Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 49 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


Mesin mobil berhenti di depan teras Rumah besar Yakuza. Pria di depan pintu masuk Rumah terlihat terburu-buru membuka pintu mobil belakang. Hiro turun dengan perlahan, suhu minus di lagi hari mampu membuat manusia menggulung tubuh mereka dengan selimut. Meski bulan ini adalah musim Panas di Jepang. Pukul tiga dini hari pasti nya membawa kata beku di permukaan. Beberapa anggota Yakuza membungkuk hormat dan berbaris rapi menyambut kedatangan sang Bos. Bahkan Clara, wanita yang tengah hamil tua itu membuka kan pintu lebar-lebar. Wanita cantik itu tidak pernah lupa apa tugas nya. Di belakang tubuh Hiro, Yeko menatap sang istri dengan senyum lembut. Meski tidak dapat menyembunyikan jika sang suami mengkhawatirkan nya.


"Bagaimana dengan rumah?" tanya Hiro kala berhenti di depan Clara.


"Seperti biasa Bos tidak ada masalah dan semua nya aman terkendali," balas Clara dengan sopan dan penuh hormat.


"Apakan Sean membuat ulah?"


"Tidak Bos, Tuan muda tidak membuat ulah selama di tinggal kan. Hanya tingkat manja nya saja yang berlebihan," papar Clara lagi.


Senyum segaris dari bibir Hiro terlihat."Kembali lah ke Villa. Dan minta anggota wanita yang lain mengantikan tugas mu Clara. Kau harus beristirahat," ujar Hiro yang memperhatikan keadaan Clara. Istri dari orang terdekat nya terlihat begitu lelah dan ke dua tumit kaki yang membengkak. Ah, melihat Clara seperti saat ini. Membuat Hiro mengingat masa lalu. Saat Dera hamil jagoan nya.


"Siap, Bos!"


Hiro mengangguk pelan sebelum kembali melangkah. Yeko melangkah mendekati sang istri dan mengusap ke dua pipi Clara. Istri nya yang begitu tangguh, masih saja melakukan tugasnya. Di saat dirinya sudah kesulitan dalam melangkah. Clara masih menjalankan tugasnya dengan baik dan benar.


"Ayo, ke Villa!" Ujar Yeko menautkan jari-jari mereka.


Clara tersenyum lebar. Telapak tangan sang suami selalu hangat dan nyaman. Clara suka, kedua nya melangkah menuju pintu belakang yang juga di jaga oleh anggota Mafia Yakuza. Villa belakang rumah besar Yakuza menjadi tempat ke diaman keluarga kecil Yeko dan Clara.


Sedangkan di dalam rumah, Hiro memijak undak tangga terakhir. Mata coklat tajam miliknya mengedar. Menatap ke adaan lantai atas. Sangat sunyi. Seperti biasanya. Hiro melangkah mendekati kamar sang putra terlebih dahulu. Hiro merasa sangat rindu pada anak nakal nya. Setan kecil miliknya dan Dera. Langkah lebar semakin mempersempit jarak dirinya dan pintu masuk.


Kreat!


Engsel pintu kamar Sean di putar. Menimbulkan bunyi samar. Hiro tersenyum geli melihat bagaimana posisi Sean Yamato. Putranya berputar sejalan dengan jarum jam. Yang sekarang kepalanya tidak lagi di atas kepala ranjang. Malah sampai dipinggir kaki ranjang. Selalu tidak bisa tidur dengan baik. Pelan-pelan Hiro menutup pintu kayu itu kembali.


Di atas ranjang bukan hanya ada anak nakal itu. Ada istri nya yang tertidur dengan nyaman dan seperti biasa. Sang istri selalu saja tidur dengan tenang dan nyenyak. Hanya menyamping sangat dekat dengan posisi kaki Sean yang menghadap sang istri yang tidur miring ke kanan.


"Selalu tidur aneh begini jika tidak ada aku," keluh Hiro.


Pria gagah itu mendekati ranjang. Mengendong Sean meluruskan posisi anak nakal itu. Hingga kembali seperti semestinya. Sean melepaskan sepatu pantofel milik nya. Meletakan asal sebelum ikut bergabung dengan ke duanya. Membiarkan Sean di tengah-tengah mereka. Sama seperti dulu, saat anak itu masih bayi.


Sebelum memejamkan ke dua matanya. Hiro mengecup dahi Dera pelan seringan kapas. Sebelum menarik wajah nya kembali. Melayangkan kecupan di dahi sang putra.


"Good night my love and my son!" Ujar Sean memeluk tubuh Sean sampai Dera.


Ugh! Sungguh keluarga kecil yang manis. Sangat-sangat manis dan hangat.


***


Pagi-pagi begitu ribut di meja makan. Seperti biasanya, siapa lagi yang meramaikan suasana pagi jika bukan si bos kecil Yakuza dan Cleo.


"Cleo mau tahun ini satu sekolah dengan Abang Sean," ujarnya pelan pada Clara.


"Memangnya Cleo mau tiap hari melihat wajah menyebalkan Abang Sean?" canda Leo membuat Sean memutar malas bola matanya.


"Paman, aku itu tidak menyebalkan. Paman tidak tau sih bagaimana anak perempuan sekolah ku mengejar ku. Itu pertanda aku yang tampan ini bukan orang yang menyebalkan," protes Sean.


Dera hanya menjadi pendengar yang baik saja. Sesekali, meletakan lauk pauk di atas piring Sean dan Hiro. Ke duanya mengapit dirinya. Si kanan ada Hiro dan di kiri ada Sean. Beberapa menit sebelum mereka duduk tenang sudah pasti ada pertengkaran kecil di antara Hiro dan Sean. Ke duanya bersikeras duduk di samping Dera. Pada akhirnya, demi kedamain bersama jadilah Ibu satu anak ini duduk di antara ke duanya.


"Wah, benarkah itu?" ujar Leo lagi.


Sean mengangguk pelan. Tersenyum sinis pada sang ayah. Hiro hanya menarik segaris senyum melihat ke pongahan sang putra.


"Jangan memasang tampang begitu. Seolah-olah kau ini bukan bibit ku!" tegur Hiro yang mendapat wajah cemberut dari Sean.


"Memang nya kenapa?" kesal Sean.


"Kau lupa dari mana kau berasal. Jika bukan dari ku, sudah pasti kau tidak setampan ini, Tuan muda Sean Yamato," papar Hiro membuat Sean kalah telak.


Orang-orang di meja terkekeh pelan. Cleo hanya memasang wajah polos.


"Cleo! Lebih tampan mana, Abang atau Papa ku?" tanya Sean memutar otak.


Sontak saja mata orang-orang beralih pada Cleo. Anak kecil yang jujur dan apa adanya itu melihat tuan besar Yamato dengan Sean bergantian.


"Paman Yamato," seru Cleo dengan mata polos menatap Hiro.


Orang-orang di meja makan langsung heboh. Hiro tersenyum miring pada sang putra. Seolah-olah berkata jika kemenangan berada di tangan nya.


"Tentu saja Paman Hiro bukan?" seru Cleo lagi karena melihat reaksi orang-orang yang ricuh,"Kalau bukan karena Paman Hiro yang tampan bagaimana bisa ada Abang Sean yang paling tampan. Bunda berkata, jika anak lelaki selalu lebih tampan dari ayahnya dan anak perempuan lebih cantik dari Mama nya. Meskipun begitu, Bunda bilang yang pertama harus di berikan untuk ke dua orang tuanya. Karena tanpa orang tua anak-anak tidak akan bisa cantik dan tampan. Kata Bunda itu bibit unggul," lanjut Cleo begitu polos dan lucu. Meski sebenarnya, anak ini tidak mengerti apa yang di katakan nya tadi. Mengingat ia hanya menyalin perkataan sang Ibu saja.


Clara tersenyum lebar. Mengusap puncak kepala sang putri.


"Putri Bunda memang paling pintar." Puji Clara mengecup pipi chubby sang putri.


Dera tersenyum lembut."Putra Mama tentu saja lebih tampan dari Papa! Jangan merajuk begitu!" Goda Dera melihat ekspresi masih kesal dari Sean.


Hiro tergelitik melihat ekspresi sang putra. Berharap kemenangan di tangan nya. Malah meleset. Tidak tau kenapa putranya selalu saja ingin lebih darinya. Dan itu membuat Hiro Yamato gemas sendiri.


Sean memasang wajah lucu pada sang Ibu. Beberapa kali ke dua matanya berkedip cepat. Menengadah menatap wajah Ibu.


"Di mata Mama aku yang paling tampan kan ya?" tanya Sean penuh harap.


Dera tidak dapat menahan ke dua sisi bibirnya yang berdenyut. Melihat bagaimana ekspresi sang putra yang mencoba trik mengemaskan untuk di akui.


"Tentu, di mata Mama Sean adalah anak yang paling tampan!" balas Dera.


"Lebih tampan dari Papa kan ya? Jauh lebih tampan kan ya Mama?" tanya nya lagi dengan semangat menggebu-gebu.


"Tentu putra Mama lebih tampan dari Papa!" balas Dera dengan semangat. Biarkanlah sang suami merajuk. Asalkan bukan Sean yang merajuk. Anak satu ini jika merajuk akan sangat gawat. Kalau Hiro yang merajuk sih, membujuknya lebih mudah.


"Yes, aku memang!" serunya dengan senyum miring.


Orang-orang yang ada di meja makan mencoba secepatnya menyelesaikan acara makan nya. Terutama yang dewasa, mengingat jika Bos Mafia itu merajuk akan sangat menyebalkan.


"Kami telah selesai makan. Aku akan mengantarkan Cleo ke tempat lesnya dahulu!"


Suara Clara terdengar terlebih dahulu. Sebelum di susul dengan suara Leo dan Yeko. Sedangkan Cleo, anak itu hanya ikut saja. Ia tak tau apa yang sedang terjadi.


Kini tinggal lah keluarga kecil Yamato di ruangan makan.


***


"Fokus! Tatap titik merah, lurus kan bahu. Dan bidik!" seru pria di belakang tubuh nya.


Door!


Door!


Door!


Tiga tembakan melayang. Menembus titik merah. Mengenai bidikan yang pas. Hiro tersenyum melihat perkembangan Dera. Tidak sia-sia mengajarkan sang istri melatih pertahanan. Dera menurunkan senjata di tangan nya. Kala pinggang nya di belit ke dua tangan kekar sang suami. Hiro meletakan dagu runcingnya pada bahu Dera. Hembusan napas hangat, sang suami menerpa leher jenjangnya.


"Kau letih, hem?" seru Hiro menyapa rungu Dera.


"Tida juga. Empat jam berlatih tidak akan membuat aku lelah Kak. Lagipula ini untuk aku ke depan nya. Melindungi diri dan menjaga putra kita dari bahaya," balas Dera pelan.


Hiro mengerat kan pelukan nya di perut Dera.


"Jika aku tidak di samping mu saat kau dalam bahaya. Lakukan apapun untuk bertahan hidup. Apapun, karena di saat itu aku akan menemukan mu. Dimana pun kau berada. Aku pasti bisa menemukan mu. Yang terpenting adalah kau harus tetap bernapas," tutur Hiro membawa senyum lembut di wajah manis Dera.


"Aku akan melakukan nya sesuai dengan apa yang Kakak katakan. Karena aku tau, Kakak akan selalu dapat menemukan aku kan?"


"Ya. Aku akan selalu dapat menemukan mu," balas Hiro berat.


Hembusan angin menerpa wajah ke duanya. Diam-diam, anggota Yakuza merasa iri melihat ke romantis ke duanya. Bukan rahasia umum lagi di tengah anggota jika Hiro Yamato, Bos besar Yakuza ini akan menjadi sosok yang berbeda saat bersama keluarga kecil nya. Akan berubah menakutkan saat tidak ada Istri atau anaknya di sisinya.


Bahkan dulu, ada yang berpikir jika bisa saja Hiro Yamato memiliki kepribadian ganda. Melihat perubahan yang terkesan signifikan. Saat bersama nyonya besar mereka. Terlihat berbeda. Ada yang percaya jika cinta mampu merubah kepribadian manusia.


***


David beberapa kali mengerjakan ke dua matanya. Menatap ke dua teman satu kelompok nya. Entah kenapa ia dan Sean bisa satu kelompok dengan Willem Zhao. Baik Sean maupun Willem saat ini terlihat sangat fokus melakukan tugas masing-masing dalam tugas penelitian Biologi di laboratorium.


Sebenarnya bukan hanya David yang menatap ke duanya. Melainkan tugas yang tengah ia lakukan. Banyak anak perempuan satu kelasnya melakukan hal yang sama. Visual ke duanya benar-benar sangat sempurna. Seolah-olah mereka tengah melihat perbentukan kelompok model cilik. Tanpa David sadari, dirinya juga menjadi perhatian. Pria berdarah Jepang campuran ini pun tak kalah gagahnya dari ke dua tuan muda berdarah Mafia ini.


"Kau tidak mengerjakan tugas mu?" tegur Sean yang dapat merasakan tatapan intens dari David.


"Ah? Eh? Iya. Aku akan mengerjakannya," jawabnya ragu. Sebelum melakukan nya dengan cepat.


Sean masih asik mencampur zat asam. Sedangkan Willem menoleh menatap teman satu kelompok nya. Sebenarnya, Willem sangat ingin berteman dengan Sean. Mengingat mereka sama-sama tuan muda dari Bos Mafia. Ia pikir Sean akan mengerti dirinya dan kehidupan nya. Karena teman satu sekolahnya tidak pernah mengerti posisi nya. Awal nya mereka baik-baik saja dengan nya. Sampai mereka tau jika dia adalah anak Bos Mafia.


Saat itu anak-anak lainnya mulai menjauhinya. Karena takut, Willem pikiran jika ia berteman dengan Sean. Maka ia tidak perlu takut bukan jika teman sebaya nya ini akan pergi jika dia tau status Willem.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu bung?" Seru Sean masih asik dengan tugasnya.


"Jangan memanggilku seperti Sean. Kau tau namaku bukan. Kau bisa memanggilku dengan nama Will karena itu adalah panggilan akrab keluarga pada ku," ujar Willem dengan santai.


Ini untuk pertama kalinya mereka saling berbicara. Sean menghentikan pergerakan nya.


"Kenapa aku harus memanggil nama mu?"


"Karena aku ingin berteman dengan mu."


"Kenapa kau ingin berteman dengan ku?'


"Karena aku keren!"


Kalah telak. David menatap keduanya dengan pandangan tak terbaca. Sedangkan Sean, anak itu menaikan sebelah alis matanya menatap Willem. Apakah anak di samping nya ini baik-baik saja. Atau salah makan. Itulah yang ada di benak Sean.


"Kau sebegitu inginnya menjadi teman Sean?" seru David pemasaran.


Willem mengangguk pelan. Tersenyum lembut, oh! Tolong katakan pada anak ini untuk tidak tersenyum. Anak perempuan mulai menjerit dan tidak fokus karena senyum dari Willem.


"Aku juga ingin berteman dengan mu juga, David!" lanjut nya.


Sean menatap David. Sean tau jika Willem tulus mengatakan jika ia ingin berteman dengan nya. Hanya saja, anak lelaki Yakuza ini agak asing dengan kata itu. Ia hanya terbiasa di ikuti oleh David. Tak jarang ia juga suka marah pada David karena risih di awal-awal.


"Kalian mau kan?" tanya Willem memastikan.


David menatap Sean begitu pula dengan Sean. Kedua nya saling tatap lama sebelum serentak mengangguk. Ketiganya mengulas senyum. Sialan. Sudah pasti anak perempuan membuat gaduh melihat tiga pria tampan tersenyum serentak. Seolah-olah ada para pangeran dari langit yang turun di sekolah mereka.


.


.


.


.


Bersambung...


Seberapa manis nih episode kali ini kakak-kakak??☺️☺️☺️☺️🙈🙈


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???