Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 110 END (S2)



Vian mengalungkan liontin burung merpati pada leher Adella. Anak perempuan itu tersenyum, kala Vian menarik tubuh nya berdiri dengan tegap di depan Adella. Bandara Internasional Jepang tampak ramai di hari Minggu. Dera mengusap pelan puncak kepala Adella dengan lembut. Di samping tubuh Dera, Sean berdiri dengan tubuh kaku. Wajahnya tampak dingin saja, tidak ada raut wajah konyol yang biasanya ia tampil kan. Hiro mengulas senyum kala Adella menatap ke arahnya. Anak perempuan itu menunduk pelan. Penuh hormat pada Bos Yakuza itu.


"Saat sampai di Indonesia jangan lupa hubungi Tante, ya!" ujar Dera lembut.


Kepala Adella mengangguk pelan. Adella di antar oleh Chou bawahan Leo. Pria itu sudah empat hari tidak pulang. Mengejar gadis yang berkuliah di salah satu Universitas di Jepang. Mengejar S2 nya di negara Sakura ini.


"Baik, Tante!" jawabnya pelan.


"Jangan lupa terus kirim pesan dan fotomu pada ku. Kita sudah berteman sangat lama, saat sampai di Indonesia Jagan lupakan aku, ya!" kini suara Vian terdengar.


Sean hanya melirik Adella dari ekor matanya. Anak perempuan seusianya itu mengangguk pelan. Dapat manik mata coklat gelap ini melihat luka bakar di pipi Adella samar-samar. Kala rambut depan yang di gunakan untuk menutupi sisi wajah yang buruk.


"Ya," jawab Adella pelan,"Dan terimakasih atas kalungnya." Lanjut nya menyentuh liontin burung merpati.


Vian tersenyum lebar. Tangannya terangkat mengusap pelan puncak kepala Adella.


"Sama-sama."


Dera mundur kebelakang. Telapak tangannya mendorong pelan punggung belakang Sean. Membuat tubuh Sean dan Adella saling berhadapan. Bola mata Sean bergerak liar. Dera berdiri di belakang tubuh ke dua putra tampan nya.


"Mana hadiah perpisahan nya untuk Adel?" Seru Dera sembari menundukkan kepalanya.


Adella tak berani menatap mata Sean. Adik dari Vian satu ini memang sangat sering menemui nya. Hanya sekedar ingin berbincang-bincang. Lucunya, ia lah yang suka kabur kala Sean mendekati nya. Seperti nya, Sean masih kesal dengan nya.


"Tidak ada kah?" Vian menoleh menatap Sean.


"Aku lupa," jawabnya dingin.


Dera mengerut kan dahinya. Hiro melangkah mempersempit jarak ia dan ke empat nya.


"Kita pulang sekarang. Si kembar sudah rewel," ujar Hiro,"Dan selamat jalan Adella!" lanjut Hiro.


Adella mengangguk pelan. Dua puluh menit lagi Pesawat nya akan berangkat. Chou menunggu di pintu masuk. Ke empatnya berpamitan. Adella masih berdiri di tempat nya. Menatap punggung keluarga Yamato.


"Selamat tinggal, Vian!" ujarnya lirih,"Selamat tinggal juga Sean!" Lanjutnya menarik lekungan senyum.


Punggung keluarga Yamato tak lagi terlihat. Chou melangkah mendekati Adella. Menepuk pelan pundak anak perempuan Indonesia itu.


"Ayo, kita langsung masuk kerungan tunggu!" Ujarnya.


"Baik, paman!" Adella membalikkan tubuhnya.


Ke duanya melangkah mendekati pintu masuk. Tidak ada koper, hanya ransel kecil saja. Mengingat tidak ada yang harus ia bawa. Meski Dera bersikeras membelikan nya baju bagus. Adella bersikeras menolaknya, baginya di belikan tiket pesawat dan diantarkan ke Indonesia sudah lebih dari cukup.


Baru lima langkah ke duanya menjauh dari tempat semula menuju pintu ruangan tunggu. Seruan keras membawa langkah kaki Adella terhenti bersama Chou.


"Adella! Tunggu!!"


Panggilan keras itu membawa tubuh ke duanya berbalik. Sean berhenti di depan ke duanya, dengan napas tersengal-sengal. Peluh membanjiri bajunya. Jangan bilang jika anak lelaki satu ini berlari dari parkiran masuk kedalam gedung.


"Sean?" panggil Adella penasaran. Apa yang membuat anak satu ini kembali,"Ada apa?" lanjut nya.


Chou mendapatkan tatapan aneh dari Sean mundur beberapa langkah. Memberikan anak-anak ini ruang untuk berbicara.


"Itโ€”โ€”itu," serunya masih dengan napas tak stabil.


"Ya?"


"Aku sesungguhnya punya hadiah perpisahan untuk mu," ucapnya. Setelah napas mulai stabil.


Adella menatap aneh Sean. Sean merogoh saku celana jins nya. Mengeluarkan kotak kecil. Menyorotkan nya pada Adella. Anak perempuan ini menerima nya dengan senyum setengah yang terlihat. Setengah lagi tertutup rambut.


"Apa ini?" tanya Adella.


"Buka saja."


Tidak banyak kata, Adella membuka nya. Dahinya berlipat melihat sebuah cincin berlian dengan satu permata.


Bukan.


Adella mengerut kan dahi bukan karena terkejut dengan cincin yang di berikan oleh Sean. Anak perempuan ini terkejut lantaran ukuran cincin yang lebih besar dari ibu jari tangannya.


"Besar!" serunya.


Sean tersenyum simpul.


"Cincin itu seukuran jari tangan Mama ku. Jika nanti, cincin ini pas pada jari manis mu. Aku pikir kau harus datang menemui ku. Atau menghubungi ku untuk menemuimu," ujar Sean masih dengan senyum di wajah nya.


"Eh. Kenapa begitu?"


"Sudah. Lakukan saja itu, nanti saat itu pas aku akan mengatakan alasannya. Tak masalah kau tak menghubungi ku saat berada di Indonesia. Yang harus kau janjikan pada ku hanya satu, saat cincin ini pas kau harus mendatangi ku. Atau menghubungi ku untuk mendatangi mu!" ujarnya setengah memaksa.


Adella mengangguk patah-patah."Ah, iya. Aku juga punya hadiah untuk mu. Aku tak tau kau suka atau tidak." Ujarnya merogoh tas ranselnya. Mengeluarkan saputangan di sulam.


"Ini?"


"Aku sulam untuk mu. Awalnya, aku tak ingin memberikan nya padamu. Karena aku pikir kau tak akan suka. Tapiโ€”โ€”ah, sudahlah." Adella menyodorkan sapu tangan ke tangan Sean.


Sean menerimanya dengan tersenyum lebar.


"Terimakasih!" Seruan serentak dari keduanya membawa kekehan pelan.


"Kalau begitu, selamat tinggal Sean!"


"Ah, selamat tinggal juga Del!" balasnya.


Adella membalik kan tubuh nya. Melangkah mendekati Chou. Pria tua itu membungkuk ke arah Sean sebelum melangkah kembali. Sean tersenyum.


***


"Menikah dengan ku!" Leo kembali mengeluarkan suara.


Oh, sungguh. Gadis ini ingin memberikan bogem mentah pada pria yang dengan gilanya menjadi Dosen kampus nya. Kemana-mana di intilin, membuat Vera Audia merasa tak nyaman. Teman-teman nya yang lain menatap dengan pandangan beragam.


Pemandangan ini sudah satu bulan mereka lihat. Dan ini adalah lamaran ke dua puluh. Bunga mawar dengan cincin.


"Bapak dosen. Cari gadis lain saja. Apa sih yang sebenarnya bapak mau dari saya!" Tukas Vera dengan wajah kesal.


"Saya suka kamu, ah tidak. Saya jatuh cinta padamu pada pandangan pertama!" Seru Leo keras tanpa tau malunya.


"Gila. Aku ingin di lamar begitu."


"Sebenarnya ini acara lamaran atau hanya main-main sih. Sudah ke dua puluh kalinya dosen muda tampan itu melamar gadis jelek itu!"


"Sweet nya. Aku ingin!"


"Lamar aku saja. Aku akan terima tanpa berkedip!"


"Apa sih kelebihannya. Sampai dilamar pria setampan ini?"


Bola mata Vera berotasi. Awalnya ia berpikir Leo adalah penipu. Merayu untuk organ tubuh. Setelah itu ia berubah pikiran ia pikir Leo adalah pria gila yang ngebet nikah. Terus berubah lagi dan lagi.


Leo mengulum senyum nya. Pekikan keras tak mampu di hindari. Pesona seorang Leo Yamato mampu membuat wanita mengila. Anehnya, gadis ini malah biasa-biasa saja.


"Aku memilih mu karena itu kamu. Jika bukan kamu, saya tidak akan menikah seumur hidup. Kamu cantik di mata saya. Dan, maaf harus saya katakan ini padamu. Saya bersyukur jika pria lain menganggap mu begitu. Karena dengan itu, saya tak punya saingan mengejar cinta mu!" Jawabnya.


God! Orang-orang menggila. Banyak layar ponsel mahal membidik dan merekam lamaran romantis ini. Tidak peduli jika lamaran ke dua puluh ini akan kembali di tolak.


Oke, Vera tidak munafik. Leo memang mempesona, tapi ibunya selalu bilang pria gagah mau pada gadis tak cantik ada tiga faktor yang pertama adalah; ingin memanfaatkan nya, ke dua pria itu tidak normal dan ketiga pria itu gila. Ya, kenyataan yang ketiga adalah benar. Leo Yamato sudah gila, karena cinta.


"Kau mau jadi istri ku?" tanya Leo masih setengah berlutut.


Vera mengigit pelan bibir bawahnya."Begini saja. Aku beri bapak waktu empat bulan untuk melihat keseriusan bapak. Jika tidak terlihat tolong enyah dari kehidupan ku."


"Tidak. Satu bulan saja!" tukar Leo.


"Tidak."


"Dua bulan!"


"Tidak."


"Oke, tiga bulan saja. Dalam waktu tiga bulan aku akan membuat mu menjadi istri ku!" putus Leo sedikit mendesak.


Vera patah-patah mengangguk pelan. Leo berdiri berteriak keras. Sebelum memeluk Vera.


****


Willem tertawa keras melihat wajah sang ayah. Carlos hanya mampu meringis pelan. Sembari menyuapi mangga muda pada mulut Sari. Ketiganya berada di


ruangan televisi. Nonton Drama Korea bersama. Wajah Carlos di make up menjadi perempuan. Meski sempat menolah, Carlos harus tetap melakukan nya.


Pria gagah satu ini memaki si pemain film Drama kolosal kerajaan Korea. Yang berjudul The Tale of Nokdu yang di mainkan oleh aktor Jang Dong Yoon yang di sulap menjadi wanita. Karena pria itu, ia harus berpakaian wanita dan memakai riasan wanita. Ingin membantah, sayang anak membuat Carlos menerima nya.


"Sayang, dia cantik ya pakai baju tradisional Korea!" Tujuk Sari pada layar Tv.


"Ya." Jawab Carlos pasrah.


Sari memeluk lengannya. Merubah raut wajah Carlos yang cemberut menjadi merona. Willem mencibir.


Ketiganya fokus pada drama di TV gelak menggelegar dituangkan rumah Zhao kala adegan sang aktor ketahuan menyamar menjadi wanita. Oleh sang pemeran utama wanita nya.


***


Lampu utama di matikan. Dera mengecup perlahan ke dua sisi pipi Sean. Sebelum beralih pada pipi Vian. Menarik selimut bermotif Buya ke atas. Hingga dada. Ibu empat anak ini keluar dari kamar Sean dan Vian. Melangkah menuju kamar nya dan Hiro. Dimana terdapat pula si kembar di dalam kamar.


Kreat!


Pintu kamar terbuka perlahan. Dapat manik mata hitam legam ini menangkap posisi aneh ketiga orang dia tas tempat tidur king size. Kaki Launa ke arah wajah Hiro. Sedangkan, ke dua kaki Luara berada di atas bibir Hiro.


Dera tersenyum lebar. Membalik kan tubuhnya. Menutup perlahan pintu kamarnya. Sebelum melangkah mendekati anak-anak dan sang suami. Dera mengedong tubuh Laura dengan hati-hati melangkah mendekati box khusus untuk kedua balita nakal ini.


"Selamat tidur my princess, Laura!" Seru Dera mengecup pelan pipi tembem Laura.


Ia melangkah kembali ke arah tempat tidur memindah Launa. Meletakan di samping Laura. Melakukan hal yang sama seperti pada Laura.


Dera melangkah mendekati kamar mandi. Membersihkan tubuh nya. Hanya lima menit saja, Dera keluar dari kamar mandi. Hampir saja ia berteriak terkejut dengan tarikan pria tampan ini. Masuk ke dalam pelukannya.


"Kakak mengejutkan aku," kata Dera teredam dada bidang Hiro.


Hiro terkekeh pelan. Mengusap pelan punggung belakang Dera. Sebelum melayang kecupan di puncak kepala Dera.


"Terimakasih sayang!" serunya.


Dera mengangkat pandangan nya. Menengadah.


"Untuk?"


"Semuanya."


Dera mengulas senyum.


"Jika bukan kamu istriku, aku tak mungkin hidup sebahagia ini!"


"Jika bukan kakak yang menjadi suamiku, aku tak mungkin hidup sebahagia ini dan memiliki putra-putri yang tampan dan cantik!" Balas Dera sembari mengembangkan senyum.


Hiro gemas. Dera terlihat semakin manis dan imut. Meski umur bertambah. Lucunya, Dera malah seperti anak perawan. Mengingat tubuh nya yang kecil dan pendek. Pertama' kali ia bertemu Dera mungkin wanita ini tak semanis ini. Kulit sawo matang dengan penampilan tak terurus. Tapi, pria banyak yang lupa, jika batu permata itu di awal adalah batu biasa.


Butuh waktu dan usaha mengikisnya untuk melihat permata di dalamnya. Menikahi wanita cantik mungkin itu adalah keberuntungan. Namun menikahi wanita biasa dengan kebaikan hati luar biasa adalah berkah tak terhingga sampai menutup usia.


"I love you my wife!"


"I love you too my husband. And Mr. Mafia is mine! Right?"


"Yeah, I'am yours!" jawab Hiro. Sebelum melayangkan kecupan di pipi sang istri.


.


.


.


.


๐Ÿ’END๐Ÿ’


"Aku tak menuntut mu untuk sempurna,


Karena akulah yang akan melengkapi ketidak sempurna mu,


Aku tak butuh dirimu yang kaya,


Karena aku ingin harta kita cari bersama,


Tapi,....


Aku butuh kau yang tau cara menjaga mata,


Karena aku bukan wanita yang tahan akan luka..."


~Fara_13~


Di atas adalah Quote dari author untuk pembaca setia.


Terimakasih atas dukungan nya selama ini. Mulai dari Season 1 dan Season 2โ˜บ๏ธโ˜บ๏ธโ˜บ๏ธ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ yang mana cerita ini telah membawa tangis, tawa dan kata merona karena keromantisan nya..๐Ÿ™Š๐Ÿ™Š๐Ÿ™Š๐Ÿ˜


mau tau dong, alasan suka sama novel ini. Dan kesan pesan kenangan atau harapan next novel ini kedepannya โ˜บ๏ธโ˜บ๏ธ๐Ÿ™


Salam manis dari author "Fara"โค๏ธ