Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 83 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


"Bagaimana dengan rencana kita Will?" Tanya Sean sembari meletakan kotak bekal terakhir di atas meja.


Seluruh mata beralih menatap tuan muda Zhao itu. Willem menarik segaris bibir ke atas.


"Semua nya berjalan lebih baik. Seperti nya, aku benar-benar bisa menjadi sepupu dekat mu, Sean!" balas Willem dengan nada ceria.


Sontak saja David dan Delta serentak bersorak. Ke empat nya benar-benar telah mengatur rencana dengan otak polos mereka. Hanya untuk mendekat kan Sari dan Carlos. Dua bulan anak-anak ini telah berusaha susah payah.


"Ah! Seperti nya aku masih punya satu beban lagi," keluh Sean pelan. Sebelum menyandar tubuh nya di kepala kursi.


Bulir salju semakin deras di luar sana. Jam istirahat ke dua di gunakan untuk menyantap makanan penutup dan puding.


"Apa maksud mu, Paman Leo?" tanya David yang tau siapa yang menjadi beban bagi Sean.


Sean menoleh ke samping. Mendapati wajah tampan David. Sebagai seorang anak yang berkutat di Media masa. David cukup tangkas dengan hal seperti ini. Seperti nya memang bakat alami tuan muda Miyaki ini untuk peka.


"Yaeh, begitu lah." Jawab Sean seadanya melipat ke dua tangan di depan dada.


"Apakah tidak ada wanita yang di sukai oleh Paman Leo. Setidaknya kita bisa membantunya seperti membantu Papa Will!" kini Delta angkat suara.


"Sangat sulit," keluh Sean.


Willem tersenyum."Seperti nya Paman Leo terjebak pada wanita masa lalu. Sama seperti Paman ku. Terkadang aku berpikir apa itu cinta. Sampai-sampai orang dewasa mengagungkan nya," celetuk Willem pelan.


Sean mengangkat bahunya acuh. Ia tak mengerti apa itu cinta, bagaimana rasanya mencintai. Sampai menutup hati dan hanyut pada masa lalu. Yang anak ini tau hanya cinta pada keluarga. Tak jarang ia melihat Leo melamun dalam diam. Bohong jika Sean tak tau bagaimana pandangan Leo pada sang Ibu. Pandangan memuja yang sama seperti pandangan Ayahnya pada sang Ibu.


Berkali-kali Sean melihat kesenduan dari ke dua manik mata sang Paman. Di saat ke dua orang tuanya tengah bersama. Tertawa atau tersenyum bersama dengan kebahagiaan. Sean Yamato, hanya tak ingin mengambil makna tersirat lebih jauh lagi. Papa nya tak pernah berkata jika sang paman pernah jatuh cinta pada sang Ibu. Yang Sean tau, kisah ke dua orang tuanya melibatkan Leo.


Bahkan ia selamat dari maut saat dalam kandungan itu juga berkat Leo Yamato. Paman nya sendiri.


"Bukankah kita terlalu kecil membahas begituan?" ujar Delta dengan nada lucu.


David terkekeh pelan."Kita akan tumbuh besar Delta. Sebentar lagi kita akan berusia sepuluh tahun. Dan kita terus beranjak remaja. Aku ingin mengenal cinta lebih dalam lagi. Nantinya!"


Perkataan David mendapatkan cibiran serentak dari ketiga nya. Meski begitu David tetap berceloteh ria. Tentang cinta pertama nya nanti. Tipe idealnya.


***


Ruangan pengap berdebu dengan bau amis yang khas merupakan hal yang biasa bagi pria ini. Derap langkah kaki kian menggema di lorong kumuh bawah tanah milik Yakuza. Yeko menggekori Hiro dari belakang. Tidak butuh waktu lama mereka berhenti di salah satu pintu jeruji terkunci.


"Buka!" seru Hiro dengan nada mematikan.


Tidak perlu banyak kata. Penjaga pintu membuka kan pintu dengan tergesa-gesa. Langkah kaki panjang memasuki ruangan penuh darah. Kesepuluh jari jemari tangannya tak lagi di tempat. Tubuh wanita terkulai lemah. Yeko menatap tajam tubuh Jihan.


"Apa yang di katakan?" tanya Hiro menatap pria yang bertugas mengintrogasi Jihan.


"Awalnya dia tidak mau mejawab apa-apa Bos. Ia hanya berkata ia sangat mencintai Bos. Dan sanggat ingin menjadi istri Bos. Membuat Bos bercerai dengan Nyonya besar. Namun setelah lima jarinya di potong ia buka mulut. Sayang nya hanya sebatas jenis kelamin orang yang membantu nya. Ia bilang kalau pria itu selalu menemuinya terlebih dahulu. Mengirimkan nya dengan nomor ponsel ilegel. Yang ia ingat ada bekas goresan sedikit di pipi pria itu," papar nya dengan lugas.


Manik mata tajam Hiro terlihat kelam. Sebatas informasi seujung kuku tak berarti apa-apa. Aura kelam menyelimuti dirinya.


"Bangunkan!" titah Hiro dengan nada penuh kekesalan.


"B—babaik, Bos!" Seru anak buahnya yang lain.


Yeko menahan napas.


Byurrr!!!!


Akh!!!


"M——aafkan saya tuan!!!" Teriak nya panik dengan tubuh yang bergetar.


Kepala nya di miringkan. Senyum menyeringai iblis terlihat jelas. Maaf? Di kamus Bos Mafia ini tidak ada kata maaf untuk hal yang mampu meretakkan hati sang istri. Ingin memisahkan ia dan Dera? Cih. Jangan pernah berharap hal itu akan di kabulkan.


"Siapa dia?" tanya Hiro tanpa basa-basi.


Tubuh Jihan masih bergetar hebat. Tak berani menatap Hiro.


"A—aku tidak tau," jawabnya tergagap.


Hiro menatap semakin tajam pada Jihan. Wanita satu ini benar-benar mentahbiskan waktu nya yang berharga saja.


"Kesempatan terakhir."


Hiro meraih katana di pegang Yeko setelah berujar pelan. Jihan mengangkat wajahnya dengan pandangan tak mengerti. Ia sudah jujur bukan? Ia tidak tau siapa pria itu. Hanya pria itu yang bisa menghubungi nya. Dan terlebih di sini, pria gila itu misterius. Wajahnya mengiba. Sialan! Hiro sungguh muak.


SRANG!!!


CRAS!!!


BRUK!!!


Katana melayang memutuskan kepala dari tempat nya. Cipratan darah mengenai dirinya dan dua orang pria yang menegang masing tangan Jihan. Bak air mancur darah keluar dari leher Jihan. Kepalanya menggelinding di atas lantai berdebu.


"Bereskan!" Seru Hiro membuang asal katana yang ia gunakan.


Dengan langkah santai ia keluar dari ruangan. Yeko hanya diam. Mengikuti kemana langkah kaki sang Bos.


***


Sari dan Dera terlihat asik melipat beberapa kain dan baju untuk persiapan persalinan. Sesekali Sari mencuri-curi pandang pada sang kakak.


"Ada apa?" Seru Dera tanpa menghentikan kegiatan nya melipat baju. Ia tau sang adik dari tadi mencuri pandang padanya. Seperti nya Sari memiliki hal yang ingin ia tanyakan. Kebiasaan lamanya.


"Apa Kakak tidak takut. Besok akan melakukan operasi untuk melahirkan?" tanya Sari dengan wajah penasaran.


Jujur saja, Sari merasa sangat takut saat kata Operasi di tangkap oleh telinga. Berada di ruangan khusus dengan suhu yang begitu dingin. Bersama beberapa orang yang menanganinya. Itu membuat Sari mengingat masa lalu.


"Bohong jika Kakak bilang tidak takut. Rasanya sangat takut, jika terjadi apa-apa saat keadaan seperti itu," jawab Dera jujur.


Ibu satu ini baru pertama kalinya melakukan operasi. Mengingat kelahiran Sean terdahulu bisa di bilang normal. Meski sempat ada beberapa kendala. Yang hampir membuatnya masuk ke ruangan operasi. Beruntung, ia melahirkan dengan normal.


Sari menggenggam tangan Dera dengan lembut. Mencoba memberi kan kekuatan untuk sang kakak. Jujur, ia hanya punya Dera di disinya. Tidak ada siapapun lagi jika terjadi sesuatu pada Dera.


"Kakak!" panggilnya lirih.


Suara nya bergetar. Gadis cantik itu menangis. Dera membawa Sari pada pelukan nya yang tak sempurna terhalang perut nya yang sangat besar. Mengusap pelan pundak sang adik.


"Tidak apa-apa. Kakak akan baik-baik saja." Ucap Dera menenangkan sang adik.


Sari masih menangis. Meskipun di saat seperti sekarang ini. Teknologi serba canggih yang mampu mempermudah pekerjaan manusia. Dan penyelamatan nyawa manusia. Hanya saja, untuk nyawa. Bukan manusia yang mengatur tapi Tuhan. Secanggih dan minim resiko kematian tidak menjamin jika itu akan benar-benar mampu memberikan keselamatan.


"K—kakak janji, akan baik-baik saja?" Ucap Sari berhenti dan terbata. Lantara menangis.


"Hem!" Hanya deheman yang mampu ia keluar kan.


.


.


.


Bersambung.....


😳😳Ngeri eey..... ngeri-ngeri sedap lihat Hiro ah...🤣🤣🤣


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???