
Jari jemari panjang lentik itu bergerak lambat mengusap pelan pipi sang putra. Kedua sisi sudut bibirnya ditarik ke atas. Melengkung membentuk sebuah senyuman indah. Melihat wajah tenang serta hembusan napas stabil sang putra membuat Dera masih merasa tidak percaya dengan ketampanan Vian. Sudah satu tahun berlalu namun, ia masih merasa baru kemarin ia kembali menggenggam tangan Vian.
Jika boleh jujur wanita manis nan imut ini merasa bersalah. Karena tidak mampu mengingat akan kelahiran Vian. Bahkan ia tidak bisa memberikan kasih sayang penuh pada Vian. Karena semua kecurangan yang terjadi.
"Maafkan Mama sayang!" bisik Dera dengan nada sendu.
Derap langkah kaki mendekati ranjang terdengar jelas. Pria dengan handuk kimono putih itu berhenti tidak jauh dari posisi sang istri. Hujan kecil di bahu Hiro terlihat. Pria gagah dengan manik mata coklat kelam yang tajam itu memperhatikan punggung sang istri.
Dera menoleh kebelakang. Ia merubah raut wajahnya. Tersenyum kecil. Sebelum tubuhnya bergerak. Dera berdiri dari posisi duduknya. Melangkah mendekati sang suami.
"Kenapa wajahmu terlihat begitu sendu, hem?" Hiro mengangkat tangannya.
Telapak tangan besar bersuhu dingin itu menyentuh sebelah sisi wajah Dera. Ibu empat anak itu mengulas senyum kecil lagi. Seolah-olah ingin meyakinkan pada sang suami. Jika ia baik-baik saja.
"Tidak, ada." Dera menjawab singkat.
"Yakin?" Hiro berseru dengan sebelah alis mata tebal yang tersusun rapi itu terangkat ke atas.
Dera mengangguk kecil."Ya," jawab Dera pelan,"ayo, aku keringkan rambut Kakak," sambung Dera dengan nada lembut.
Wanita satu ini selalu saja lembut padanya. Hiro mengangguk pelan. Bos mafia satu ini sampai keluar kamar. Hanya untuk mencari sang istri.
Dera melepaskan tangan sang suami yang masih berada di pipinya. Dera menarik tangan Hiro menuju pintu keluar. Bos Yakuza ini menurut saja.
Ia harus memanfaatkan kesempatan dan waktu yang ada. Sebelum Sean pulang dari kegiatan rahasia anak satu itu. Hiro tidak begitu waspada akan kehadiran Vian. Mengingat putra sulungnya memang anak yang agak canggung. Bahkan cenderung terlihat tidak peduli pada sekitar.
Beda lagi pasalnya dengan si setan Sean. Putra keduanya itu sangat menganggu keromantisannya dan sang istri. Terkadang Hiro berpikir, siapa yang ditiru oleh Sean Yamato. Hingga begitu posesif pada sang istri. Dimana-mana itu pria posesif pada pasangannya. Bukan pada ibunya.
Meskipun begitu. Hiro diam-diam juga mensyukuri karena Sean yang begitu sayang pada Dera. Sean akan melindungi Dera jika terjadi sesuatu padanya. Serta menjaga si kembar dan juga membimbing Vian yang kurang kasih sayang.
...***...
Pergerakan Sean terlihat begitu lincah. Anak berusia sebelas tahun itu terlihat begitu menakutkan. Dengan tubuh bersimbah darah. Senjata api di tangannya terlihat digenggam erat. Beberapa anak buat Yakuza ikut serta dalam misi Sean. Pertumbuhan tinggi Sean terlihat jelas. Anak yang kemarin terlihat begitu imut sudah tidak lagi tampak. Sean benar-benar terlibat begitu gagah. Seperti anak SMP. Padahal ia masih duduk di kursi sekolah dasar.
"Yeko! Hadang mereka ke sebelah Utara!" titah Sean terdengar dibalik earphone kecil yang tersambung pada seluruh anggota Yakuza.
"Siap tuan Muda!" balas Yeko di seberang sana.
Sean kembali bergerak. Kedua kakinya bergerak lincah.
DOOR!
DOOR!
DOOR!
Suara tembakan kembali menggema. Kala Sean menembakkan para tahanan yang kabur. Tidak ada satupun yang boleh kabur dari tangan Yakuza.
"Sean! Satu orang kabur!" suara berat anak lelaki berkulit pucat di ujung pohon besar terdengar.
Willem terlihat bernapas tersengal-sengal. Sean berdecak kesal. Peluru di dalam pistolnya tersisa sedikit.
"Kau masih punya peluru?" teriak Sean pada Willem.
Willem mengangguk cepat. Jujur saja, Willem Zhao merasa ini sangat melelahkan. Dua jam membantai dua puluh tahanan Yakuza yang kabur sangat meletihkan. Carlos menyerahkan Willem pada Yakuza. Ia berharap Willem bisa mendapatkan didikan yang pas dari Yakuza. Karena Devil tidak sehebat Yakuza dalam pertahanan.
Willem harus belajar banyak dari Sean. Mengingat Willem akan menjadi penguasa geng mafia Devil selanjutnya. Maka dari itu ia harus bisa lebih tangguh.
Sean berlari mendekati Willem. Anak lelaki itu menyerahkan miliknya pada Sean. Senyum miring tercetak jelas di bibir merah Sean. Willem merasa Sean malah menikmati ajang pertarungan ini. Seolah-olah mereka tengah bermain game di dalam komputer. Lihat lah! Bagaimana ekspresi puas dari Sean.
Anak itu berlari cepat. Menuju hutan lebat. Yeko menepuk pelan pundak Willem. Anak itu mendongak menatap Yeko.
Willem menghela napas kasar."Dia mengejar orang yang terakhir!" balas Willem.
Pemuda itu merosot ke tanah duduk tanpa alas. Yeko menghela nafas kasar.
"Sudah pasti, orang itu akan mati juga pada akhirnya." Yeko terdengar mengeluh.
Willem mengangguk kecil. Tentu saja tuan muda Zhao ini paham dengan hal ini. Sean selalu menggila dengan darah dan darah. Naluri alamiahnya senang dengan darah yang tumpah dari lawan.
"Bagaimana dengan yang tertangkap?" tanya Willem.
"Kita tidak bisa lagi memberikan kesempatan. Mungkin mengambil alih organ tubuh mereka yang masih bisa dipergunakan," jawab Yeko pelan.
Willem kembali mengangguk. Sahabatnya sekaligus sepupunya memang seperti itu sejatinya.
...***...
Sean memperhatikan tingkah sang adik. Balita perempuan itu terlihat begitu menggemaskan. Kedua sisi pipi chubby, bibir merah basah, alis mata hitam legam tersusun rapi serta kedua bulu mata tebal lentik itu membuat kedua adik-adiknya sangat menggemaskan.
Vian mengendong Laura. Anak yang sangat hiperaktif membuat Vian mau tidak mau mengendong sang adik. Sean memasang wajah masam. Jangan salah paham. Anak lelaki tampan itu berwajah masam lantaran ayahnya menculik ibu mereka. Membawa Dera kencan entah kemana. Dan menitipkan kedua balita mengemaskan itu.
"Ba ba ba!" Laura berceloteh tidak jelas kala memasukan tangannya ke dalam mulut Vian.
Clara terkekeh melihat bagaimana ekspresi Vian. Anak tampan itu berekspresi lucu. Bayangkan saja, jari jemari yang selesai meremas biskuit khusus bayi itu disodorkan paksa pada mulut Vian.
Launa mengunyah biskuitnya. Terlihat enggan memperhatikan sekitar.
"Abang tidak mau!" tolak Vian. Anak lelaki itu menahan tangan nakal Laura untuk masuk ke dalam mulutnya.
Sean menengadah menatap sang kakak dan sang adik. Wajah Sean berubah sebelum ia terkekeh dan tertawa keras.
PLAK!
Vian terkaget mendapatkan tepukan kasar dari tangan Laura. Clara ikut tersentak. Balita perempuan imut itu terlihat kesal. Karena Vian tidak mau menerima remahan biskuit yang ia sodorkan.
Astaga. Kenapa Laura begitu bar-bar di usianya yang masih begitu kecil.
"Bababababa!" Laura terdengar kembali berceloteh dengan ekspresi wajah lucu.
Entah kemana larinya ekspresi masam dari Sean. Anak lelaki itu melangkah mendekati sang kakak. Tangannya di rentangkan kala Vian menatap ke arahnya. Vian yang mengerti langsung memberikan Laura ke Sean.
Laura tersenyum. Tangan kecil itu menepuk-nepuk kecil wajah Sean. Sean sudah biasa mendapatkan pukulan dari ringan sampai keras dari Laura. Adik bungsunya ini adalah anak yang sangat pemarah. Bahkan Hiro tidak luput dari amukannya.
"Mau kemana?" seru Vian kala Sean membalikkan tubuhnya.
"Mau membawa Laura main moge Jumbo dan Jery!" Sean menjawab singkat.
Clara langsung melompat dari posisi duduknya. Vian melotot, Sean anak itu benar-benar gila. Sudah pasti Sean akan mefoto Laura yang duduk di atas buaya tua itu. Sebelum mengirimkan pada Hiro. Dengan hitungan waktu satu jam. Hiro sudah pasti akan membawa pulang Dera.
"Tuan muda!" seru Clara mengejar langkah kaki Sean.
Vian menghela napas. Ia mengeleng kecil. Manik mata coklat kelam itu menatap Launa. Lihatlah! Ekspresi datar anak balita satu itu. Seolah-olah tidak peduli pada kembarannya. Persisi seperti Vian.
Bersambung....
Loha..😁😁😁 gimana kabarnya nih kakak-kakak? sehat kan, ya?
Setuju nggak nih kalau cerita ini dilanjutkan S3 masih versi anak-anak Sean dan Sean?
Atau nggak usah aja?🤣🤣🤣