Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 106 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


Suara gaduh colotehan balita mengisi taman belakang. Suara Cherry dan si kembar terdengar di sela desiran angin sore. Dera dan Clara menyuapi balita lucu itu. Di bantu oleh Adella, anak perempuan itu tampak mengunakan cadar di wajahnya. Rambut hitam legam miliknya di ikat tinggi ke atas.


"Adella kapan kembali ke Indonesia?" Tanya Clara kala meletakan sendok di atas mangkuk bayi.


"Dua Minggu lagi, Tante." Jawabnya lembut. Sembari mengusap lelehan bubur di bibir Laura.


"Apa, Adella tidak ingin sekolah di sini. Mama mu juga bisa kerja di sini," seru Dera menatap intens Adella.


Kepala anak perempuan itu mengeleng pelan. Bagaimana bisa ia merepotkan keluarga Yamato lagi. Desahan pelan keluar dari bibir Dera. Wanita itu, dapat merasakan ketidak relaan sang putra sulung. Mengingat, Adella sudah sejak lama berteman dengan Vian.


"Kenapa?" Tanya Dera mengusap pelan puncak kepala Adella.


Adella menenggadah."Aku merindukan negaraku, Mama Vian!" jawab nya lirih.


Diam-diam Clara hanya memperhatikan ke duanya. Di sela kegiatan menyuapi sang putri.


"Baiklah. Sebelum pulang mungkin ada baiknya, Adella melakukan operasi pada wajah sebelah kanan. Mama mu akan merasa sedih melihat wajah Adel begitu," ucapnya.


Adella mengigit pelan bibir bawahnya. Wajah kanannya cacat, ia tua bagaimana perasaan sang ibu jika melihat wajahnya nanti. Akan tetapi, bukankah ini terlalu berlebihan? Mengingat Dera dan Hiro sudah sangat baik untuk tidak menghabisi nyawa Ibunya. Susi telah memisahkan Vian dengan keluar Yamato selama sepuluh tahun. Anehnya, Dera masih sangat baik padanya dan sang Ibu.


"Tidak, biarkan saja begini. Jika nanti sudah waktunya. Aku akan meminta Mama yang mengoperasi nya, Mama Vian tidak perlu khawatir!" balas Adella dengan nada pelan.


Dera dan Clara tau, Adella takut membebani mereka. Adella telah merasakan penderita yang panjang. Hingga membuat ia dewasa sebelum waktunya. Pemikiran Adella bisa di mengerti oleh mereka berdua. Dera tak ingin memaksakan Adella untuk tetap tinggal jika anak perempuan ini enggan.


Sean melangkah bersama sang kakak dan teman-teman nya mendekati Ibunya.


"Mama!" Seru Sean setengah berlari.


Vian berjalan santai bersama yang lainnya. David terlihat mengikuti jejak Sean. Berlari, tentunya dengan tujuan yang berbeda. David berlari mendekati si kembar dan Cherry yang berada di bangku duduk bayi. Ia merasa gemas dengan ketiga balita.


Adella menoleh kebelakang. Pupil matanya melebar menatap ke datangan Vian, Sean dan ke tiga teman sebayanya.


"Ak——aku, kembali ke kamar terlebih dahulu Mama Vian dan Tante Clara!" Ujar Adella tergagap sembari membungkuk pelan. Mengikuti kebiasaan hormat orang Jepang. Sebelum berlalu tanpa mendengar jawaban ke dua orang dewasa itu.


Sean sampai dengan David. Mata coklat kelam itu menatap punggung belakang Adella. Rambut hitam berkibar di terbangkan oleh angin. David sudah memulai menyerang ketiga balita. Celoteh keras dari Laura terdengar. Menolak kecupan basah dari David pada wajahnya. Sebelum suara Launa dan Cherry ikut terdengar. Clara terkekeh pelan melihat penolakan ketiga balita pada David.


Sean mendekati sang Ibu. Memeluk pinggang Dera. Ia tak bisa melepas kan kebiasaan. Dera melegakan mangkok di atas meja. Sebelah tangannya terbuka untuk Vian yang hanya dua langkah lagi.


"Mata mu lihat kemana, Hem?" bisik Dera pelan. Masih menatap Vian yang mendekati nya.


Kontan saja Sean terperejat. Menengadahkan wajahnya menatap senyum ganjil dari sang Ibu. Ayolah, wanita yang telah melahirkan empat orang anak ini tau pasti kemana arah mata Sean yang memeluk pinggang nya.


Sean tersenyum lucu. Sebelum membenamkan wajahnya di perut Dera. Tubuh lain menimpa punggung belakang nya. Sudah pasti ia tau siapa pemilik nya. Sang kakak ikut bergabung.


"Bagaimana sekolah nya hari ini pada jagoan?" Tanya Dera memeluk ke dua tubuh putranya.


"Seperti biasanya, Ma!" jawab si kembar serentak.


Vian melepaskan pelukan nya. Bersamaan dengan Sean. Vian menoleh menatap tikungan. Tidak lagi ia lihat Adella.


"Kenapa Adella pergi saat kami sampai Ma?" tanya Vian khawatir.


Diam-diam Sean memasang pendengaran nya setajam mungkin. Meski matanya menoleh pada ketiga temannya yang menggoda adik-adik nya.


"Mungkin ia ingin membersihkan tubuh sayang. Oh, iya. Adella bilang dua Minggu lagi ia akan kembali ke Indonesia. Mama tidak bisa membujuk nya untuk tinggal. Maaf ya," ujar Dera menatap sedih pada sang putra sulung.


Kepala Vian mengeleng pelan."Tidak apa-apa, ini sudah menjadi keputusan nya. Kita bisa berkunjung ke Indonesia saat ada waktu kan Ma?"


"Tentu saja sayang!" Jawab Dera menyugar rambut Vian. Sudut mata Dera melirik Sean.


Sean membuang muka ke sembarang arah. Kala tertangkap basah mencuri dengar dan pandang pada mereka. Senyum miring penuh godaan di lemparkan Dera pada Sean. Sean menekuk bibir merahnya, sebelum melangkah mendekati Willlem, David dan Delta.


Dera terkekeh pelan."Kenapa, Ma?" tanya Vian.


hanya——— berpikir Launa dan Laura terlihat lucu di goda oleh teman-teman mu," jawab Dera sempat kebingungan mencari jawaban.


Vian hanya mengangguk kecil sebelum membalik kan tubuh nya. Menatap wajah lucu adik-adik nya.


***


"Yes!" Teriak Sakura keras dengan tangan mengepal di udara.


Bian hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Sakura dengan penuh semangat membawa dua mangkuk mie instan dengan dua telur mata sapi di atas mangkuk. Gadis cantik itu meletakan cepat ke dua makanan yang baru selesai ia buat dengan susah payahnya.


"Ayo mari kita makan, Dokter tampan!" Tuturnya sembari meletakan mangkuk mie di atas meja Bian. Dan satu lagi di depan nya.


Gadis cantik itu menarik kursi kayu. Duduk dengan senyum yang tak pernah luntur.


"Apa sesenang itu kau, hanya karena bisa memasak mie?"


Sakura mengangguk cepat."Tentu saja. Aku sudah mulai berkembang. Sekarang sudah bisa memasak air panas tanpa meledakkan panci. Bisa memasak mie tanpa hangus. Memasak telur berbentuk love dengan sempurna," celoteh Sakura dengan wajah bangga,"Dan, aku juga bisa memasak nasi dengan baik," lanjut nya. Sembari mengembangkan senyum lebar.


Bian ikut tersenyum lebar. Tangannya bergerak mengaduk mangkuk Mie. Menyumpitnya perlahan, memakan dengan perlahan. Tak lupa menghembus permukaan Mie. Agar tidak terlalu panas kala masuk ke dalam mulut.


Sakura menatap penuh harap. Berharap Mie yang ia masak tidak terlalu asin satu hambar. Bian menguyah perlahan, sebelum meneguknya.


"Bagaimana?" desak Sakura.


"Enak." Bian menjawab singkat.


Ke dua mata Sakura berbinar-binar. Senyum sumringah tercetak jelas.


"Benarkah?"


"Ya," jawab Bian,"Berati dua bulan lagi sudah bisa menikah dengan ku," goda Bian.


Dokter tampan itu tertawa pelan melihat wajah Sakura memerah. Ke dua sisi bibirnya berkedut menahan senyum lebar. Jantung nya berdebar keras.


"Atau, kau mau kita menikah satu Minggu lagi?" lanjut Bian menggoda Sakura.


Kontan saja Sakura menutup wajah cantik nya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar malu, dalam balutan bahagia.


"Buka wajahnya sayang! Calon suamimu ini ingin melihat wajah memerah calon istri nya!" Ujar Bian berdiri dari posisi duduknya. Mencondongkan tubuhnya ke depan.


Sakura membuka ke dua tangannya. Wajah putih salju miliknya semakin memerah, bak kepiting rebus.


"Ah! Dokter tampan jagat!" Kesal Sakura kelayakan pukulan sayang pada dada Bian.


Gelak tawa mewarnai apartemen Bian Winata di Jepang. Pria ini bahkan menunda masa kepulangan nya hanya untuk Sakura. Menyiapkan berkas-berkas kepindahan Sakura. Menerima Sakura masuk kedalam hati dan hidupnya.


Jika di apartemen Bian tengah penuh cinta. Lain pasalnya, di kolam Buaya. Leo Yamato menatap nyalang pada ke enam Buaya di depan sana. Musim Semi tak selalu menjadi masa mekar nya cinta. Contoh nya saja, Leo Yamato. Pria gagah nan jomblo itu mengenggam erat ke dua pisau di kedua tangan nya.


"Kalian berempat harus mati! Enak saja, aku di samakan dengan Buaya!" Kesal Leo dengan raut wajah semerawut.


Bagaimana tidak? Ke dua gadis kembar itu merecoki dirinya. Dan ke dua orang tuanya membandingkan ia dengan Jumbo dan Jery. Yang benar saja.


"Maaf untuk Jumbo dan Jery. Para istri kalian harus mati di tanganku. Agar kita satu sama!" Ujarnya sembari melangkah mendekati ke enam buaya di ujung sana.


Permukaan air yang tenang berwana hijau pekat itu beriak. Leo melangkah dengan keinginan dan aura membunuh yang kuat. Kelamaan menjomblo membuat pria satu ini gelap mata.


.


.


.


Bersambung...


Wah! Wah! Sebentar lagi, Jumbo dan Jery bakal jadi duda lagi ya🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???