
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
.
.
.
.
Suara riuh orang-orang membawa kegaduhan. Suara gaduh bukan berasal dari anak-anak di sekolah mewah dimana Sean Yamato tercatat sebagai salah murid kelas empat Sekolah Dasar. Beberapa teman sebaya Sean menggoda teman satu kelas mereka. Kala melihat dari jauh siapa yang di lirik oleh Ibu-ibu dan juga guru-guru wanita di Sekolah Dasar Taimen. Sekolah bergensi Jepang. Dengan biaya yang tdiak main-main.
Guru-guru mengajar di Sekolah Taimen adalah guru-guru lulusan dari Universitas bergengsi. Tentu yang masuk juga bukan anak-anak dari kalangan menengah ke bawah. Hanya ada anak-anak berkelas, mengingat mahalnya uang masuk sampai biaya-biaya terkecil pun sangat mahal. Mampu membuat dompet kulit menjerit-jerit.
"Papa mu selalu membawa keributan di sore hari, kawan!" Seru David menyenggol bahu Sean.
Ke duanya berhenti tidak jauh dari posisi keributan. Lihat lah betapa gagahnya sang ayah yang mampu memikat gadis manapun. Tanpa terkecuali ibu-ibu yang menjemput putra-putri mereka. Rela, mengorbankan waktu berharga mereka hanya agar bisa melihat wajah tampan Ayah dari salah satu siswa di sekolah bergensi tersebut.
"Cih! Apa nya yang mereka lihat dari Papa ku!" Kesal Sean memutar ke dua bola matanya jengah.
Anak lelaki berlensa mata hijau itu terkekeh pelan. Anak lelaki berdarah Belanda-Jepang itu tau teman dari kecil nya ini sangat kesal dengan kehadiran tuan Yamato itu. David akui, tidak ada yang bisa menolak pesona Hiro Yamato. Pria yang menghiasi sampul majalah Pengusaha muda yang sukses besar menguasai bisnis Asia Tenggara. Sekaligus panutan lelaki yang menjadi suami sekaligus ayah yang hebat di mata khalayak umum. Tidak ada yang tau, profesi lain yang Hiro Yamato jalani. Banyak yang mengeluh-eluhkan nama besar tuan besar Yamato itu.
"Apa kau tidak lihat bagaimana mempesona nya Papamu yang duduk di motor itu, Hem?" tanya David dengan nada menggoda,"Wajah dingin, rahang tegas, mata coklat gelap mampu menenggelamkan ibu-ibu di sana. Aku sarankan Mama mu untuk hati-hati mengingat guru-guru di sekolah kita menggoda Papa mu terang-terangan!" lanjut David membawa pandang tajam Sean pada sang ayah.
"Tuan Yamato sangat tampan hari ini!"
"Oh, lihat lah rahang tegasnya!"
"Aku rela menjadi istri ke dua atau ke sepuluh nya jika itu adalah tuan Yamato!"
"Sssttt! Pelan-pelan. Jangan sampai ada yang dengar?"
"Memang nya kenapa?"
"Aku dengar gadis-gadis yang mengejar tuan Yamato terang-ternagan akan menghilang di malam hari!"
"Iya! Iya! Aku dengar itu ulah istri nya yang tidak pernah muncul di permukaan itu!"
Begitu lah bisik lirih wanita-wanita yang berkumpul di beberapa tempat meyaksikan ketampanan tuan Yamato. Tanpa kata Sean Yamato melangkah mendekati motor sang Ayah. Meninggal kan teman satu bangkunya dengan wajah dingin. David hanya mampu mengeleng pelan melihat Sean. Temannya itu memang agak——dingin. Tidak mudah berteman dengan Sean. Beberapa kali ia di cueki dan di abaikan. Pada akhirnya, ia mampu bertahan hingga bisa menjadi teman Sean.
Hiro mengulas senyum segaris membawa pekikan tertahan dari wanita-wanita yang terpesona. Ugh! Ingin rasanya Sean menghancurkan wajah tampan sang ayah. Pria yang telah memberikan gen pada dirinya terlalu tampan. Dan terlihat seperti seorang pemuda yang masih lajang dari pada pria yang sudah menikah dan memiliki anak yang berusia sembilan tahun.
"Pakai lah helm mu Pap!" seru Sean kala sampai di depan Hiro. Dahi Hiro berlipat mendapatkan perkataan seperti itu dari sang putra,"Wajahmu jelek sekali kalau tidak pakai helm. Dan lain kali biarkan Paman Yeko saja yang menjemput ku!" lanjut Sean masih dengan ekspresi dan nada dingin.
Hiro mengulas senyum untuk ke dua kalinya. Untuk kesekian kalinya hati Sean memaki sang ayah. Gendang telinga nya berdengung mendapatkan teriakan dan pekikan untuk ke dua kalinya. Hiro memberikan helm milik sang putra. Wajah Sean cemberut memakai buru-buru helm hitam yang di berikan padanya. Anak tampan ini ingin cepat-cepat pergi dari depan sekolah nya. Agar mata-mata nakal wanita yang sudah bersuami maupun yang belum bersuami itu tidak jelalatan melihat wajah tampan sang ayah.
"Lain kali Papa akan menjemput dengan Mobil!" balas Hiro lembut pada sang putra.
Tidak peka. Benar-benar pria yang tidak peka. Apakah ayah nya ini tidak paham kenapa dirinya selalu menolak di antar dan di jemput di sekolah oleh dirinya. Ah, sudahlah. Sean merasa letih memperpanjang kata. Ia menaiki motor gede Hiro.
Jika di sekolah Sean sedang kacau dengan pesona Hiro Yamato. Maka di rumah besar Yamato, Dera tengah di sibukkan dengan beberapa masakan di bantu Clara.
"Kunyit nya?" Ujar Dera menampung telapak tangannya pada Clara. Pada wanita yang tengah hamil tua itu.
"Ah? Kunyit?" tanya Clara dengan wajah bodoh.
"Iya. Kita butuh kunyit untuk membuat gulai ayam!" lanjut Dera menatap Clara yang duduk di depan bumbu-bumbu yang baru saja ia beli di salah satu Asia market di Osaka Jepang.
"Seperti nya kita melupakan nya, De!" balas Clara pelan.
"Apa??" teriak keras membuat Clara mengusap ke dua daun telinga nya.
"Susahnya hidup di Jepang. Ini itu selalu sudah di temukan. Bahan-bahan tradisional juga susah. Cuaca yang benar-benar sedingin di kulkas. Kalau sudah musim panas sudah kayak di rebus di panci sampai gosong!" cerocos Dera sebal.
Clara hanya menggelengkan kepalanya pelan. Istri dari bos besarnya ini memang semakin lama semakin cerewet. Menjadi ibu dari seorang anak memang benar-benar merubah seorang wanita. Setidaknya, dulu Dera tidak pernah cerewet. Delapan tahun di Jepang membuat Dera semakin cerewet saja. Di tambah kesibukan Hiro sebagai Bos perusahaan besar sekaligus Bos Mafia. Dua peran yang di jalani membuat Dera sering menggerutu.
"Tenang saja, Isteri Bos ku. Jangankan kunyit beberapa kg. Jika mau Bos ku akan membawa satu ton kunyit untuk mu. Apa sih yang tidak bisa di bawakan oleh Bos ku untuk mu!" Bujuk Clara tak lupa senyum lebarnya ia perlihatkan.
Dera diam. Sebenarnya ibu satu anak ini merindukan negaranya. Akan tetapi, dirinya terlalu enggan mengatakan isi hatinya pada Hiro. Melihat bagaimana sibuknya Hiro pulang pergi dari Indonesia-Jepang. Membuat Dera tidak tega, meskipun Hiro merasa sangat letih dengan pekerjaan nya. Pria bermata tajam itu tetap tersenyum dan tidak pernah mengeluh padanya.
Enam tahun lebih Hiro melakukan hal itu. Meski hanya sehari saja, Hiro memiliki waktu senggang maka ia akan kembali ke Indonesia untuk bisa melihat Dera dan Sean. Saat itu, Hiro pernah bertanya apakah ia mau tinggal di Osaka Jepang. Wanita berdarah asli Padang-Manado ini menolak. Karena, udara yang tidak sesuai dengan dirinya. Dan makanan yang tidak sesuai dengan lidahnya.
Enam tahun Dera melihat betapa serius nya Hiro Yamato padanya dan mencintai dirinya. Hingga ia mengalah untuk di boyong ke Jepang. Hingga sampai saat ini. Ia hanya pulang ke Indonesia saat-saat tertentu saja. Ibu dan Ayahnya selalu berkata, saat wanita menikah dengan pria. Ia sudah menjadi hak pria itu sepenuhnya. Menuruti perkataan suami adalah kewajiban. Dan menghormati sang suami adalah keharusan. Didikan yang baik, selalu menghasilkan bibit yang baik.
Seperti Dera Sandya. Ia tidak pernah melawan bahkan berkata kasar pada Hiro. Tidak pernah tidak hormat pada suaminya. Meskipun Hiro Yamato memiliki banyak uang yang tujuh turunan pun tidak habis-habis. Dera tidak pernah merasa kaya dan congkak. Wanita ini tetap rendah hati dan memakai uang sesuai kebutuhan. Terkadang Hiro merasa heran dengan uang bulanan yang ia berikan pada sang istri yang tidak pernah berkurang banyak.
***
Meja makan terasa begitu hangat dengan beberapa candaan dari Clara dan Dera. Sedangkan Sean berserta sang Ayah terlihat terlibat perang dingin. Entah apa yang terjadi pada ke duanya. Dari pulang menjemput Sean, anak itu terlihat irit bicara.
"Aku dengar, kau ingin memelihara ikan Piranha, Sean!" Leo membuka pembicaraan di meja makan untuk kaum pria.
Sontak saja seluruh mata menatap wajah tampan Sean.
"Ya, Paman!" jawab Sean seadanya.
"Ikan nya untuk——" Sean menjeda perkataan nya menoleh menatap pria di samping sang ibu."Mengigit mata-mata nakal!" lanjut nya dengan nada dingin.
Pergerakan makan Leo berhenti. Yeko yang ikut makan bersama sang Bos menatap ngeri Sean. Meski pun Sean terlihat normal di mata orang lain. Tapi, di mata Yeko anak itu agak aneh. Meskipun Yeko tidak mampu menjabarkan apa yang aneh dari Sean.
"Mata nakal?" ulang Dera tidak mengerti.
"Berapa yang kau ingin kan?" kini sang ayah angkat bicara.
"Apa Mama tidak suka itu?" bukan menjawab perkataan sang ayah. Ia malah melemparkan pertanyaan untuk sang Ibu.
Dera menelengkan kepalanya seolah berpikir keras."Bukan kah itu Ikan yang ganas?" tanya Dera pelan.
Sean mengangguk kan kepalanya. Membuat Dera mendesah letih. Baik sang suami maupun sang putranya kenapa suka sekali mempelihara binatang yang aneh-aneh dan berbahaya. Dulu sang suami mengoleksi Buaya dari sungai Amazon. Sekarang anaknya kalau ingin ikan piranha.
"Mama tidak suka," jawab Dera menatap serius sang putra.
"Baiklah. Mama tidak suka tidak jadi pesan!" ujar Sean dengan gampangnya.
Beberapa pasang mata menatap takjub Ibu satu anak itu. Hanya Dera yang bisa mengontrol ke gilaan ayah dan anak itu. Semurka-murkanya Hiro, pria itu akan tenang saat Dera berada di samping nya. Begitu pula Sean Yamato. Biasanya Sean tidak akan peduli perkataan orang lain. Tapi peduli dengan perkataan sang Ibu.
"Tidak jadi pesan?" tanya Leo memastikan pada sang keponakan.
"Tidak jadi." Balas Sean mengeleng pelan.
Leo mengangguk mengerti. Sebelum menatap ke wajah manis Dera kakak iparnya. Ya, kakak iparnya yang masih membelit hatinya.
Kembali acara makan malam hening. Hanya nada denting sendok dan garpu yang terdengar mewarnai kericuhan.
***
"Mama!" seru Sean membuat elusan di rambut nya terhenti.
Dera menatap wajah tampan sang putra dengan senyuman."Ada apa sayang ku?"
"Kenapa Mama tidak pernah mau memperlihatkan wajah Mama ke publik?" tanya Sean penasaran.
"Kenapa ya?"
"Mama tidak takut jika bisa saja orang-orang berpikir jika Mama sudah mati. Karena Mama tidak pernah muncul di depan orang-orang sebagai istri Papa," papar Sean membuat Dera menyandarkan punggungnya di dasbor ranjang sang putra. Melipat ke dua tangannya di depan dada.
"Mama hanya risih saat orang-orang menatap Mama dengan pandangan aneh," bohong Dera meski tidak sepenuhnya berbohong, sih.
Ada alasan besar kenapa wanita asal Indonesia ini tidak ingin mengandeng tangan Hiro di depan umum. Banyak hal yang membuat Dera merasa sangat terbebani berjalan di samping Hiro Yamato.
"Apa karena Mama merasa diri Mama tidak pantas dengan Papa?" tanya Sean pelan.
Pupil mata Dera melebar mendengar perkataan Sean. Anak lelaki berusia sembilan tahun itu merubah posisi nya. Dari tidur telentang bangkit dan mengikuti jejak sang ibu. Bersandar di dasbor ranjang.
"Kenapa Sean berpikir seperti itu?"
"Tante Sari berkata seperti itu saat ia berlibur musim semi kemarin. Saat aku bertanya kepadanya alasan kenapa Mama tidak ingin memperlihatkan wajah Mama di depan umum," jawab Sean jujur.
Dera menarik napas perlahan dan mengembuskan nya pelan. Memeluk tubuh sang putra. Mengulas senyum lembut.
"Menurut Sean, Mama bagaimana?"
"Mama cantik. Sangat cantik di mata Sean dan Papa."
Dera tekekeh pelan mendengar jawaban sang putra.
"Wah! Dari mana Sean belajar berbohong seperti itu?"
"Tidak, Ma! Sean tidak berbohong. Mama sangat cantik dan pantas berdiri di samping Papa. Meski banyak wanita yang mungkin merasa dirinya lebih cantik dari Mama. Di mata Sean Mama paling cantik dan tercinta di dunia ini!" ujar Sean bersemangat.
Ke dua sudut bibir Dera bergetar tak mampu menahan tawa yang akan meledak. Kata-kata yang begitu polos dan apa adanya. Ah, Sean putranya benar-benar anak yang pintar dan manis.
"Memang Sean tidak malu jika membawa Mama ke sekolah. Mama teman-teman Sean bahkan guru-guru di sekolah Sean cantik-cantik. Kulit nya putih, tinggi dan mempesona. Sedangkan Mama tidak seperti itu," ujar Dera mengetes seberapa pintarnya sang putra menjawab.
Sean melepaskan pelukan sang Ibu. Memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan sang Ibu.
"Mana ada anak yang malu dengan orang tuanya? Jika ada anak itu lah yang paling memalukan Mama!" bantah Sean dengan nada tak suka,"Aku tidak boleh menjelek-jelekkan Mama anak yang lain untuk bisa mengunggulkan Mama ku. Karena, Setiap Ibu di mata-mata anak nya adalah Bidadari yang paling cantik dan hebat. Aku tidak tau Mama teman-teman ku seperti apa. Yang aku tau adalah Mama ku yang tercantik, terbaik. Mama ku bisa memasak makan terenak melebihi masakan koki terkenal dan Mama ku adalah perempuan terpenting dalam hidup ku yang pertama dan yang utama!" lanjut Sean dengan serius.
Ah! Kenapa ini. Ke dua mata Dera memanas dan basah. Hatinya terasa di sentuh dengan lembut. Hanya sebatas kata-kata membuat Dera menangis haru. Sean Panik melihat sang Ibu menangis. Di luar pintu kamar Sean, Hiro tersenyum lebar. Bersandar di pintu kayu. Awalnya ia ingin merecoki Putranya. Yang ingin menguasai perhatian sang istri. Siapa sangka ia mencuri dengar hal yang begitu menyenangkan.
.
.
.
TBC
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???