Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 94 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


.


.


.


Leo mendesah kasar, ia menarik keras Surai hitam legam lebat miliknya. Susi menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat kan. Wanita berusia empat puluhan itu bersimpuh di kaki Leo. Meminta pertolongan, baik untuk melindungi nya dan menolong sang putri yang berada di tangan Mirabel. Wanita ini sudah sangat lama berada dalam pelarian. Ia bukan wanita bodoh, yang mau keluar begitu saja. Bertahun-tahun ia habiskan dalam persembunyian dan pencarian. Bagi Susi, jalan terbaik adalah mencari Hiro Yamato. Tidak masalah jika lehernya di penggal di hadapan pria itu. Asalkan putri bungsunya bisa di selamat kan dari penyekapan yang di lakukan oleh wanita gila itu. Rekan-rekan nya telah tewas tanpa sisa, di karena kan keserakahan mereka. Jika saja saat itu, salah satu dari mereka tidak meminta uang hanya untuk mengancam masalah lama yang telah terjadi! Sudah pasti keluarga nya masih utuh dan putrinya tidak harus berada jauh darinya.


"Aku mohon!!" Sekali lagi Susi menangis keras mengiba pada Leo.


Pria ini terlalu syok dengan apa yang ia dengar. Bagaimana bisa? Itulah yang berada di otaknya. Saat itu, ia memang masih di selimuti oleh dendam. Hingga tidak benar-benar mengamati pergerakan Dera. Ataupun orang-orang di sekeliling Dera. Bahkan saat di malam berdarah itu, ia terlalu terguncang oleh keadaan. Tidak tau menahu apa yang terjadi di dalam ruangan. Mawar yang di gadang-gadang menyelematkan Dera saat akan mendapatkan tembakan, merupakan seorang mata-mata. Ini adalah fakta yang sangat gila.


Bahkan pria ini kehabisan kata.


"Dimana mereka saat ini?" Leo menutup perlahan kelopak matanya. Mencoba menenangkan diri dari guncangan.


"T——texas! Dia berada di Texas. Begitu juga dengan anak Tuan Hiro." Ujar Susi tergagap meremas ke dua tangan nya.


Leo membuka cepat ke dua matanya. Ini tidak boleh, meski otaknya ingin memberitahu kan pada Hiro tentang kembaran Sean. Pergerakan akan terbaca dengan cepat. Jika ada salah satu yang tau di rumah besar. Maka Dera juga akan tau, wanita yang ia cintai tak boleh tau hal yang semengerikan ini. Setelah kematian ke dua orang tuanya, bagaimana bisa ia melihat Dera berlinang air mata mendengar Putra pertama nya di rampas tanpa kata. Hati wanita itu pasti akan remuk redam.


"Aku akan bergerak menyelamatkan Keponakan ku dan juga Anak mu. Kau harus bersembunyi dalam diam, orang ku akan datang ke sini setiap hari." Ujar Leo menunduk kan kepala nya menatap Susi.


Kepala Susi bergerak cepat mengangguk-angguk. Mengiyakan perkataan Leo, air mata bahagia dan rasa lega membuncah di hati Susi. Anak satu-satunya akan segera bersama nya. Susi sangat bersyukur.


Leo melangkah meninggalkan kamar Hotel. Pria ini harus menghubungi bawahan nya. Untuk rencana selanjutnya, ia akan bergerak sendiri. Tidak perduli apapun yang terjadi ke depannya. Biarpun nyawanya yang akan melayang di Texas nantinya, Leo tak peduli. Bagaimana pria ini, asalkan ia mampu membuat Dera dan keluarga nya bahagia itu lebih dari kata cukup.


"Kau harus bahagia Dera. Cinta memang tak selamanya bisa memiliki. Setidaknya, kematian ku akan memperjelas jika aku mencintaimu dengan tulus. Mungkin lebih besar dari pada Kakak ku mencintaimu!" lirih hati yang tak mampu di ungkap kan oleh lisan.


***


Ruang bawah tanah begitu pengap. Manik mata hitam itu menatap sendu tanaman merambat yang menjadi pandangan sehari-hari nya. Cahaya temaram menjadi penerang bagi mata. Tiga ketukan di balik dinding samping membuat ia berdiri dari posisi duduknya. Melangkah mendekati dan membukakan pintu samping.


Krit!!


Pintu besi tua itu mencicit pelan. Ke dua mata bulat itu membesar saat melihat siapa yang berada di depan pintu. Tangan rapuh itu menarik kasar tubuh anak lelaki sebaya dengan nya untuk masuk ke kamarnya. Menutup cepat pintu dengan tergesa-gesa.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Vian dengan nada setengah berbisik.


Adella mendesah kasar. Anak perempuan dengan rambut sebatas lutut itu mengeleng pelan. Ia dan Vian sudah berteman sejak lama. Tentu tanpa sepengetahuan siapapun. Masih melekat di ingatan Vian, anak sesuai nya melewati nya dengan wajah ketakutan. Sangat cantik, Adella Putri. Anak perempuan yang berasal dari Indonesia. Sayangnya, saat berusi delapan tahun. Adella mendapatkan sentuhan di pipi kanannya. Saat di desak, Adella mengatup rapat bibir nya. Untuk tidak meloloskan kata.


"Tidak ada. Kau jangan sering seperti ini di tengah malam. Mereka bisa mengetahui hubungan pertemanan kita. Aku tak ingin ada hal baru yang harus aku——" Adella mengigit pelan bibir bawah nya.


Tatapan itu, terlihat sangat sendu menatapnya. Telapak tangan nya mengawang ingin menyentuh pipi kanan yang di tutupi oleh rambut hitam.


PLAK!


Tangan Vian di tangkis dengan cepat. Adella tak ingin, Vian mengasihani nya. Meski di didik dengan keras tanpa hati. Mereka sangat salah jika berpikir telah membuat Vian Yamato tidak punya hati. Kenyataan nya, Vian Yamato masih memiliki hati yang baik. Anak ini beberapa kali menolong Adella dalam kesulitan. Di depan yang lain, mereka dapat melihat sisi bengis dari Vian. Namun di belakang orang-orang, ada wajah lain yang hanya Adella dan Gio yang tau.


"Dell!" panggil Vian pelan.


"Pergi lah!" usir Adella pelan. Ia dengan cepat membalikkan tubuhnya membelakangi Vian.


Hembusan napas gusar terdengar. Gemerisik dari plastik bergeser dengan celana Jins terdengar. Vian mengeluarkan beberapa potong Roti dan Susu kotak dari saku celana nya. Ia melangkah mendekati ranjang lusuh berbau apek. Meletakkan nya di atas ranjang.


"Makanlah. Jangan sampai sakit, Hem!" ujar Vian lembut. Sebelum melangkah melewati Adella.


Adella berbalik melangkah cepat menahan tangan Vian. Membuat anak lelaki ini menoleh kebelakang.


Dahi Vian mengerut dalam."Apa maksud nya?" tanya Vian dengan wajah aneh.


Adella menunduk dalam. Ke dua matanya basah, tidak ada harapan lagi. Apapun yang terjadi ia akan tetap mati di tangan Mirabel. Baik Ibunya datang atau pun tidak. Meskipun Vian berjanji akan memberikan padanya perlindungan. Bahkan Vian tak tau siapa dirinya sebenarnya. Vian terlalu baik padanya, Adella mungkin dua tahun yang lalu sudah mati membeku dan terinfeksi luka di pipi. Jika bukan karena Vian.


Setidaknya, nyawanya tak berharga bisa di tukar dengan kebahagiaan Vian.


"Dell!" Panggil Vian membalas genggaman tangan Adella.


Anak perempuan itu menengadah. Bibirnya bergetar, ia takut, teramat takut. Sungguh.


Biarkan ia menceritakan kisah yang mungkin membuat teman nya ini akan ikut membenci nya karena sang Ibu. Adella pun sangat membenci Ibunya. Sangat! Karena wanita itu lah yang membuat ia begini. Dan membuat kakak-kakak dan sang ayah mati.


***


Sean mulai ribut, sedang kan Dera hanya menggelengkan kepala nya. Zeo membujuk sang cucu yang merasa kesal pada Hiro. Nomi lebih memilih mencium gemas Launa yang menatap aneh sang Abang yang mengerutu. Pelukan di pinggang Dera membuat wanita itu menoleh kebelakang.


Cup!


Kecupan di layangan kan di pipi kanannya kala ia menoleh. Ke dua mata Sean semakin membara kesal.


"Lihat! Lihatlah! Bagaimana menyebalkan putramu, Kakek!" Tunjuk Sean menghentak-hentak kan kaki ke lantai.


Zeo tertawa pelan. Mengusap pelan puncak kepala Sean. Anak ini meminta kado aneh pada Hiro. Mana mau Hiro mengabulkan nya.


"Hei Son! Aku tidak mau berpakaian wanita. Yang benar, saja!" Bantak Hiro setengah mencibir pada sang putra.


"Aku saat ulang tahun mu bulan lalu juga memakai pakaian wanita!" protes Sean menatap sengit pada Hiro.


Hiro mencibir. Sebelum menatap Laura dengan pandangan lucu. Anak perempuan nya satu itu menatapnya dengan tangan mengawang-awang. Bibir merah merekah berbusa, kala celotehan aneh keluar. Sari memilih diam, calon pengantin ini tak mau ikut campur. Ia lebih memilih untuk menjadi penonton yang baik.


"Mama saja yang jadi perempuan nya!" ujar Dera membuat erangan kesal dari Sean semakin menjadi.


"Gak mau!" Kesal Sean menoleh pada Laura yang saling adu tatap dengan sang ayah. Senyum ganjil terbit di wajah Sean."Kalau begitu, bagaimana kalau hadiah ulang tahunku bulan besok, aku mau Laura dan Launa bermain air dengan Jumbo dan Jery saja!" lanjut Sean dengan nada ganjil.


"Tidak!!!!"


Teriakan penolakan di lontarkan oleh semua orang yang ada di ruangan. Hiro melepaskan belitan tangan nya pada pinggang Dera melangkah cepat menuju si kembar.


"Enak saja! Kedua tuan putri ku tidak boleh melihat Buaya itu!" kesal Hiro mengeluarkan sifat posesif nya.


Tangan Laura bergerak menuju anak baju Hiro. Ingin di gendong oleh sang ayah. Dera mengeleng pelan.


"Mau yang mana, pakai pakain gaun pengantin wanita atau membuat ke dua adik ku bermain di atas perut Jumbo dan Jery?" Ancam Sean menurun naikkan ke dua alisnya.


Semua nya tau, Sean Yamato sungguh-sugguh akan hal ini. Dera melangkah cepat menuju sang putra dan ayah mertua nya. Memeluk erat Sean dari belakang. Menunduk kan wajahnya.


"Tenang saja. Papamu akan jadi cantik saat ulang tahun mu," bisik Dera.


Sontak saja senyum penuh kemenangan di wajah Sean terlihat. Ah! Hiro tetap kalah. Sean Yamato memang anak pendendam.


.


.


.


.


Bersambung.....


Selalu ada suka dan duka dalam hidup. ☺️☺️Semakin menegang kan ke depannya. tetap ada darah yang akan tumpah...😈😈 Happy ending or Sad ending 😈😈😈 it's Secret 🤫🤫🤫


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???