Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 11



Mohon Dukungan nya, All^^



.


.


.


.


.


"Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Hiro dengan nada tergesa-gesa.


"Tenang saja Bos, Nona ini baik-baik saja. Hanya goresan dikit saja, untuk luka goresan bisa diberikan salep saja sudah cukup," terang wanita berusia tiga puluh empat tahun itu dengan penuh hormat.


Helaan napas lega mengalun, dokter itu menunduk hormat sebelum melangkah meninggalkan kamar mewah itu. Meninggalkan dua orang berlainan jenis. Hiro melangkah mendekati ranjang, ia duduk di tepi ranjang. Tangan putih berotot itu terangkat mengusap perlahan leher yang di perban.


"Kau memang sangat nakal," gumam Hiro pelan. "Jika kau melakukan kegilaan lagi. Maka aku akan menghabisi seluruh keluargamu," lanjutnya.


Meski gadis itu tak mendengar ancaman Hiro lelaki ini tak peduli, ia sungguh kalang kabut kala tahu Dera menghilang begitu saja saat di bawa keluar rumah. Melihat keindahan kelopak bunga yang berguguran menjadi kesempatan untuk Dera kabur, gadis itu sebenarnya tidaklah kabur dan tidak ada niatan kabut. Hanya saja, ia merasa sangat bosan dan tak suka dikawal.


Pertemuan tak sengaja dirinya dan Kevin. Dan tawaran main dari Kevin, begitu mengiurkan untuk ditolak. Apalagi lelaki itu tak begitu berbahaya bagi Dera. Keduanya bermain dengan sangat gembira. Namun, selesai itu ada harga mahal yang harus mereka tanggung. Hampir saja nyawa Kevin melayang di tangan Hiro.


Dulu sekali, Hiro tak terlalu menganggapnya, tidak ingin meladeni ketidaksukaan Kevin padanya. Lelaki itu sendiri yang menyatakan jika Hiro adalah rivalnya. Sedangkan Hiro tak merasakan hal yang sama, Hiro memang lelaki yang sempurna baik secara fisik dan otak. Banyak gadis-gasdis tergila-gila padanya namun, dinginnya sikap Hiro pada banyak gadis yang berusaha mendekatinya. Membuat mereka tak terlalu berani lebih dari menyapa.


Meskipun ada beberapa gadis yang sangat berani menawarkan kencan. Bahkan one night stand dengannya secara suka rela. Mengumbar keperawanan mereka. Sayangnya, Hiro Yamato bukan penikmat wanita. Lelaki berkulit pucat itu adalah penikmat ring tinju dan juga darah.


Lahir dan tubuh di dunia gelap membuat Hiro lebih pendiam tanpa kata. Namun, langsung dengan tindakan, tidak banyak kata yang keluar dari bibirnya. Ia sangat jarang marah secara langsung, memperlihatkan ekspresi kemurkaannya bukanlah dirinya. Ia adalah lelaki yang terpelajar dalam mengontrol ekspresi wajah.


Dari kecil ia sudah diajarkan bagaimana mengendalikan ekspresi wajah, agar tidak bisa dibaca oleh lawan bicara. Tidak menampilkan wajah marah sedikit pun. Agar musuh tidak mengincar apa yang menjadi kelemahannya. Dan kini, ia tak lagi bisa bersembunyi serta menyembunyikan siapa yang terpenting dalam hidupnya.


Gadis yang ia usap, gadis berpipi chubby itu adalah salah satunya. Tentunya setalah ibunya, sebagai seseorang yang penting dalam hidupnya. Gadis itu akan selalu dalam bahaya kedepannya. Karena tidak ada rahasia di dunia ini. Musuhnya begitu banyak, dan itu bukanlah segelintir orang saja.


Erangan perlahan, dan gerakan merenggangkan tubuh dari gadis yang berambut sebahu itu menampilkan senyum tipis di bibir Hiro. Dera membuka kelopak matanya perlahan sebelum menutupnya kembali. Ia menggerjab beberapa kali, menyesuaikan pencahayaan yang di terima oleh retina mata.


"Sudah bangun, kucing nakal," tutur Hiro dengan nada pelan. "Kau melupakan jika ada yang harus kau kerjakan sebagai hukuman. Menantangku dan bahkan kabur dariku," lanjutnya.


Tubuh Dera menegang, bahkan ia tak bisa meneguk saliva yang tertahan di kerongkongan. Hiro turun dari tempat tidur berdiri di samping ranjang. Menatap Dera dengan ekspresi dingin.


"Kau tidak turun?" tanya Hiro dengan nada dingin.


Sontak saja gadis itu langsung meloncat turun. Seperti binatang peliharaan pada umumnya. Wajahnya terlihat mengiba mencoba membuat sang tuan iba. Dan tak jadi melakukan hukuman.


"Jangan memasang wajah seperti itu. Kau kucing nakal yang memang harus dihukum," tutur Hiro membuat Dera berkeringat dingin.


"B——bos!" panggil Dera tergagap. "Bisakah hukumanku kali ini tidak dengan hal yang menakutkan?" tanya Dera mengiba.


"Kau coba tawar menawar denganku, huh!"


"Tidak. Bukan begitu."


"Lalu seperti apa?" tanya Hiro.


Hati Hiro terasa tergelitik melihat ekspresi Dera yang begitu menggemaskan. Rambut yang acak-acakan, upil masih menempel di kedua sudut matanya dan bekas busa air liur yang masih terlihat. Bagi sebagian orang itu terlihat begitu menjijikkan dan membuat ilfill. Namun, jika sudah cinta seperti apapun kondisinya akan terlihat mengemaskan dan cantik. Bukanlah cinta itu buta?


"Bos," rengek Dera membuat tawa yang dari tadi ditahan mengelar.


Di luar pintu Clara dan Yeko saling tatap. Mereka tak mengerti bagaimana bisa Hiro tertawa lantang dan lepas seperti itu. Apakah Dera memang berada di dalam hati sang bos, hingga ia melupakan kemurkaan yang terjadi kemarin. Cukup kacau apa yang terjadi kemarin sore. Namun, pagi ini malah seakan tidak ada yang terjadi.


"Aku iri," tutur Clara begitu saja.


"Meskipun Bos mencintainya. Namun, dia tak akan bisa bersama dengan Bos. Dia dan Bos dari dunia yang berbeda. Dia akan selalu dalam bahaya jika bersama Bos. Wanita yang harusnya bersama seorang Bos Yakuza adalah wanita yang kuat dan tangguh," ucap Yeko.


"Semoga saja Dera tak menyukai Bos. Karena itu akan sangat menyakitkan baginya," lirih Clara.


Menyusuri jalan setapak diapit oleh sungai kecil dan pepohonan Sakura terasa begitu romantis. Genggaman tangan hangat mampu menghalau udara dingin. Telapak tangan keras besar itu membawa telapak tangan kecil kedalam saku jasnya. Keduanya berhenti di tepian sungai. Meski agak terasa tak nyaman bagi Dera. Gadis itu tak berani protes. Kala Hiro memeluk tubuhnya dari belakang. Dagu runcing kokoh itu bertengger indah di puncak kepala Dera. Hembusan napas ke duanya menciptakan uap.


Kelopak bunga Sakura berguguran di sapu angin. Menari bersama angin sore, detak jantung di belakang tubuhnya dapat di dengar dengan jelas oleh Dera. Hiro merasa begitu nyaman dan hidup. Hangat, sungguh sangat hangat. Dia ingin gadis ini, gadis yang tidak cantik ini. Dia ingin gadis yang ia peluk saat ini. Boleh kah? Ia membawa masuk gadis ini lebih dalam lagi dalam ke kehidupannya. Membawa Dera dalam kegelapan bersamanya. Membiasakan kedua indra dengar Dera dengan bunyi keras tembakan dan luncahan kasar. Membawa netra coklat Dera berkenalan dengan warna merah pekat. Membawa pencium Dera dengan bau amis.


Hiro Yamato bertanya-tanya akan hal itu, ia tak bisa melepaskan gadis ini. Awalnya ia hanya berniat bermain-main saja. Membawa gadis ini ke dalam hidupnya. Ia pikir ia tidak akan melibatkan hati di sini, karena gadis ini tidak cantik dan mempesona. Siapa sangka! Tidak gadis cantik saja memiliki pesona.


Gadis biasa memiliki pesona yang menebarkan, kesederhanaan yang mampu membenamkan dirinya. Kehangatan yang begitu membuat terlena, kenyamanan yang ditawarkan membuat Hiro terlena. Bagaimana tidak? Dera sering kali membuatkannya masakan yang begitu enak.


Meski tidak mewah namun rasa rumahan yang di tawarkan membuat lidah tak bisa berkelit. Dera yang sering kali memberikan kenyamanan kala Hiro letih. Tak jarang gadis itu memijit kepalanya, dan bertanya apa yang membuat nya lelah dengan senyum lembut ditengah rasa takutnya.


Kala ia pulang dari pembantaian. Wajah Dera yang menyambutnya dengan senyum. Tidak masalah meskipun senyum itu di paksakan, bagi Hiro itu terasa begitu hangat dan nyaman. Apa yang Dera lakukan dengan tulus. Tidak pernah ada maksud jahat. Hanya ada maksud agar ia dan orang-orang yang disayangin aman.


"Kapan kita akan kembali ke Indonesia Tuan?" tanya Dera takut-takut.


Mata yang sempat dipejamkan terbuka perlahan. Manik mata coklat kelam itu terbuka terlihat semakin jelas.


"Dua hari lagi," jawab Hiro pelan.


"Ah! Apakah Tuan masih marah?" tanya Dera hampir berupa gumaman karena saking pelannya.


"Menurutmu?"


Dera melepaskan tangan Hiro, lelaki itu menegakkan tubuhnya. Gadis berkulit sawo matang itu membalikkan tubuhnya ke arah Hiro.


"Jangan marah. Aku hanya merasa bosan saja saat itu. Lagi pula Tuan Zhao tidak melakukan hal buruk. Dia menghabiskan uangnya untuk membelikan saldo permainan," papar Dera jujur.


"Saldo permainan?" ulang Hiro pelan.


"Ya." Dera menjawab dengan mengangguk keras.


"Kau suka bermain permainan?" tanya Hiro penasaran.


"Ya. Aku sangat suka," jawab Dera antusias.


"Begitu ternyata," paham Hiro.


Dera tersenyum lebar ia tahu Hiro pasti akan mengerti, ia masih menatap gelagat Hiro. Hiro merogoh sakunya. Mengeluarkan benda persegi panjang. Menekan tombol panggil dengan menempelkan ponsel di telinga kanannya. Kala nada tersambung berbunyi dengan keras. Dera mengerutkan pangkal hidungnya.


"......."


"Renovasi ruangan rumah di Indonesia. Buat area bermain di sana. Dan jangan sampai ada yang tidak ada," titah Hiro membuat kepala Dera pening seketika.


Tanpa mendengar jawaban dari anak buahnya. Hiro memutuskan sambungan. Ia tersenyum pada Dera menyimpan kembali benda persegi itu. Menarik Dera masuk ke dalam pelukannya.


"Sekarang kau tidak akan rasa kesepian. Aku akan ikut bermain denganmu," tutur Hiro dengan bangga.


Jika Hiro merasa bangga. Maka Dera Sandya merasa pusing. Orang kaya memang beda. Bisa bertingkah dan bertindak sesukanya.


.


.


.


.


.


.


Mohon Dukungan nya dan Komentar nya ya all... biar semakin semangat mengupdate cerita nya😉😉💪


Dan terimakasih telah membaca dan memberikan dukungan nya😉😉😉❤️