My Name Is Virus

My Name Is Virus
My Father



Setelah membunuh satu anak buah Gordon. Virus masuk ke sebuah ruangan yang tidak terkunci dan tidak ada penjaga disana. Mungkin semuanya sedang beristirahat. Ruangan itu adalah ruang pengendali CCTV yang terhubung ke markas Gordon dan aktivitas ilegalnya. Dan juga Aktivitas rekaman yang terjadi di apartemen itu.


"Jika rekaman ini di ambil, maka habis sudah bisnismu," ucap Virus yang kemudian menghapus rekaman dirinya ketika masuk kedalam apartemen dan membunuh salah satu anak buah. Kemudian ia mematikan CCTV di apartemen itu.


Tak ada waktu untuk mengambil salinan rekaman lainnya, karena tujuannya adalah menghabisi Gordon.


Virus lalu melangkah menuju kamar utama. Jantungnya berdebar kencang, perasaanya pun menjadi ragu seketika. Dia tak pernah merasa seragu ini seperti sebelumnya. Jiwanya adalah jiwa pembunuh, bahkan sudah ia tanamkan sejak kecil. Tapi kenapa ada firasat kecil yang mengatakan 'jangan lakukan'.


Pintu kamar utama terbuka, tanpa suara dan sangat berhati-hati Virus mendorong pintu itu. Lampu kamar yang remang-remang membuat pandangan Virus tidak jelas melihat siapa sosok pria yang terbaring disana. Selain itu juga, pria yang sedang tidur itu menghadap miring, membelakangi Virus.


Virus sedikit berpikir, secepat itukah Gordon terlelap dan memakai piyama tidur? Jika bukan Gordon, siapa pria yang ada di depan penglihatannya kini?


Awalnya Virus pikir, Gordon sedang mandi karena dia menjatuhkan dirinya kedalam truk sampah. Atau sedang duduk manis di balkon kamar atau ruang santainya, sembari menghisap cerutu atau sampanye.


Tapi, pria itu terkulai lemah di atas ranjang.


"Aku memang pembunuh, tetapi aku tidak bisa membunuh orang dalam keadaan tidur," batin Virus


Tak berapa lama datang asisten Gordon, Luke. Pria itu terkejut karena ada mayat tergeletak persis di depan pintu lebih tepatnya didalam apartemen. Ia kemudian menghubungi anak buah lainnya dan berjaga-jaga. Virus dengan cepat bergegas untuk bersembunyi di bawah ranjang.


Luke kemudian melangkah kaki besarnya dengan cepat memasuki kamar Bosnya. Kemudian mencari tahu apakah Tuannya baik-baik saja. Luke membuka tirai jendela untuk memastikan jika jendela itu masih tertutup dengan aman.


"Terkunci," gumamnya


Lalu pria itu bergegas lagi menuju kamar mandi.


"Kosong,"


"Tak ada siapapun," timpalnya, kemudian sorot matanya tertuju ke bawah di ruangan gelap dan lumayan besar, di kolong ranjang. Kolong ranjang itu tertutup kain dari seprei yang menjulur.


Luke kemudian berpura-pura pergi, ia sengaja menghentakkan suara sepatunya dan berjalan dengan keras seolah-olah pria itu sudah pergi dari kamar. Namun, pelan-pelan Luke mengendap mendekati kolong ranjang. Dia sengaja melangkah pelan agar orang yang dibawah kolong itu tidak mendengar pergerakannya.


SREETSS


Luke membuka kain seprei yang menjulur, tetapi nihil. Dibawah itu juga tak ada siapapun.


"Kosong semua, siapa yang sudah masuk ke dalam dan membunuh anak buahku," gumam Luke.


Rupanya Virus menggeser tubuhnya dan segera menutupnya dengan kain seprei di sisi satunya dengan cepat, bersamaan saat Luke membuka seprei disisi lain. Luke beranjak berdiri, setelah yakin tidak ada siapapun di kamar itu. Virus masuk ke dalam kolong ranjang kembali. Setelah itu Luke benar-benar pergi dan menutup pintu.


Gordon sedikit terbangun karena Luke menutup pintu dengan kasar. Pria itu beranjak duduk dan sedikit berteriak, "Siapa!" suaranya terdengar habis tetapi konsonan vokalnya sama sekali tidak jelas karena Gordon tidak dapat membuka mulutnya dengan baik.


"Aku harus tau siapa pria itu," batin Virus.


Saat Virus ingin keluar dari persembunyiannya, saat itu juga Gordon beranjak berdiri. Akhirnya Virus menunggu pria itu pergi, dan mengintip dari dalam kolong. Pria itu mengambil gelas dan menuangkan air putih dari dalam teko bening di meja kecil dekat kamar.


Sementara itu, Virus keluar lalu berjalan mengendap seraya mendekati Gordon dari arah belakang. Ia bersiap menyerang namun sebelumnya Virus melilitkan rantai yang ia pegang di tangannya.


Gordon terkejut dengan siapa yang ada dihadapannya, dia baru saja tahu jika Virus adalah anak kandungnya. Ingin rasanya ia berteriak, dan mengatakan kebenaran namun ia tak kuasa, karena stroke yang dialaminya.


Virus sekilas melihat kaca etalase yang memantulkan cermin dirinya. Bukan dirinya yang ia lihat, namun ada wajah ibunya di dalam etalase itu. Virus mengendurkan ikatan rantai setelah melihat pria yang disamping ibunya amat mirip dengan Gordon.


Matanya sedikit berkaca-kaca saat melihat foto ibunya. Virus mengalihkan pandangannya kini ia fokus menatap mata Gordon.


"Kau..." ucapan Virus terhenti. Ia juga sedikit ragu karena pria yang disamping foto ibunya sangat muda, tetapi sangat jelas jika pria itu adalah Gordon.


Virus melepaskan rantai besi yang mengikat leher Gordon. Tetapi ia masih menyudutkan Gordon dengan mencengkeram kerahnya.


"Kau Daniel Miller?" Tanya Virus dengan dahi penuh keringat, matanya mulai memerah membuat bendungan di pelupuk.


Gordon menganggukkan kepalanya, matanya memerah dan tanpa terasa pria itu menangis didepan Virus.


"Aku Ayahmu," ucap Gordon yang ternyata memiliki nama asli Daniel Miller. Suara yang hampir tak terdengar itu seperti sedang berbisik. Padahal pria itu sedang tak dapat bicara karena stroke.


Dengan tangan gemetar pria paruh baya itu mencoba menyentuh pipi Virus. Namun belum saja tersentuh, Virus menepisnya dengan kasar. Ia melepaskan cengkeramannya dan mundur perlahan sembari menunduk dan memejamkan mata. Air mata yang sedari tadi terbendung, terjatuh juga.


"Tidak mungkin!" ucap Virus


"Kau mencoba membunuh ku tapi Moza yang terkena! Kau melukai istriku!" ucap Virus kembali mencengkeram kerah Gordon.


Tetapi pria itu hanya diam dan menahan tangis, ia menggelengkan kepalanya menjawab perkataan Virus. Pria itu ingin mengatakan jika dirinya tidak pernah berniat membunuhnya, karena Gordon sudah lama mencari putranya yang hilang.


"Ayah? I don't have a Father like you! Dia sudah lama mati!" keluh Virus dengan nada ketus


Tangisan yang Gordon tahan akhirnya terlepas juga. Hatinya sakit mendengar ucapan Virus. Tubuh Gordon bergetar karena tangisnya, terlihat pria itu terisak. Tapi Stroke membuatnya tak bisa banyak bergerak. Hanya bibirnya yang sedikit miring terlihat bergetar.


Virus merasa iba melihat pria didepannya itu. Virus juga tidak munafik, di hatinya amat merindukan sosok seorang Ayah....yang darahnya mengalir di setiap tubuhnya. Ia ingin memeluk pria didepan matanya itu. Lama dia berdiam menahan ego, hingga akhirnya Gordon melangkah maju. Perlahan dengan gerakan kaki sedikit diseret. Tubuhnya yang sedikit kaku menarik perhatian Virus.


"Tidak mungkin kan, jika Gordon ingin melukaiku. Seseorang pasti mencoba mengadu domba ku," pikir Virus dengan jernih


Ia pun memeluk Gordon, pria jahat yang meninggalkan istrinya selama hamil. Pria jahat yang tidak pernah muncul saat Virus terlahir ke bumi. Pria jahat yang licik dalam bisnisnya tetapi Virus harus menerimanya sebagai Ayah. Tak ada yang bisa menyangkal garis keturunan itu.


Keduanya berpelukan dengan tangisan dari hati kecil. Dan Virus mengakui dari hatinya.


"Ayah," ucapnya dan membuat Gordon menangis tersedu-sedu.


Keributan terjadi diluar kamar, Gordon menyadari hal itu. Ia menyuruh Virus untuk mengunci pintu kamarnya dengan sebuah isyarat. Virus segera mengunci dan mendekati Gordon


"Kenapa kau seperti ini? Apa kau sakit?" Tanya Virus, Gordon ingin menjawab meski sedikit susah.


"Tidak usah menjawabnya. Ikutlah denganku....Ayah," ucap Virus sedikit ragu namun ia mengatakannya juga dan melemparkan senyum kecil pada Ayahnya.