Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 6



Kedua mata sakura itu berbinar-binar menatap hidangan yang tersaji di atas meja undangan, suasana di villa mewah Hiro terlihat begitu ramai malam minggu menjadi hari yang dipilih sebagai pembukaan perusahaan yang menjadi kamuflase dari pembentukan anggota Mafia.


"Bertemu lagi."


Seruan di daun telinga Dera membuat gadis bergaun putih menyapu karpet merah itu langsung membalikkan tubuhnya, membuat langkah kakinya mundur beberapa langkah. Menciptakan jarak dengan lelaki yang terlihat begitu gagah pada malam hari ini.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Dera dengan wajah polos.


Senyum lembut dari wajah tampan lelaki di depannya ini seketika luntur. Wajah tampan itu berubah yang awalnya terlihat begitu manis berubah menakutkan. Mata sipit itu menajam berkali-kali lipat.


Kerutan halus di dahi gadis berambut sebahu itu terlihat samar-samar. Kevin Zhao, melangkah mendekati Dera. Membuat gadis berusia dua puluh dua tahun itu mawas diri terhadap kehadiran Kevin.


"Kau tidak mengingatku gadisnya, Hiro?" tanya Kevin dengan nada tak suka.


"Kenapa aku harus mengingat Anda?" sewot Dera dengan santai.


Pupil mata Kevin membesar sempurna. Wah! Baru tahu, jika ada gadis yang tidak terpesona dengan ketampanannya. Begitu banyak gadis cantik rela menaiki ranjangnya, menarik perhatiannya dengan berbagai cara. Tapi, gadis di depannya ini yang tingginya tidak sampai seratus lima puluh cm, wajah yang di bawah standar, dan juga kulit yang sawo matang begitu santai. Dan tidak tertarik kepadanya.


Apakah gadis dari musuh bebuyutannya itu memang diajarkan untuk tidak tertarik pada lelaki setampan dirinya? Entahlah.


"Aku kira kau berhutang permintaan maaf padaku. Saat kau menabrakku dua minggu yang lalu," sahutnya dengan senyum evil.


Mata sakura Dera memicing sempurna, menatap wajah Kevin dengan seksama. Ketakutannya pada Yeko, tempo hari membuat Dera tak begitu memperhatikan lelaki yang ia tabrak di kafe.


"Sudah puas memandang wajah tampanku, huh?"


"S——siapa juga yang memandang wajahmu? Lagi pula daripada kau, Tuan Hiro jauh lebih tampan," bantah Dera tergagap.


Kevin mengeraskan rahangnya derap langkah kaki, serta tarikan membawa tubuh mungil Dera masuk ke dalam pelukan lelaki bermata tajam itu.


"Kenapa kau di luar? Di dalam sudah aku sediakan tempat untukmu," tutur Hiro sebelum sebelah tangan mengusap pipi chubby Dera dengan gerakan pelan.


Gadis itu sempat menahan napas untuk beberapa saat kala aroma mint menyeruak masuk ke dalam penciumannya. Kevin menyeringai, beda Kevin maka beda lagi Hiro. Bos mafia Jepang itu tidak menampilkan senyum, ia hanya menatap dingin Kevin.


"Lama tidak berjumpa Hiro!" seru Kevin dengan suara beratnya.


"Ya. Lama tidak berjumpa," balas Hiro dengan nada dingin.


Dera menengadahkan wajahnya menatap wajah tampan Hiro, aura yang tidak bisa dibaca mampu membuat bulu kuduk Dera berdiri. Baik dari Hiro maupun lelaki di depannya, terasa sangat mencekik.


"Clara!" seru Hiro membuat langkah kaki gadis yang berdiri di belakangnya langsung maju.


"Ya, Bos!" jawab Clara saat sudah sampai di samping Hiro.


"Bawa Dera masuk ke dalam villa. Bawa dia bertemu dengan Leo," titah Hiro dengan penuh wibawa.


"Baik Bos," ujar Clara dengan patuh.


Hiro melepaskan Dera dari pelukannya kucing liarnya menatap dirinya dan pemuda di depannya dengan pandangan heran. Namun, gadis itu tetap menuruti perintah Hiro. Bagi Dera, hanya Hiro lelaki yang paling menakutkan. Dengan satu titah saja mampu membuat siapa saja melaksanakannya tanpa harus pikir panjang.


Dera menatap sekilas bos mafia Jepang itu sebelum melangkah mengikuti Clara, gadis Cina itu melangkah melewati lorong barat. Membuat kerutan di dahi Dera. Namun gadis berambut sebahu itu masih mengikuti tanpa menanyakan kemana ia dibawa oleh Clara.


Pintu kayu dibuka dengan lebar. Beberapa maid membungkuk ke arah Clara dan Dera, di dalam terlihat seorang lelaki terlihat berumur dua puluh sembilan tahun kurang lebih. Itulah pandangan Dera pada lelaki yang meletakkan gelas wine miliknya di atas meja. Menatap Clara dengan mata seolah bertanya.


"Dia akan menjadi anak didikmu Tuan Zhang," tutur Clara menejelaskan.


Lelaki yang di panggil dengan marga Zhang itu menatap dari atas sampai bawah. Tidak cantik, satu kata yang ia dapatkan sebelum kata kedua adalah tidak seksi.


"Ya. Namanya adalah Dera Sandya. Berumur dua puluh dua tahun. Bos ingin dia bisa berbahasa Jepang. Agar Bos bisa membawanya ke Jepang," papar Clara dengan tegas.


Tunggu! Belajar bahasa Jepang dan akan ke Jepang? Kelopak mata sakura itu menggerjab beberapa kali. Siapa bilang dia ingin belajar bahasa dari bos gila itu? Dan siapa yang bilang dia ingin ikut ke Jepang?


"Sepertinya ada masalah dengan mata Tuan Yamato," sinis lelaki bertampang malaikat namun, berlidah tajam itu dengan santai.


"Jangan terlalu banyak kata Tuan Zhang. Bos hanya meminta kau mengajarkan Dera di sini. Kau tidak punya kesempatan untuk buka suara," seruan di belakang tubuh Dera dan Clara membuat kedua gadis beda usia itu membalikan tubuh. Menghadap sang pemilik suara.


Leo Zhang berdiri dari posisi duduknya. Tersenyum sinis ke arah tangan kanan dari mafia ganas Yakuza itu.


"Lama tak berjumpa, Yeko!" serunya seolah tak ada perkataan yang meremehkan gadis di depannya saat ini.


Yeko melangkah mendekati Leo dengan bibir mencabik. Yeko, tidak begitu menyukai lelaki berdarah Cina-America di depannya ini. Meski Leo Zhang adalah lelaki berotak emas. Yang mampu mendapatkan gelar sarjana dalam hitungan tiga tahun dengan tiga ijazah sekaligus. Walau wajahnyanya seperti malaikat. Jangan salah, lelaki Zhang di depannya ini adalah seorang pembunuh berdarah dingin.


Ia tak segan-segan membunuh musuhnya dengan sekali tebas, sekilas terlihat lemah dan ramah. Namun, ia adalah perwujudan iblis sejati. Seperti Hiro Yamato. Bos Yakuza, yang berdarah dingin, antara Leo dan Hiro punya satu kesamaan. Sama-sama pembunuh berdarah dingin. Hanya bedanya, Hiro begitu dingin kepada wanita. Leo pemain ulung hanya dengan perempuan yang bertubuh seksi.


Sewaktu di Colombia, ada gelar tiga pangeran. Yang sama-sama memiliki kedudukan yang tidak main-main di Stanford University. Kecerdasan yang selalu diperebutkan oleh tiga orang yang terdiri dari Hiro Yamato, Kevin Zhao, dan Leo Zhang. Meski Hiro Yamato tidak bisa dikalahkan baik dalam akademik maupun non akademik. Membuat dua lelaki tampan itu merasa geram.


Berbeda dengan Kevin yang menunjukkan ketidak sukaannya pada Hiro. Maka Leo lebih bersifat abu-abu, bisa menjadi teman maupun lawan bagi bos mafia itu.


"Aku sudah berkenalan dengan Tuan Zhang. Kalau begitu aku mau masuk ke kamar saja," pamit Dera.


Tanpa mendengar persetujuan dari Yeko dan Clara. Gadis itu melangkah keluar dari ruangan khusus, tiga orang menatap kepergian Dera. Gadis itu menggerutu di perjalanan menuju kamarnya. Ia pikir bisa makan makanan enak di pesta. Tapi, ternyata tak begitu meski tamu yang datang mampu menyegarkan mata. Namun, tamu lelaki itu sama gilanya dengan bos mafia itu. Setidaknya, hanya Dokter tampannya saja yang normal.


...***...


"Aku tidak suka sepatu maupun tas dari kulit buaya, Tuan," rengek Dera kala Hiro terlihat mengukur kakinya.


Hiro menengadah. Dera menciut, meski tatapan Hiro tidaklah dingin. Tetap saja itu begitu menakutkan. "Kenapa? Apa kurang bagus?" tanya Hiro dengan wajah polos.


"I——itu, terlalu kuat," jawab Dera asal.


Kerutan halus terlihat di dahi Hiro. Membuat mulut Dera kembali terbuka. "Maksudku adalah——aku tidak suka binatang itu. Aku mau yang biasa saja. Aku tidak ingin Tuan kelelahan," lanjutnya membuat garis bibir Hiro terlihat.


Dera tak tahu senyum apa yang dikeluarkan oleh Hiro. Entah senyum iblis atau senyum tulus. "Lalu kucing liarku suka yang bagaimana?" tanya Hiro dengan nada berat.


"Yang di jual di toko, dengan harga yang biasa," jawab Dera penuh semangat.


"Begitu ternyata," ujar Hiro sebelum kepalanya mengangguk kecil.


Suara pekikan Dera tertahan mengundang senyum di wajah Hiro, lelaki tampan itu mengangkat tubuh Dera. Mengendong Dera seperti anak koala saja mau tak mau gadis itu melingkar kakinya di pinggang kokoh Hiro. Sedangkan kedua tangannya melingkar di leher Hiro dengan kuat.


"Takut jatuh, huh?" Hiro berucap di sela langkahnya.


Gila saja. Masih bertanya saat jawabannya sudah jelas, Dera mau tidak mau hanya mengangguk kuat. Ingat, Dera adalah binatang peliharaan Hiro. Yang tidur dengan sang majikan. Dan di manja. Oh God! Andai saja Dera tidak takut pada Hiro. Sudah pasti sumpah serapah gadis ini sampai di telinga Hiro. Berhubung ia takut pada Hiro. Sumpah serapah hanya di tahan di hati kecil yang mendongkol.


Dari jauh lelaki bermata seperti bajak laut tersenyum sinis. "Bos, dia bisa menjadi sasaran kita," seru wanita berpakaian maid berambut coklat terang.


"Apakah dia bisa memancing Bos Mafia sialan itu?" tanya Lelaki bermata satu dengan bahasa Inggris bergaya British style.


"Dua bulan aku mengawasi. Sepertinya begitu Bos," jawab sang wanita memakai bahasa yang sama.


"Hiro, kau hancur kan bisnis Kasinoku, maka jangan salahkan aku jika menghancurkan apa yang kau punya juga," serunya sebelum seringai menutup pembicaraan.