
Bali, Indonesia
Virus menginap di hotel dekat dengan desa Karanganyar. Andi mengira Virus akan marah jika dirinya mencari penginapan yang mahal. Nyatanya pria itu tidak marah sama sekali.
Mereka menginap di Mathis Lodge, Amed. Hotel bintang empat dengan harga penginapan kurang lebih Rp.1.890.000,- satu kamar dengan tempat tidur didalam berukuran king bed untuk satu malam. Beruntung saat itu mereka mendapatkan harga promosi sehingga harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari harga biasanya.
"Wow, kamarnya sangat keren. Aku seharusnya kemari bersama Moza, bukan dengan mu haha," ujar Virus seraya melihat isi kamar lainnya.
"Aku pernah ke tempat ini dengan Emi, tapi dengan keluarganya. Jadi aku tahu jika tempat ini bagus," ujar Andi.
Virus lalu membuka pakaiannya dan mengisi air hangat disebuah bathtub berukuran besar dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya.
"Ini sangat nyaman Andi," ujar Virus dengan bahasa Indonesia yang baku.
"Kau curang, aku sudah mengincar tempat itu,"
"Siapa cepat, dia dapat," sahut Virus seraya memejamkan matanya menikmati hawa sejuk di Bali.
"Aku merindukan mu Bali, dan kini aku disini," ucap Virus kemudian membuka matanya dan memikirkan sesuatu. Sementara Andi baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, pria itu sudah terlelap pulas.
"Jejak Aryo yang menghilang, bahkan rekaman cctv pun tak ada. Sepertinya ada seseorang yang ingin melenyapkannya tanpa bukti. Marni, ya orang yang harus ku pantau adalah Marni bukan Aryo," Virus kemudian menenggelamkan kepalanya kemudian berenang sebentar. Sebenarnya ada kolam renang khusus namun Virus ingin berendam di air hangat agar lebih relaks.
Setelah itu ia mengambil handuk berbentuk piyama kemudian mengambil laptopnya dan duduk di teras. Sembari menunggu badannya mengering, ia membuka aplikasi pencarian orang. Aplikasi buatannya meski tidak sebagus milik Andi. Virus mulai mengetikkan kata Marni.
Tak berapa lama ada suara ketukan pintu dari layanan kafe, sebelum masuk ke kamar Virus memesan dua piring sarapan pagi dan dua kopi dan memintanya untuk diantar ke kamar. Virus membukanya dan menyuruh pelayan itu menaruhnya di meja dekat pintu masuk.
"Terimakasih," ucapnya kepada pelayan hotel dengan bahasa Indonesia, seraya memberikan uang tip seratus ribu rupiah.
"Terimakasih kembali mister," balas sang pelayan yang terkejut jika pria bule itu dapat berbahasa Indonesia.
Setelah menutup kembali pintu kamarnya, Virus kembali ke teras membawa secangkir kopi panasnya. Diletakkannya cangkir yang berisi kopi tersebut dan memangku kembali laptop, sembari sesekali minum kopi selagi panas dan menikmati pemandangan alam.
...*********...
Di Nevada, sudah jam tujuh malam dan Diego bergegas pulang. Sebenarnya jam pulang untuk karyawan adalah jam empat sore, namun Diego sangat serius mempersiapkan rapat untuk besok pagi dengan karyawan. Sementara toko mobil mainan itu dibuka hingga malam pukul sembilan.
Diego akan ke rumah Valeria malam itu, karena sebelumnya pria itu sudah mengatakan pada Valeria akan menemuinya malam hari karena Diego masih merindukan kekasihnya. Padahal semalam pria itu sudah menginap di rumah Valeria ada yang kurang jika tidak bertemu dengan wanitanya itu.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar dari pintu depan rumah Valeria. Chris, Ayah Valeria membukanya dengan berjalan diatas kursi roda. Diego sudah mengira yang membukanya adalah Valeria dia pun sudah merencanakan gaya romantis karena ditangannya kini ada setangkai bunga mawar, untuk dia berikan pada Valeria nantinya.
****Ceklek****
Diego segera menyodorkan bunga mawar dihadapannya dan sedikit membungkuk seraya berkata, "Selamat malam my princess, terimakah bunga cantik ini untuk wanita yang sangat cantik," ucap Diego tanpa melihat siapa yang membuka
Chris mengambil bunga yang diberikan Diego.
"Terimakasih, tapi Valeria sedang didalam menyiapkan makan malam. Kau masuklah," ucap Chris
"Ma-maaf ayah mertua," ucap Diego seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari tersenyum malu.
Chris berbalik dan Diego membantu dengan mendorong kursi rodanya.
"Vale, Romeo mu datang dengan setangkai bunga," ucap Chris dengan sedikit berteriak lalu tertawa kecil.
"Iya, baiklah besok aku akan membawa sesuatu yang bisa dimakan hehe," jawab Diego sedikit demi sedikit memulai candaan agar mereka berdua akrab.
"Sayang," ujar Valeria seraya memeluk Diego dan mencumbunya didepan Ayahnya.
Diego membalas ciuman Valeria dan melepaskannya dengan segera sembari berbisik, "Kau tidak malu, mencium ku didepan Ayahmu," bisik Diego.
"Tidak, Ayahku juga pasti mengerti, ya kan Yah hehe, ayo ke ruang makan, kita makan," ajak Valeria
"Kau masak apa?" Tanya Diego sedikit ragu karena cerita dari Andi sebelumnya yang mengatakan jika Valeria tidak bisa memasak.
"Tenang saja, masakan ku ini bisa dimakan," sahut Valeria seraya mendorong kursi roda Ayahnya ke meja makan.
Begitu sampai di meja makan, Diego mencium aroma yang sangat wangi. Aromanya sangat enak, dia berharap makanan yang dibuat Valeria bisa dimakan.
"Sop buntut kacang merah, hemm pantas saja aromanya sangat sedap," puji Diego
"Ya aromanya, aku tidak yakin akan rasanya. Lebih baik kau makan dulu baru berkomentar," ucap Valeria seraya mengambilkan semangkuk sop buntut untuk Diego setelah melayani Ayahnya.
Diego mulai mulai menyantap, ada rasa ragu dan takut tapi dia juga tidak ingin menyakiti hati kekasihnya itu.
Slruuup
Matanya terbelalak, dan lidahnya berkata ini sangat enak. Daging dengan potongan kecilnya pun sangat lembut. Rasanya dia hampir tidak percaya dengan ucapan Andi sewaktu itu.
"Hemm ini sangat enak, sungguh," puji Diego
"Benarkah?" Tanya Valeria
"Ya sayang, ini sangat enak," puji Ayahnya juga
Valeria tersenyum dan sedikit senang, hingga air matanya mengalir sedikit namun segera diusapnya. Ini pertama kalinya dia memasak untuk Diego dan pria itu sangat menyukainya. Valeria berusaha memasak yang terbaik dengan mencari resep di internet.
Setelah makan, sang Ayah kembali keruang televisi. Diego membantu Valeria dengan membawa mencuci piring kotor di wastafel dapur.
"Diego kau temani Ayah saja, biar aku yang mencucinya," ucap Valeria.
"Aku sudah biasa melakukan pekerjaan ini, sewaktu di hotel aku bekerja menjadi pelayan. Dan pekerjaan ku sering di rolling. Terkadang di bagian dapur, terkadang di pakaian laundry. Dan terkadang menemani para wanita," ucap Diego, perkataan terakhirnya membuat mata Valeria membulat.
"Hah? K-Kau melayani mereka di ran-jang?" ucap Valeria sedikit terbata.
"Iya, banyak wanita dari tua dan muda tertarik denganku dan mereka menyuruhku melayani mereka. Pria mana yang tidak akan menolak sayang," ucap Diego memasang wajah serius.
"Astaga aku tidak percaya kau melakukan itu dengan mereka," ucap Valeria
"Haha, kau percaya?" ucap Diego tertawa, dia berhasil mengerjai kekasihnya itu. Diego mengeringkan tangannya yang basah setelah mencuci semua piring.
"Jadi?"
"Mana ada orang yang mau dengan pelayan seperti ku hah? Kecuali dirimu," ucap Diego seraya mematikan saklar dapur yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian ia menarik Valeria ke dalam pelukannya. Valeria mengalungkan tangannya ke leher Diego. Diego
Pria itu menatap mata indah Valeria, kemudian pandangannya beralih menuju bibir yang berwarna merah merona, warna asli bibir tanpa sentuhan lipstik.
Diego mencumbu bibir Valeria dengan cumbuan kecil-kecil wanita itu membalasnya. Semakin lama cumbuan itu semakin rakus kemudian Diego menarik kedua lengan pakaian Valeria hingga terlihat tulang selangka wanita itu dan nampak bahunya yang seksi berkulit mulus.
Diego mengangkat satu kaki wanitanya itu. Valeria menurut saja, tetapi saat Diego membuka resletingnya. Valeria menghentikannya.
"Ada ayah, kita lakukan di kamar," bisik Valeria.
"Ayahmu sudah masuk ke kamar, kita lakukan saja disini," ujar Diego yang tidak tahu malu, hingga Valeria mengernyitkan dahinya dengan tingkah Diego yang super napsuan.