
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
.
Hiro mengusap dada bidangnya berulang-ulang. Sedangkan Sean terlihat tertawa keras melihat bagaimana ekspresi dan sang ayah terjengkang kebelakang karena ulahnya. Ah, untung anak. Jika yang mengejutkan nya adalah salah satu anak buahnya. Sudah pasti kepala mereka tidak lagi berada di tempat nya karena telah berani-beraninya membuat dirinya terkejut.
"Astaga Papa. Ternyata kau bisa juga terkejut!" Remeh Sean tersenyum miring.
Yeko hanya tersenyum menyeringai melihat sang bos. Ini adalah kegilaan lain dari Sean Yamato. Anak itu meminta Clara membuat wajahnya sangat putih dan memakai pakaian panjang. Sudah seperti setan saja. Siapa suruh, Hiro Yamato bermesraan dengan sang Ibu. Memanapoli sang ibu tanpa nya.
Hiro berdiri perlahan. Menatap Sean dengan pandangan antara mau marah tapi sayang. Jika tadi Sean Yamato sangat cantik seperti seorang anak perempuan. Maka kali ini Sean Yamato nyaris seperti setan kuntilanak versi cilik. Kalau di lihat-lihat lucu juga sih.
"Sudah puas menakuti Papa, hem?" tanya Hiro dengan nada berat begitu seksi.
Sean terlihat berpikir. Sebenarnya sih belum selesai mengingat dirinya yang di jadikan seorang anak perempuan. Sean Yamato yang gagah dan cool berubah menjadi anak perempuan. Sungguh menyebalkan. Tapi, melihat wajah dingin sang ayah. Sean akui, nyalinya agak menciut. Karena bagaimanapun, Hiro tidak pernah memarahinya. Dalam konteks benar-benar marah seperti saat ini.
"Sudah Papa. Sean balik ke kamar dulu saja. Papa payah!" cibirnya agak takut sih pas bilang seperti itu.
Nama nya juga tuan muda Yamato. Sean harus jaga harga dirinya di depan Hiro Yamato. Harus tetap terlihat tenang. Yeko menunduk perlahan sebelum melangkah meninggalkan kamar mewah bos besarnya. Lebih baik mengikuti bos kecil nya, jika tidak ingin ada masalah. Hiro mengeleng kepalanya pelan, sebelum melangkah menuju lemari kaca rias. Membuka laci meja rias dengan perlahan.
Kotak panjang tipis di raih dan di keluarkan dari dalam. Senyum mengembang. Hiro melangkah kembali menuju taman belakang. Dimana sang istri telah menunggu dirinya di sana. Hanya butuh waktu delapan menit untuk ia sampai di bangku taman. Langkah nya terhenti melihat senyum indah sang istri kala hembusan angin membelai anak rambut nya. Ke dua kelopak mata sakura nya tertutup rapat. Jantung Hiro berdebar keras melihat betapa cantik nya sang istri di mata nya.
Meski orang-orang di luar sana menilai Dera Sandya tidak cantik sama sekali. Bagi, Hiro Yamato sang istri lebih dari sekedar kata cantik. Dera terlihat sangat sempurna, bak bidadari surga. Ah! Hiro merasa tidak rela jika ada mata pria lain melihat bagaimana menawan nya wajah sang istri.
Ke dua kaki nya kembali melangkah. Mempersempit jarak dirinya dan sang istri. Duduk di samping Dera, membuat ke dua mata Dera terbuka cepat dan menoleh ke samping.
"Kakak sudah membuka kotak nya?" tanya Dera pelan.
Hiro mengeleng pelan."Aku belum membuka kotaknya. Aku ingin membukanya bersama dengan mu, my love!"
Dera memancing kan ke dua matanya. Menatap curiga sang suami.
"Sumpah! Aku tidak membukanya sayang!" Bela Hiro pada dirinya mengangkat tangan kanannya.
"Benarkah? Lalu tadi kenapa aku mendengar bunyi teriakan?" tanya Dera memastikan.
Hiro mendesah pelan."Kau tau putra kita yang nakal itu. Dia mengejutkan ku saat membuka pintu kamar. Menyamar menjadi hantu Indonesia," balas Hiro.
Dera mengangguk pelan sebelum menggeser posisi duduknya. Menghilangkan jarak antara mereka berdua.
"Kalau begitu ayo di buka!" titah Dera penuh semangat.
Hiro Yamato tersenyum lebar. Perlahan ia membuka kotak panjang. Dahinya berlipat kala mendapatkan kertas panjang berisi perintah di dalam nya.
"Berdiri dan melangkah lah lima langkah ke depan dan berbelok ke samping kanan. Melangkah dua puluh langkah. Di sana ada kotak petunjuk selanjutnya," Hiro membaca kertas yang ada di sana.
Dera berdiri lebih dahulu."Ayo, lakukan instruksinya!" Seru Dera menyodorkan kan telapak tangan nya pada Hiro.
Hiro tersenyum. Meraih telapak tangan sang istri. Menautkan jari-jari mereka untuk saling mengisi.
"Melangkah berapa?" tanya Dera memberikan instruksi.
"Lima langkah!" seru Hiro tak kalah semangat.
"Ok! Mari berhitung!" Teriak Dera mengayunkan tangan nya dan Hiro.
"Satu, dua, tiga, empat, lima!" Seru Hiro melangkah bersama Dera di samping nya.
"Selanjutnya?"
"Balik kan tubuh ke kanan. Melangkah dua puluh langkah!" Seru Hiro lagi.
Ah! Lihat lah. Betapa imutnya pasangan suami-istri ini. Seakan mereka adalah anak kecil yang sedang menjalankan misi menemukan harta Karun.
"Oke! Mari lakukan!" seru Dera lagi.
Tubuh Dera dan Hiro berbalik. Pria tampan itu melangkah dan berhitung. Sampai hitungan ke dua puluh. Di Lampung gantung terdapat satu kota dan lagi.
"Ambil!" titah Dera.
Hiro meraih kotak selanjutnya. Membuka nya perlahan. Lagi, ada surat di dalam, beda nya ada dua kertas. Yang satu berisi institusi dan satu lagi berisi klue.
"Kumpulan kan kertas berwarna pink. Dan ikuti petunjuk. Selanjutnya, melangkah lima belas langkah dan berhenti!"
Hiro membaca kan nya dengan sesekali menatap sang istri.
"Ayo, lakukan lagi!"
"Wah! Apa sih hadiahnya. Sampai harus seribet ini?" tanya Hiro penasaran.
Dera tersenyum lima jari. Mengusap punggung tangan sang suami dengan lembut.
"Hadiah yang besar! Sampai mungkin Kakak bisa menangis jika mendapat kan nya!" ucap Dera mengundang rasa penasaran Hiro semakin besar.
"Baiklah kita lakukan!" Hiro kembali melakukan instruksi.
Ada kira-kira lima kotak baru yang telah terkumpul. Ke duanya kembali duduk di kursi setelah mendapat ke lima kotak tersebut.
"Sekarang rangkai lima kertas pink sampai menjadi kalimat!" Seru Dera dengan kedipan mata pada sang suami.
Tanpa kata Hiro turun dari kursi besi. Ia merangkai kata berdasarkan nomornya. Sebelum ke dua kelopak matanya berkedip cepat. Menoleh menatap kalimat di bangku dan wajah sang istri. Kembali lagi melakukan hal yang sama.
"Apa ini?" tanyanya tiba-tiba saja bak orang bodoh.
"Apa itu ya?" Dera terlihat tak ingin diam untuk tidak mempermainkan sang suami.
"Ini???"
"Baca dong Kakak sayang. Agar Kakak bisa yakin!"
"Selamat Kakak menjadi seorang Ayah!" Hiro membaca dengan lantang." ini benar?" tuturnya meminta kepastian pada istri.
Dera mengulum senyum. Sebelum meraih telapak tangan nya pada perut datar milik nya. Mengusap pelan.
"Sekali lagi selamat Kak. Kakak akan menjadi seorang ayah untuk ke dua kalinya!" Ujar Dera sebelah tangannya membingkai sisi rahang tegas sang suami dan mengusap nya perlahan.
"Aku akan menjadi Ayah? Lagi?" Masih tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang ia dapatkan.
"Iya, di sini dia baru berusia tiga Minggu! Dia hidup!" tutur Dera.
Benar saja. Bagaimana ini? Hiro Yamato menangis haru. Hadiah kali ini sangat indah dan berharga. Sangat besar.
Ke dua tangan nya membingkai ke dua sisi wajah Hiro. Ibu jari tangan Dera mengusap perlahan ke dua bulir bening yang menetes dari ke dua pipi sang suami.
"Aku menjadi Ayah lagi?" ujarnya seakan benar-benar menjadi orang bodoh.
Dera hanya mengangguk. Hiro menghambur memeluk Dera. Memeluk perut Dera. Berkali-kali mengecup perut rata Dera, di balik gaun. Ia bahkan tidak tau cara mengatakan seberapa bahagia nya saat ini.
"Terimakasih sayang!" Seru Hiro menengadah."Untuk my baby, selamat datang. Papa akan menjagamu sampai kau bisa melihat dunia. Terimakasih telah hadir!" Lanjut Hiro kembali melayang kan kecupan di perut sang istri.
Dera merasa sangat haru. Tangan kanan Dera terangkat. Bunyi keras dengan keindahan cahaya menghiasi langit malam. Hiro berdiri dari posisi berlutut nya. Duduk di samping Dera memeluk Dera dari samping. Ke duanya menengadah menatap indahnya langit malam dengan letusan kembang api. Hanya ada mereka di taman.
Di lantai atas, Sean tersenyum kecut melihat Ayahnya bisa bersama sang Ibu. Clara mencegah anak setan satu ini untuk turun dengan alsan. Jika Sean turun maka adek bayi nya tidak akan jadi.
"Jadi membuat bayi hanya seperti itu, Clara?" tanyanya tanpa beralih pada ke dua pasang suami istri di belakang tubuh nya.
"Ah? Apa nya Tuan muda?" tanya Clara pelan.
"Itu loh, apakah membuat bayi semudah itu?" tanya Sean polos.
Clara dan Yeko terkekeh pelan. Masa iya membuat bayi hanya di biarkan berduaan di taman dan di temani oleh kembang api. Setidaknya, untuk saat ini. Biarkan saja tuan muda Yakuza ini tau caranya seperti ini bukan.
"Ya, tuan!" jawab Clara sopan.
"Tidak susah ternyata!" Sean mengangguk-anguk pelan."Kalau begitu aku akan meminta Mama dan Papa untuk membuat nya banyak!" Lanjut nya ceria.
Glek!
Yeko dan Clara kesulitan menelan air ludah sendiri. Mendengar Sean mengatakan untuk membuat banyak. Anak ini pikir Dera adalah pabrik anak? Membuat nya sih, tidak susah ya. Tapi jadi tidaknya tergantung yang di atas bukan!
***
Hembusan angin menerpa wajah ke empat anak-anak di atap. Tiga lelaki dan satu perempuan. Cukup mengejutkan sekolah. Saat ketiga pria tampan, bersama anak baru dari Indonesia menjadi empat sekawan. Trio tampan yang membuat banyak anak perempuan menjerit. Jika kecilnya saja seperti ini. Apalagi kalau mereka sudah remaja? Seperti apa ke empat nya???
"Wah! Banyak sekali makanan yang kau bawa Sean?" tanya David menatap berbinar-binar baik kue basah sampai buah-buahan yang sudah di potong di atas bekal.
Ada banyak kotak bekal yang anak ini bawa. Cukup memberatkan, beruntung saat sampai di gerbang sekolah. Willem juga baru sampai, alhasil. Ke dua tuan muda masing-masing anggota Mafia ini membawa kan bekal yang Sean bawa.
"Apakah hari ini hari spesial?" tanya Delta menatap Sean dengan pandangan keingin tahunan.
"Wajah mu juga terlihat cerah. Garis bibirmu tidak berhenti-henti tersenyum, Sean!" timpal David.
Willem yang berada di samping Sean. Hanya diam, menusuk buahan yang sudah di potong. Dan memakan beberapa kue basah buatan rumah.
"Hem. Hari spesial. Papa ku kemarin malam ulang tahun," balas Sean seadanya.
"Wah! Tapi kenapa kau tidak mengundang kami!" Tanya David lebih antusias.
"Ini kan ulang tahun Papanya. Jadi, tidak mungkin Sean mengundang kita," Delta ikut menimpali.
"Ini acara orang dewasa, kawan!" kini Willem angkat suara.
"Nanti. Jika ulang tahun ku. Aku undang kalian!" Seru Sean tersenyum lebar.
David merasa takjub karena Sean sudah mulai terbuka pada hubungan pertemanan. Dan juga sudah mau mengajak mereka berbicara lebih dari seputar sekolah. Wajah dingin nya, emang berkurang kadarnya hari ini. Hanya karena hari ulang tahun ayah nya. Mereka tidak tau saja, apa yang membuat Sean Yamato sangat bahagia. Selain akan menjadi seorang kakak. Ia sudah mendapatkan janji untuk kencan dengan sang Ibu.
"Kenapa dengan wajah mu!" tegur Sean pada David yang masih menatapnya takjub.
"Heheh.. aku senang melihat mu bahagia. Tidak berwajah dingin!" Serunya jujur.
Willem hanya mengeleng melihat ekspresi David.
"Oh iya. Untuk acara tahun sekolah apakah kalian akan membawa ke dua orang tua?" tanya Delta.
Anak perempuan manis ini ingat dengan acara tahunan yang di katakan oleh sang ketua kelas pada jam pertama. Sekolah mereka akan membawa ke dua orang tua untuk lomba atau bazar setelah lomba.
"Aku akan menyeret Mama dan Papa Ku. Tidak peduli jika mereka akan marah karena kerja mereka terganggu!" jawab David dengan mata penuh keyakinan.
"Aku hanya akan membawa Papa ku saja. Mama tidak akan bisa datang!" kini giliran Sean angkat suara.
David sudah tidak heran dengan hal ini. Karena nyonya besar Yamato memang tidak pernah muncul di permukaan. Saat ke duanya duduk di taman kanak-kanak Sean hanya di dampingi oleh Hiro Yamato seorang.
"Kalau kau Will?" tanya Delta melemparkan pertanyaan pada teman barunya itu.
Willem hanya mendesah letih."Papa ku orang sibuk. Sedangkan Mama. Dia sudah di surga saat aku berusia lima tahun. Jadi, aku biasa nya tidak ikut acara begitu," balas Willem jujur.
Delta dan David sontak berwajah murung.
"Maafkan aku, Will!" seru Delta pelan.
Willem mengembangkan senyum lebar.
"Tidak masalah itu adalah hal biasa. Kau sendiri bagaimana apakah ke dua orang tuamu akan ikut?" tanya Willem pada Delta.
"Papa dan Mama selalu antusias dengan pendidik kan. Mereka akan datang," balas Delta lembut tentunya dengan logat yang masih sama dengan yang kemarin.
"Ayo selesai kan makan pagi kita. Sebelum bel berbunyi!" Titah Sean meraih beberapa buah-buahan.
***
Pintu apartemen mewah di buka perlahan. Ke dua pria masuk ke dalam. Seorang lelaki menatap liar ruangan tamu. Menyeret koper besar miliknya.
"Selama bekerja beberapa bulan di sini. Tuan akan tinggal di apartemen khusus untuk tenaga medis. Jangan khawatir untuk kebersihan dan makanan. Karena itu sudah di atur oleh Rumah Sakit." Ujarnya melangkah membuka tirai jendela perlahan.
Ruangan apartemen yang awalnya temaram langsung di hujami oleh cahaya mentari. Dapat iris mata hitam legam itu seluruh isi apartemen yang benar-benar bagus.
"Terimakasih, ini sangat pas!" Balasnya tersenyum lembut.
"Sama-sama tuan, ah tidak! Dokter Bian!" Ujarnya ikut tersenyum.
Bian membalas. Hari ini adalah hari yang baru. Semoga saja pria ini mampu melewati hari-hari ke depannya.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Hem Hem...🤣🤣🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???