Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 96 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


Tulisan bergaris miring untuk mimpi kejadian masa lalu


.


.


.


.


Dua kali ketukan ringan membuat pintu besi tua itu terbuka. Anak perempuan menatap dalam anak sebaya dengan nya dengan pandangan dingin. Mata bulat miliknya terlihat sendu.


"Aku—"


"Jika masih ragu, tanyakan pada hati mu. Hati tak akan pernah berbohong Vian!" potong Adella dengan cepat.


Vian bungkam. Bibirnya terkatup rapat menatap Adella."Huf!" hembusan napas kasar terdengar.


Tanpa kata Vian melangkah meninggalkan Adella. Anak perempuan ini tau jika Vian tengah meragu. Siapa yang tak akan ragu dengan fakta yang tak masuk akal baginya. Adella mengangkat pandangan nya, masih menatap lambat di lorong. Hingga tubuh Vian menghilang di balik tikungan. Deret besi membuat Adella membalikkan tubuhnya ke arah selatan.


"S—siapa di sana?" tanya Adella dengan nada bergetar. Jantung nya berdebar keras, apakah ia akan mendapatkan hukuman lagi.


Derap langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Cahaya temaram menghujani tubuh kekar itu. Hingga dahi Adella berlipat melihat pria dewasa dengan busana serba hitam.


"Adella?" serunya seolah bertanya dalam ketidak yakinan nya.


"Siapa kau?"


"Ah, benar. Bisa cari tempat aman sebelum kita berbicara?" pinta Leo dengan nada berat.


Adella meragu. Raut takut tergambar jelas di wajahnya. Pria di depan nya ini jelas bukan anggota Dragon. Selama ini Adella tidak pernah melihat wajah ini.


"Aku orang yang di kirimkan oleh Susi untuk menyelamatkan mu," ujar Leo meyakinkan ketidak percayaan Adella.


Sontak saja ke dua mata Adella semakin membesar. Sebelum menarik cepat tangan Leo memasuki kegelapan di lorong lain. Anak ini cukup tangkas dalam gerakan.


***


Ranjang di dorong cepat. Leo senantiasa menggenggam tangan nya dengan mata khawatir. Dokter wanita itu mengambil alih Dera.


"Langsung ke ruangan persalinan!" Serunya setelah mengecek keadaan Dera.


"Baik, Dok!" Seruan serentak terdengar dengan kembali mendorong ranjang.


Leo mengelus pelan telapak tangan Dera. Wanita itu meringis keras, bibirnya tak berhenti bergumam kata sakit. Perut nya berkontraksi dengan darah yang terus merembes. Genggaman dari tangan Leo terputus kala kepala ranjang telah menyentuh ambang pintu masuk.


"Mohon tunggu di sini, tuan!" Seru salah seorang suster.


Leo mengangguk pelan. Pria itu meremas kasar ke dua tangan yang bertautan. Dokter dan tiga orang suster terlihat panik.


"Dokter ia banyak kehilangan darah!" ujarnya panik.


"Susi! Cepat pasangan kantong darah yang sudah di persiapkan. Dan infus!" titah sang Dokter.


Suster Susi bergerak cepat. Pintu lain terbuka, bahu kanan nya basah oleh darah. Beberapa orang di dalam ruangan terkejut melihat bagaimana keadaan wanita cantik itu.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Mawar di sela ringisan.


"Dia masih bisa melahirkan dengan normal." Jawab sang Dokter dengan wajah takut."Luka di bahu and——" lanjut nya ragu.


"Peluru nya sudah di keluarkan. Cepat lah bertindak, di luar sana ada anggota ku. Mereka yang akan membawa anak yang satu. Cepat bergerak!" titah Mawar dengan nada berat.


"Ba——baik," jawab sang Dokter terbata-bata.


Mawar melangkah mendekati ranjang Dera. Wanita itu terlihat bingung. Ia tak tau apa yang di maksud oleh Mawar. Wanita cantik yang telah menolongnya itu bagaimana bisa di sini. Dan apa maunya.


"Mawar!" panggil Dera di sela perut yang bergejolak,"Siapa kau sebenarnya?" lanjut Dera panik.


Mawar tersenyum aneh."Tidak perlu cemaskan apapun nyonya. Saya di sini sebagai pembantu nyonya bersalin. Cepat keluar kan anak nya, ya!" Ujar Mawar mengusap peluh yang menetes di dahi Dera.


Dera meremas kuat kepala ranjang kala rasa mulas teramat menghantam perutnya.


"Dorong lebih kuat lagi nyonya!" ujar sang Dokter.


"Eeekk!!!ah!!!" Teriak Dera keras semakin meremas keras kepala ranjang.


Wanita berusia empat puluhan itu tersenyum kala bayi merah itu keluar. Dengan cepat ia membekap bibir mungil itu agar tak membuat ribut. Mata Dera sayu menatap bayi yang di berikan pada suster dengan mulut di tutup.


"Cepat bawa bayinya di pintu belakang!" titahnya pada Suster Susi.


Wanita itu menatap ragu Dera. Wanita itu menatap lemah Susi. Sebelum kesadarannya hampir menghilang.


"Dia pingsan!" seru keras Suster yang memantau keadaan Dera.


"Hei! Cepat bawa anaknya ke belakang!" Teriak Mawar menggelar pada Susi dengan mata membesar.


"Ia harus sadar. Jika ingin anak ke duanya lahir!" ujar Dokter frustasi.


Dokter wanita ini tak pernah mau membunuh orang lain. Ini sangat menakutkan, ia di ancam mulai dari saat wanita ini hamil sampai melahirkan sekarang. Keluarga nya menjadi jaminan. Jika tak mati di tangan Mawar besar kemungkinannya ia mati di tangan Hiro Yamato. Jika Dera mati saat melahirkan. Sial sekali dirinya.


Dua Suster berusaha membawa kembali kesadaran Dera. Mawar mendesah pelan. Wanita itu menepuk dua kali bahu Dera.


"Dera! Aku tau kamu masih mendengar suara di sini. Bangunan lah, agar anak mu bisa lahir!" bisiknya pelan menyentuh alam bawah sadar Dera,"Putra tampan mu ingin melihat dunia. Putramu yang pertama akan lahir. Ia ingin lahir bangun lah!" lanjut nya.


Jari jemari Dera bergerak pelan. Sebelum ke dua kelopak mata Dera terbuka lebar. Tiga orang tenaga medis tersenyum lega.


"Nyonya mohon di dorong lagi!" ujar sang suster di samping kiri Dera.


Mawar masih berdiri di samping kanan sebagai pengamat. Wanita ini berkerja sangat keras untuk ini.


Rasa mulas kembali menghantam perutnya. Hinga tangis bayi menggelegar. Dada Dera kembang kempis dengan mata sayu. Tubuh dan pikiran nya lelah. Dua tepukkan kembali di rasakan. Menanam kan sugesti kembali di lakukan.


"Anak lelaki mu sudah lahir dengan selamat. Hari ini adalah hari terindah meski kau hampir mendapatkan kematian. Kau melahirkan dengan hebat tanpa kendala. Aku tak pernah di sini, yang di sini hanyalah para Dokter dan tiga orang Suster. Tidurlah, tidur lah saat kau bangun kau akan lebih baik. Buang ingatan jika aku dan bayi lain nya pernah ada. Jika mengerti kediapkan dua kali kelopak mata mu!" bisik Mawar memberikan perintah.


Dua kali Dera mengedipkan lemah kelopak matanya. Sebelum terpejam sepenuhnya. Mawar tersenyum lebar menatap Dera dan bayi yang baru di bersihkan.


"Kau berhutang dua kali nyawa pada ku, Dera! Ingatlah!" ujarnya tersenyum kecut.


Benar bukan. Wanita itu berhutang dua kali pada Mawar. Pertama saat di rumah besar, harusnya ia yang di tembak. Mawar rela menjadi tameng hanya untuk pengecoh, dan pura-pura sekarat. Dan ke dua, saat wanita ini hampir hilang kesadaran. Secara tak langsung Mawar punya andil besar di sini.


"Silahkan beri tahun keluarga nya. Dan ingat kalian semua, jika berani macam-macam maka kalian akan mati di tangan Dragon maupun Yakuza." Ancam Mawar sembari menarik pintu keluar.


Mereka serentak menggangguk pelan. Meski kedua mata terpejam sempurna. Indra dengar Dera masih mampu menangkap pembicaraan mereka. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.


Ke dua ujung mata Dera basah. Kepalanya pening, kilasan masa lalu berputar di kepalanya. Bibir nya mengerang pelan. Rumah besar hari ini sunyi. Hanya ada di kembar dan dua Ibu susunya di lantai dasar. Sean tentunya kembali bersekolah, Ke dua mertuanya di sibukkan dengan persiapan untuk Sean ulang tahun bulan dua Minggu lagi. Belum lagi persiapan tes besar Sean yang sesungguhnya. Sebelum mendapatkan Irazume di bahu kirinya. Sebagai putra mahkota Yakuza.


"Anakku!!" Seru Dera tersentak dengan linangan air mata. Dera linglung. Terduduk dengan tergesa-gesa turun dari ranjang.


Bruk!


Akh!


Dera mengerang kala terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Wanita itu kembali berdiri dan melangkah cepat keluar pintu kamarnya menuju anak tangga.


"Kak Hiro??" Teriak Dera keras sangat keras sembari menuruni anak tangga dengan cepat.


Beberapa Maid langsung menghampiri sang nyonya besar. Clara yang kebetulan berada di dapur besar melangkah setelah berlari mendekati Dera.


"Hei! Ada apa?" Tanya Clara mendekati Dera.


Kepala Dera berputar ke kiri ke kanan. Bak orang linglung.


"Clara! Di mana anak ku?" Tanya Dera menyentuh tangan Clara dengan keras.


"Sean tentunya sekolah. Launa dan Laura ada di kamarnya! Ada apa dengan mu?" tanya Clara dengan pandangan aneh.


Kepala Dera menggeleng cepat."Ti——Ti——tidak itu, Kakak nya Sean. Dimana dia?" Tanya Dera terbata-bata. Kepalanya berdenyut keras.


Kontan saja Clara dan beberapa maid lainnya menatap aneh Dera.


"Ah?" Clara tak tau harus berkata apa,"Kau bermimpi buruk kah?" tanya Clara pelan.


Dera melepaskan tangan Clara. Ia harus mencari sendiri, Clara tak akan tau. Ia melangkah cepat menuju pintu keluar utama tanpa alas kaki. Clara dan beberapa maid lainnya mengejar Dera yang terlihat kehilangan akal.


Sedangkan di tempat lain. Pria gagah itu menatap penuh makna pada pria paruh baya di depannya.


"Dia telah di amankan?" tanya Chou pelan.


"Ya. Aku juga sudah mengirimkan beberapa anak buah ke Texas. Dan untuk Hiro, kita akan segera bergerak memberitahu kan nya!" Ujarnya pelan.


"Terimakasih bantuan besarnya Tuan Zhao. Jika bukan karena anda pergerakan kami tak akan mulus," ujar Chou penuh syukur.


Carlos Zhao tersenyum tipis."Kami adalah keluarga. Apa lagi keponakan Sari juga keponakan ku!" Ujarnya dengan suara Husky seksi.


Chou mengangguk pelan. Ya, semuanya akan berakhir. Chou hanya berharap Leo tak bertindak gegabah sebelum ia dan yang lainnya sampai di Texas.


.


.


.


.


.


Bersambung..


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???