
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
Ruangan tengah begitu suram. Aura kelam menyelimuti orang-orang yang berkumpul. Carla masih menemani Dera di dalam kamar bawah. Rahasia besar yang tersembunyi terbongkar dengan cara yang tak biasa. Dokter khusus Yakuza di bawa bersama Dokter spesialis psikologis. Anak-anak di usingsi kan ke rumah bagian barat. Villa yang masih berada di daerah kekuasaan Yakuza. Satu hari ini begitu kacau, air muka Hiro terlihat hitam kelam. Chou menceritakan semuanya. Apa yang mereka ketahui, pria tua itu menunda penerbangan nya ke Texas dua jam yang lalu. Kala kekacauan terjadi di rumah besar Yakuza.
Nomi maupun Zeo, ke duanya terdiam dalam kerisauan. Mengingat Leo berjuang sendiri di sana. Raut wajah Zeo terlihat buruk untuk di lihat. Pria paru baya itu sangat khawatir dengan sang putra. Hanya Leo yang tersisa dari wanita yang ia cintai. Ia tak bisa kehilangan, Leo seperti ini.
"Bos!" seru Yeko pelan.
Hiro mengeraskan ke dua sisi rahangnya. Wajah datar terlihat semakin sangar saja. Sari menemani anak-anak bersama Carlos.
"Malam ini, siapkan pesawat pribadi ke Texas. Permainan ini sangat membuat ku muak. Lakukan pergerakan dan rencana matang." Ujar Hiro memberikan keputusan sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Papa akan membantu!" seru Zeo cepat.
Langkah kaki Hiro terhenti. Pria ini tau bagaimana perasaan Zeo saat ini. Ayahnya, pasti mengkhawatirkan Leo. Adik tirinya yang melakukan pergerakan bahkan rela mengorbankan dirinya. Hiro berterimakasih akan hal itu. Hanya saja, ah! Entah lah. Hiro Yamato tidak tau cara menampakkan hatinya saat ini dengan kata. Pria ini, untuk ke dua kalinya merasa kusut.
"Atur saja baiknya, Pa!" balas Hiro sebelum melangkah lebar menuju pintu kamar.
Manik mata Nomi menatap lemah punggung sang putra. Pertarungan kali ini adalah pertarungan terakhir kalinya. Tentu saja, lebih menakutkan dari pada sepuluh tahun lalu.
Di negara lain, Leo terlihat tengah sibuk membuat peta. Di bantu oleh Adella. Anak perempuan ini tau dengan pasti beberapa pintu keluar dan masuk. Bahkan Adella membantu Leo untuk bersembunyi selama satu hari ini. Memberikan nya makan dan minum. Meski tak bisa di anggap layak untuk di makan manusia.
"Apa kau sudah berbicara dengan Vian?" tanya Leo menatap Adella.
"Sudah. Ia cenderung menghindar. Vian terlalu bingung dengan situasi ini," jawab Adella mengingat wajah Vian yang menghindari nya.
Leo mengangguk pelan. Ia tau, tidak mudah percaya dengan apa yang terjadi. Ia pun masih merasa jika ini adalah mimpi. Manik mata coklat milik Leo menatap sisi wajah kanan Adella yang selalu tertutupi oleh rambut panjang anak ini. Hanya sisi kiri saja yang terlihat jelas.
"Apa yang terjadi dengan wajah mu yang di kanan?" tanya Leo yang baru menanyakan keadaan Adella.
Adella mengangkat tangan kanannya. Menyentuh bekas luka yang menghitam. Luka yang mampu membuat nya selalu bermimpi buruk setiap malam.
"Sebagai penembusan dosa," jawab Adella sendu.
"Penebusan dosa?" ulang Leo tidak mengerti.
"Ya, dosa Mama ku. Aku pikir aku yang harus menebusnya," jawab Adella pedih.
Leo mendesah pendek. Susi memang berdosa karena telah mau melakukan apa yang telah di perintahkan oleh Mawar. Namun, tak pantas anak secantik Adella menjadi kan dirinya sebagai penebusan dosa. Anak ini sama sekali tidak punya salah. Orang tua yang berbuat bukan berarti anak mereka yang harus menanggung akibatnya.
"Tidak ada yang namanya penembusan dosa, Adella. Kau tidak memiliki salah apa pun, jangan menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Dan untuk dosa Mama mu, ia sudah mendapatkan nya. Ia kehilangan keluarganya bahkan berpisah dengan mu," ucap Leo membawa rasa lega di rongga dada Adella.
Adella selalu merasa bersalah kala melihat Vian. Kala anak lelaki itu harus terengah-engah dalam melawan racun gila. Melakukan latihan gila, bahkan merasakan beberapa peluru di tubuh nya. Lucunya, Mirabel berdalih jika itu semua sebagai ketangguhan diri. Agar ke depannya Vian bisa lebih tangguh. Tanpa, Vian sadari jika Mirabel menyiksanya. Bahagia di atas rasa sakit Vian.
"Hei! Jangan menangis!" seru Leo panik kala ke dua mata Adella mengeluarkan bulir air mata.
***
"Pergerakan nya terlihat berbeda!" seru Sean menatap ke arah rumah besar.
Willem menoleh ke depan. Ya, benar! Pergerakan orang-orang di rumah Sean memang sangat berbeda. Meski waktu sudah menunjukkan lima dini hari. Mereka terlihat menyusun senjata api dengan beberapa timah yang sengaja di penuhkan. Di arah gedung intelejen, lampu nya sangat terang dengan orang yang keluar masuk. Ke duanya tidak bisa tidur di tengah kebisingan melanda anggota Yakuza. Meski Sean meminta penjelasan tak seorang pun yang mampu membuka mulut mereka.
"Apa ada masalah besar?" tanya Willem pelan.
"Seperti nya begitu. Baru kali ini Papa tidak melibatkan aku dalam masalah besar yang terjadi," keluh Sean frustasi.
"Aku tak yakin akan berhasil. Mengingat ini bukan hal kecil."
"Kita coba saja dulu. Siapa tau ada hasilnya!"
"Cobalah!"
Pembicara mereka berhenti. Ke duanya kembali menatap ke arah rumah besar. Salju turun sangat lebat tak menjadi penghalang bagi orang-orang di luar sana. Jika Sean dan Willem tengah penasaran dengan apa yang terjadi. Maka di dalam kamar temaram di rumah besar, terlihat suram.
Jari jemari tangan Hiro bergerak perlahan. Menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah sang istri. Pria ini khawatir, sangat. Mengingat rencananya terpaksa di tunda, Dera mendapatkan syok berat. Kala bangun wanita ini terlihat seperti orang gila. Sangat sulit menenangkan Dera, ini sangat mengkhawatirkan. Belum lagi, Dera menjerit sakit di kepalanya setelah linglung mencari sang putra.
"Apa yang harus aku lakukan, ini untuk pertama kalinya aku merasa sehacur dan setakut ini De!" Ucap Hiro di sela usapan di dahi Dera.
Tak ada jawaban. Ke dua kelopak mata Dera tertutup rapat."Rasanya dada ku sangat sesak, De!" Lanjut Hiro memukul pelan dada nya dengan tangan kiri yang di perban.
Sehabis menenangkan Dera, Hiro melampiaskan amarahnya pada cermin tebal jendela rumahnya. Hingga pecah, membawa pekikan keras. Tidak ada yang berani menghentikan kegilaan Hiro. Lima jendela menjadi korban rasa amarah Hiro Yamato. Darah yang merembes dengan beberapa puing kaca kecil tertancap di punggung tangan kirinya.
Air mata mengalir deras. Hiro butuh Dera di sisinya. Pikiran nya carut-marut saat ini."Dera! Jangan sakit aku mohon, aku berjanji. Aku akan membawakan putra kita kembali apapun yang terjadi. Semua nya akan baik-baik saja!" lanjut Hiro suaranya serak memberat.
Kelopak mata Dera terbuka perlahan. Wanita ini dapat mendengarkan apa yang di katakan oleh sang suami. Pupil mata Hiro melebar. Dengan cepat tangan kanannya menyapu bersih ke dua air mata yang mengenang di pipi. Tangan dingin Dera menghentikan pergerakan tangan Hiro.
"Kak!" Panggil Dera serak.
Hiro mengulas senyum. Pria ini ingin tetap terlihat kuat di depan Dera. Ia ingin menjadi suami yang dapat di andalkan oleh sang istri.
"Hem!" Jawab Hiro meraih tangan Dera sembari mengecup punggung tangan Dera.
"Maaf!" seru Dera lirih.
Kepala Hiro menggeleng cepat."Tidak, jangan begitu. Ini semua bukan salah mu, De!"
Dera merubah posisi nya, di bantu oleh Hiro. Untuk bersandar di dasbor ranjang dengan bantal kepala sebagai alas punggung belakang nya.
Ke duanya bungkam. Hembusan napas terdengar jelas."Jangan lukai dirimu lagi!" ujar Dera meraih tangan kiri Hiro yang di perban.
Hiro Yamato mengangguk pelan."Ya. Kau juga harus berjanji tunggu aku di sini. Aku akan membawa putra pertama kita kembali."
Dera mengangguk pelan. Hiro memeluk Dera dengan erat. Meraup aroma tubuh sang istri. Dera melakukan hal yang sama.
"Aku akan melindungi mu dan anak-anak kita. Kedepannya, tidak akan aku biarkan hal seperti ini terjadi. Satu ekor nyamuk pun tak akan bisa lolos dari pengawasan ku!"
"Maafkan aku kak. Aku tak ingin menjadi lemah lagi, untuk bisa bersamamu dan anak-anak kita. Aku akan menjadi Istri dan Ibu yang kuat untuk mu dan anak-anak kita. Meskipun harus melumuri tanganku dengan darah! Aku akan melakukan nya!"
Seruan serentak dari suara hati ke duanya. Masing-masing berjanji akan kebahagiaan untuk sebuah keluarga.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???