
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
"Dera!"
Seruan berat di belakang tubuh nya membuat Dera membalikkan tubuhnya. Ke dua mata sipit untuk sempat membesar kala netra nya berbenturan dengan manik teduh Kevin.
"Kevin?" tanya Dera seakan meyakinkan jika pria di depannya kini benar lah Kevin Zhao.
Pria yang dulu di anggap teman. Kevin tersenyum. Sari menatap sang kakak dan pria di depannya berganti-ganti. Ia menemani sang kakak ke Supermarket Asia. Siapa sangka Dera malah bertemu dengan kawan lamanya. Dera mengulas senyum. Dengan perlahan membawa Sari yang menggandeng tangan nya mendekati Kevin.
"Lama tak bertemu, De! Kau terlihat semakin bahagia dan ceria," ucap Kevin pelan. Pria ini bahkan tak mampu menyembunyikan garis senyum di bibirnya. Meskipun Kevin tau ada banyak orang-orang Yakuza tersebar di Supermarket saat ini.
Wanita satu ini tentunya tidak akan pernah di lepaskan dengan mudah oleh Hiro. Mengingat betapa posesif nya seorang Hiro Yamato terhadap Dera Sandya. Wanita sekaligus Ibu dari anak Hiro. Tak masalah, jika ia di hajar habis-habisan setelah ini. Yang terpenting saat ini adalah rasa rindu yang di tabung di pecahkan saat melihat wajah Dera. Wanita yang telah sangat lama membuat hatinya terpikat.
"Lama juga tak bertemu Kak. Kau juga terlihat semakin tampan," balas Dera,"Dan kenalkan ini adikku, Sari!" lanjut Dera. Sebelum melepaskan genggaman tangannya dari sang adik.
Kevin menyodorkan tangannya. Di terima dengan baik oleh Sari.
"Sari!"
"Kevin!"
Ucap ke duanya serentak, tak lupa mengulas senyum. Sebelumnya ke duanya melepaskan tangan yang bertautan. Dan tersenyum lembut. Mata Kevin kembali menatap ke arah Dera. Ah! Salah kan saja pesona wanita satu ini telanjur membiusnya.
"Seperti nya kau hamil lagi," ujar Kevin,"Sudah berapa anak kalian, De?" tanyanya.
Dera mengelus pelan perutnya yang membesar. Bulan ke enam saja sudah terlihat benar-benar besar. Untuk satu minggu lagi seperti nya, Dera tak akan bisa kemana-mana lagi. Mengingat berat yang harus ia bawa kemana-mana.
"Untuk yang besar masih satu, untuk kelahiran ke dua ini akan langsung membawa dua orang Kak." Jawab Dera tersenyum semakin ceria.
Kevin menatap perut besar Dera. Hiro begitu beruntung bisa mendapatkan Dera. Meskipun ia sangat amat mencintai Dera. Cinta Kevin benar-benar tulus, setidaknya ia tak salah melepaskan Dera dahulu. Wanita yang ia cintai bahagia dengan pria yang selalu ia anggap sebagai rival abadi. Ya, bukankah saingan nya sampai akhir. Karena hatinya masih pada Dera namun hati Dera ada pada Hiro. Cukup miris.
"Selamat kalau begitu, Dera!"
"Terimakasih Kak!"
"Kak ayo kita harus memilih beberapa bumbu yang kakak butuhkan. Di rumah terlalu banyak orang yang menunggu kita," bisik Sari pelan.
"Ah, iya!" Dera terlalu senang bertemu dengan Kevin. Pria yang dulunya membantu nya,"Kak Kevin, aku harus segera berbelanja. Jika ada waktu mainlah ke rumah ku. Kak Hiro tidak akan marah perihal kedatangan mu," ujar Dera yang mendapat ringisan dari Sari.
Dera melangkah bersama Sari. Setelah pamitan. Yang benar saja, Sari dapat melihat bagaimana bawahan Hiro memberikan kode dari jauh. Untuk membuat Dera segera menyelesaikan pembicaraan ke duanya. Hiro sangat lah posesif pada Dera. Sari tau dengan sangat hal ini, tapi lucunya Dera seakan tak tau kegilan Hiro. Pria yang mampu mencongkel bola mata pria lain yang mengundang ketertarikan pada Dera.
Dan sang kakak dengan hebatnya mengundang pria tadi ke rumah. Dengan berkata Hiro tidak akan marah? Yang benar saja. Yang ada sih tidak marah di depan Dera. Tapi marah besar di belakang Dera. Hiro selalu dan selalu ingin menjadi sempurna di depan Dera. Hanya terlihat manis dan hangat di depan Dera. Di belakang Dera wajah aslinya benar-benar sangat menakutkan. Seperti apa Sean Yamato seperti itulah Hiro Yamato.
Jika Sean bertingkah lucu hanya di depan Dera. Maka Hiro hanya bertingkah hangat di depan Dera. Sari saat ini hanya mampu membantu dengan Doa. Semoga Hiro tidak murka pada pria tadi. Kasihan juga kan ya, tampan tanpa mata. Ah! Membayangkan nya saja bulu tubuh Sari berdiri.
***
"Spaghetti nya sudah jadi!" Seru Hiro membawa beberapa piring pasta Spaghetti di atas meja.
Sontak saja mata anak-anak di meja makan berbinar-binar. Hiro meletakan piring Dera dan Sean. Di susul beberapa maid yang meletakan piring yang lain nya. Yang berisi Spaghetti.
"Papa Hiro memang hebat!" puji David setelah menyesap aroma sedap dari Spaghetti yang baru saja di letakan di atas meja.
"Ya benar." kini giliran Delta.
"Papa Hiro memang bisa banyak hal. Tidak seperti Papaku!" sindir Cleo di meja makan.
Sontak saja Yeko melotot mendengar sindiran sang putri. Membuat orang-orang di meja makan terkekeh menatap wajah Yeko. Clara hanya mengeleng pelan, sudah mulai lagi pertengkaran kecil antara sang suami dan sang putri. Cleo suka kesal, saat sang ayah merebut perhatian sang Ibu dan sering memanjakan Cherry balita yang baru bisa membalikkan tubuhnya untuk tengkurap. Dan hal ini sangat membuat Cleo semakin kesal pada Yeko.
"Tentu saja. Papa siapa dulu," bangga Sean.
Hiro tersenyum lebar mendengar perkataan Sean. Untuk pertama kalinya ia mendengar kan sang putra berkata begitu. Biasanya Sean akan melakukan banyak hal untuk bisa lebih unggul darinya. Tapi malam ini seperti nya sang putra tak begitu.
"Menyenangkan mempunyai Papa yang seperti itu," seru Willem nyaris tak terdengar.
Berada beberapa hari di kediaman Yakuza membuat Willem sadar. Betapa irinya ia pada Sean, melihat kebahagiaan sang sahabat. Memiliki Papa yang benar-benar menyayangi nya lebih dari apapun. Meskipun beberapa kali ia melihat Sean mengusili Hiro. Pria itu terlihat tak pernah marah. Dan mempermasalahkan hal tersebut.
Memiliki Mama yang masih di samping nya. Dengan kasih sayang yang benar-benar tak pernah Willem dapat kan. Bukan hanya ke dua orang tua yang sempurna juga Paman dan Bibi yang sangat menyayangi Sean. Dirinya? Ia tidak punah siapa-siapa. Yang benar-benar bisa meletakan kepentingan nya di atas apapun. Papanya lebih mementingkan pekerjaan dan melindungi sang paman. Sedangkan sang Paman lebih memilih menghabiskan waktu untuk gila kerja. Tanpa sebab.
Sangat kesepian. Elusan di puncak kepalanya membuat Willem tersadar.
"Ayo makan, sebelum Spaghetti nya dingin!" Perintah Sari pelan.
Willem mengangguk cepat. Ia dengan cepat meraih sendok dan garpu. Beberapa candaan di lontarkan oleh David. Jika biasanya di meja makan rumah Yakuza itu Seanlah yang selalu melemparkan candaan konyol. Kali ini David lah paling aktif untuk membuat orang-orang di meja makan tertawa pelan.
Kekonyolan cerita David sangat menghibur. Diam-diam Sari melirik Leo dari sudut matanya. Pria itu ikut menimpali candaan David di temani oleh Sean. Melihat Leo tersenyum pria itu semakin tampan saja. Ah, tolonglah. Sari tambah tak bisa mengubur rasa pada Leo.
Cinta datang dan pergi begitu saja. Tidak dapat di kendalikan dengan mudah. Setidaknya, gadis satu ini sudah berusaha untuk tetap mengontrol diri untuk tidak bertindak gila untuk Leo. Namun sampai kapan ia akan bertahan seperti saat ini? Apa harus sampai pria satu itu benar-benar membuat hatinya mati pada rasa cinta?
.
.
.
.
Bersambung...