
Mohon Vote, Like, komentar nya dong All..
katanya suka tapi like sama votenya gak seberapa. Kalau suka Author nya butuh bukti π€π€π€ biar bisa update setiap hari dengan cerita yang lebih seru dan menegangkan π
.
.
.
.
Dera turun dari ranjang dengan perlahan. Langkah yang di ayun membawanya ke daun jendela bening. Berdiri menatap ke bawah, jalan di bawah sana terlihat ramai. Setahunya kemarin bukankah, dia tinggal di rumah. Jika di lihat situasi saat ini bukanlah rumah. Namun apartemen, dan lantainya tidak terlalu tinggi. Hingga bisa melihat dengan jelas. Spanduk di bawah sana.
Di bawah bukakan huruf alfabet, melainkan huruf kanji Cina. Tunggu! Kanji? Dengan langkah lebar. Gadis itu sampai kembali ketempat peraduan. Di mana lelaki Cina itu terlihat pura-pura tidur.
"Kevin! Hei! Bangun, jangan tidur!" Kesal Dera mengguncang tubuh Kevin
Lelaki itu berpura-pura menggeliat dan menggerjab pelan. Tak lupa pula ia menguap guna mengelabui Dera. Dera menatap dengan ekspresi tidak terbaca.
"Ada apa?" tanya nya dengan nada serak.
"Dimana kita?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Kita?" ulang Kevin dengan wajah bodoh.
"Iya. Kita!"
"Kita di kamar!" jawabnya dengan santai.
"Aku tau kita di kamar. Tapi ini masih di Indonesia bukan?" tanya Dera dengan nada panik.
"Bukan. Kita sudah tidak di Indonesia lagi. Kita sekarang di Shanghai," jawabnya dengan nada ringan. Seringan hembusan napas yang menyatu bersama udara.
Gadis berambut sebahu itu diam. Tidak menunjukan tanda apapun. Dera terlihat linglung saat ini. Ia tak salah dengar dan lihat ternyata. Benar dugaan nya kalau ia sudah tidak di Indonesia. Kevin duduk dengan senyum ceria. Berbanding terbalik dengan Dera.
"Ayolah, De! Kapan lagi kau mengunjungi Negera kelahiran ku. Nanti akan aku bawa kau main-main dan juga kau mau makan malam khas Shanghai?" Tawar Kevin dengan senyum lebar.
"Wah! Untung kau baik. Jika tidak sudah aku sleding kau!" Ujar Dera dengan menunjuk Kevin memakai bahasa Padang.
"Apa?" tanya Kevin tak paham dengan apa yang di ucapkan.
"Tidak ada." Jawab Dera acuh ia berdiri dari posisi duduknya."Kapan kita kembali ke Indonesia?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Kita akan di sini selama satu bulan."
"Kau mau mati?!" Kesal Dera menunjukkan kepalan tangan nya pada Kevin.
Lelaki tampan itu terkekeh pelan. Dera masih seperti dulu, tidak ada rasa takut padanya. Kevin tertawa pelan membuat gadis itu mendengus sebal. Sebelum membelakangi Kevin. Lelaki itu turun dari ranjangnya mendekati Dera. Ia tau jika Dera tengah marah.
"Aku hanya bercanda De! Kita hanya dua hari di sini. Karena aku harus mendapatkan tanda tangan Papaku. Karena ia ingin aku hadir secara langsung," jelas Kevin dengan nada lembut,"Kau mau ikut ke rumah besar ku?" tanya Kevin dengan nada penuh harap.
Rumah besar? Lagi? Tidak. Dera merasa sudah kapok dengan rumah besar. Nanti bertemu keluarga Kevin. Keluarga lelaki ini pasti sangat menakutkan. Lebih baik Dera melihat buaya peliharaan Hiro dari pada melihat keluarga Kevin.
"Tidak. Aku tidak mau," tolak Dera cepat.
"Kenapa?"
"Keluarga mu pasti galak seperti kau. Saat pertama kali bertemu dengan mu, kau sangat menakutkan!"
"Mana ada. Aku adalah lelaki yang lembut," kilah Kevin.
Dera membalikkan tubuhnya. Menatap wajah Kevin penuh picinggan mengintimidasi. Membuat yang di tatap malah salah tingkah. Benar, ia memang orang yang sombong. Bukan, lelaki yang hangat apa lagi ramah. Namun, percaya lah. Baru kali ini Kevin memperlakukan seorang gadis dengan hangat dan baik. Selain adik dan kakak perempuan nya.
Saat lelaki berani mengajak seorang wanita bertemu kedua orang tuanya. Itu berarti, mereka serius dengan sebuah hubungan. Tidak semua lelaki mau memperkenalkan kekasih mereka pada ke dua orang tuanya. Mereka cenderung membawa wanita ke hadapan orang tuanya. Kala mereka merasa jika wanita yang di gandeng dan di perkenalkan pada ke dua orang tua mereka akan di bawa ke jenjang yang lebih serius
"Aku sangat ingat, waktu itu aku tidak sengaja menabrak mu. Mau berteriak padaku," paparnya dengan nada kesal.
"Wah! Kau memang pendendam, De!" Ujar Kevin dengan gelengan pelan.
"Bukan. Aku bukan pendendam, hanya memiliki ingatan yang kuat saja." Ujar Dera dengan senyum evil nya.
"Ya ya ya! Aku tau. Dan kau jangan lupa, bagaimana Hiro menghajar ku hampiri mati saat mengajakmu bermain," kini giliran Kevin yang mengingatkan jika dia mendapatkan hal yang lebih buruk lagi. Bukan sekedar teriakan marah. Tapi pukulan membabi buta.
Dera membalik kan tubuh nya. Melangkah kabur dari Kevin. Saat itu, Kevin benar-benar hampir mati di tangan Hiro. Hanya karena ia merasa bosan.
"Hai, mau kemana?" seru Kevin lantang.
Dera membalikkan tubuhnya."Aku lapar ingin membuat sarapan." Serunya tanpa izin langsung keluar dari kamar.
Diam-diam, Kevin mengulum senyum nya. Ia suka Dera, gadis itu begitu sederhana. Awalnya ia tak mengerti kenapa Hiro menyukai gadis tidak cantik itu. Namun sekarang ia benar-benar jatuh dalam pesona nya. Meski telah di hajar habis-habisan oleh Hiro. Tidak membawa efek jera padanya.
"Hiro mungkin bisa mengalahkan ku saat kita sama-sama di bangku kuliah. Namun kali ini aku tidak akan pernah kalah ataupun mengalah," ucap Kevin pelan,"Orang yang melihat mu sekilas mungkin kau tidak lebih dari seonggok batu biasa. Namun mereka yang jeli, melihat mu seperti batu biasa di luar namun permata berharga di dalam De!" lanjut nya.
***
Tangan besar itu menyingkirkan makan yang baru saja di antar oleh salah satu Maid nya. Hiro berdiri dari posisi duduk nya. Melangkah mendekati jendela, menatap ke bawah. Biasanya dulu di sanalah Dera akan bermain. Berada di ayunan besi yang kini terlihat kosong. Sekosong hatinya.
"Dimana kau, De?" tanya Hiro lirih.
Getaran di saku celana nya membuat telapak tangan besar itu mengeruk saku celana nya. Dahinya berlipat kala melihat layar ponsel mahalnya tanpa nomor.
Ibu jarinya menggeser layar ponsel. Menyambut telpon pribadi yang di tuju untuk nya. Benda persegi panjang itu letakan di daun telinga sebelah kanannya.
"Hallo!" seru Hiro dengan nada berat.
Diam. Tidak ada sahutan di seberang sana. Membuat dahi putih pucat itu semakin mengerut.
"Hallo!" ulang Hiro untuk kesekian kalinya.
"Haββhalo!" ujar suara di seberang sana putus-putus.
Ada debaran yang tak mampu di tangkap oleh nalar. Dada lelaki ini berdebar keras. Ia hapal, sungguh hapal dengan suara ini. Suara lembut milik gadis yang ia rindukan.
"De?" panggil Hiro memastikan. Jika benar ia tak salah.
"Tuan. Apa kabar?" tanya dengan nada pecah.
Tiba-tiba hati Hiro membuncah. Senyum yang telah lama tidak terlihat sekarang tercetak jelas.
"Dera. Dimana kau saat ini? Apa kau baik-baik saja? Katakan padaku kau dimana aku akan menjemputmu saat ini juga!"
Pertanyaan yang di berikan padanya bertubi-tubi membuat kekehhan renyah terdengar samar. Gadis itu terkekeh, ada rasa senang menyelip di hatinya. Lelaki di itu mengkhawatirkan nya. Tidak dapat ia pungkiri jika ia juga merasakan perasaan yang sama seperti yang Hiro rasakan.
"De?" panggil Hiro yang tidak mendapatkan jawaban dari gadis itu.
"Ya. Aku baik-baik saja tuan. Jangan khawatir," jawabnya dengan lembut.
"Syukurlah. Kau tidak apa-apa, katakan padaku kau di mana De?" desak Hiro dengan nada tak sabar.
"Aku adaββββ"
**TBC
Jangan lupa; like, Vote dan komentar nya ya all..
katanya mau author nya cepat update dan Semangat π π π **