
.......
.......
.......
Beberapa kali gadis berambut sebahu itu menguap bosan, lelaki tampan di depan sana tak lantas membuat kedua mata bulan sabit itu tercerahkan. Meski mulut sang profesor berbusa sekali pun, Dera akan tetap menguap bosan.
"Hoem!" Dera berseru sembari menguap menutup mulutnya dengan tangan kanan.
"Nona Dera! Anda sudah menguap untuk ketiga puluh kalinya. Dan saya baru menerangkan pada Anda belum sampai tiga puluh menit," peringat Leo dengan suara berat penuh tekanan.
Gadis berkulit sawo matang dan hidung minimalis itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas, memasang senyum terbaiknya. Meski kedua matanya sudah berair saking bosan dan mengantuknya. Namun, hanya untuk menghargai lelaki yang sudah seminggu menjadi guru les bahasa Jepangnya itu, ia berusaha menahannya.
"Maafkan aku, Sese!" seru Dera membuat rahang tegas Leo mengerat.
"Dera Sandya! Sensei bukan, Sese," koreksi Leo bersabar.
Dera terkekeh pelan meskipun ia tahu jika harusnya ia memanggil gurunya dengan panggilan sensei,
ia menggantinya dengan panggilan Sese hanya agar Leo kesal dan berhenti mengajarkannya bahasa Jepang. Dera tak suka belajar bahasa dari bos mafia gila itu, apalagi harus berangkat ke negara Sakura itu. Lebih baik Dera menjadi gelandangan daripada harus ikut bersama sang bos mafia.
"Kita istirahat dulu tiga puluh menit kalau begitu," ucap Leo pada akhirnya.
Senyum penuh kemenangan terlihat jelas di wajah Dera, gadis dua puluh dua tahun itu akan mencari alasan agar bisa bolos dari pelajaran Leo. Ia berdiri dari posisi duduknya dan membungkuk pelan, meniru kebiasaan orang Jepang. Sebelum mengucap terima kasih dengan bahasa Jepang.
"Arigato puskesmas," seru Dera lantang. Tak lupa ia mengembangkan senyum selebar mungkin.
Mulut Leo terbuka lebar mendengar Dera mengucapkan terima kasih dengan bahasa Jepang. Apa yang salah? Apa karena dirinya yang tak bisa mengajar hingga membuat gadis itu salah mengucapkan kata-kata. Atau karena otak gadis itu yang kosong, sehingga tidak bisa mengingat apa yang sudah ia ajarkan?
Kepala Leo terasa pening seketika Dera melangkah keluar dari ruangan belajar yang dikhususkan untuknya, dengan senyum lebar. Ia mengusap genangan air di kedua pelupuk matanya, Clara mengikuti Dera dari belakang. Gadis itu hanya membiarkan saja karena tugas Clara adalah mengawasinya, jadi tidak bisa diusir.
Pintu kamar mewah dengan dinding berwarna pink lembut menyapa netra coklat terang Dera, gadis itu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Memejamkan mata meski tidak tidur, Clara duduk di pinggir tempat tidur. Memperhatikan wajah Dera yang terlihat letih.
"Apakah begitu sulit belajar berbahasa Jepang?" tanya Clara penasaran.
Kelopak sakura milik gadis itu terbuka perlahan sebelum tertutup kembali. "Ya. Karena bahasanya aneh dan berbelit-belit," dusta Dera.
Dahi Clara berlipat halus, pertanda jika gadis cantik itu tidak mengerti. Bahasa Jepang tidaklah begitu sulit dibandingkan dengan bahasa mandarin. Apalagi huruf kanji mandarin yang benar-benar rumit. Yang aneh lagi adalah gadis yang kini terlentang di tempat tidur bukankah seorang waiters di restoran mewah Jepang.
Itu berarti ia bisa berbahasa Jepang sedikit-sedikit. Mengucapkan kata terimakasih paling tidak namun, sepertinya gadis itu terlihat mengacaukannya. Atau Dera pura-pura bodoh tidak bisa berbahasa Jepang? Hingga Seperti itu?
"Ah! Benarkah?"
"Ya."
"Tapi bukankah kamu dulunya adalah seorang waiters di sebuah Restoran Jepang. Aku yakin kamu paling tidak bisa satu atau dua kata berbahasa Jepang. Karena pembeli bukan hanya orang Indonesia juga ada orang Jepang," papar Clara dengan begitu lugas.
Kedua mata Dera terbuka cepat, jantungnya berdebar keras. Ia pikir Clara akan mudah ia bohongi dan di bodohi. Namun, ternyata malah sebaliknya gadis Cina itu tidak mudah untuk ditipu. Memang benar ia sangat bisa berbahasa Jepang karena jika bekerja di restoran Jepang syaratnya harus bisa berbahasa Jepang, baik pasif maupun aktif.
Dera duduk dengan perlahan menatap lama wajah Clara, gadis cantik berkulit pucat, mata sipit itu tersenyum menyeringai. Membuat Dera menelan ludahnya kasar, Sial sekali bukan? Bagaimana bisa seluruh anak buah Hiro begitu pintar menganalisa dan juga terlihat menyeramkan. Meski wajah mereka terlihat cantik bagi yang wanita. Dan begitu tampan bagi yang pria.
"A——aku, memang tau beberapa kata bahasa Jepang. Hanya saja aku tidak suka dengan Guru itu. Karena aku dengar jika dia adalah saingan Tuan Yamato. Dan lelaki itu bisa saja seketika menjadi orang yang menakutkan. Jadi, aku mengerjainya," bohong Dera dengan wajah yang meyakinkan.
Clara memanggut-manggut pelan, alasan yang diberikan oleh gadis Indonesia ini masuk akal. Meskipun Leo adalah guru Dera atas permintaan Hiro sang Bos. Hanya saja, Leo milik dua sisi yang tajam. Bisa menjadi teman maupun musuh dalam satu waktu. Dan itu tidak di tampik oleh Clara. Yeko saja terlihat tak menyukai Leo. Meski ada musuh yang lebih jelas dari pada Leo.
"Begitu ternyata. Kalau begitu lanjut kan lah!" seru Clara memberikan persetujuan dengan memberikan jempol tangannya. Membuat Dera menatap tak percaya. Bagaimana bisa Clara dengan mudah percaya.
Dera menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. Dengan senyum dipaksakan.
"Siap!" Serunya memberikan hormat sebagai balasan.
...***...
"Bagaimana dengan lesmu hari ini?" tanya Hiro dengan nada berat nan dingin.
Dera menoleh, ia menurunkan sendok makan yang ia angkat. Menatap ke arah Hiro yang duduk tepat di depan Dera.
"Baik. Hanya saja aku masih banyak kekurangan. Karena aku tidak terlahir cerdas," tutur Dera dengan degup jantung menggila. Takut-takut tuan mafia di depannya tau apa yang terjadi. Sepertinya Clara tak melaporkan apapun pada Hiro.
"Baguslah kalau begitu. Tidak apa, kamu bisa pelan-pelan saja belajarnya. Jika, ada kesulitan dan tidak mengerti bisa bertanya padaku," balas Hiro.
Dera mengangguk cepat sebelum kembali menyuap makannya ke mulut, begitu juga dengan Hiro. Lelaki Jepang itu menyumpit makannya. Menyuapi makan masuk ke dalam mulutnya. Dengan mata menatap wajah lucu kucing nakal peliharaannya. Gadis itu terlihat begitu napsu memakan hidang di atas meja.
"Pelan-pelan saja. Tidak akan ada yang akan merebut makanmu," ujar Hiro membuat gerakan Dera memelan.
Dera kembali menatap Hiro, wajah tampan Hiro terlihat begitu mempesona kala senyum tipis ditampilkan. Membuat Dera hampir saja tersedak Jika, tak cepat menunduk.
"Tuan," panggil Dera pelan masih menunduk.
"Bisakah Tuan mengembalikan Ponselku yang Tuan tahan. Aku ingin menghubungi kedua orang tuaku. Berserta teman-temanku. Karena aku telah menghilangkan empat bulan tanpa kabar. Aku tidak ingin teman-temanku khawatir," pinta Dera dengan selembut mungkin.
Hiro menatap lambat wajah Dera tidak ada jawaban bahkan denting peralatan makan yang beradu. Hiro diam, tidak menjawab. Dera merasa takut jika Hiro marah dan mengirimkannya pada buaya sebagai alas tempat tidur mereka. Salah! Mungkin makanan untuk para predator buas itu, karena Dera sudah pernah menginjak kulit kaum mereka. Kala Hiro membuatkannya sepatu kulit, bukan?
"Aku tidak akan macam-macam. Tidak akan mengatakan hal aneh. Atau melarikan diri. Aku janji," lanjut Dera dengan nada memelas. Wajahnya pun terlihat seperti kucing yang takut air.
"Lihat wajahku saat berbicara kucing nakal," titah Hiro membuat kepala Dera langsung terangkat melihat wajah sang bos.
"Kau mau ponsel kembali?" tanya Hiro mengulang permintaan Dera.
"Iya," jawab Dera sebelum kepala mengangguk keras.
"Kalau begitu, baiklah. Besok kau akan mendapatkan ponselmu kembali. Namun, ingat satu hal jika kau macam-macam. Maka kau akan tahu apa yang akan terjadi pada kau dan orang-orang yang kau sayangi," peringat Hiro dengan nada menyeramkan di akhir kalimat.
Oh, yang benar saja. Saat kabur bulan lalu saja ia benar-benar ketakutan. Kala Hiro membabi buta memukuli anak buahnya. Yang di nilai lalai menjaganya, pertanyaannya adalah apakah Dera berani kabur lagi. Setelah apa yang terjadi?
Ia tak bisa melihat orang lain harus menderita hanya karena dirinya, meski ia tak cantik seperti wanita di luar sana. Namun sejujurnya, ia punya hati yang begitu lembut dan cantik. Ia tak suka menyusahkan orang lain apalagi sampai akan membuat nyawa orang lain melayang hanya karena kesalahannya.
"Iya. Aku tahu," jawab Dera lirih. "Dan satu lagi, bisakah aku diantarkan ke Puskesmas di dekat tempat tinggalku dulu? Karena aku biasanya menyumbang darah di sana setiap sekali dalam sebulan," lanjutnya takut-takut.
Hiro meletakan sumpitnya di atas meja makan, membuat bulu kuduk Dera berdiri. Ia ketakutan, sungguh ketakutan saat ini. Tangannya diturunkan, meremas gaun tidurnya di bawah lutut yang ia pakai. Kala decitan kaki kursi bergesekan dengan lantai marmer derap langkah kaki mendekat ke arahnya nyaris membuat Dera menahan napas.
Hiro menarik kursi yang tepat di samping tempat duduk sebelah kanan Dera. Clara dan Yeko, hanya menjadi pengamat dan pendengar yang baik saja. Mereka tidak ingin ikut campur pada urusan dan keinginan sang bos besar, mafia Yakuza ini.
Jari telunjuk dan ibu jari Hiro mengapit dagu Dera. Mengangkat perlahan wajah Dera yang menunduk dan memutar ke arah kanan. Mau tak mau Dera menatap wajah tampan bak animasi itu. Netra coklat bening bertemu dengan netra coklat dingin milik Hiro. Deru napas Hiro mengenai wajahnya, begitu pula sebaliknyanya.
Aroma napas mint keluar dari mulut Hiro kala lelaki itu berbicara. "Apakah itu wajib?" tanya Hiro dengan nada berat namun tak mampu menutupi kesan dingin yang ikut serta.
"Apanya?" tanya Dera yang terlihat linglung.
Sebelah garis bibir Hiro terangkat tinggi. "Menyumbang darah, Sayang!"
"Ah! Iya," jawab Dera cepat.
Hiro melepas apitan jarinya di dagu Dera. Melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap Dera dengan tampang datar khas miliknya.
"Kenapa harus?" tanya Hiro penasaran. Ia tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya pada gadis yang duduk di depannya.
"Karena banyak orang-orang di luar sana membutuhkan darah. Dan tidak banyak kesadaran orang-orang di luar sana untuk menyumbangkannya," jawab Dera pelan. "Mereka tidak tahu sekantong darah saja begitu berharga bagi seorang pasien. Lagipula manfaat menyumbang darah bukan hanya sebuah amal. Juga sangat bagus untuk tubuh sendiri," lanjutnya dengan senyum tipis.
Ekspresi yang di keluarkan oleh Dera tidak pernah luput dari Hiro. Lelaki berahang tegas dan keras itu tersenyum lebar.
"Apa golongan darahmu?" tanya Hiro di sela senyum lebarnya ke arah Dera.
Yeko dan Clara merasa aneh tak biasanya sang bos murah senyum. Dari tadi, sejak awal makan. Beberapa kali mereka dapat melihat garis senyum yang ditampilkan. Dari senyum tipis sampai senyuman yang lebar. Keberadaan Dera membuat Hiro terlihat sedikit manusia, mungkin.
"Golongan darahku adalah B, Tuan," jawab Dera pelan.
"Baiklah. Aku sendiri yang akan mengantarka mu ke sana!"
"Tidak! Tidak usah Tuan!" seru Dera panik membuat dahi Hiro berlipat. "Maksudku adalah Tuan pasti sibuk. Karena pekerjaan baik di dalam kantor maupun di luar kantor. Tuan Yeko atau Clara mungkin bisa membantu mengantarkan aku!" koreksi Dera dengan wajah panik.
"Aku Bosnya. Tanpa hadir pun mereka akan tetap bekerja," bantah Hiro dengan wajah tak senang. "Apa kau tak suka aku ikut?" tanya Hiro curiga.
"Tidak. Aku suka! Suka! Sangat suka. Tentu saja," jawab Dera panik lalu mengangguk kuat.
...****...
Deru napas gadis di atas tempat tidur bermotif bunga mawar merah terlihat teratur. Tempat tidur bergerak dan tertekan menandakan ada yang naik ke atas tempat tidur, sepasang tangan kekar melingkar di perut Dera. Membawa gadis mungil itu masuk ke dalam rengkuhan sang mafia.
Gemericik gelang kaki Dera terdengar samar-samar, kala sang pemilik tubuh bergerak. Dera membuka kedua matanya perlahan. Kala merasa lilitan erat di perutnya. Meskipun perutnya tidak lagi buncit seperti dulu. Karena pria yang kini memeluknya dari belakang. Bos Mafia satu ini memaksanya untuk olah raga meratakan lemak di perutnya.
Meskipun tersiksa Dera harus melakukannya, hingga sekarang ia lebih sehat. Jelas-jelas dulu, Dera ada gadis pemalas. Saat di sekolah ia begitu malas olah raga dengan seribu satu cara bolos di jam olahraga, hanya karena tak suka disuruh berlari dan senam. Sampai ia bekerja pun ia tak pernah olahraga. Setelah pulang kerja ia akan habiskan tidur. Saat jatah liburnya tiba. Maka satu hari ia akan hibernasi, dan hanya akan bangun kala lapar dan juga kala merasa ada panggilan alam.
"Aku haus," racaunya.
Dengan perlahan Dera melepaskan belitan di perutnya. Membuat netra coklat dingin langsung terlihat, Dera membalikkan tubuhnya menghadap Hiro. Menengadah melihat wajah Hiro.
"Tuan aku ingin minum dan pipis. Bisa lepaskan dulu?" tanya Dera di sela rasa kantuknya.
Hiro mendesah pelan, melepaskan belitan tangannya Dera turun dari ranjang. Melihat di atas nakas ternyata air minum di dalam teko kosong. Dera mengangkat teko kaca dan melangkah keluar dari kamar. Ia menuruni satu persatu undak tangga.
Sampai di lantai dasar langsung saja menuju dapur, sesampainya di dapur mewah itu. Dera meletakan teko di atas meja. Masih dengan mata yang sayu karena mengantuk. Tiba-tiba saja, bekapan di hidungnya membuat kesadaran gadis tidak cantik itu menghilang.
"Cepat bawa keluar dari sini, lewat jalan belakang," titah wanita berambut coklat pada dua lelaki berpakaian serba hitam.
Keduanya mengangguk mengangkat tubuh mungil Dera,sedangkan sang wanita sengaja menghantam keningnya di dinding. Membuat darah segar mengalir di dahinya. Mata hitam legam itu menatap punggung dua lelaki yang kini telah menghilang di balik tikungan.