Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 10



Mohon Like nya Sebelum baca ya All^^



.


.


.


.


Burung-burung bersenandung di pagi hari yang begitu dingin, semerbak bau embun menyeruak memasuki paru-paru. Penolakan yang sempat terjadi kini berubah menjadi sesuatu yang disesalkan. Melihat betapa cantiknya pemandangan yang di sajikan untuk netra indah para manusia.



"Bagaimana?" tanya Hiro yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang tubuh Dera.


Gadis itu membalik tubuhnya, menengadah guna menatap wajah tampan dengan kesan dingin itu. "Indah!" seru Dera.


Hiro tidak mengeluarkan ekspresi apapun, lelaki itu hanya menatap lambat ekspresi wajah gadis yang menengadah menatap wajah tampannya. Tangan putih pucat terangkat. Menyentuh pipi kanan Dera dengan gerakan lembut.


"Kau suka?" tanya Hiro begitu saja.


"Iya."


"Kau mau tinggal di sini bersamaku?"


Diam. Jepang memang menawarkan banyak keindahan alamnya, empat musim yang akan sili berganti menyapa. Dengan daya tarik tersendiri banyak orang-orang mengidam-idamkan bisa tinggal dan menetap di negara Sakura ini. Namun, bagi Dera seindah-indahnya negara lain. Tidak ada yang dapat menandingi ke indahan negaranya.


Indonesia memiliki banyak keindahan, meski tanpa empat musim. Dua musim saja sudah sangat lebih dari kata cukup. Indonesia adalah surganya dunia, di mana kau akan menemukan banyaknya pulau-pulau yang kaya akan keindahan alam. Kekayaan hasil lautnya. Melebihi keindahan pulau Hawai. Kaya akan tambang yang tersembunyi, tidak seluruh tanah menyimpan kekayaan. Tidak seluruh tanah di dunia ini mengandung minyak dan emas. Namun, itu janjikan oleh Indonesia limpahan minyak bumi dan kekayaan emas.


Jika ada yang bilang Indonesia negara miskin. Maka mereka salah besar dan beromong kosong. Katakan padanya! Indonesia adalah Negara yang kaya. Hanya penduduknya saja yang tak tahu cara mengolah kekayaan yang diberikan, hingga negara Indonesia dikatakan miskin. Dengan peringkat terendah, meski tak sampai semiskin India. Tanyakan apakah negara mereka menyimpan minyak dan batu bara? Tanyakan apakah tanah mereka menyimpan emas? Jawaban pasti tidak. Karena Indonesia lah megera paling kaya.


"Kau tak mau?" tanya Hiro pelan.


Dera tersadar, ia tersenyum lembut. "Bolehkah aku jujur?" tanya Dera takut-takut.


Tangan Hiro diturunkan dari kegiatan mengelus pipi chubby Dera, kepalanya mengangguk pelan. Pertanda jika ia memperbolehkan Dera berkata jujur.


"Jepang memang Indah. Sangat Indah, hanya saja banyak hal yang tak bisa aku sesuaikan. Aku terbiasa hidup di daerah yang panas. Dan di sini lebih banyak musim dinginnya. Lidahku tak bisa memakan makanan yang dimakan oleh warga Jepang. Aku lebih suka makan makanan khas Indonesia dari pada makan ala Jepang ataupun luar negeri. Dan aku menyukai aroma yang keluar dari tanah kelahiranku," papar Dera mengingat semua yang ia sebutkan.


Dari empat musim hanya musim panas saja yang tidak merasakan udara menusuk. Musim Semi, musim gugur, sampai musim dingin. Semuanya membekukan tulang. Dan Dera tak bersahabat dengan dingin. Jangankan dingin oleh alam. Merasakan AC yang menyala saja mampu membekukannya. Bagi Dera lebih baik kipas angin dari pada AC. Terkesan kampungan memang! Soal makanan, Dera lebih suka rendang, ketoprak, bakso, dan juga soto. Daripada harus makan sushi, pizza, hotdog, spaghetti, dan juga Steak. Karena makan luar negeri bukanlah rasa yang pas di lidahnya yang kampungan.


Hiro diam tak menyahut apa yang dipaparkan oleh Dera, lelaki berdarah Jepang itu terlihat berpikir. Dera menahan napas, ia takut jika kepalanya akan berpindah tempat. Terjatuh pada tumbukan kelopak bunga Sakura yang berguguran di bawah sana.


"Tuan!" seru Dera dengan nada pecah. Bukan pecah lantaran dinginnya udara hingga lidahnya terasa kelu dan beku. Namun dikarena kan ketakutannya pada kemarahan Hiro.


"Jika aku tinggal di Indonesia. Maukah kau tetap tinggal di sisiku?"


Beberapa kali kelopak mata Dera berkedip cepat, Dera tak mengerti kemana arah perkataan Hiro. Apakah bos Yakuza ini memintanya menjadi peliharaan seumuran hidupnya hingga ia tak bisa menikah dengan siapapun, atau yang baru saja Hiro Yamato katakan adalah meminta Dera tinggal di sisinya menjadi seseorang yang lebih dari pada binatang peliharaan? Menjadi seorang Istri———mungkin?!


Tunggu! Bagian kedua sepertinya tidak, Dera lebih menarik garis opsi pertama. Itu berarti impiannya menikah dengan dokter Bian tinggal harapan bukan?


"Tua——"


"Bos! Maaf menganggu. Kasino di Osaka mendapatkan masalah dengan beberapa bandit kecil!" seruan dengan bahasa Jepang di belakang tubuhnya membuat laju perkataan Dera terhenti.


Hiro membalik kan tubuhnya, Dera mengintip ekspresi yang keluar dari wajah Hiro. Nihil! Ia tidak dapat melihat ekspresi marah atau pun kesal dari wajah Hiro. Lelaki itu memasang wajah biasa. Datar dan dingin, yang selalu ia tunjukan.


"Aku akan kembali beberapa jam lagi. Sebaiknya kau masuk kembali ke rumah. Dan jika ingin keluar melihat pemandangan. Kau bisa mengajak Clara dan membawa beberapa orang," tutur Hiro sebelum membawa langkah kakinya menuju arah barat di tanah luas empat hektar dengan rumah yang begitu besar.


Dera hanya bisa menatap punggung belakang Hiro, lelaki itu selalu membuat Dera mati kutu. Tidak bisa di


bantah, ataupun di lawan. Mengiyakan seluruh perkataan Hiro, adalah sebuah kewajiban. Jika masih ingin bernapas dengan normal.


...***...


"Mau ini?" tanya sang lelaki menunjukan satu persatu perhiasan mahal.


Dera menggeleng keras. Dahi sang lelaki berkerut halus. Apa yang di tujukan kurang mahal harganya? Setidaknya itulah yang berada di otak lelaki itu kini.


"Pelayan bawakan yang paling mahal dan yang baru," titah Kevin dengan arogan.


Bibir Dera mencabik pelayan perhiasan terlihat langsung bergerak. Mereka sangat tahu siapa lelaki yang berada di tokoh mereka. Lelaki yang begitu kaya dan hebat. Kevin Zhao, lelaki mempesona seorang CEO perusahaan China.


"Tidak. Aku tidak mau perhiasan," kesal Dera.


"Lalu?" tanyanya dengan nada aneh. "Apa kau mau aku belikan tas atau baju," lanjutnya.


Dera berdecak kesal. Ia menarik tangan Kevin keluar dari tokoh perhiasan. Jujur saja, ia pikir menerima tawaran kabur dari Kevin akan menyenangkan. Tapi ini apa? Lelaki ini malah menawarkan perhiasan padanya. Kevin melipat kedua tangannya di bawah dada, kala berhenti dari tarikan Dera. Ia sengaja membawa kabur gadis di depannya ini. Guna memberikan pelajaran pada Hiro, ia benci lelaki itu. Rival sejatinya. Membuat Hiro kalang kabut adalah hal langka bukan? Bahkan saat berada di Kampus Hiro tak pernah bisa ia kalahkan.


Wajah dingin dan datar selalu bertahta angkuh di wajah tampan Hiro, sangat sulit membuat Hiro menampilkan ekspresi lain selain dua ekspresi itu. Namun, satu bulan yang lalu Hiro menampilkan ekspresi lain, yaitu ekspresi marah yang menakjubkan bagi Kevin. Jadi, membawa gadis ini kabur besarannya pasti akan membuat Hiro gila.


"Jangan pasang wajah seperti itu Tuan! Itu benar-benar memuakkan. Aku tidak akan terpesona melihat wajah itu," tutur Dera dengan santainya.


Mata Kevin terbelalak mendengar perkataan Dera. Sudah kedua kalinya, gadis di depannya ini berkata seperti itu. Apakah pesona seorang CEO sudah tak lagi digilai para gadis? Sebelum Kevin menemukan jawabannya. Dera menarik tangan Kevin menuju eskalator. Keduanya naik ke lantai bermain. Kevin tak bersuara, suara keras mulai menyapa gendang telinganya. Dera terlihat Semangat membawanya ke arah pengisian kartu. Dengan kode mata Dera meminta Kevin membelikannya kartu bermain.


"Apa?" tanya Kevin yang tak peka.


"Belikan kartu untuk bermain. Aku lebih suka bermain daripada perhiasan harga selangit itu," tutur Dera dengan raut santai.


Kevin mendesah sebelum berbincang dan menyodorkan kartu ATM-nya pada sang pegawai. Bisik-bisik lirih dapat ia dengar, gadis Jepang terlihat terpesona dengan ketampanan Kevin. Lelaki China itu langsung berdesis sinis kala tangan Dera menarik kartu dan melangkah menuju tempat permainan.


"Baik," sahut Kevin tak kalah semangat.


Keduanya bermain hampir seluruh permainan, gelak tawa lepas terlihat jelas di wajah keduanya. Hingga memakan waktu lebih dari empat jam hanya untuk sebuah permainan, sampai akhirnya kekalahan di tangan Kevin. Tiket yang diperoleh oleh Kevin tak sebanding dengan tiket Dera.


"Silakan pilih hadiah yang mau ditukar," ucap gadis cantik dengan logat yang lucu bagi Dera.


Tanpa suara Dera menunjuk dua boneka. Sebelum di berikan pada Kevin yang cemberut.


"Jangan cemberut seperti itu. Kau akan terlihat jelek," goda Dera dengan senyum lembut.



Kevin melipat kedua tangannya di bawah dada, kala berhenti dari tarikan Dera. Ia sengaja membawa kabur gadis di depannya ini. Guna memberikan pelajaran pada Hiro. Ia benci lelaki itu. Rival sejatinya. Membuat Hiro kalang kabut adalah hal langka bukan? Bahkan saat berada di Kampus Hiro tak pernah bisa ia kalahkan.


Wajah dingin dan datar selalu bertahta angkuh di wajah tampan Hiro. Sangat sulit membuat Hiro menampilkan ekspresi lain selain dua ekspresi itu. Namun, satu bulan yang lalu Hiro menampilkan ekspresi lain. Yaitu ekspresi marah yang menakjubkan bagi Kevin. Jadi, membawa gadis ini kabur besarannya pasti akan membuat Hiro gila.


"Jangan pasang wajah seperti itu Tuan! Itu benar-benar memuakkan. Aku tidak akan terpesona melihat wajah itu!" tutur Dera dengan santainya.


Mata Kevin terbelalak mendengar perkataan Dera. Sudah ke dua kalinya, gadis di depannya ini berkata seperti itu. Apakah pesona seorang CEO sudah tak lagi di gilai para gadis?


Sebelum Kevin menemukan jawaban nya. Dera menarik tangan Kevin menuju eskalator. Ke duanya naik ke lantai bermain. Kevin tak bersuara, suara keras mulai menyapa gendang telinga nya.


Dera terlihat Semangat membawanya ke arah pengisian kartu. Dengan kode mata Dera meminta Kevin membelikan nya kartu bermain.


"Apa?" tanya Kevin yang tak peka.


"Belikan kartu untuk bermain. Aku lebih suka bermain dari pada perhiasan harga selangit itu!" tutur Dera dengan raut santai.


Kevin mendesah sebelum berbincang dan menyodorkan kartu ATM nya pada sang pegawai. Bisik-bisik lirih dapat ia dengar. Gadis Jepang terlihat terpesona dengan ketampanan Kevin. Lelaki China itu langsung berdesis sinis kala tangan Dera menarik kartu dan melangkah menuju tempat permainan.


"Mari bermain. Kita lihat siapa yang kalah akan mentraktir yang menang mau apapun!" tawar Dera dengan semangat.


"Baik!" sanggup Kevin tak kalah semangat.


Ke duanya bermain hampir seluruh permainan. Gelak tawa lepas terlihat jelas di wajah ke duanya. Hingga memakan waktu lebih dari empat jam hanya untuk sebuah permainan. Sampai akhirnya kekalahan di tangan Kevin. Tiket yang di peroleh oleh Kevin tak sebanding dengan tiket Dera.


"Silahkan pilih hadiah yang mau di tukar." Seru gadis cantik dengan logat yang lucu bagi Dera.


Tanpa suara Dera menunjuk dua boneka. Sebelum di berikan pada Kevin yang cemberut.


"Jangan cemberut seperti itu. Kau akan terlihat jelek!" Goda Dera dengan senyum lembut.



Dera melangkah lebih dahulu. Lelaki tampan itu menatap ke dua boneka yang di berikan padanya tersenyum lebar. Menatap gemas pada boneka.


"Hei! Ayo cepat! Jangan diam di sana. Pulangkan aku, kalau tidak mau mati di tangan Tuan Yamato," teriak Dera yang telah berada lima langkah di depan Kevin.


Kevin mendesah kasar sebelum melangkahkan mendekati Dera. Keduanya bercanda gurau. Tanpa Kevin sadari, lelaki itu merasa ada kenyamanan yang di berikan oleh gadis Indonesia itu.


...****...


BUG!


BUG!


BUG!


"Tuan!" Seru Dera dengan tangan menggawang.


Kevin terlihat babak belur wajah yang biasanya dingin dan datar terlihat menyeramkan. Membuat Dera ketakutan. Tubuhnya dihalangi oleh Clara, dan Yeko. Mereka berdua di tangkap kala sampai di parkir bawah tanah mal Osaka. Mungkin lebih tepatnya, Kevin lah yang ditangkap. Karena lelaki itu bermain-main dengan Hiro. Kevin tidak mengerang, meski tubuhnya terasa hancur ia lebih memilih diam dari pada mengerang. Pantang bagi Kevin menujukan ketidak berdayaannya.


"Mati kau!" Teriak Hiro lagi dengan tendangan di perut.


"Tuan!" Teriak Dera keras dengan rontaan. Dera merasa bersalah pada Kevin. Meskipun lelaki itu menyebalkan dan arogan. Namun, Kevin lelaki yang baik di mata Dera.


"Clara! Yeko! Tolong lepaskan aku. Tuan Zhao bisa mati di tangan Tuan," pinta Dera mengiba.


Clara memalingkan wajahnya. Sedangkan Yeko, lelaki itu hanya diam tanpa kata. Manik mata coklat Dera bergetar kala Hiro meraih Katana dari pinggangnya. Ujung samurai Jepang itu mengkilat dan tipis. Memperlihatkan betapa tajamnya Katana tersebut.


"Sial!" desis Dera. Kevin terlihat tak lagi berkutik.


Entah keberanian dari mana Dera mundur dan meraih Katana di pinggang Yeko. Meletakan benda berbahaya itu ke lehernya. Menekannya, Clara dan Yeko langsung terbelalak.


"Jika Tuan menusuk katana itu ke perutnya. Maka Katana ini akan memutuskan leherku," teriak Dera lantang membuat Hiro membulatkan matanya.


Meski takut Dera semakin menekan menarik pelan katana itu. Membuat lehernya tergores, darah segar mengalir begitu saja.


"Jangan," teriak Hiro keras dengan tangan mengawang.


"Bawa dia keluar dan jangan bunuh dia," titah Dera dengan suara keras.


Hiro menutup kedua kelopak matanya. Sebelum suaranya menggelegar. "Bawa dia keluar dari sini. Antarkan dia ke rumah sakit," titah Hiro lantang. Hiro kembali membuka kedua matanya.


Beberapa anak buah langsung bergerak. Sedangkan Dera masih menatap awas pada Hiro dan anak buah Hiro. Meski sebenarnya ia takut mati. Tapi apa boleh buat. Ia tak ingin ada yang mati hanya karena kesalahannya.


————————————————


Mohon Like dan Komentar nya ya all...


dan terimakasih bagi yang udah baca dan Memberikan dukungan nya^^