Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 50 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


.


Ke dua kelopak mata Sean tertutup perlahan. Usapan membuat mata anak lelaki ini terpejam tergoda untuk tertidur. Kuas di ulas dengan perlahan di ke dua pipi Sean. Sebelum usapan di bibir pink anak itu membuat bibirnya basah dan merah. Dera tersenyum lebar, sebenarnya nyaris tertawa kala rambut palsu di pasangkan di kepala sang putra.


"Selesai!" Seru Dera menepuk ke dua bahu sang putra dua kali. Membuat ke dua kelopak matanya terbuka.


Hampir saja anak lelaki berusia sembilan tahun ini terjengkang ke belakang. Jika saja tubuh sang ibu tidak berada di belakang tubuh nya. Siapa anak perempuan yang berada di cermin rias di depannya. Tunggu kenapa anak itu memakai baju yang sama dengan nya. Dera tertawa keras melihat bagaimana ekspresi wajah Sean yang mengenaskan.


"Hahahah! Putra.. ah tidak putri cantik sekali!" Ujar Dera di tertawa kerasnya.


Ke dua mata Sean berkedip lucu sebelum bibirnya merengut melihat wajah nya berubah menjadi sangat cantik. Oh, the power of make up. Cih! Sang ibu benar-benar menyebalkan. Tawa sang ibu masih meledak kala menatap wajah merengkuh dirinya.


"Mama!!" kesal Sean dengan nada merengek.


Dera mencoba menahan laju tawa yang akan meledak lagi.


"Kata nya akan membuat aku menjadi lucu dan akan membuat Mama suka. Tapi kenapa malah menjadi begini?" tanya Sean menatap ekspresi sang ibu dari cermin.


Dera berdehem pelan. Sebelum tersenyum aneh.


"Bukankah tadi Sean ingin terlihat lucu lalu apa salah nya berdandan begini. Hari ini adalah hari ulang tahun Papa loh. Kita berikan kejutan pada Papamu. Biar Papa tertawa terbahak-bahak. Sean harus belajar mengedip genit dulu dong!" bujuk Dera. Ke duanya awalnya ingin membuat kejutan untuk yang berulang tahun.


Seperti biasanya, Hiro Yamato terlalu lupa dengan ulang tahun nya. Hanya ingat pada tiga hari istimewa saja. Pertama hari lahirnya sang istri, ke dua adalah hari lahirnya Sean sang putra tercinta. Dan terakhir tentu hari pernikahan nya dan Dera.


"Tapi ini——"


"Ini bagus sayang. Kita tinggal menukarkan baju Sean dengan baju princess Elsa. Dan Mama yang akan memakai baju yang sama dengan Sean. Buka kah Sean ingin kita memakai baju yang sama. Mama sudah mempersiapkan nya!" Potong Dera cepat.


Sean menggembung kan ke dua pipi nya. Hilang sudah harga dirinya. Dan wajah sok cool nya di depan orang-orang. Tapi, melihat wajah sumringah sang Ibu dan tawa bahagia sang Ibu. Sean menjadi tidak tega marah dan menghapus riasan di wajahnya.


"Tapi setelah ini Mama mau kencan dengan Ku, kan?"


Dera mengangguk pelan. Sang putra sangat ingin kencan berdua dengan nya. Mungkin di negara Indonesia tidak pernah mendengar kencan khusus ke dua orang tua untuk anak mereka. Dimana biasanya Ayah akan mengajak putri mereka pergi berdua, untuk lebih dekat dan tau apa di sukai dan tidak di sukai oleh sang putri. Saat berkencan dalam tanda kutip berbeda. Saat itu sang Ayah akan tau siapa-siapa saja teman sang putri. Keluh kesah sang putri kecil mereka. Dan begitu pula dengan sang Ibu yang akan berkencan dengan putra mereka.


Kebiasaan ini hanya di lakukan oleh mereka yang berada dalam garis ekonomi kelas atas. Menghabiskan waktu dengan putra atau putri mereka.


"Baiklah. Aku akan menjadi apa yang Mama suka!" Pada akhirnya Sean menyetujui nya.


"Sebelum itu ayo ambil foto kenang-kenangan Sean menjadi seorang putri bukan putra!" Seru Dera bersemangat mengeluarkan benda persegi panjang nya.


Sean pasrah di tarik oleh Ibu menuju lemari baju. Wanita manis itu mengeluarkan satu gaun yang senada dengan gaun yang ia pakai saat ini. Gaun berwarna buru muda. Memberikan nya pada Sean. Dengan lesu Sean menukar pakai nya dengan pakai yang di berikan oleh sang Ibu.


"Wah! Cantik nya!" Seru Dera mengambil gambar Sean."Ayo tukar pose sayang!" Titah Dera yang seketika sudah menjadi seorang fotografer saja.


Sean menurut saja. Menarik senyum terpaksa dengan pose anak perempuan. Sean bersumpah akan membalas hal seperti ini pada ayahnya. Saat ulang tahun nya nanti. Ia akan meminta kado hadiah yang seperti ini. Di mana Hiro Yamato akan di dandani menjadi wanita cantik. Dengan pakaian Putri Jasmin. Senyum miring terlihat di wajah Sean. Anak ini sudah merencanakan hal yang sama.


Ayahnya juga harus merasa kan hal yang sama seperti nya. Agar, ia tidak malu sendiri bukan? Ah! Apa perlu Jery dan Jumbo juga ikut di dandani menjadi buaya wanita?


Jika di rumah besar Yakuza tengah dalam kesibukan baik merias dan juga mendekorasi rumah untuk malam ulang tahun sang Bos Besar Yakuza. Maka di rumah Bos Mafia Devil terlihat tengah sepi. Hanya ada bunyi suara dentingan sendok dan garpu di atas meja makanan. Ke dua nya makan dengan khidmat.


Sesekali Carlos menatap sang putra yang terlihat lebih hidup dari biasanya. Jika boleh jujur, Will terlihat lebih tertutup dari pada yang terlihat. Senyum hangat dan juga wajah yang memukau hanya lah topeng untuk sang putra bersosialisasi.


"Bagaimana sekolah di sini, apa kah ada masalah?" tanya Carlos mengalun.


Sendok yang sempat di angkat oleh Willem di turunkan perlahan. Mata hitam tajam miliknya menatap wajah tampan sang ayah. Pria yang telah menyandang status menduda selama lima tahun lebih, mungkin. Willem tidak ingat lagi kapan terakhir ada percakapan antara mereka berdua di meja makan.


Karena biasanya meja makan selalu hanya ada dirinya. Dan di temani oleh beberapa pelayan rumah besar di China. Sangat kesepian.


"Tidak ada masalah, Pa!" jawabnya seadanya sebelum kembali menyuapi makanan yang sempat tertunda.


Carlos mengangguk mengerti."Papa dengar kau satu sekolah dengan nya, Hem?"


"Apa maksud Papa, Hiro Yamato Rival abadi Paman Kevin?" Willem balik bertanya pada sang ayah. Meskipun, anak ini tau siapa yang di maksud oleh sang ayah. Ia lebih suka bermain kata dengan sang ayah.


"Kau tau maksud dia di sini, Son!"


Willem tersenyum miring. Seperti nya sang ayah sangat tertarik dengan keluarga Yamato itu. Saingan sang ayah dalam dunia bawah. Dan rival abadi sang paman saat kuliah. Hanya saja ia ingin terlihat bodoh. Berpura-pura tidak tau pertanyaan sang ayah.


"Ah, Sean Yamato, Maksud Papa bukan?" serunya tersenyum kembali. Meski tidak lagi tersenyum miring.


"Ya."


"Aku memang satu sekolah dengan nya. Tanpa aku memberi tahu Papa pun, sudah pasti Papa tau jika dia satu sekolah dengan ku. Di sekolah sekarang banyak anak-anak yang berasal dari kelas atas. Apa tujuan, Papa memasukkan aku ke sana untuk mendekati nya, Hem?" tebak Willem.


Carlos mengulas senyum ganjil. Menuang Red Wine ke gelas. Menyesapnya perlahan, punggung belakang nya berdasar senyaman mungkin di bangku.


"Bagaimana dia?"


"Cukup memuaskan dan tangguh, sama seperti tuan muda Mafia lain nya!"


"Kau suka dengan nya?"


Carlos tersenyum kembali. Mengangguk pelan."Seperti nya, putraku butuh seorang teman yang benar-benar sederajat dengan nya. Baiklah, berteman lah dengan nya. Papa tidak ikut campur. Kau bukanlah benda untuk di manfaatkan. Papa tidak sepicik itu, Will!"


Tidak lagi menanggapi. Willem kembali melanjutkan makannya. Membiarkan sang Ayah menyesap minuman memabukkan itu.


***


Pesta meriah telah usai. Yang tersisa hanyalah ke dua suami istri duduk di taman belakang. Di temani hamparan bunga mawar yang mekar. Mengingat saat ini bukanlah musim gugur ataupun musim salju. Membuat bunga Mawar mekar dengan sempurna. Dera menyadarkan tubuh nya senyaman mungkin di dada bidang sang suami. Hiro Yamato kehabisan kata kala pulang dari kantor. Jujur, pria ini bahkan tidak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Pria ayah satu putra ini tertawa keras kala membuka kado besar dengan pita pink. Siapa sangka, saat pita di tarik kotak terbuka. Dengan sosok anak perempuan cantik tersenyum mesum padanya. Tak lupa mengedipkan mata nakal padanya. Sampai ia sadar jika yang menjelma menjadi seorang anak perempuan adalah putra nya sendiri.


Setelah anak itu membuka suara. Berkata,"Selamat ulang tahun Papa!"


Ugh! Sungguh menggemaskan. Hiro tertawa keras sangat keras. Melihat bagaimana sang putra menjadi cantik. Membuat Hiro sejenak berpikir jika Sean adalah anak perempuan pasti sangat cantik. Ah, Hiro menjadi ingin punya anak perempuan yang tidak akan menyulitkan nya. Seperti Sean Yamato. Apa-apaan selalu saja berusaha menyusahkan nya.


"Terimakasih sayang, untuk hari ini dan kejutan hari ini!" Seru Hiro mengecup dahi sang istri.


Ke dua tangannya semakin menarik Dera mendekat dan menempelkan punggung belakang Dera dengan dada bidangnya. Malam semakin larut, Sean tentu di sibukkan dengan penghapusan make up dan juga pengalihan. Dera meminta Clara dan Yeko mengalihkan perhatian Sean darinya dan sang suami. Setan kecil itu selalu saja mengacaukan acara romantis mereka. Dan hari ini adalah hari spesial Hiro Yamato. Dera ingin, sang suami bisa bermanja-manja padanya.


"Sama-sama, Kak!" Seru Dera mengusap punggung telapak tangan Hiro yang berada di perutnya.


"Berapa lama kita tidak memiliki waktu seperti ini, Hem?" tanya Hiro pelan.


"Entahlah. Aku bahkan lupa kapan kita bisa sesantai ini tanpa putra kita?" balas Dera terkekeh pelan.


Hiro ikut terkekeh. Tiada hari tanpa sang putra. Terasa menyebalkan sewaktu-waktu. Tapi, itulah anak. Mereka memang di ciptakan untuk membuang gaduh dan memberikan kehangatan sekaligus keceriaan dalam mahligai rumah tangga.


"Apakah kita perlu honeymoon untuk ke dua kali nya, Hem?" usul Hiro pada sang istri.


Dera sedikit menengadah menatap wajah tampan sang suami. Menarik ke dua sudut bibirnya.


"Apakah tuan besar Hiro punyak waktu untuk melakukan hal seperti itu?" goda Dera.


"Kenapa tidak? Setiap hari kita bisa membuat nya serasa honeymoon, sayang!" seru Hiro tak kalah menggoda. Pria itu mengedipkan sebelah matanya.


Suami dingin nya begitu nakal saat ini. Ke dua pipi Dera merona malu. Sudah berumur saja rasanya masih baru menikah. Selalu saja penuh kehangatan dari sang suami. Dera tidak salah dalam menentukan pilihan. Meskipun saat itu lamaran Hiro sama sekali tidak ada kata romantis-romatis nya. Ia melamar dengan cara yang biasa. Yang luar biasa dari pria satu ini adalah ia sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matanya. Bahkan melamar pada kedua orang tuanya. Sebelum meminta ia menikah. Bahkan untuk acara pernikahan nya sudah tersusun rapi.


Tidak seperti pria-pria di luar sana. Yang gombalan nya tidak mampu di tampung oleh dunia. Bertahun-tahun berpacaran, giliran di minta kepastian malah kabur. Benar-benar tidak bisa di bawa ke jenjang yang lebih baik. Lucunya hubungan mereka, berawal dari hubungan yang aneh. Sampai ke hubungan yang sangat harmonis dan romantis.


"Ya ya ya! Aku percaya pada Kakak!" seru Dera masih dengan wajah merona.


Dera menunduk kan wajah nya. Terlihat malu-malu. Hiro tersenyum lembut melihat bagaimana ekspresi sang istri.


"Oh iya, aku belum mendapatkan hadiah dari mu, my love?" Bisik Hiro di daun telinga Dera.


Hampir saja Dera lupa dengan hadiah yang telah ia siapkan.


"Oh, iya. Hanya aku saja yang belum menyerahkan hadiah kan ya?" tanya balik.


Hiro Yamato mengangguk penuh semangat. Dera menegak kan kembali tubuh nya. Menghadap ke arah Hiro.


"Hadiah nya ada di kamar. Ambil saja, di dalam laci meja rias Kakak!" ucap Dera yang ingat jika hadiah darinya berada di dalam laci kamar mereka.


"Mau ambil bersama?" tawar Hiro pada sang istri.


Dera mengeleng kan kepala nya."Kakak ambil sendiri saja. Aku tunggu di sini!" ujar Dera tersenyum lembut.


"Baiklah!" Hiro berdiri dari posisi duduk nya. Menunduk mengecup kembali dahi sang istri dengan lembut dalam dalam.


Dera memejamkan kan kedua matanya. Dan tersenyum lebar mendapatkan kecupan dari sang suami. Hiro menyudahi kecup di dahi sang istri dan tersenyum.


"Aku ambil hadiah nya ya. Kamu tunggu di sini!" ujar Hiro dengan penuh semangat.


Kembali wanita itu mengangguk pelan. Hiro melangkah meninggalkan taman menuju rumah besar miliknya. Dera menatap bunga Mawar merah yang mekar di goda oleh angin malam. Bergerak perlahan.


Ke dua matanya terpejam, ikut menikmati semilir angin malam. Bersantai di temani pemandangan yang indah. Tidak perlu takut dengan bahaya yang mengintai mengingat rumah besar adalah markas besar Yakuza. Dengan penjagaan yang ketat.


Beberapa menit di habiskan dengan menutup ke dua matanya. Hingga, bunyi keras teriakan membuat ke dua kelopak matanya terbuka. Rumah besar terdengar gaduh. Dan wanita ini tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk tau apa yang terjadi.


Suaminya memang nakal. Sudah sepantasnya sang putra juga begitu. Senyum lebar di wajah Dera dengan ke dua pipi merona. Sebelum teriakan keras untuk ke dua dan ke tiga kalinya mengalun.


"Ada-ada saja mereka. Heboh dengan hadiah kecil seperti itu." Seru Dera mengeleng kan kepalanya. Tersenyum lebar. Sudah dapat di pastikan Hiro telah membuka kado darinya.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Kira-kira apa yang rencananya Carlos? dan apa hadiah yang membuat Hiro berteriak membuat satu rumah ikut gaduh ya?? Hem... ada yang bisa jawab????


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???