
Mohon Vote, like dan Komen nya ya all😊
Cerita ini akan semakin menarik untuk ke depan. karena konflik besar akan di mulai dari beberapa arah.
.
.
.
.
.
Deru napas terdengar teratur. Kicauan burung bernyanyi di pagi hari, menemani mentari pagi menyinari bumi. Sinar mentari terlihat mengintip di celah-celah gorden yang masih menutup kamar mewah itu dari cahaya yang mampu menganggu sang gadis itu tetap terlelap dengan selimut tebal membungkus tubuh mungilnya. Selain gadis yang masih bergelut di alam mimpi. Di kamar mewah yang di temani pencahayaan temaram itu, tak mampu menghalangi mata tajam itu menatap wajah gadis yang masih terlihat tak sadarkan diri itu.
Garis senyum kembali membingkai wajah tampan lelaki Jepang itu. Entah sudah senyum ke berapa puluhan kali selama satu jam ini. Dengan posisi tidur menyamping Hiro menatap wajah Dera penuh kebahagiaan. Bagi, lelaki ini tidak ada yang lebih membahagiakan selain menatap wajah Dera. Menatap wajah polos tanpa make up. Gadis yang selalu apa adanya, meski terkesan takut padanya.
Jari panjang milik Hiro mulai mengusik tidur Dera. Dengan senyum jahil yang tak pernah ia tujukan pada siapapun. Kini terlihat kala menganggu, gadisnya yang tengah terlelap. Bolehkan lelaki ini mengklaim jika gadis yang tengah terlelap dengan posisi menyampaikan menghadap ke arahnya itu adalah gadisnya?
Meskipun Dera tak pernah menganggap nya lebih. Bos Mafia ini berharap dan berharap Dera akan menjadi miliknya. Ah! Tidak. Bukan berharap, memang harus menjadi miliknya. Hiro Yamato, akan membuat Dera Sandya menjadi Istri nya satu-satunya. Setiap penghalang langkah nya, ia tak akan berbelas kasih.
Hiro memang cenderung melembut kala mencintai gadis ini kemarin. Cukup, ia tak akan melembut lagi. Hiro akan kembali seperti dulu, agar tidak ada yang berani melirik gadisnya. Apa lagi menyentuh gadis ini.
"Dera! Aku tidak akan lagi memberikan mu ruang untuk berpikir atau memilih. Karena hanya ada aku, dan aku. Kau milikku! Jadi jangan pernah melihat lelaki lain selain aku!" Ujar Hiro di sela jari jemari yang bergerak mengusap pelan pipi Chubby Dera.
Dapat terdengar erangan kesal dari gadis itu. Mendapatkan balasan erangan kesal, bukan marah Bos Mafia ini malah tersenyum semakin lebar.
"Bangun sayang!" Seru Hiro kala mata bulan sabit gadis itu terbuka. Hiro mendudukkan tubuhnya.
Dera menggeliat pelan. Menggerjab beberapa kali sebelum menatap lama ke arah wajah tampan Hiro.
"Kenapa Tuan di sini?" tanya dengan nada serak khas bangun tidur.
"Kenapa? Apakah tidak boleh?"
"Bukan. Hanya saja kan kita sudah—"
"Ya, aku tau. Karena itu Minggu besok kita akan menikah. Jadi jangan khawatir!" potong Hiro dengan nada tenang.
Gadis itu membeku. Seakan mencoba mengulang kembali perkataan Hiro.
"Menikah? Minggu besok?" ulangnya dengan ekspresi bodoh.
"Ya. Mama dan Papamu, lusa akan sampai di Jakarta. Dan untuk keperluan pernikahan tidak usah pusing. Semua nya sudah ku urus. Dan mulai sekarang kau harus memanggil ku sayang! Bukan lagi Tuan!" Jelas Hiro panjang lebar.
Hiro turun dari ranjang. Gadis itu terlihat semakin aneh saja. Hiro melirik Dera sekilas dengan ekor matanya. Tanpa harus membalik kan tubuh menghadap ke arah Dera. Yang masih berada di atas tempat tidur.
"Kau ingat siapa aku bukan Dera? Aku bukanlah lelaki biasa. Tidak ada yang tidak bisa aku dapat kan. Aku tidak memberikan mu pilihan. Ini adalah keputusan ku, cepat atau lambat kau akan tetap menikah dengan ku. Jadi tidak ada masalah untuk mempercepat nya. Tidak ada bantahan atau pun pembatalan. Karena kematian lah yang akan orang tersayang kau terima jika berani membantah." Paparnya sebelum melangkah keluar dari kamar.
Beberapa kali mata sipit itu terlihat menggerjab tak yakin. Kerutan halus di dahinya membuat kepalanya pening. Apa yang terjadi terlalu tiba-tiba. Kenapa lelaki Mafia itu bersikeras menikah dengan nya. Sungguh! Menakutkan hidup bersama Hiro.
***
"Astaga!" Seru Dera hampir saja terjengkang kebelakang kala ia membalikkan tubuhnya ke arah pintu.
Setalah banyak nya pertimbangan. Dan berpikir, ia memutuskan untuk berbicara dengan Hiro. Dari hati ke hati, siapa saja Hiro mau mengerti dirinya. Siapa sangka ia malah terkejut dengan kehadiran Leo. Yang menatapnya dengan pandangan aneh.
Telapak tangan gadis itu terlihat menenangkan jantung nya yang sempat olah raga sedikit. Ia menatap Leo dengan pandangan tak percaya. Akhirnya, lelaki itu masuk juga ke dalam ruangan. Duduk di sofa yang ada di ruangan persegi panjang dengan banyak rak buku di bagian utara.
Dera membalik kan tubuh nya mengahap ke arah Leo. Yang di atap malah terlihat biasa saja.
"Kenapa tidak duduk?" seru Leo dengan nada berat khas milik nya.
Terdengar hembusan napas kasar yang di hempaskan melalui mulut. Gadis itu bergerak, melangkah mendekati sofa. Duduk tepat di depan Leo. Lelaki tampan itu meletakan beberapa tumbukan buku di atas meja. Yang menjadi penghalang antara ia dan Leo.
"Kenapa Kak Leo malah ada disini?" Tanya Dera dengan dahi berlipat. Dera pikir ia tidak memerlukan pelajaran dari Leo lagi. Namun siapa sangka seperti nya ia masih akan berurusan dengan Leo.
"Tentu mengajar," jawab Leo acuh.
"Ya. Aku tau, tapi bukanya seperti nya aku tidak lagi harus belajar bahasa Jepang?"
Leo tak memberikan jawaban lelaki itu malah menyandarkan tubuhnya belakang nya di sofa. Melipat ke dua tangannya di depan dada dengan pandangan yang tak terbaca ke arah Dera.
"Bukankah kau akan menikah dengan Hiro seminggu lagi?"
"Bag——"
"Tentu aku tau, Clara yang menghubungi ku untuk kembali mengajar. Kau tau, menjadi seorang Istri Mafia. Kau bukan hanya harus belajar bahasa Jepang. Kau juga harus belajar banyak bahasa. Dan yang terpenting di sini adalah, fisikmu akan di latih menjadi kuat. Seperti menembak, boxing dan juga menjadi kejam." Jelas Leo dengan seringainya.
Bulu tubuh Dera terasa berdiri. Bahkan air liur yang masih di kerongkongan tak dapat ia telan. Menjadi kejam? Itu bukanlah diri nya.
***
"Tidak ada yang salah yang di katakan oleh Leo," ucap Clara kala Dera menanyakan apakah yang di katakan oleh Leo adalah kebenaran hanya untuk menakut-nakuti nya saja
Wajah gadis itu langsung pucat pasi. Lehernya terasa kaku seketika. Tubuh nya melemah, tergolek di tempat tidur. Clara tersenyum lembut.
"Tapi jangan takut. Bos tidak akan melakukan dua hal padamu. Dalam artian lain adalah, kau tak perlu berlatih tinju dan juga menjadi kejam. Namun dia lagi kau harus melakukan nya. Kau harus jitu menebak dan juga harus bisa menguasai banyak bahasa agar bisa setara dengan Bos," papar Clara dengan lembut.
"Kalau aku masih tidak bisa?" tanya Dera Semangat. Berharap ada perpisahan jika pada akhirnya ia tak bisa menguasai hal yang memang harus di kuasai oleh Istri seorang Bos Mafia.
Clara terlihat berpikir, terlihat dari dahinya berlipat dan bola matanya terangkat ke atas.
"Tidak masalah. Karena Bos bukan lah orang yang bisa dan mudah di bantah kan. Peraturan adalah seorang pemimpin yang membuat. Jadi jika Bos yang mentiada kan peraturan, tidak akan ada yang bisa protes. Karena Bos bukanlah lelaki biasa. Nanti jika sudah menikah kau akan melihat ada sudut yang tak bisa kau lihat saat ini. Ada pandang yang lain tentang ke hebat bos." Jawab Clara dengan penuh semangat tersenyum lebar kala kata berakhir.
"Bagaimana dengan perceraian. Apakah perceraian juga ada dalam kalangan Mafia?" tanya Dera antusias kala beberapa menit terdiam.
Bibir Clara terbuka namun suara bas menghentikan laju yang akan ia lemparkan.
"Tidak ada perpisahan bagi seorang Mafia. Jika pun ada, perceraian yang kau maksud mungkin adalah kematian." Ujar Hiro dengan langkah lambat mendekati ke dua gadis yang ada di tempat tidur.
Clara yang duduk nyaman di tempat tidur Dera langsung turun dari atas ranjang. Sedangkan Dera yang tadinya tergolek nyaman di atas tempat tidur kembali bangkit dan duduk.