
Sesampainya di rumah, Virus memasukan mobilnya ke halaman parkir samping rumah. Moza hendak keluar namun ditahan oleh Virus.
"Moza sebentar jangan keluar dulu," ucapnya
Moza menurut dan dia menunggu Virus. Rupanya Virus bergegas keluar mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Moza.
"Astaga, aku juga bisa buka mobilnya, kenapa harus repot-repot dibukakan?" ujar Moza tertawa kecil dengan perlakuan Virus yang tak bisa di tebak.
"Hemm kan biar kayak di film-film gitu," ucap Virus sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah Moza keluar, Virus menutup kembali pintu mobilnya dan membuka pintu bagian penumpang untuk mengambil kantong belanjaan.
Mereka masuk namun langkah Moza terhenti ketika ia mendengar dari luar, suara Rachel ibunya yang sedang memarahi Diego. Wanita itu tidak pernah marah-marah pada Diego kecuali pria itu memiliki kesalahan.
Lantas apa yang telah Diego perbuat hingga Ibunya marah besar? Moza melangkah ke depan dengan pelan dan penuh keraguan.
Virus menghentikan la menghentikan langkah Moza dan memberi isyarat untuk tertawa dan menghentakkan kaki seperti orang berjalan. Agar Rachel menghentikan amarahnya sejenak. Moza mengangguk kepalanya mengerti. Mereka mengeluarkan suara tawa dan hentakkan kaki seperti orang berlari kecil. Kemudian Moza masuk dengan ekspresi tertawa. Sementara di dalam Rachel dan Diego diam seraya menatap Moza yang baru pulang tengah malam dengan Virus.
Sedari dulu Rachel tidak suka jika Moza dekat dengan Virus. Terlebih lagi ia tahu bahwa Virus adalah seorang pembunuh. Lalu bagaimana jadinya nanti jika Rachel tahu hubungan Moza dan Virus kini.
"Hemm kalian kenapa diam seperti itu?" Tanya Moza
"Lihat ini Moza!" seru Rachel yang berdiri dengan tongkat bantuannya dan menyerahkan selembar surat yang berisi pemecatan karyawan yang bernama Diego Mazova
. Sementara Diego duduk tertunduk.
"Diego dipecat, karena dia tidak masuk beberapa hari dan kemarin dia ke tempat kerjanya bukan untuk bekerja namun ia mendapat surat pemecatan. Dia membohongi Ibu yang bilang jika dia bekerja," seru Rachel yang belum tahu jika sebenarnya Diego menggantikan Virus saat itu. Dan kini Virus merasa bersalah.
"Mau jadi apa dia, pria bertato tidak banyak diterima di perusahaan besar. Kau hanya akan menghabiskan masa tua mu menjadi pengangguran. Atau bahkan buruh kecil," keluh Rachel.
"Hemm Rachel tenanglah, kau bisa membicarakannya dengan duduk dan secara perlahan. Ingat kau punya sakit jantung," ucap Virus mengingatkan.
"Kau juga Virus, ku lihat kau hanya dirumah saja. Apa bisa mu cuma membunuh orang? Keluar tidak jelas kemana, carilah pekerjaan yang jelas!" ucap Rachel yang ikut memarahi Virus. Ia menganggap Virus seperti anaknya. Tetapi dia tidak suka jika Moza menjalin hubungan serius dengannya karena Rachel tidak ingin mempunyai cucu dari darah seorang pembunuh. Ketika Virus ingin menjelaskan apa pekerjaannya. Rachel tidak memberikan kesempatan untuknya berbicara, dia terus saja mengomel dan memarahi anak-anaknya yang ada disana.
"Ahh sudahlah aku pusing memikirkan kalian terutama dirimu Diego. Mulai sekarang kau harus mencari pekerjaan tetap. Dan carilah wanita agar kau bisa menikah. Kau normal kan?" ujar Rachel
"Bu, kau jahat sekali mengatai anak sendiri. Jelas aku normal. Iya besok aku akan mencari pekerjaan baru dan juga calon istri," ucap Diego yang tidak membantah.
"Ya seharusnya begitu. Aku tidur dulu, kalian membuatku pusing," Kemudian Rachel bergegas pergi ke kamarnya.
Tapi Diego malah menertawai Virus yang ikut dimarahi.
"Haha, sudah Virus santai saja jangan ambil hati soal omelan ibuku tadi," ujar Diego pada Virus tetapi Virus tidak ikut tertawa. Ia memasang muka datar dan merasa bersalah.
"Kau kenapa tidak bilang padaku jika kau dipecat. Apakah itu gara-gara aku," ucap Virus.
"Aku masak dulu ya," ucap Moza menyela pembicaraan dan dijawab anggukan oleh Virus.
"Moza buatkan porsi yang banyak, aku juga ingin makan lagi. Kalau aku mengatakannya padamu jika aku dipecat, lantas kau mau mencarikan ku pekerjaan?" ucap Diego.
"Kau bisa bekerja denganku," ujarnya.
"Menjadi pembunuh?" Terka Diego dengan ragu
"Haha kau kira pekerjaanku hanya pembunuh bayaran saja," Virus tertawa geli dibuatnya.
"Aku bermain saham di salah satu situs online. Dan untuk selingan aku juga mempunyai channel YouTube mengunggah video cara menembak yang benar. Atau cara bagaimana menghack akun seseorang dan lain sebagainya. Tapi aku tidak semahir Andi, ku akui dia sangat hebat," ujar Virus
"Wow, bermain saham itu untung rugi. Rugi jika kau mengambilnya tanpa berpikir. Aku pernah kehilangan 2 juta Dollar. Lalu aku belajar dari kesalahanku itu, hasilnya meraup keuntungan empat kali lipat. Lalu aku memutar hasilnya membuka usaha parfum limited edition kepada Nyonya pejabat dan beberapa selebriti. Tentu saja aku tidak pernah bertemu mereka. Aku ada dibalik layar dan menjalankan orang-orang kepercayaan ku. Mereka yang membeli parfum ku kecanduan akan aromanya dan akan terus membelinya. Aku menaikkan harganya dan mengatakan jika bahannya mulai menipis padahal aku mempunyai stok bahan yang banyak," jelas Virus panjang lebar membuat Diego menganga dibuatnya.
"2 juta Dollar itu duit yang banyak," ujar Diego
"Kau menipu orang yang membeli parfum mu itu tidak baik," ujar Moza yang mengingatkan pada Virus. Ia memasak sembari mendengarkan pembicaraan Virus pada Diego.
"Itu namanya taktik berjualan, jika mereka menyukainya mereka akan membayar lebih sayang," ucap Virus yang keceplosan memanggil Moza dengan sebutan sayang
"Uhuk-uhuk," Diego sengaja membuat suara dibatukkan
"Jadi kalian telah berpacaran?" Tanya Diego menatap Virus kemudian beralih menatap Moza.
"Hemm kak kau mau pedas atau tidak?" Tanya Moza yang kemudian pura-pura sibuk dan sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau pedas," ucap Diego
"Aku juga," seru Virus.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Goda Diego dengan menaikan alisnya beberapa kali.
"Uhuk-uhuk, haduh aroma cabe ini bikin aku terbatuk-batuk," ujar Moza.
"Haching... hmm Moza kau memasaknya terlalu pedas membuat hidungku gatal, aku keluar dulu ya," ujar Virus yang kemudian beranjak dari kursinya.
"Aku semakin menyukai Virus. Dia orang yang tepat untuk Moza. Kuat, pintar dan bersikap sederhana. Pilihanku tidak salah," batin Diego
Virus berada di teras depan seraya menghisap rokoknya. Diego menyusulnya dan duduk di samping Virus.
"Virus, aku akan berkerja denganmu mulai besok," ujar Diego.
"Baiklah, Aku akan memintamu mengelola salah satu usahaku, Aku kesulitan jika harus kesana kemari," ujar Virus
"Salah satu usaha memangnya kau punya berapa usaha?" Tanya Diego
"Ada empat, yang dua terbengkalai karena aku tidak memiliki orang kepercayaan. Kau mau kan membantuku?" ujar Virus
"Aku mau sekali, cari kerja sekarang susah," ucap Diego
"Hemm kau mau mengelola usahaku di bidang persenjataan atau toko mobil?" Tanya Virus.
"Persenjataan aku tidak pandai soal senjata seperti itu. Aku akan mengelola toko mobil saja," ucap Diego.
"Besok kau ke alamat ini dan temui Douglas, katakan saja namamu dan kau mengenal ku," ucap Virus seraya memberikan kartu nama padanya.
"Siapa Douglas? Manager atau Kepala disana?" Tanya Diego
"Dia asisten ku, disana tidak ada manager dan CEO nya adalah kau," ujar Virus
Diego terkejut mendengarnya. Dirinya akan menjadi CEO.