Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 29



Mohon Vote, Like dan Komen nya ya All...


Suasana Bandara Internasional Soekarno-Hatta sangat ramai. Bunyi bising mampu memekakkan telinga, namun meskipun begitu tetap mampu memanjakan mata semua orang. Pelukan di tubuh wanita paruh baya itu menciptakan senyum lembut di wajah Amanda. Wanita tua itu tersenyum mengusap punggung belakang sang putri. Sedangan di samping ke duanya, ada Hiro yang berbincang ringan pada Tuan Sandy. Romi terlihat menatap Sari yang terlihat masih asik dengan Ponsel barunya.


"Jaga diri baik-baik. Ingat! kau sudah menjadi seorang Istri dari seorang Suami. Patuh lah Pada Nak Hiro. Jangan membatah, jadilah Istri yang baik." Nasehat Amanda melepas pelukannya dari sang putri.


Dera mengangguk pelan. Manik mata Putri sulung Amanda-Sandy ini berkaca-kaca. Meski Dera merengek agar Ibu dan Ayahnya tinggal di Jakarta bersama dirinya. Ke duanya menolak ajakan Dera. Lantaran beralasan jika baik Romi maupun Sari masih harus meneruskan sekolah di Padang. Pertumbuhan di pulau Sumatera masih di akui sangat baik. Kotanya yang elok dan masakan yang enak dengan harga murah menjadi alasan Suami-istri itu betah dan tak ingin pindah.


Romi dan Sari juga menjawab sama. Mereka terlanjur nyaman dengan Kota Padang itu tawarkan. Hiro dan Dera tak bisa memaksakan kehendak mereka. Sekilas dari sudut ekor matanya. Hiro melirik wajah Dera. Istri nya terlihat menangis, tangan Ibu mertua nya tiada henti menyeka air mata Dera. Hiro merasa tak tega melihat bagaimana wajah sendu Dera.


"Jangan khawatir Nak Hiro. Dera memang sangat menyayangi Bundanya. Namun ia adalah wanita yang dewasa. Jarang memaksakan kehendak nya, baik pada kami atau pun dirinya. Papa harap Nak Hiro mau menjaga Dera dengan baik. Jika Nak Hiro dan Dera bertengkar mohon jangan memukul Dera. Ajari Dera dengan baik, Putri Papa sudah menjadi Istri mu. Papa mungkin tidak punyak hak lebih padanya. Jadi Papa mohon tolong lindungi, cintai dan jangan sakiti dia!" Papar Sandy meraih tangan Hiro dengan wajah penuh harap.


Hiro tersenyum lembut. Ia membalas genggaman tangan Ayah mertua nya. "Jangan khawatir Pa! Aku akan selalu melindungi Dera dan tidak akan pernah menyakiti nya." Jawab Hiro mampu membawa rasa sempit dan takut di hati Sandy menghilang.


Tidak ada kebohongan baik di nada yang Hiro keluarkan maupun di ke dua manik mata Coklat kelamnya. Lelaki di depan nya itu jujur teramat jujur. Sebagai seorang lelaki Sandy dapat merasakan kejujuran dan juga ketulusan Hiro. Dan sebagai seorang Ayah, itu membuat Sandy hampir menjatuhkan bening kristal.


"Terimakasih Nak Hiro!" Ucap Sandy dengan nada dalam.


"Aku yang berterimakasih Pa! Karena Papa dan Bunda sudah memberikan Putri terhebat kalian berdua padaku," balas Hiro dengan nada berat.


Percakapan mereka harus terpotong dengan suara pemberitahuan jika Pesawat Garuda tujuan Padang Sumatera Barat akan segera berangkat. Empat orang yang akan berangkat itu harus memasuki ruangan tunggu.


****


Bibir tebal seksi merah menyala itu menyesap teh hijau yang di sedu. Ruangan mewah bergaya Eropa klasik itu terlihat begitu hangat. Satu Keluarga duduk di depan wanita bertato mawar hitam itu dengan wajah beragam.


"Maafkan aku soal ketidak mampu ku dalam menjalin kerjasama kita Tuan William." Seru Kara dengan gerakan tangan meletakan cangkir teh hijau kembali ke meja kayu penghalang antara mereka.


Lelaki berdarah Eropa itu tersenyum kecil. Tidak dapat di baca kemana senyum ketua Mafia Dragon itu mengarah.


Tuan William menyandarkan tubuhnya senyaman mungkin di sofa. Sedang Yumi tidak buka suara, membiarkan sang suami mengambil alih pembicaraan serius ini.


"Aku dengar dia bukanlah gadis yang hebat," pada akhirnya William bukan suara. Setelah sekian lama diam.


Kara mengangguk pelan. Putranya memang bodoh, bagaimana bisa menikahi seorang wanita yang biasa-biasa saja. Tidak punya pengaruh apa-apa. Sungguh sangat mengesalkan di mata Kara.


"Dia mencintai gadis itu, dan aku tidak bisa berbuat banyak." Tutur Kara menyentuh bibir Cup Teh di atas meja.


"Tidak masalah. Kita bisa menyingkirkan gadis itu dengan mudah. Mengingat dia bukanlah gadis yang hebat. Tidak akan ada dendam yang di bayar kala gadis itu merenggang nyawa bukan?"


"Tentu."


"Perjanjian Bisnis kita masih bisa berlanjut."


"Ya." Jawab Kara pelan.


Wanita yang masih terlihat sangat cantik di usia tak lagi muda itu menegakkan tubuhnya. Menatap Mirabel. Gadis cantik yang begitu sempurna. Tidak ada cacat di diri gadis di depannya ini. Putranya saja yang buta! Harus nya Kara tidak memberikan izin untuk Hiro sampai ke Negera tropis itu. Hingga tidak perlu sakit kepala memusingkan pertengkaran nya dengan sang suami.


"Apakah Tuan Yamato sudah kembali ke Jepang?" seruan tanya itu bukan lagi berasal dari lelaki bernetra biru itu. Namun berasal dari Wanita asli Jepang. Yang berada di samping kiri Mirabel.


"Suami ku belum kembali ke Jepang. Masih ada beberapa hal yang harus dia urus di daratan Eropa," jawab Kara jujur.


Yumi Nakano tersenyum ganjil. Tangan tua itu menyentuh kuping Cup. Menyesap teh yang tak lagi panas, dengan gerakan angun. Sesama seorang istri ketua Mafia. Ia tau, sangat tau. Jika tak mudah berada di posisi masing-masing.


"Bukankah ini akan menjadi masalah saat Tuan Yamato pulang ke Jepang. Kita semua tau, jika kesetiaan adalah harga mati bagi seorang Mafia." Peringat Yumi dengan tangan gerakan meletakan Cup Teh ke atas meja.


"Hadiah?" ulang Mirabel pelan.


"Ya." Angguk Kara, dengan tangan menyodorkan empat buah foto ke atas meja mendekati keluarga Dragon itu.


"Apa ini?" tanya Mirabel dengan wajah tak paham.


Kertas foto itu di bergerak. Memperlihatkan wajah yang ada di dalam foto. Ke dua orang tua Mirabel ikut menatap di sertai dahi berlipat tipis.


"Itu adalah keluarga gadis itu. Dan hari ini adalah hari kematian mereka. Anggap saja sebagai hadiah permintaan maafku," jelas Kara.


Senyum puas mengembang di bibir Mirabel. Gadis ini merasa puas. Bahkan membayangkan betapa piasnya wajar Dera. Gadis sialan itu, gadis yang berani-beraninya bersaing dengan nya. Padahal mereka berada di tingkat yang berbeda.


***


Dengan telaten Dera meletakan makanan di atas meja. Di bantu oleh Maid, sedang Hiro baru saja selesai melakukan ritual sore. Asap sup membumbung tinggi. Menandakan betapa panasnya temperatur sup yang baru saja selesai di masak.


Langkah kaki yang mendekati meja makan membuat beberapa Maid menunduk hormat. Sebelum memberikan ruang privat bagi ke dua Nyonya dan Tuan besar untuk menyantap makanan dan berbincang-bincang.


"Kemana Clara dan Yeko?" Tanya Dera menyapu sekeliling. Tidak dapat ia tangkap keberadaan ke duanya.


"Mereka ada tugas baru. Nanti malah akan pulang," jawab Hiro tak terlalu menanggapi apa yang Dera tanyakan.


Bau makanan di atas meja lebih menarik perhatian. Dera tersenyum kecil melihat ke antusias Hiro pada makanan yang dirinya masak. Dengan telaten Dera menyendok nasi ke atas piring dan beberapa lauk pauk berserta sup yang ada. Sebelum menyendok nasi dan juga lauk pauk ke atas piringnya.


Hanya denting sendok dan garpu yang menjadi nada di antara mereka berdua. Tidak ada pembicaraan ringan. Hiro terlihat memiliki nafsu makan yang bagus. Dera yang sesekali menatap lahapnya sang suami menyantap makan buatannya bertanya-tanya sendiri. Meski Hiro makan dengan lahap. Suaminya ini tidak bisa gemuk. Itu membuat Dera tidak mengerti. Kemana larinya semua makan itu.


"Kenapa tidak makan?" seruan Hiro menyentak kesadaran Dera.


"Aku merasa kenyang saat melihat Kakak makan," aku Dera dengan jujur.


Hiro menguyah makanan dan meneguknya perlahan. Sebelum menjawab perkataan Dera."Kenapa begitu?"


"Terlihat begitu lahap. Namun tidak gemuk, sampai membuat aku yang melihat langsung kenyang," ucap Dera dengan wajah polos.


Hiro terkekeh pelan. Ternyata Istri nya memang sangat lucu. Sebanyak apapun Hiro makan, tentu saja tidak akan gemuk. Seluruh energi yang masuk akan keluar. Latihan yang ia jalankan bukanlah latihan ringan. Bertarung dengan banyak orang dan latihan Boxing yang ketat mampu membuat tubuh nya tetap bugar tanpa lemak.


Beda dengan orang yang makan banyak malas bergerak. Akan menciptakan lemak di tubuh dengan sangat mudah.


"Kau lupa latihan yang selalu aku lakukan?" tanya Hiro setelah tawanya mereda.


Bibir Dera terbuka. Benar! Ia lupa dengan latihan Hiro. Bahkan latihan yang Hiro ajarkan padanya saja hampir membuat Dera merasa mati. Ampuh menurunkan berat badan dengan cepat, mengempeskan perut buncit tanpa membuat yang latihan terlihat kurus kerempeng.


"Aku lupa." Balas Dera terkekeh di paksakan.


Hiro mengangkat tangan nya mengusap pipi Dera dengan gerakan lembut.


"Kamu terlihat kembali berisi." Ujar Hiro mampu membuat tubuh Dera menegang."Ayo lakukan lagi olah raga sehat." Lanjut Hiro masih mengusap pipi chubby Dera dengan gerakan pelan.


Dera hanya mampu menampilkan senyum lima jadi. Menampilkan deretan gigi rapi milik nya. Wajah nya terlihat enggan. Senyum jahil tercetak jelas di wajah tampan Hiro. Lelaki itu mendekatkan bibirnya ke daun telinga Dera. Berbisik pelan.


"Kalau kamu merasa malas olah raga pagi. Bagaimana kalau kita olah raga malam saja?" bisik nya,"Olahraga di atas ranjang tidak lah sulit. Suamimu ini akan mengajarkan semua gerakannya!" lanjut nya.


Sontak saja Dera tersedak air liurnya sendiri. Hiro tertawa keras, kala menjauh kan bibirnya dari daun telinga Dera.