sekujur tubuh Moza. Bagaimana tidak ruangan itu tidak ber-Ac dan Moza memakai kemeja berbahan kain yang tidak menyerap keringat.
Moza kembali tersudut di belakang pintu, sembari menggerak-gerakkan daun pintu dan berteriak minta tolong.
"Bodoh, gedung ini milikku dan mereka tidak akan menolong mu," ucap Darren mulai mendekat.
Moza menggeser posisinya berusaha menghindari Darren, Pria itu pun segera menerkam dan dengan sigap Moza pun berlari ke arah lain namun naas Moza terjatuh sendiri karena satu high heels yang masih dipakai tergelincir karena keramik yang licin.
Wanita itu melepaskan sepatu high heels, namun karena keringat yang berembun sepatu itu pun sangat susah dilepas jika tidak menggunakan tangannya. Moza terduduk dan meraih sepatu itu dengan segera kemudian beranjak berdiri.
Darren menangkap kaki Moza yang sebelah kiri kemudian menyeretnya ke pojokan. Moza menendang tangan yang Darren yang menarik kakinya dengan kaki kanannya. Namun kekuatan Darren tak terkalahkan tangannya masih kuat mencengkram kaki putih mulusnya.
TAAAAK
Pecutan sabuk itu mengenai kaki Moza dan menggoreskan luka.Teriakan terus terlontar dari bibir Moza seraya menahan tangis.
Darren tak kuat lagi, Dia melihat Moza yang ketakutan membuat gairahnya semakin bergejolak. Ia mendekat meraih kerah kemeja Moza dan merobeknya hingga kancing kemeja itu terlepas dan terlihatlah belahan dada Moza yang besar dan berkulit putih. Sangat indah dan menambah gairah pria messum itu. Moza segera menutup pakaiannya meski tidak bisa terkancing lagi. Ia pun mendorong Darren dan juga menendangnya. Segala cara ia lakukan agar Darren tak bisa menyentuhnya lagi.
Otak messum itu tak memperdulikan tendangan Moza, ia sudah melihat gundukan besar yang membuatnya semakin bergairah lebih bergairah dari sebelumnya.
Pria kejam itu kembali memecut dengan sabuknya berkali-kali agar Moza kesakitan. Semakin kesakitan Darren semakin senang.
Kembali Darren mendekati Moza dan berusaha mencium dan membuka pakaiannya dengan paksa.
Sementara di sisi lain, Valeria sudah berada di seberang gedung. Lebih tepatnya di atap gedung yang lebih rendah dari gedung milik Darren namun lebih tinggi dari lantai lima.
"Vale! Itu berbahaya, itu bukan sembarang kaca. Itu kaca anti peluru yang sangat tebal. Belum tentu jika kau menabraknya kaca itu akan langsung pecah?" sahut salah satu teman prianya yang bernama Ben.
"Kau bawa apa yang ku minta?" Tanya Valeria tanpa menghiraukan ucapan Ben. Valeria meminta senapan yang berisi banyak peluru.
"Ini," ucap Ben
"Naiklah dan duduk dibelakang ku. Aku fokus mengendari motor ini dan kau sambil menembak kaca itu ditempat yang sama agar kaca itu pecah," ucap Valeria dengan rencananya yang benar-benar nekat
"Vale aku masih ingin hidup," ujar Ben
"Biar aku yang membawa senapan itu," ucap Diego yang tiba-tiba datang dari belakang
"Sayang," Valeria terkejut ia tak menyangka Diego segera datang untuk Moza setelah membaca pesannya.
"Kau gila, tapi aku akan terus bersamamu," ucap Diego mencium bibir Valeria sebelum mereka beraksi.
Valeria mengikat rambutnya, wanita itu tak terbiasa membawa senapan atau pistol tetapi wanita itu juara balap motorcross sehingga Diego lah yang membawa senapan dengan peluru yang menjuntai.
Valeri menyalakan mesin motornya dan mengambil ancang-ancang dari jauh. Gas terus dimainkan hingga mesin itu semakin panas dan membuat kepulan asap. Sementara Diego bersiap menembak dinding kaca yang tebal.
Jantung Valeria berdegub kencang dengan napas yang kembang kempis ia pun berdoa dalam hati memejamkan mata kemudian membukanya. Dalam hitungan ke tiga wanita itu siap.
Ngueeeeeng
Gas dilontarkan, motor mulai melayang tinggi. Sementara teman-teman Valeria yang berada dibelakangnya menganga dan beberapanya menggigit jari mereka.
Beberapa geng pencuri Valeria menyerbu dari bawah dengan senjata yang mereka miliki.
Dor Dor Dor
Dengan waktu yang bersamaan Diego terus melontarkan tembakan di satu tempat yang sama hingga kaca itu terlihat retak.
Darren menghentikan kegiatannya dan berjalan ke tengah melihat siapa yang datang. Karena kaca yang terkena peluru itu membuat permukaan kaca retak dan membuat pandangan Darren tidak jelas.