
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
Hiruk pikuk di taman bermain adalah pemandangan yang sangat wajar. Meskipun bukan tanggal merah, kawasan bermain selalu ramai. Baik itu warga asli Jepang maupun para turis yang mengunjungi nya. Muda mudi terlihat cukup memadati taman. Mengingat anak-anak di hari Selasa berkutat dengan buku pelajaran. Tak jarang juga terlihat keluarga kecil. Mengendong anak-anak mereka yang masih berusia lima tahun. Sangat menyejukkan.
Dera mengandeng tangan sang suami. Beberapa kali menaiki wahana bermain. Itupun, permainan yang tidak memiliki frekuensi getaran yang tinggi. Dan tingkat bahaya yang mampu membuat sang jabang bayi dalam bahaya. Pria itu entah sudah beberapa kali mengeleng kan kepala nya, kala Dera menunjuk beberapa pemain yang ingin ia main kan.
Meskipun wanita yang tengah hamil itu akan cemberut. Seketika akan berubah kala Hiro menggoda nya. Hanya godaan ringan saja. Dengan memuji jika ia terlihat sangat cantik. Dan akan terlihat semakin cantik jika merenggut. Pria ini tidak akan membawa-bawa kata jelek di sini. Mengingat itu kata yang agak sensitif.
Pembicara ringan mulai mereka lakukan. Setelah dua jam bermain dan berkeliling suami-istri itu memutuskan untuk beristirahat di Cafe di dalam area taman bermain. Cafe di dekorasi sangat unik. Di mana ada rak-rak berisikan buku-buku dongeng untuk anak-anak. Di rak paling atas terdapat buku-buku Novel untuk orang dewasa. Tembok di ganti dengan Aquarium mini yang lebarnya kira-kira dua puluh lima cm. Di mana terdapat ikan kecil di dalam nya. Orang-orang di dalam Cafe di temani dengan senandung musik slow yang tidak terlalu membawa ke bisingan.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Hiro menatap sang istri.
Dera mengaduk minum jus jeruk milik nya. Sebelum mengangkat pandangan matanya. Bersitatap dengan manik mata coklat kelam sang suami.
"Kenapa pertanyaan mau kemana, harusnya kan pertanyaan nya setelah ini mau naik wahana apa!" Dera malah balik bertanya keheranan.
Hiro hanya tersenyum masam. Jujur punggung belakang nya rasa mau bolong. Di tatap dengan pandangan intens dan tajam. Beberapa waktu lalu, Hiro mendapati keberadaan Sean dan Yeko. Meskipun, anak itu memakai penyamaran bersama Yeko. Bukan Hiro Yamato rasanya jika tidak dapat merasakan kehadiran putra nya. Dan tatapan tajam seolah-olah memperlihatkan ketidak sukaan nya.
Hiro tidak yakin, seperti apa Sean Yamato saat besar nanti. Beru berusia sembilan tahun saja anak itu sudah seposesif ini pada sang ibu. Jika ia dewasa nanti entah seperti apa ia pada pasangannya. Tunggu! Bukan kah sifat yang seperti ini di dapat kan oleh Sean dari Hiro Yamato. Pria ini begitu posesif pada sang istri. Tentu sifat ini turun pada sang putra. Ck! Ayah dan anak sama saja. Lucunya, malah bertanya dari mana turun nya sifat posesif padahal dari dirinya sendiri.
"Tidak kah kau lelah sayang?" balas Hiro mengulas senyum.
Dera mengeleng kan kepala nya. Sudah sangat lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Keluar dengan bebas dan bermain. Meskipun ia sudah akan menjadi Ibu dari dua anak. Tetap saja jiwanya masih muda. Orang-orang bilang kan, Mama muda.
"Tidak. Kita hanya beberapa jam di taman bermain kak. Jangan bilang kakak sudah ingin pulang!" kesal Dera.
Sontak saja pria ini gelagapan. Ia meraih tangan sang istri mengusapnya permukaan punggung tangannya dengan perlahan.
"Tidak sayang. Siapa bilang seperti itu, baiklah. Mari kita habiskan waktu di sini sepuasnya," ujar Hiro cepat,"Eh! Tapi kan dirimu sedang hamil sayang. Ibu hamil tidak boleh kelelahan. Demi jabang bayi kita harus menunda berlama-lama," bujuk nya dengan nada sangat lembut.
Dera diam. Ia berpikir ada benar nya juga apa yang di katakan oleh sang suami. Pada akhirnya ia mengangguk pelan. Hiro menghela napas penuh syukur. Pelan-pelan bisikan lirih samar-samar dapat di tangkap oleh ke duanya.
"Mungkin dia punya uang banyak jadi bisa dapat pasangan semanis itu!"
"Kalau aku sih tidak ingin uangnya. Apa guna nya yang jika kekasih ku sejelek cowok itu."
"Iya benar."
"Sssttt! Pelan-pelan nanti mereka dengar."
Begitu lah gosip lirih meja di sudut di samping meja Sean dan Yeko. Jika Yeko menatap dua pasangan di meja samping nya dengan pandangan marah. Maka berbanding terbalik dengan Sean Yamato. Anal lelaki itu terkekeh pelan mendengar nyinyiran dua pasangan di samping mejanya. Kapan lagi kan ya, Papanya di bilang jelek. Dan di sangka tak pantas dengan Mama nya yang manis itu.
Beruntung lah para wanita dan pria itu tidak tahu menau. Siapa yang tengah mereka bicarakan. Hiro Yamato, seperti pengusaha muda yang sukses menghiasi sampul majalah Bisnis Jepang. Dengan gelar Hot Daddy. Meski sudah memiliki keluarga dan satu orang anak. Masih banyak wanita dan para gadis-gadis tergila-gila pada nya. Selain seorang CEO Perusahaan. Hiro Yamato adalah pemilik anggota Mafia terbesar di Jepang. Jika tau, maka sudah pasti lidah tak bertulang itu akan tergulung ke dalam tanpa kata saking takutnya.
Sean suka melihat bagaimana ekspresi sang ibu yang tersenyum menggoda sang ayah. Ke dua orang tuanya pasti mendengar pembicaraan orang-orang itu. Tapi memilih abai saja.
"Saya akan membereskan mereka tuan muda," seru Yeko pelan.
Kepala Sean mengeleng cepat."Tidak usah. Ini sangat menghibur untuk di dengar."
Yeko melipat dahi."Sebenarnya tujuan kita mengikuti ke dua orang tua tuan muda sampai ke sini untuk apa?" tanya hati-hati.
Sean menoleh. Menatap wajah tangan kanan sang ayah."Awalnya sih aku mau balas dendam ke pada Papa. Karena berkencan dengan Mama tanpa aku. Tapi saja melihat wajah Mama yang ceria. Tersenyum tanpa beban aku jadi tidak tega mengacau kan nya. Kesenangan Mama lebih dari pada apapun," jelas Sean pelan.
Ah. Yeko mengangguk mengerti. Ternyata ada perasaan seperti ini dari seorang Sean Yamato. Jika melihat bagaimana Sean tersenyum miring dengan mata berkilat penuh napsu membunuh. Di jamin orang-orang akan berlari kocang kacir karena ketakutan. Beberapa kali tangan kecil terlihat rapuh itu berlumur darah. Tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Bagi Sean, jika ada yang menghalangi kebahagiaan nya. Maka penebusan hanya ada kematian. Sean tidak akan berbelas kasih di saat nafsu membunuh menguasai diri. Namun akan terlihat berbeda saat seperti ini. Dimana kebahagiaan sang ibu terletak di nomor satu dan di utamakan.
"Lalu sekarang kita apa masih akaan membututi Bos dan nyonya?" tanya Yeko pelan.
Sean melayangkan tatapan pada ke dua orang tuanya. Ke dua nya terlihat telah selsai makan. Berdiri keluar dari Cafe, sang ibu terlihat antusias menarik-narik tangan sang ayah keluar dari Cafe. Seperti nya ada wahana lain yang ingin di naiki oleh sang ibu.
"Kita kembali ke Rumah Sakit saja!" Ujar Sean mengulas senyum lima jari.
Meski merasa aneh. Teko tetap menuruti perkataan sang tuan muda. Membiarkan Hiro dan Dera menikmati kenca mereka.
***
"Apa yang membuat mu ke sini?" seruan dengan nada tak suka jelas di tangkap oleh rungu Jihan. Tatapi wanita satu ini tidak terlalu menanggapi apa yang di ucapkan oleh Bian.
Di sinilah wanita cantik ini. Duduk berhadapan dengan pria yang sangat ia cintai. Bian tidak bisa mengusir Jihan begitu saja. Mengingat waktu sudah sangat malam. Jika di Indonesia pukul dua belas malam adalah waktu yang sudah sangat malam dan sepi. Maka kondisi ini tentu nya sangat berbeda dengan Jepang. Yang masih ramai di jam begitu. Mengingat negara Sakura satu ini sangat sibuk.
"Kita harus berbicara banyak Bian. Aku tidak ingin hubungan kita sedingin ini. Kau dan aku sudah sangat lama bersama. Meskipun, status kita saat itu adalah sahabat. Hanya karena rasa ku, kita berubah menjadi seperti ini. Rasanya sangat tidak adil bagi ku, Bi!" Ujar Jihan memasang wajah semenderita mungkin.
Bian mendesah letih. Di sini bukan hanya hubungan nya dan Jihan yang membuat otaknya mau pecah. Tapi juga Dera, wanita yang telah berkeluarga itu juga mengisi otak nya. Hingga membuat pria tampan ini sangat frustasi. Bian memijat pangkal hidung nya. Kepalanya terasa pening seketika.
"Untuk saat ini aku tidak bisa berbicara banyak. Bahkan untuk hubungan kita. Kau beristirahat lah di kamar tamu. Aku sudah sangat lelah bekerja hari ini," serunya sebelum bangkit dari sofa.
"Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau bisa bisa membicarakan hubungan kita," Jihan mengalah. Ia pikir melangkah mundur satu langkah lebih baik untuk keadaan seperti ini. Ia tidak ingin terlalu posesif, Bian Winata sangat benci dengan wanita yang posesif.
"Besok carilah Hotel tempat kau menginap Jihan. Aku tidak ingin ada romor yang tidak sedap. Meskipun kita tidak berada di Indonesia. Kita masih berdarah Asia. Kau mengerti kan maksud ku?"
Jihan mengangguk pelan. Mencoba bersabar dengan penolakan Bian. Bian melangkah menuju kamarnya. Meninggalkan Jihan di ruangan tamu. Jihan masih memandangi punggung belakang Bian yang semakin menjauh.
"Aku tidak akan menyerahkan pada mu, Bi!" ujar Jihan lirih. Ia akan membuat Bian Winata menjadi miliknya. Duduk di atas pelaminan. Harus.
***
Hanya tiga hari, anak lelaki itu betah di atas tempat tidur dan jauh dari sang ibu. Pada akhirnya, anak ini kembali ke rumah besar Yakuza dengan sandiwara. Tentu hampir membuat Hiro serangan jantung. Dera yang terlihat sedih melihat tangan sang putra yang di perban.
"Kenapa bisa jatuh? Harusnya Sean tidak memanjat!" Seru Dera dengan emosi yang bercampur aduk.
Antara marah, kesal dan tak tega melihat tangan kanan sang putra yang di perban. Sean tersenyum lima jari pada sang Ibu. Mengusap air mata yang sudah mulai turun. Ah! Hormon wanita hamil memang sangat memusingkan. Sontak saja ayah dan anak itu kalang kabut saat Dera menangis keras. Rumah besar Yamato terdengar sangat ramai di pagi hari.
Satu jam di habiskan oleh wanita satu ini menangis. Dua pack tisu sudah habis hanya untuk air mata dan ingus wanita satu ini. Beruntung di ruangan tengah, hanya ada mereka bertiga.
Sean meringis kala melihat bagaimana ekspresi dingin sang ayah. Seolah-olah berkata ini semua karena nya. Ya, mau bagaimana. Sean Yamato sudah tidak tahan lagi berpisah berlama lama dengan sang Ibu.
"Sean tidak apa-apa Mama. Hanya lecet sedikit, empat hari lagi akan sembuh." Ujarnya meringsut masuk ke dalam pelukan sang Ibu.
Dera tidak dapat marah. Anaknya sudah menderita seperti ini. Jika di marahin maka sudah di pastikan jika itu menambah beban derita si anak. Wanita ini juga pernah mendapat kan kecelakaan saat main bersama-sama teman-teman nya. Jatuh dari sepeda onthel, membuat dahinya harus mendapatkan empat jahitan. Beruntung tidak membekas, sangat ingat bagaimana sang ibu berceramah. Panjang kali lebar kali tinggi. Sang ibu marah karena menganggap ia nakal dan tidak bisa jaga diri. Sudah jatuh malah tertimpa tangga pula. Itulah yang di rasakan Dera saat itu.
Mulai saat itu, ia berjanji akan lebih memahami anak-anaknya. Saat Seperti saat ini, anak-anak tidak butuh ceramah atau pelototan bentuk kekesalan seorang Ibu. Mereka lebih butuh pergantian lebih hanya untuk sekedar mengobati luka mereka. Jika saat seperti ini mendapat kekesalan dan kemarahaan dari orang tua itu akan membuat si anak semakin tertekan.
Dan sebagai seorang Ibu, wanita ini dapat mengerti perasaan Ibunya saat itu. Mengapa wanita itu marah saat dirinya terjatuh. Beliau tidak bermaksud menyalah dirinya. Hanya saja karena terlalu syok dan takut. Emosi yang berpadu padan membuat ia melimpahkan kemarahan pada dirinya. Dera mencoba cara yang berbeda untuk sang putra.
"Jika nanti ada kegiatan yang tidak Sean bisa. Sean tidak usah lakukan ya." Pinta Dera dengan suara serak sehabis menangis. Telapak tangannya mengusap-usap punggung sang putra.
"Siap, Mama!" balas Sean semangat.
Dera menghembuskan napas kasar. Sebelum meraih tangan yang di perban secara perlahan.
"Apa sangat sakit kemarin?" tanya Dera dengan mata sendu.
"Sakit dikit saja Ma. Sean kan anak yang kuat!" Banga Sean menepuk dadanya perlahan dengan tangan kiri.
Hiro mencibir di saat seperti ini masih saja sempat-sempatnya membanggakan diri sendiri.
"Nanti jika terasa sakit lagi. Sean bicara cepat pada Mama dan Papa ya. Biar cepat di periksa kan lagi," ujar Dera lagi.
"Tenanglah sayang. Jika sakit anak ini akan bicara cepat. Dia bukanlah anak yang mudah tahan sakit!" Seru Hiro mengusap pundak sang istri dengan pelan. Menyalurkan ketenangan. Ayah dan Ibu selalu memiliki sisi yang berbeda di saat seperti ini.
Jika sang Ibu dengan penuh kekhawatiran. Maka sang ayah akan penuh ketenangan. Begitu lah mereka. Kembali lagi Hiro merasa senang, melihat bagaimana cara dan pemikiran Dera pada sang pemilik putra. Penuh pertimbangan yang matang. Dan cara menahan diri yang baik. Dera memang sosok Ibu yang sangat sempurna. Beruntung wanita satu ini tidak lepas dari tangan nya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Ugh... jadi iri🥺🥺🥺 Keluarga yang sangat hangat.^^ love this❤️❤️❤️
Dan Terimakasih banyak untuk Kakak-kakak yang udah mendukung Novel ini baik dengan cara Vote Poin yang begitu banyak, Like dan Komentar 🥺🥺🥺🥺 Love you Kakak-kakak ❤️❤️❤️❤️❤️💌🤗🤗🤗
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???