
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
Kaca mata anti radiasi membingkai wajah gagah Hiro Yamato. Sepuluh jari jemari nya menari dengan lincah di atas keyboard Komputer ruangan kerja nya. Beberapa kali ia menjeda gerakan mengetik dengan kening mengkerut. Email masuk semakin membuat kerutan halus di dahinya, mengingat username si pengirim sangat ia kenal. Hiro bergerak cepat membuka email di komputer nya.
LY
Aku ke Indonesia beberapa hari. Jangan bilang apapun pada Papa atau orang di rumah. Nanti akan aku jelas kan detailnya lagi.
Dan tidak usah di balas!!
Hiro tak membalas sesuai dengan instruksi sang adik. Ketukan di pintu membuat pergerakan Hiro berhenti. Ia menyadarkan punggung belakang nya di kursi.
"Masuk!" titahnya dengan nada suara lantang.
Kret!
Pintu ruangan kerjanya terbuka lebar. Wanita cantik itu menunduk lambat. Sebelum melangkah lebar, membiarkan pintu terbuka lebar. Ia berdiri di depan sang Bos dengan wajah polos.
"Nyonya besar telah lebih rileks. Mimpi buruk akan sering menghantui kala Nyonya Dera kembali mengingat hari kelam itu. Mungkin ada baiknya, menyalakan lilin aroma terapi yang menenangkan untuk Nyonya, Bos!" jelasnya sebelum memberikan saran.
Hiro menghembuskan napas pendek. Dera memang memiliki ketakutan tersembunyi di dalam dirinya. Masih bermimpi tentang malam kelam yang menakutkan itu. Ia berharap Dera bisa melupakan malam menakutkan itu.
"Bantu Dera dengan baik, agar bisa merasa lebih baik lagi!" titah Hiro dengan nada berat.
Wanita cantik itu mengulas senyum."Saya akan membantu sekuat mungkin Bos!" jawabnya dengan sungguh-sungguh.
"Terimakasih Mawar!" ujar Hiro pelan,"Bagaimana dengan luka di bahu mu?" lanjut Hiro menanyakan keadaan sang bawahan.
"Sudah lebih baik Bos. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar Bos. Lukanya sudah cukup baik, berkat bantuan Bos!" ujar Mawar dengan senyum lebar.
Ia nyaris kehabisan darah. Berkorban untuk menyelamatkan sang Nyonya besar. Senyum tipis, terbentuk kala ia membungkuk kan tubuh nya. Sebelum melangkah keluar dari ruangan Hiro Yamato. Menjadi musuh dalam selimut bukanlah hal yang mudah. Memalsukan banyak data hanya untuk bisa menjadi anak buah Hiro.
Dengan kehebatan yang ia punya. Ia mampu memanipulasi orang-orang dengan mudah. Mawar, bisa di bilang bergerak dengan tenang dan tidak menonjol. Mengunakan kemampuan dasarnya dalam hipnotis selalu membuat nya aman. Tidak akan ia biarkan pergerakan nya terlihat. Ibu nya adalah anak buah bayangan Kara. Wanita yang ikut dalam memanipulasi keadaan saat Kara membuat Zeo Yamato dalam perangkap. Seolah-olah ia berhubungan suami-istri dengan Kara. Meski ia berhubungan dengan Nomi. Sumpah setia pada Kara, membawa kewajiban nya untuk setia pula. Dengan pemikiran matang, Mawar di letakan di sisi Hiro. Bahkan Nomi saja tak tau identitas aslinya. Gadis yang di dikenal dengan nama mawar ini bernama asli Yui Kabuto.
***
Wanita yang tak lagi muda dengan penampilan kusut terseok-seok menyeret kaki nya. Darah merembes di pergelangan kaki yang sempat di tembak. Hutan semakin gelap di kala mentari meredup menuju waktu senja. Rambut hitam kumuh berbau apek berkibar di tiup angin. Napas tersengal-sengal tak ia hiraukan.
Erangan tertahan kala ia berada di batas pertahanan."Aku harus bersembunyi!" monolog nya lirih.
Derap langkah kaki semakin cepat terdengar membelah semak-semak. Wanita itu meremas ke dua tangan yang terasa begitu dingin. Detak jantung berpacu keras. Ia begitu takut, ke dua matanya basah. Dosa masa lalu semakin membuat ia merasa sulit bernapas. Saat itu hanya ada satu pilihan, beberapa rekan nya sudah tak lagi tersisa. Susi menyesal telah terlibat dengan masa lalu. Uang yang di tawarkan hanya menjadi belenggu bahkan kematian bagi diri nya.
Pluk!
"Aaaa!!!!!" Teriak Susi dengan lantang mencoba memukul tangan yang berada di bahunya.
"Sssttt!!! Aku bukan penjahat!" Ujar pria gagah itu meletakan jari telunjuk nya di bibir.
Samar-samar Susi melihat wajah Leo. Hembusan napas nya masih memburu, bak di kejar malaikat maut. Ia tak tau harus bagaimana, meski ada rasa awas di dalam dirinya.
"Jangan takut. Aku bukan salah satu dari mereka. Aku melihat mu di kejar oleh Mafia itu, hingga ikut berlari mengejar mu!" jelas Hiro dengan nada pelan.
"K—kenapa! Kenapa Anda mau membantu, ku?" tanya Susi tergagap.
"Nanti saja aku jelaskan. Sekarang ayo keluar dari hutan ini dahulu!" Ujar Leo membawa mantan perawat itu menuju arah barat. Dimana mobil jeep nya menunggu.
***
Anak perempuan itu terlihat begitu lesu. Ia menatap takut pada Mirabel. Wanita dengan bibir lipstik merah maron menatap wajah nya dengan pandangan tajam. Manik hitam legam itu terlihat sendu. Menjadi tahanan selama lima tahun, ia sangat hapal dengan pandangan mata tajam Mirabel.
"Adella! Kau merindukan Mama mu di Indonesia, Hem?" tutur Mirabel sebelum mengulas senyum tipis.
"Tidak, Bos!" ujar nya dengan nada dan wajah dingin.
Meski anak ini sangat ingin menangis karena takut. Usianya telah genap sepuluh tahun. Ia bukan anak bodoh tak tau apa yang terjadi. papanya dan kakak-kakak di bantai di Indonesia lima tahun yang lalu. Hingga ia di bawa paksa ke Texas, hanya untuk mengeluarkan sang Mama dalam persembunyian. Setidaknya, Mirabel tau jika Susi perawat bodoh itu tak akan mampu macam-macam. Mengingat putri bungsunya berada di tangan nya.
Hanya dua pilihan yang tersisa untuk Susi. Membungkam mulut nya dengan bersembunyi atau keluar menampakkan dirinya dan di tangkap. Wanita itu lebih mencintai nyawanya, membiarkan sang putri berada di tangan Mirabel.
"Kau sangat pintar. Dan kau pasti tau bukan apa yang terbaik untuk kau dan Mama mu?" ujarnya dengan nada lembut namun penuh intimidasi.
Kepala Adella mengangguk cepat. Membuat rambut hitam legamnya bergerak-gerak. Mirabel tersenyum miring melihat anak perempuan di depannya ini. Pintu terbuka cepat membuat atensi ke duanya menoleh ke ambang pintu.
Vian masuk dengan wajah dingin nya. Melangkah cepat menuju Mirabel, wanita itu tersenyum polos untuk Vian. Meski harus merasa muak dengan anak satu ini. Namun wajah manis harus terus ia perlihatkan untuk Vian Yamato. Sebelum rencana nya tercapai.
"Bagaimana latihan nya sayang?" Tanya Mirabel dengan tangan mengusap pelan puncak kepala Vian.
"Selalu berjalan lancar Ma! Seperti biasanya," balas Vian dengan nada dingin.
Ujung matanya menatap anak perempuan sebaya dengan nya. Anak perempuan yang mendapat kan luka bakar di pipi kanannya. Anak perempuan yang tumbuh bersama nya yang di jadikan bak anjing pemburu. Vian tak tau apa kesalahan anak itu hingga mendapatkan cetakan di wajah cantik nya. Vian dan Adella tidak boleh bersama. Apa lagi berisian. Mirabel melemparkan tatapan pada Adella, dengan pandangan tajam.
"Saya permisi, Bos!" Ujar Adella membungkuk sebelum melangkah pergi.
Vian diam-diam menatap punggung belakang Adella dengan pandangan tak terbaca. Sebelum mengulas senyum pada Mirabel.
***
"Mama!" seru Sean lirih. Melangkah cepat menuju ranjang sang Ibu.
Dera menoleh ke ambang pintu. Ia menghentikan pergerakan tangan nya menyulam syal tangan untuk sang putra. Sean menaiki tempat tidur dan merebahkan kepala nya di paha sang Ibu.
"Kenapa, Hem?" Tanya Dera mengusap puncak kepala Sean dengan gerakan lembut.
"Apakah aku saat bayi serewel Laura?" tanya Sean sedikit menengadah menatap wajah sang ibu.
"Kenapa bertanya hal itu?"
"Habis, ke dua Ibu Susu Laura bilang setiap anak bayi selalu rewel. Padahal kan yang rewel hanya Laura. Sedangkan Launa tidak begitu. Karena itu aku bertanya pada Mama. Apakah aku benar serewel Laura?" jelas Sean dengan penuh harap.
Dera mengerutkan dahinya, seolah-olah berpikir apakah sang putra yang manja ini serewel Laura saat bayi?
"Tidak. Kau cenderung tenang meski agak nakal setelah mampu merangkak!" ujar Dera lembut.
Dengan gerakan cepat Sean bangkit dari posisi terletangnya menjadi duduk kembali. Membawa kekekah gemas dari sang Ibu. Dera meletakan keranjang berserta rajutannya di atas nakas sampai ranjang.
"Mama cerita bagaimana saat aku kecil dulu!" pinta Sean antusias.
Sean sangat ingin mendengar cerita sang ibu. Bagaimana perangainya saat masih bayi sampai sudah berusia sembilan tahun yang satu bulan lagi genap sepuluh tahun. Ia telah mencoba merawat dan bermain dengan si kembar. Melihat tingkah laku bayi lucu itu. Membuat ia semakin penasaran bagaimana dirinya saat masih bayi.
"Sana ambil album foto di laci meja rias!" Titah Dera menunjuk laci meja riasnya.
Tanpa membuang banyak waktu. Sean turun dari tempat tidur melangkah cepat ke meja rias. Membuka laci, menutup nya dengan cepat. Sebelum melangkah kembali ke atas tempat tidur. Seperti nya malam ini akan di habiskan untuk mendengarkan cerita tentang dirinya bersama sang Ibu. Sebelum tuan besar Yamato memasuki kamar. Dan mengusir nya untuk tidur di kamarnya sendiri.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Ayo,.... banyak yg lupa sama si mawar ya🤣🤣🤣 dia pernah muncul di beberapa Bab awal. Hanya di sembunyikan, agar saat muncul... Dooor!!! kejutan. Ada satu orang yg nebak benar.☺️☺️☺️
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???