Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 91 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


.


.


Derap langkah tak mampu di tangkap oleh rungu. Setiap langkah kaki yang di ambil sangat lah ringan. Wajah letih nyaris memucat, bibir yang semula berwarna merah merekah tak lagi terlihat. Kelopak mata terpejam erat, rasa nyeri menghantam diri. Tempat tidur terasa memberat, membuat sang pemilik tubuh membuka ke dua matanya.


"Seperti nya, Bos harus memakai penawar rancu!" ujar pria bermata biru terang dengan pandang sendu.


Tidak ada gelengan di kepalanya. Ia tidak boleh lemah. Ia harus kuat, agar sang Ibu mencintai nya dan bahagia. Bagi Mirabel, kekuatan Vian adalah ke bahagian dan kebanggaan.


"Jangan! Mama taunya aku kebal pada racun, Gio!" cegah Vian lirih.


Pria bertampang sangar itu menghembuskan napas kasar. Ia bergabung dengan Mafia Dragon beberapa tahun ini. Pria satu ini adalah lulusan ilmuan obat dan racun. Meneliti berbagai jenis racun dan penawar. Dari racun yang biasa sampai yang luar biasa.


Bagi beberapa orang, Gio adalah ancaman. Mengingat keahlian pria ini mengolah racun dan obat dalam waktu bersamaan. Ia hampir meregang nyawa, kala itu. Jika bukan di selamat kan oleh kelompok Dragon. Mungkin Gio Barbara hanya akan tinggal nyawa. Kelompok Mafia itu menawarkan kerjasama. Saat itulah ia pertama kali melihat Vian Yamato. Anak yang berusi lima tahun yang penuh dengan luka.


Pengajaran dan pertarungan terus di lakukan. Bukan hanya untuk menjadi penerus kelompok Dragon yang besar. Tapi anak ini seakan di persiapkan sebagai senja yang hidup. Itulah yang terlihat di benak Gio saat itu sampai saat sekarang ini.


"Baiklah. Aku akan di sini menunggu mu, Bos kecil! Jika kondisi mu tidak baik. Maka aku akan langsung menyuntikkan penawar nya!" ujar Gio dengan nada berat.


Vian tak menyahut. Anak itu terlihat masih bertarung dengan racun baru yang di ciptakan olehnya. Racun pada level tertinggi, jika Vian Yamato mampu mengalahkan racun ini. Maka Vian akan benar-benar akan kebal pada racun apapun.


***


Hiro mengusap pelan pipi Launa, anak bayi itu kini menyusui pada sang istri. Dera tak lepas tangan, meskipun Hiro memberikan Ibu susu untuk si kembar. Bagi Dera anak-anak nya, sudah pasti ia lah yang akan mengurus. Meski akan merepotkan ia akan tetap menjalankan peran nya sebagai seorang istri dan Ibu.


"Jangan menoel pipinya begitu, Kak! Nanti dia jadi kesal." Peringat Dera mencubit pelan punggung tangan sang suami.


Hiro pura-pura merintih pelan. Membuat Dera mencibir. Ke dua manik mata coklat bening Launa hanya menatap sang Ibu dan Ayah bergantian. Tidak mempermasalahkan tingkah ke duanya. Launa Yamato memanglah bayi yang lebih kalem. Di banding dengan Laura, sang adik. Bayi perempuan satu itu, sangat pemarah.


Lama sedikit saja mengantikan popoknya, maka ia akan membuat seisi rumah mendengar kan suara nyaring. Bahkan Sean merasa minta ampun dengan keras dan jernihnya suara Laura. Terbangun karena di ganggu, jangan berharap akan mendapatkan seulas senyum. Laura akan menangis keras sebelum merengek.


Tidak ada yang tau bagaimana Laura Yamato tumbuh nantinya. Kecil nya saja sudah suka membuat gendang telinga pecah apa lagi kalau sudah dewasa.


"Launa memang sangat lucu ya, apa lagi kalau dia tersenyum. Aku jadi semakin gemas," ujar Hiro menatap gemas sang putri.


Dera terkekeh pelan."Bagiku, lebih lucu Papa nya!" goda Dera.


Sontak saja, Hiro memasang tampang genit. Meringsut semakin mendekati sang istri. Dera mengerutkan keningnya, melihat tingkah aneh Hiro.


"Seperti nya, Launa sudah selesai menyusui. Aku akan memindahkan nya ke kamar nya!" Ujar Hiro dengan mengulurkan ke dua tangannya.


"Launa masih menyusui Kak, lagipula setelah Launa giliran Laura lagi yang menyusui!" peringat Dera melihat keanehan sang suami.


Kontan saja ke dua mata Dera membesar. Sebelum beberapa detik, tangan yang kanannya yang bebas bergerak. Memukul-mukul kesal bahu Hiro. Pria satu ini malah tertawa keras mendapatkan pukulan sayang dari sang istri. Launa hanya diam, tak lagi menyesap kala sang Ibu memukul sang ayah. Di ambang pintu, Sean berdiri dengan berkacak pinggang.


Kesal? Tentu saja. Apakah orang-orang mulai mengabaikan nya. Sang Nenek dan Kakak sibuk dengan Laura di kamar bayi. Sang ayah malah sibuk di kamar memanapoli sang Ibu. Sari malah tengah sibuk dengan acara nikahnya. Leo tak tau di mana Padang rimba nya? Dan Sean Yamato? Tak tau apa yang harus di sibukkan.


"Ah!"desah Sean pelan,"Apa aku menganggu Jumbo dan Jery saja? Biarkan lah menganggu Buaya kawin dari pada melihat Papa menganggu Mama!" Lanjut nya dengan memonyongkan bibir merah merekah miliknya.


Belum sempat ia berbalik dengan pundak yang jatuh karena mengasihani diri sendiri. Yang tak lagi di acuhkan. Panggilan di dalam membuat Sean membalikkan tubuhnya.


"Sean!"


Sean membalik kan tubuh dan merubah raut wajahnya menjadi ceria dan mengemaskan.


"Mama!" balasnya dengan senyum lebar.


Seperti nya Launa telah selesai menyusui dan berada di tangan Hiro. Lucunya, kenapa wajah Hiro berubah cemberut dan masam. Tidak peduli, Sean melangkah setengah berlari mendekati Dera. Sang Ibu tersenyum dan menepuk kasur di samping nya.


"Bawa Launa ke kamarnya ya kak! Dia sudah saatnya tidur!" titah Dera dengan wajah setengah menggoda.


Meski kesal karena kalah. Hiro tetap melakukan perintah sang istri. Bermaksud bermanja-manja ria pada sang istri. Malah Sean yang mendapat nya. Hiro mendesah pelan sebelum berdiri dari posisi duduknya dan melangkah keluar kamar. Sean tidur di paha Dera.


"Bagaimana sekolah mu, sayang?" Tanya Dera mengusap pelan puncak kepala Sean.


Dera tau, semenjak ia melahirkan si kembar ia merasa jarang memperhatikan Sean. Ia nyaris lupa, jika Sean juga masih sangat membutuhkan perhatian nya. Mendengarkan beberapa cerita yang mungkin bagi ibu-ibu lain tak penting. Namun bagi Dera sangat penting, ia mau tau bagaimana perkembangan perasaan sang putra. Dengan siapa saja ia berteman. Kesulitan apa saja yang sang putra hadapi.


Karena menjadi seorang Ibu bukan hanya membesarkan, mendidik saja. Mereka juga membutuhkan perhatian dan dukungan dari keluarga. Terutama seorang Ibu, yang mengambil banyak peran penting dalam kehidupan anak-anak mereka. Banyak yang tak sadar, para orang tua hanya merasa cukup memberikan makan, minum, kebutuhan sekolah dan beberapa keinginan lainnya. Sangat malas mendengar curahan sang anak. Ada juga yang malah marah kala mendengar curahan sang anak atas kesalahan yang sang anak lakukan. Berbeda dengan Dera, ia ingin mendengar baik itu kesalahan yang Sean lakukan seburuk apapun itu. Karena ia bisa memberikan nasehat dengan baik dan benar. Bukan langsung menghakimi, hingga membuat anak-anak cenderung menghindari ibu mereka. Lebih nyaman bercerita apapun pada teman sebaya atau orang lain. Yang terkadang tak semua nya akan memberikan nasehat baik atau kesalahan yang mereka lakukan.


"Sekolah seperti biasanya Mama. Tidak ada yang spesial. Tapi ada yang terasa kurang," ujar Sean pelan.


"Apa?"


"Aku dan teman-teman merindukan masakan Mama!"


Dera tersenyum lembut."Apa mau Mama buatkan makanan lagi, Hem?" tanya Dera lembut,"Lagipula Mama sekarang sudah lebih baik. Meski masih agak nyeri di bekas operasi. Setidaknya memasak bukan lah hal yang berat" lanjut Dera.


Sean terlihat berpikir. Terlihat dahinya mengerut halus. Dera terkekeh renyah, mengusap pelan dahi Sean.


"Hei! Hei! Hei! Aku di lupakan. Padahal aku yang lebih dahulu harusnya di maja!!" Kesal Hiro melangkah lebar mendekati tempat tidur.


Sean langsung bangkit memeluk Dera. Menghalangi sang ayah, Dera hanya tertawa kecil. Sudah mulai lagi kegilaan ayah dan anak ini. Andaikan Vian juga merasakan kehangatan, perhatian dan kebahagiaan yang sama alangkah baiknya.


.


.


.


.


Bersambung....


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???