
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
Lensa mata hijau bening itu terlihat menatap anak lelaki di samping Sean dengan pandangan intens. Seolah-olah tengah memindai kemiripan Vian dengan Sean. Mata coklat kelam, wajah dingin dan hemat bicara. Mirip dengan Sean, dan ketampanan ke duanya tentu saja di miliki. Hanya saja, kulit Vian agak kelap di banding dengan kulit Sean.
"Hei! Kau membuat dia risih!" Tegur Delta menyingkut perut David dengan keras.
David mengaduh. Willem hanya menggelengkan kepalanya. Ke limanya berada di rumah kaca. Tepat di belakang wahana permainan. David dan Delta cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Namun ke duanya memilih diam tak banyak tanya pada Sean maupun Willem.
"Kau bisa berbahasa Jepang?" tanya David ragu.
Vian menoleh. Owh! Mata nya terlalu tajam di banding Sean. Membuat David meringis, sebelum memaksakan senyum. Anak dari pemilik Media Masa terbesar di Jepang ini penasaran. Lantaran sudah sepuluh menit ia dan Delta duduk bersama ketiga nya. Vian sama sekali tidak mengeluarkan kata. Pandangan nya cenderung dingin dan tajam.
"Tentu saja ia tau, Saudara kembarku ini pintar. Seperti diriku!" Jawab Sean meletakan tangannya di bahu Vian tak lupa senyum pongah di wajah tampan nya.
"Cih! Kau selalu begitu. Terlalu percaya diri," cibir David dengan raut wajah kesal.
"Vian! Apakah kau akan bersekolah di tempat kami?" kini giliran Delta angkat suara. Anak ini, juga penasaran dengan Vian.
Vian menoleh menatap keluar. Salju semakin lebat saja."Entahlah aku masih belum memikirkan nya," jawab Vian pelan dengan nada berat.
"Mama Dera mengatakan jika akan menyekolahkan kau di tempat kita!" ujar Willem menoleh ke samping.
"Memang Abang tak ingin sekolah?" tanya Sean ikut penasaran.
"Aku tak pernah bersekolah seperti anak-anak pada umumnya. Aku melakukan home schooling saat di Texas," balas Vian jujur.
Sean menarik tangannya. Melipat lainnya di dada. Ia baru tau jika Vian mendapatkan pendidikan di rumah tidak seperti nya. Willem menepuk pelan bahu kiri Vian membawa anak lelaki itu menoleh.
"Kau tenang saja. Di sekolah umum banyak hal yang menyenangkan yang tak pernah kau temukan saat home schooling. Aku juga pernah merasakan bimbingan secara pribadi. Itu sangat membosankan!" curhat Willem.
Entah sejak kapan Willem berubah menjadi anak yang cerewet seperti David.
"Kami akan membantumu beradaptasi kau tenang saja," Delta memberikan dukungan.
"Ya, tapi kau harus berhati-hati dengan anak perempuan. Karena anak perempuan itu menyusahkan," ujar David menyeleneh.
PLETAK!
"Aw! Sakit tau!" Kesal David sembari mengelus dahinya yang mendapatkan jitakkan kesal dari Delta.
"Anak perempuan itu tidak begitu!" kesal Delta.
"Hei! Aku tidak bicara dirimu, hanya bilang anak perempuan. Kenapa kau yang marah!"
"Kau gila! Aku ini perempuan tau!"
"Eh? Kau perempuan kah?" goda David.
"Kau!!!!!" Teriak Delta melayang kan pukulan pada tubuh David. Anak lelaki itu berteriak sembari menghindari pukulan Delta.
"Semangat! Pukul terus!" ujar Sean.
"Lebih keras Delta!" kini Willem memberikan semangat.
Vian tanpa sadar menarik ke dua sudut bibirnya. Apakah begini rasanya memiliki teman sebaya? Sangat menyenangkan. Melihat keakraban Sean dan teman-teman nya. Vian merasa masa kecilnya sangat membosankan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain bermain dengan racun. Memperkebal tubuh.
Dera dan Hiro menatap layar monitor cctv rumah kaca. Hembusan napas pendek terdengar dari ke duanya dengan serentak. Hiro mengusap pelan bahu sang istri. Sebelum menunduk mengecup puncak kepala Dera dengan penuh kasih.
"Jangan khawatir, Vian akan segara beradaptasi dengan kita semua." Ujar Hiro menarik wajahnya sebelum mendaratkan dagu runcing nya di bahu kanan Dera.
"Aku juga berharap Vian bisa dengan cepat beradaptasi dengan kita semua," jawab Dera lembut.
"Kau tak melihat bagaimana kerasnya Sean membantu Vian?"
"Ya. Aku melihat nya Kak. Hanya saja aku masih khawatir."
"Aku mengintrogasi Adella. Anak perempuan itu mengatakan jika Vian adalah anak yang hangat. Meski tak seperti Sean yang terbuka."
Dera mengangkat tangan kanan nya. Mengusap rahang tegas sang suami.
"Aku senang jika Sean mampu berusaha dengan baik untuk Vian."
"Tentu saja, anak itu tau bagaimana bertindak. Begitu pula dengan Vian, ia pasti cepat atau lambat akan bisa mengatasi kecanggungan." Ujar Hiro sembari membawa tangan Dera. Mengecup punggung tangan sang istri dengan lembut.
***
Bibir merah itu mencibir kecil. Di dalam hati ia memaki pelan. Siapa sangka, Zeo dan Nomi mengintrogasi nya seperti ini. Leo harus duduk di depan ke dua nya dengan wajah nelangsa.
Leo tersenyum meringis."Maksud nya Pa?" tanya Leo dengan wajah bodoh.
Pria paruh baya itu bedecak kesal. Setelah asik kabur-kaburan. Hingga Leo Yamato berangkat sendiri ke Texas. Sampai hari ini, Zeo benar-benar merasa gemas dengan Leo.
"Kau tau apa yang Papa mu ini maksud, Leo!" sinis Zeo.
"Apa——"
"Kami berdua bersepakat akan menarik mu ke Belanda atau menikahkan mu secepatnya. Tanpa harus berkenalan dengan wanita nya!" ujar Nomi.
Bola mata Leo hampir jatuh dari tempat nya. Bagaimana bisa? Ia akan menikah dengan wanita yang tak ia cintai. Bahkan di paksakan untuk menikah tanpa tau bagaimana calon nya.
"Ibu ini——"
"Pilih sendiri! Kau mau cari sendiri atau kami yang cari. Kami beri waktu empat bulan. Jika masih tidak bertemu. Kau hanya punya dua pilihan kami nikah kan dengan wanita pilihan kami. Langsung dua!" ancam Zeo.
"Eh? Loh kok dua?" tanya Nomi menatap Zeo dengan pandangan keheranan.
Leo terkanga dengan mulut terbuka lebar. Ia akan di nikahkan dengan dua wanita? Yang benar saja.
"Lah! Iyakan. Kau memilih yang itu sedang kan aku beda lagi. Kata Sean dari pada kita berdua bertengkar. Kita nikahkan saja dengan pilihan kami berdua. Sean bilang itu lebih baik, seperti Jumbo dan Jery!" papar Zeo percaya diri.
Astaga naga! Bagaimana bisa pria yang pernah menjabat menjadi Bos Yakuza ini bisa menerima rencana Sean? Sayang cucu sih boleh-boleh saja. Tapi ini? Beda pasal.
"Pap——"
"Baiklah. Itu bagus!" ujar Nomi memotong laju bantahan Leo.
"Papa! Ibu! Aku ini manusia bukan Buaya tua keladi itu!" Teriak Leo keras sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Dari pada kau menjadi perjaka tua!"
"Ya benar!" Nomi menyetujui perkataan Zeo.
Leo mengerang frustasi sebelum mengacak-acak rambut nya kasar.
***
"Wah! Hidanganya terlihat sangat lezat!" Seru Bian menarik kursi di meja makan.
Sakura tersenyum lebar. Tidak sia-sia ia belajar di YouTube agar bisa memasakkan makanan untuk Bian. Dokter tampan ini akan menyudahi masa dinasnya di Jepang. Sakura menarik tempat kursi duduk di depan Bian Winata. Dokter tampan pujaan hati.
"Silahkan makan!" Seru ke duanya sebelum menyumpit makanan yang di hidangkan di atas meja.
Raut wajah Bian meringis. Lucunya ia tetap mengunyah tumis toge yang di masak oleh Sakura. Sudah sering mendapatkan hal seperti ini. Bian telah terbiasa.
"Eh?" Seru Sakura meletakan sumpit di tangannya dengan wajah masam."Jangan di makan lagi!" Cegah Sakura pada tangan Bian yang ingin menyumpit makan lain nya.
"Kenapa?"
"Pasti juga tak enak."
Bian tersenyum tipis."Tidak masalah. Paling-paling aku hanya akan bolak balik toilet!"
Sakura cemberut."Apa gulanya kebanyakkan ya?" Monolognya melepaskan tangan Bian.
"Gula?"
"Ya. Aku pikir kalau di masukan gula rasanya akan lebih enak."
Bian menggelengkan kepalanya pelan."Sudahlah. Kedepannya aku yang masak saja."
"Bukanya Dokter tampan suka wanita yang bisa memasak?"
"Ya. Namun tak harus. Aku butuh sosok istri bukan pembantu," balasnya.
"Eh?"
Bian tersenyum lembut."Kau mau jadi istri ku?" goda Bian.
Ke dua pipi Sakura merona. Sebelum mengangguk pelan. Gadis bar-bar ini bisa juga bertingkat manis. Dan lucu, meski Bian tau ke depan nya ia akan terus merasa kacau oleh Sakura. Setidaknya, ia tau hatinya telah jatuh pada gadis satu ini.
.
.
.
.
Bersambung......
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???