
Markas Black Knight memiliki pabrik senjata sendiri dan hampir semua anggotanya turut terlibat dalam pembuatan senjata. Ada banyak tim yang berada di bagian pembuatan dan perakitan. Agar pistol atau senapan yang digunakan berfungsi dengan baik dan juga hasil tembakannya akurat, mereka mengujinya dengan sensor dari komputer. Dan yang terakhir adalah pengujian di lapangan tembak.
Chuck seorang sniper, dia mantan angkatan laut Amerika dan tugasnya adalah menguji semua pistol atau senapan dengan menembaknya ke sebuah papan bidik.
Malam itu, Azkha menemuinya di lapangan tembak. Chuck masih bekerja disana melakukan pengujian kualitas senjata itu sendiri.
"Chuck, bos memintamu mengamankan lokasi pernikahannya,"
"Maksudmu aku diminta untuk melindunginya?" Tanya Chuck yang tidak pernah akur dengan Azkha
"Terserah kau saja mengartikan apa, intinya sama saja kan?" jawab Azkha dingin
"Itu jelas berbeda, mengamankan lokasi artinya aku melindungi semuanya, tidak hanya terfokus pada pengantin. Tetapi jika khusus melindungi bos. Maka aku pastikan tidak akan ada yang mendekatinya. Apa kau paham?" jawab Chuck yang kemudian bersiap membidik
Dor
Sedikit memekakkan telinga karena Chuck mengujinya tanpa peredam suara.
"Itu urusan mu, intinya kau bertanggung jawab agar pernikahan bos lancar dan aman, tak ada gangguan apapun,"
"Aku masih tak percaya bos mengangkat mu sebagai ketua Black Knight, seharusnya aku yang lebih tepat diposisi itu," Chuck masih kesal dan Azkha yang malas meladeninya pun pergi begitu saja.
Chuck semakin tak menyukai Azkha, dia masih tidak terima saat Azkha ditunjuk menjadi pemimpinnya. Jikapun orang lain yang ditunjuk, dia masih bisa terima asalkan jangan wanita itu.
Ada apa sebenarnya, kenapa Chuck dan Azkha?
*
*
*
Virus membawa Moza ke atap rumahnya. Sesekali Virus ingin bersikap menunjukkan sikap romantis meskipun itu di luar karakternya.
"Untuk apa kita kesini?" Tanya Moza
"Kata orang, berbincang di alam terbuka sambil melihat bintang dan bulan bisa menambah keharmonisan," Virus masih menggenggam tangan Moza dan menariknya pelan hingga ke atas genteng.
"Pegang tangan ku, awas gentengnya sedikit licin," ucap Virus.
"Iya, seharusnya aku tidak menggunakan sandal jika naik kesini,"
"Lepaskan saja sandalnya,"
Moza melepaskan sandal yang dia pakai dan mulai menaiki genteng yang paling tinggi. Wanita itu bisa melihat indahnya langit malam itu. Angin sepoi-sepoi meniupnya, membuat rambutnya hitam panjangnya tertiup angin. Moza mengambil rambutnya dan menyampaikannya ke samping hingga punggung lehernya terlihat.
Entah kenapa Virus tergoda kala melihat punggung leher wanita itu, ia mendekat kemudian mengecup punggung lehernya, pundaknya dan Moza sedikit geli karena bukan hanya bibir yang ia rasakan melainkan ada bulu kumis dan janggut yang menyentuh kulitnya.
"Geli sayang," sahut Moza
"Haha duduk yuk, jika dibiarkan lama-lama aku juga tidak akan bisa menahannya,"
Merek berdua duduk dan mulai berbicara hal-hal kecil. Mengenal satu sama lain dan sampai akhirnya berbicara hal serius.
"Apa kau siap menikah dengan ku, Moza? Aku mantan pembunuh dan yang pasti akan ada musuh yang belum terlihat,"
"Aku siap, itu keinginan ku saat pertama kali bertemu mu. Meskipun saat itu kau mengacuhkan ku,"
Virus tersenyum memandangi Moza yang semakin cantik dibawah cahaya malam.
"Aku teringat obrolan orang dewasa saat aku kecil, Aku menguping pembicaraan mereka. Jika calon pengantin tidak boleh bertemu selama seminggu, itu seperti sebuah mitos di Indonesia. Aku tidak tahu jika disini,"
"Aku belum pernah mendengar hal seperti itu,"
"Ya mungkin maksudnya agar kita tidak bertengkar sebelum hari pernikahan itu. Dan aku langsung terpikir kejadian tadi. Untung saja Kau sangat dewasa dalam menyikapinya, dan aku semakin menyukaimu,"
Mereka terdiam, sebenarnya Moza sedikit kesal jika mengingat kejadian itu. Virus menggenggam tangannya sangat erat. Moza merasakan tangan besar yang hangat menggenggam tangannya yang dingin.
"Aku sudah tidak bisa berpaling dengan yang lain lagi. Moza, Aku sudah mengukir namamu disini, di jantung hatiku," ucap Virus seraya menyentuh dada sebelah kirinya dengan telunjuk.
"Jadi percayalah pada hatiku, kunci sebuah hubungan adalah kepercayaan itu sendiri. Aku tidak ingin hanya mengumbar cinta dan kemesraan. Tapi aku juga ingin membuat hubungan ini nyaman. Dengan mempercayakan satu sama lain, cemburu boleh tapi jangan berlarut," Virus berkata dengan sangat lembut meyakinkan pasangannya tentang ketulusan cintanya.
Moza terenyuh mendengar pernyataan yang dituturkan Virus. Dia menarik tangan Virus yang masih menggenggam tangannya lalu ia mencium punggung tangan Virus lalu menempelkannya di pipinya. Tangan besar yang sangat hangat.
Virus mendekatkan duduknya, menarik dagu Moza dan mengecup bibirnya, mellummatnya dengan rakus. Nafas semakin terasa engap karena tiba-tiba jantung mereka saling beradu ditengah dinginnya malam.
Moza seperti makanan bagi Virus dan pria itu gin melahapnya habis. Namun sebelum gairahnya membesar, Virus melepaskan kecupan yang sebenarnya meminta lebih dari itu.
"Sebaiknya kita kembali ke dalam, cuacanya sangat dingin, anti kau sakit," ucap Virus beralibi karena benda bawahnya mulai mengeras.
Sementara Valeria masih duduk di teras depan, menunggu Diego yang pergi entah kemana.
"Kenapa dia seperti anak kecil," gumam Valeria yang terus mencoba menghubungi Diego lewat ponselnya.
Diego terus masuk ke dalam rumah, tanpa menghiraukan Valeria yang menunggunya di teras.
"Sayang kau dari mana?" Tanya Valeria seraya menarik lengan Diego.
Diego menepisnya, "Maaf, jangan sentuh lenganku. Aku sedang berkeringat," ucap Diego dengan tatapan dingin.
Pria itu melesat ke dalam rumah dan naik menuju kamarnya. Ia membawa beberapa pakaian ganti dan masuk kedalam kamar mandi. Sementara Valeria menyusulnya tak lupa ia mengunci pintu. Tetapi saat Valeria akan menaiki anak tangga, Chris memanggilnya
"Valeria, bisakah kita bicara berdua?" Tanya Ayahnya
"Hemm mau bicara apa ayah? Aku ingin menyusul Diego, menjelaskan semuanya,"
"Sepertinya dia akan marah jika kau terus mengejarnya. Beri dia waktu untuk meluapkan cemburunya," ucap Chris
"Masuklah ke kamar, Ayah ingin bicara padamu?" ajak Chris lalu Valeria mengikutinya kedalam kamarnya di lantai bawah.
Pintu di tutup kembali, kemudian Valeria duduk di kursi dekat ranjangnya. Chris yang duduk di kursi rodanya memulai pembicaraan.
"Apa kau belum bisa melupakan perasaanmu Virus?"
"Apa maksudmu Ayah? Aku tidak menyukainya lagi. Aku punya suami, dan suamiku Diego,"
"Ayah tahu. Tapi Ayah sangat mengenalmu. Kau tipe orang yang tidak bisa move on dengan cepat. Diego cinta pertamamu dan Virus, dia cintamu juga kan? Setelah kau lama tidak bertemu dengan Diego. Kau sempat merasakan cinta itu,"
"Jujurlah Valeria,"
Valeria terdiam, dia sendiri terkadang salah tingkah jika berada di dekat Virus. Aroma tubuh Virus terlalu meranggsang jika mereka saling berdekatan. Dan saat Andi mengatakan jika Virus membuat alat pelacak untuk mengintai dirinya, wanita itu sedikit senang.
Tapi di lain sisi, dia sangat mencintai Diego. Kedua pria ini telah mencuri perhatiannya.
"Apa itu penting yah? Aku tidak menginginkan Virus, ada Moza yang lebih pantas dan mereka saling jatuh cinta," jawab Valeria.
"Aku tidak ingin Ayah membuat masalah yang tidak ayah ketahui,"
"Ayah bukannya menambah masalah, tetapi jika kau masih menyimpan perasaan pada Virus. Sebaiknya kau mencari rumah sendiri,"
"Kau mempunyai perasaan pada Virus, tebakanku benar kan?" terka Chris
"Jawabnya Tidak!" ucap Valeria dengan penuh penekanan.
"Haha sayang, kau berkata tidak tetapi hatimu berkata lain,"
"Ayah..."
"Ayah sudah tahu jawabanmu. Besok pagi kita cari tempat tinggal lain. Oke sayang,"
"Hah terserah Ayah saja menanggapinya seperti apa. Tapi bukannya aku tidak mau, tapi Moza akan menikah malam harinya. Dan aku tidak enak jika tidak membantu apapun," ucap Valeria
"Kau bisa membantunya di sore hari,"
Setelah perbincangan yang menurut Valeria tidak penting tetapi setelah perbincangan itu hatinya mulai gelisah. Apakah Ayahnya benar? Dia sendiri tidak tahu pasti soal perasannya.
"Vale, kau belum tidur?" Tanya Virus yang datang dari arah dapur dengan membawa secangkir gelas.
Deg deg deg
"Apa-apaan ini kenapa aku berdebar tidak jelas. Tidak Vale kau sudah melupakan pria itu," batin Valeria
"Hemm aku, tadi menunggu Diego. Dia baru saja pulang. Aku permisi ya," jawab Valeria yang langsung menaiki anak tangga.
"Kenapa sikapnya sedikit aneh, seperti tikus yang bertemu kucing. Aku kucingnya dan dia tikusnya haha," bergumam sendiri
*
*
*
Valeria menunggu didepan pintu kamar mandi. Tak biasanya Diego berlama-lama di dalam kamar mandi. Apa yang dia lakukan?
Tok tok tok
"Sayang, kau sedang apa didalam? Jangan terlalu lama nanti kau sakit," pekik Valeria tetapi dengan nada sedikit pelan. Karena di dalam kamar itu, ada Rachel dan Moza.
"Jika dia lama didalam itu artinya dia berendam sampai tidur," ucap Moza yang kemudian memejamkan matanya untuk tidur
"Hah sampai tidur? Jika dia tidak sadar dan tenggelam bagaimana?"
Valeria segera membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidar terkunci. Dan dia terkejut saat melihat Diego tenggelam di dalam bathtub
"Diegooo!" Pekik Valeria membuat Moza dan Rachel terbangun dari tidurnya.