Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 14




.


.


.


.


Gedung perusahaan pencakar langit terlihat gagah di tengah-tengah ibu kota Jakarta, Indonesia, manik mata coklat dingin membelakangi sang bawahan. Setelan jas hitam melekat menambah kegagahan bos besar Yakuza yang kini menjadi bos besar perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia, Dalam hitungan bulan nama perusahaan Yamato langsung melejit menjadi perusahaan terbesar mengalahkan perusahaan Freeport.


Hiro menatap laju kendaraan di bawah sana. Hembusan napas teratur terdengar samar-samar.


"Bos! Tadi pagi Tuan besar menghubungiku ingin berbicara dengan Bos," lapor Yeko dengan wajah serius.


Hiro membalikkan tubuhnya menghadap sang bawahan dengan mata tajam. Tak biasa ayahnya menghubunginya, hubungannya dan tuan besar Yamato memang agak dingin. Lelaki tua itu terlalu keras padanya, apa yang diinginkan selalu harus terkabul kan. Keotoriterannya membuat Hiro muak dengan sang ayah.


"Apa yang di inginkan nya kali ini?" tanya Hiro dengan nada serat akan ketidaksukaan.


Yeko menatap lama wajah sang bos, sebelum membuka mulutnya. Ia yakin sang bos akan merasa kesal dengan apa akan ia sampaikan.


"Tuan besar mengatakan untuk menjaga Nona Nakano. Pesawat Nona Nakano akan mendarat malam nanti Bos," jawab Yeko dengan nada hati-hati.


Sontak saja wajah Hiro berubah semakin dingin, ia tahu pasti sang ibu sudah mengadukanmya pada sang ayah. Hingga lelaki tua itu mengirim anak dari sahabatnya ke Indonesia. Sungguh sangat memuakkan, manik mata Hiro bersembunyi di balik kelopak mata. Hiro mencoba meredamkan amarah yang kini bergejolak di dadanya.


Mirabel Nakano adalah gadis cantik berdarah Jepang-Texas. Dimana orang tua gadis itu jugalah seorang mafia. Mafia yang menjalin hubungan erat dengan Yakuza, selain tuan Nakano dan Yamato bersahabat. Tuan besar Nakano masih menjadi seorang bos mafia di usia yang terbilang senja. Kehebatan lelaki itu tak bisa diremehkan, terbukti tidak ada yang bisa menggeser keduduknya. Hingga sekarang masih tetap sama, dan memiliki kekuatan yang sama.


"Bos," panggil Yeko pelan.


Manik mata tajam mulai terlihat berkali-kali lipat. Hiro tidak menyahut, ia melangkah menuju kursi kebesarannya. Duduk dengan angkuh di sana.


"Jemput dia nanti malam. Dan perlakuan dia dengan baik," tutur Hiro dengan berat hati.


"Baik Bos!"


"Tolong antarkan Dera ke apartemen yang baru. Dan biarkan Mirabel di rumah."


"Jika Nona Nakano menanyakan keberadaan Bos?"


"Katakan aku ada urusan di luar kota. Kau mengerti, bukan?"


"Baik Bos! Akan aku laksanakan. Mohon undur diri Bos," ujar Yeko sebelum menunduk hormat sebelum membalik tubuhnya. Meninggalkan ruangan kantor megah itu.


Hiro mengetuk jari telunjuknya di atas meja kaca, manik mata coklat tajam nan dingin itu terlihat gelisah. Mirabel bukan gadis sembarangan, menghadapi Mirabel bagaikan makan buah simalakama. Jika dilayani dengan tidak baik akan berakibat buruk dengan kerjasama antara dia dan mafia Dragon itu. Namun, jika ia melayani dengan baik maka akan ada pernikahan antara dia dan Mirabel. Gadis itu memang tergila-gila padanya. Namun, Hiro tak pernah mencintai gadis itu. Hanya sebatas kagum, melihat bagaimana ketangkasan dan keberanian seorang putri mafia.


Gadis itu begitu tangguh, dinilai pantas menjadi pendamping seorang Hiro Yamato. Selain itu, banyak gosip yang beredar jika ia akan menikahi gadis itu. Sungguh sial sekali, bukan? Hubungannya dengan Dera belum masuk ke tahap yang serius. Malah datang gadis yang akan mengguncang kuat hubungannya dan Dera. Bagaimana pun, gadis yang ia cintai itu tidak akan mampu menghadapi gadis sekuat Mirabel.


Jangan lupakan jika Dera masih belum mencintainya, gadis itu belum ditaklukkan olehnya. Bagaimana cara Hiro mempertahankan Dera di sisinya, tanpa membuat gadis itu mencintainya. Maka hubungan mereka akan kandas dengan sangat mudah. Mata Hiro kembali terpejam, giginya bergemeretak kuat menandakan sang pemilik tubuh tengah dalam emosi yang tidak stabil.


Di lain tempat Dera menatap malas guru bahasa Jepangnya, Leo menutup buku paket yang ia bawa. Menatap wajah Dera yang terlihat tak fokus.


"Ada apa denganmu?" tegur Leo dengan keras.


"Astaga!" Seru Dera masih mengusap dadanya. "Tuan tolong kalau ingin menegur itu jangan terlalu keras. Pelan-pelan saja, jangan seperti itu. Aku hampir mati serangan jantung tahu," protes Dera dengan wajah kesal.


Leo terkekeh pelan gadis itu saat marah ternyata lucu juga, melihat lelaki di depannya itu terkekeh membuat hati Dera semakin dongkol saja. Gadis itu merenggut kesal.


"Sangat menyenangkan, kah? Membuat aku kesal!" Dera mendekus dengan dagu terangkat.


Leo menghentikan tawa kecilnya, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya. Wajah tampan yang begitu menggoda itu tak pernah membuat Dera menjerit kesenangan kala lelaki itu tersenyum. Meski ketampanan Leo setara dengan aktor tampan luar negeri, bagi Dera yang bisa memberikan pengaruh lebih hanya sang dokter tampannya saja. Jadi pesona Leo tak masuk hitungan.


"Kau terlihat lucu saat kesal," aku Leo jujur dengan senyuman menyeringai khas miliknya.


Bibir Dera mencabik. "Memang Tuan pikir aku badut apa? Hingga bisa lucu," cibir Dera dengan nada sinis.


"Tidak. Siapa bilang kamu seperti badut," jawab Leo santai. "Kamu lebih seperti topeng monyet kalau lagi kesal," lanjutnya hampir mendapatkan sepatu terbang dari Dera jika saja gerakan refleksnya tak hebat.


Lihatlah sepatu sneaker Dera tersangkut di atas meja di depannya, wajah Dera terlihat marah. Lelaki Cina itu mencibir.


"Tidak kena!" Serunya dengan cibiran di akhir.


"Wah! Kau mau mat,i ya!" teriak Dera menggelegar dengan posisi berkacak pinggang.


"Memang kau bisa membunuhku?" tantang Leo dengan wajah yang ribuan kali menjengkelkan.


"KAU!" Dera berteriak dengan jari telunjuk runcing.


Leo tersenyum sinis, Dera langsung berlari mengejar Leo. Lelaki itu tidak diam. Aksi kejar mengejar menjadi tontonan bagi para penjaga rumah, ada yang menggeleng  kepala pelan melihat keduanya. Ada juga yang merasa terhibur dengan aksi ke uanya. Jarang-jarang mereka melihat kegilaan Dera. Biasanya saat bersama Hiro sang bos, gadis itu selalu duduk dengan tenang tak pernah memperlihatkan ke bar-barannya seperti saat ini.


"Ber——henti!" Dera berseru di sela larinya mengejar Leo.


Lelaki itu tidak berhenti malah semakin cepat larinya, Dera bukanlah pelari yang ahli. Ia benci berolah raga bahkan saat masih sekolah ia selalu mencari waktu untuk kabur.


"Wo——y... tunggu!" Dera berhenti dengan posisi berjongkok kehabisan napas. Gadis itu terlihat mengatur napas.


"Kau adalah binatang peliharaan yang lemah, kitty," ejek Leo dengan mata meremehkan.


Dera mengerang kesal, bagaimana bisa lelaki itu mengejeknya seperti itu. Sudah dibilang monyet malah dibilang binatang peliharaan. Wah! Teman mafia itu memang sangat menyebalkan.


"Jika kau tertangkap. Kau akan aku jadikan makanan untuk peliharaan tuanku," ancam Dera.


"Silakan saja!"


...***...


Makanan yang dihidangkan di atas meja membuat gadis ini lupa diri, padahal ia mau bertanya kenapa ia harus pindah ke apartemen mewah. Padahal di rumah itu lebih bagus dan lebih luas. Jika di apartemen ia hanya bisa di dalam rumah saja, lelaki di depannya ini pasti tidak akan mengizinkannya keluar dari apartemen.


"Makan yang banyak!" Seru Hiro meletakan tusuk sate ke atas piring yang sudah terdapat banyak makanan.


Dera mengangguk tanpa menjawab. Gadis itu melahap beberapa makanan yang terhidang. Makanan khas Indonesia menang lebih menggugah selera daripada makan makanan luar negeri. Sesekali tangan Hiro bekerja. Baik merapikan anak rambut yang nakal dan bahkan mengusap sudut bibir Dera yang terkena sisa makanan.


"Pelan-pelan saja. Tidak akan ada yang merebut makananmu," titah Hiro sebelum mengusap puncak kepala Dera.


Gadis itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia masih makan dengan lahap membuat sudut bibir Hiro tertarik ke atas. Melihat gadis ini makan dengan lahap membuat ia merasa kenyang saja.