
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
Uap Kopi mengepul di udara. Malam kian larut, Sari masih terjaga. Memutuskan untuk duduk di gazebo taman. Di temani secangkir Kopi panas, baju dingin yang tebal berserta Laptop yang menyala. Meski penghuni rumah besar telah terlelap. Gadis cantik satu ini masih duduk dengan gerak jari yang lincah di atas keyboard Laptop.
Musik slow mengalun mengisi senyap nya malam Jum'at. Meski rumah besar terlihat sepi. Akan tetapi, Sari tau dengan pasti ada beberapa orang yang masih terjaga sampai pagi. Demi keamanan rumah Yakuza. Derap langkah kaki tak begitu ia hiraukan. Mengingat betapa seriusnya gadis satu ini. Menyelesaikan sebuah tulisan yang akan ia jadikan Novel sebagai tugas akhir sastra.
"Kenapa masih di sini?" Seruan serta selimut tebal jatuh menyentuh bahu nya.
Sari mengehentikan pergerakan tangannya. Menengadah menatap wajah tampan Leo. Pria yang ah——sangat sulit untuk Sari paparkan secara lugas tentang rasa. Gadis remaja yang dulu akan terlihat malu kala bersama Leo. Kali ini, Sari jauh sangat berbeda dari yang sebelumnya. Semakin dewasa dan tenang. Meski umur gadis cantik ini masih dua puluh dua tahun. Duduk di semester akhir.
"Kakak sendiri?" kini pertanyaan malah di lemparkan pada sang penannya.
Leo hanya menarik segaris senyum. Ia mengambil tempat di samping Sari. Ke duanya sempat kikuk dengan keadaan di meja makan. Bahkan terkesan dingin saat pertama kalinya bertatap muka kembali. Kini berbeda, tidak ada yang tau di mana letak perbedaan tersebut saat ini.
"Entahlah," jawab Leo ambigu.
Sari mengulum senyum. Setelah ke pergiannya dari Jepang. Mereka memang tak lagi memiliki komunikasi yang baik. Hanya diam selama Sari menjalani masa pendidikan di Amerika. Di tambah Sari saat liburan hanya akan kembali ke Indonesia. Dengan dalih gadis cantik satu ini sangat merindukan negara dan kampung halaman nya. Tapi, Leo Yamato tau dengan pasti yang di hindari oleh Sari adalah dirinya.
Ke duanya bungkam. Menikmati udara yang mampu membekukan. Seolah-olah mencoba menyelami pemikiran masing-masing.
"Sudah lama ya, kita tidak berbincang banyak." Ujar Sari menyandarkan tubuhnya di tiang gazebo.
"Hem," dehem Leo,"Bukankah kamu sendiri yang tidak ingin ada pembicaraan lebih untuk kita," lanjut nya pelan.
Sari membeku. Diakah yang tak ingin ada pembicaraan dan pertemuan? Tidakkah Leo paham di sini dirinyalah yang membuat rasa itu keruh. Menolak rasa yang pernah sekali terungkap. Dengan polosnya Sari mengatakan jika ia mencintai Leo. Sebagai seorang pria bukan seorang kakak. Sayangnya, sosok ini menolak mentah-mentah perasaan gadis polos itu.
Menyebabkan Sari merasakan rasa patah sepatah-patahnya. Perasaan yang baru saja tumbuh langsung layu sebelum berkembang. Bukankah Leo begitu kejam padanya? Lucunya, Leo seolah-olah tak tau apa yang terjadi.
"Begitukah?" tanya Sari dengan nada tak suka.
"Ya."
"Aku rasa tidak begitu."
"Kau pergi tanpa kata. Dera mengatakan kau pergi berkuliah di Amerika begitu saja. Memutuskan komunikasi di antara kita."
"Ternyata begitu pemikir mu tentang ku. Lelaki terlalu mudah berpikir dengan spekulasi sendiri. Tanpa sadar apa yang terjadi," cibir Sari.
Pada akhirnya, gadis ini tak bisa menahan rasa kesal. Ia pikir berlibur di Jepang akan membuat dirinya lebih baik. Mencoba melepaskan Leo dengan baik. Menjalin hubungan baru. Ia tak mungkin bisa selalu menghindari Leo. Mengingat siapa Leo Yamato. Adik tiri dari Hiro Yamato, kakak iparnya. Cepat atau lambat mereka akan kembali bertemu.
Tapi, kenapa rasanya masih sama? Masih terasa sangat sakit. Hati nya kembali tak rela jika Leo berbicara seakan mereka tak pernah bertengkar kecil. Sebelum keputusan nya keluar dari Negera Jepang. Sialan sekali Leo Yamato satu ini.
"Aku——"
"Sudahlah. Hari sudah cukup malam. Sebaik nya aku kembali ke kamar." Potong Sari cepat. Membereskan kan Laptop yang ada di atas meja.
Gadis itu bergegas menutup Laptop melepaskan selimut tebal yang di pasangan kan Leo di bahunya. Turun dari gazebo melangkah cepat menuju pintu masuk. Di sini, Leo hanya mampu mendesah kasar. Mengeluarkan uap hangat di mulut nya. Menatap kepergian Sari. Gadis cantik itu bahkan lupa dengan Kopi hangat yang belum sempat ia sentuh. Membiarkan nya tergeletak di atas meja begitu saja.
"Ah! Harusnya kau tak mencintai ku, Sari. Aku takut melukai mu, karena aku masih mencintai kakakmu," seru Leo pelan. Sangat pelan.
****
Beberapa kata makian mengalun di bibir merah wanita cantik itu. Kala kartu mahal miliknya tidak lagi mampu membayar kopi pesanan nya. Apakah wanita ini sudah jatuh miskin?
"Maaf nona, kartu ini juga tidak bisa di gunakan!" Seru sang waiters menyodorkan kembali kartu berwarna kuning ke emasan pada sang pelanggan.
Beberapa orang yang mengantri di belakang tubuh nya terlihat kesal karena wanita cantik itu menghabiskan waktu mereka yang berharga. Minuman yang telah di pesan dan telah selesai tidak mungkin bisa di batalkan.
"Ah!shit. Dasar brandal kurang ajar! Pengkhianat!" Makinya pelan.
Pria di belakang tubuh nya terkekeh pelan kala wanita di depan nya ini memaki.
"Bagaimana nona dengan bayarannya?" desak sang waiters.
"Ini! Tolong samakan dengan punyaku saja. Aku ingin Amricano hangat dua cup!" Seruan di belakang tubuh dengan kartu di sodorkan pada sang waiters.
"Baik tuan!" Serunya penuh semangat menerima kartu dari Bian.
Dokter tampan itu tersenyum lembut. Wanita cantik itu tercengang.
"Dokter!" Serunya pelan.
"Bagaimana keadaanmu Nona?" tanya Bian basa basi.
Ke dua pipi wanita cantik ini merona. Dua Minggu yang lalu pria ini menjadi Dokter yang merawatnya saat dirinya sakit. Dokter yang sabar dengan keluh bahkan beberapa kali ia mekaki kasar dengan kepongahan nya. Namun Dokter satu ini begitu sabar padanya. Tetap tersenyum tulus.
"Sudah lebih baik, Dokter!" balas nya malu.
"Syukurlah," balas Bian pelan.
"Hanya saja keuangan ku yang tidak baik-baik saja," kesalnya pelan.
Dahi Bian berlipat mendengar perkataan sang wanita. Mulutnya terbuka sedikit, namun kembali terkatup perlahan kala pesannya sampai bersama kartu miliknya.
"Ini tuan dua Amiricano dan punya sang nona!" Seru sang waiters menyodorkan ke duanya pesanan dan kartu.
"Terimakasih!" serunya lembut.
Wanita cantik itu menerima pesanan nya. Keluar dari barisan mengikuti Bian dari belakang seperti nya ia akan meminta bantuan pada pria satu ini.
***
Sean cemberut saat ini. Kencan yang pernah di janjikan oleh sang Ibu malah tak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Yang anak ini ingin kan adalah kencan bersama sang Ibu. Hanya berdua saja. Tapi apa ini? Ia malah berkencan dengan membawa orang ketiga. Lihat lah dengan tidak tau dirinya nya Hiro mengandeng mesra sang Ibu. Memboking satu hari wahana permainan. Dan menempatkan beberapa orang-orang bawahannya di sana. Bahkan membuat suasana ramai hanya dengan menghadirkan keluarga dari bawahan nya.
"Kenapa?" tanya Dera berhenti melangkah kala Sean berhenti.
Ke dua pasangan suami istri itu membalikkan tubuhnya. Menatap aneh sang putra yang terlihat merajuk.
"Merajuk mah ini," cibir Hiro pelan.
Dera menyingkut pelan perut sang suami. Meminta pria satu ini untuk diam. Melepaskan gandengan Hiro pada tangannya. Melangkah mendekati sang putra. Ia agak kesusahan menekuk satu kakinya guna melihat jelas wajah sang putra.
"Kenapa sayang?" Seru Dera membingkai ke dua pipi Sean dengan lembut dengan ke dua telapak tangan nya.
"Kenapa harus bawa Papa!" kesal Sean pelan.
Dera mengulum senyum. Sebelum menghembuskan napas pelan.
"Sayang dengarkan Mama. Apakah Sean tak ingin bermain dengan Mama dan Papa. Lagipula untuk naik beberapa wahana Sean bisanya dengan Papa karena Mama tidak bisa. Dan apa Sean lupa, ada berapa banyak anak di luar sana yang tak mampu bermain bersama Papa dan Mamanya?" Tanya Dera lembut.
Sean bungkam. Rasa jengkel yang sempurna sampai di ubun-ubun kepalanya tiba-tiba saja mencair. Kala mendapatkan nasehat dari sang Ibu.
Ya. Sean akui sang Mama memang benar. Ia lupa berapa anak yang tak mampu mengandeng dua tangan secara sempurna. Ada anak yang hanya mengandeng satu tangan saja, baik itu sang Mama atau sang Papa. Ada pula yang lebih malang, tidak mampu bermain mengandeng ke dua tangan ke dua orang tuanya.
Sean menoleh menatap sang ayah. Hiro tersenyum hangat, ah! Papanya. Hati Sean berdenyut pelan, ada rasa sesal di hatinya. Harusnya ia tidak begini. Tidak kekanak-kanakan begini. Mengatakan tak suka sang ayah ikut. Bagaimana pun, Hiro adalah Ayah yang hebat. Ia bahkan tak tersinggung saat mendapat beberapa kali penolak kan darinya.
Sean kembali ingat Willem yang tak pernah bisa mendapatkan kasih sayang ayahnya. Ayahnya yang selalu dingin. Dan tak lagi punya Mama. Begitu pula dengan David, anak itu bahkan selalu sendiri di setiap harinya. Ke dua orang tuanya hanya tau kerja dan kerja. Tapi David tumbuh menjadi anak yang ceria. Ia bahkan punya ke duanya. Bagaimana bisa ia bertindak bodoh seperti ini.
Dera tersenyum. Kala Sean mengembangkan senyum. Dera berdiri perlahan. Ke duanya melangkah kembali mendekati Hiro. Sean meraih telapak tangan Hiro. Menggenggam nya, membuat Hiro tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, ia merasakan perasaan Sean. Anaknya tumbuh semakin dewasa.
"Ayo bermain!" seru Sean keras.
"Ayoo!!!" Ujar suami istri berbarengan dengan tawa mengalun.
.
.
.
.
Bersambung....
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???