
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aroma makanan menyeruak masuk, dan menyebar keberbagai penjuru ruangan, spatula bergesekan dengan permukaan wajan membawa kegaduhan di pagi hari. Gadis itu membingkai senyum paling indah di pagi hari kala masakan terakhir telah matang. Dengan telaten, Dera menuangkan tumis sayur kangkung ke atas mangkok. Di atas meja makan sudah terhidang ayam balado dicampur tempe, ikan bakar, dan yang terakhir diletakan adalah tumis kangkung.
"Akhirnya, selesai!" seru Dera dengan tersenyum lebar.
Derap langkah kaki menuju ruang makan membawa garis senyum semakin melebar, lelaki gagah itu terlihat semringah. Kala melihat beberapa makanan terhidang di atas meja, ada rasa hangat di dalam dadanya. Setelah pisah rumah dengan sang ibu, Bian sangat jarang bisa memakan masakan rumah. Selalu saja masakan yang siap saji. Namun, beberapa hari ini ia bisa makan enak tentunya dengan tangan gadis yang dicintai. Ah! Bian Winata merasa tak sabar mempersunting Dera.
"Wah! Aromanya benar-benar mampu membuat perutku demo, De!" Bian berseru sembari menarik kursi. Ia tampak tak kuat menahan godaan.
Dera hanya terkekeh pelan tanpa harus diminta ataupun diperintahkan, Dera menyendok nasi meletakan pada piring di depan Bian. Begitu juga dengan lauk pauk sebelum ia duduk di samping Bian, ikut sarapan pagi. Yang sudah menjadi rutinitasnya selama tiga hari lebih.
"Hem! Selalu enak," puji Bian. Kembali lagi mengunyah makan di dalam mulut.
"Pelan-pelan saja Kak! Jangan terburu-buru. Tidak akan ada yang mengambil makanan Kakak. Dan aku juga sudah membungkus bekal untuk Kakak bawa ke Puskesmas," ujar Dera memperhatikan bagaimana rakusnya dokter yang menjadi incaran banyak gadis itu.
Dera baru sadar, ada sisi manis pada Bian. Selain lelaki itu terlihat begitu dewasa dan tenang. Bian juga bisa terlihat tidak memperdulikan imejnya, ia terlihat nyaman lebih terlihat apa adanya.
"Aku tahu, hanya saja aku merasa napsu makanku agak menakutkan kalau memakan makanan buatanmu. Seakan tidak mau berhenti," puji Bian sekali lagi terdengar, setelah menelan makanan yang tadinya ia kunyah.
Betapa menyenangkannya mendengar perkataan pujian sederhana namun, terasa benar-benar tulus.
"Ah! Baiklah! Baiklah. Aku percaya," ujar Dera tersenyum lucu.
Manik matanya terlihat lelah kala memperhatikan layar bersama Yeko. Dari semalam, ia dan Yeko tak henti-hentinya memeriksa cctv. Memantau di mana dan siapa yang bersama Dera. Sedangkan Clara, gadis itu mendapat tugas di luar. Menghandle pembentukan mafia yang baru. Jika saja tidak ada masalah, maka Hiro pastinya yang menghandle pembukaan kelompok besar itu.
"Sial!" Hiro mengusap wajahnya gusar.
"Istirahatlah Bos. Kita pasti menemukan Nona Dera secepatnya." Yeko berkata di sela kegiatan tangan yang tak beranjak dari mouse komputer.
"Tidak. Sebelum kita menemukan titik terang. Maka aku tidak akan pernah istirahat," bantah Hiro kembali menegakan tubuhnya.
Sedangkan anak buah Hiro hanya menatap Hiro dengan pandang beragam. Sebenarnya, tanpa lelaki dingin itu ikut campur dalam memeriksa cctv. Mereka pasti akan menemukan nya. Karena rasa yang besar pada gadis itu membuat sang Bos menjadi bodoh. Ia bahkan terjun sendiri memeriksa ini dan itu. Tidak makan berhari-hari.
...***...
Aura ruangan tamu terasa begitu tak bersahabat, dua orang gadis cantik berbeda usia melihat gadis berambut sebahu itu dengan pandangan sinis dan merendahkan. Sedangkan gadis itu hanya bisa menatap biasa keduanya. Meskipun hatinya merasa tidak enak terutama pada wanita yang mengaku sebagai kekasih sekaligus calon istri dari lelaki yang ia cintai.
"Anda lihat bukan? Jika dibandingkan dengan Anda Kakak Luna begitu sempurna," tutur gadis remaja itu dengan nada sinis.
Benar! Wanita yang tua beberapa tahun darinya itu memang cantik. Tubuh profesional, wajah oval dibingkai dengan dagu lancip, mata hitam legam, hidung bangir, bibir tebal seksi, mata bulat, dipercantik dengan bulu mata lentik. Keturunan Arab memang sangat cantik. Dera mengulum senyum. Wah! Dera tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa di kehidupan ini dia dihadapkan dengan dua wanita yang begitu cantik. Yang begitu lucu menurut Dera adalah kedua gadis itu menganggap dirinya adalah saingan. Oh, ayolah! Dera tak pernah bisa bersaing dengan mereka. Baik dari wajah ataupun kekayaan. Lahir dari keluarga petani dan Ibu rumah tangga. Sudah membawa kata syukur di hati Dera. Setidaknya, kedua orang tuanya masih hidup meski tidak memberikan ia kehidupan yang berlimpah dengan kekayaan. Namun, diganti dengan kasih sayang yang berlimpah.
Meski ia tidak dalam kategori cantik. Ia masih mensyukurinya, karena Tuhan tidak membuat ia lahir tanpa mata, telinga, atau hidung. Ia lahir tanpa cacat, bukankah itu adalah anugrah yang indah? Jika Tuhan memberikan kecantikan itu adalah nilai plus saja. Karena cantik paras belum tentu baik. Dan cantik paras belum tetap tersegel dengan baik sampai menikah. Upz! Yang terakhir itu abaikan saja. Dera mengulum senyum. Membuat dahi Keyra berlipat tipis. Sedangkan Luna hanya menatap dingin.
"Benar. Adik Key sungguh sangat benar. Aku tidak sebanding dengan Nona Luna yang begitu cantik dan sempurna," ujar Dera membuat senyum bangga tercetak jelas di wajah Luna. Dan senyum kemenangan membingkai wajah Keyra.
"Lalu?" ujar Keyra merasa di atas angin.
"Namun, soal jodoh bukanlah soal siapa yang cantik, dan menarik Key! Itu takdir Ilahi. Jika Tuhan berkehendak, maka Kak Bi akan menikah denganku. Jika tidak maka tidak akan terjadi. Dan belum tentu juga Nona Luna akan menikah dengan kakakmu. Karena takdir bukan kita yang atur Key," tutur Dera dengan lembut.
Sontak saja Keyra dan Luna melongo mendengar jawaban Dera. Jawaban diberikan oleh Dera sama sekali tidak merendahkan atau pun menyinggung. Namun, ada sisi di hati keduanya merasa tidak terima.
"Siapa bilang begitu?" tanya Luna dengan angkuh. "Aku dan Bi akan menikah. Karena ia mencintaiku hubungan aku dengan Bian hanya tergoncang saja. Dan kau hanya pelampiasan saja, Nona! Jangan terlalu berharap. Aku mengatakan ini demi ke baikanmu," lanjutnya sebelum dengan menunjuk Dera dengan keangkuhan pendapatnya.
Dera kembali tersenyum gadis ini memang tidak pernah ambil pusing. Dera bahkan pernah berhadapan dengan orang yang begitu mengerikan. Bahkan jauh sebelum Keyra maupun Luna. Hiro dan Mirabel, adalah dua orang yang begitu menakutkan di mata Dera. Keduanya dapat melakukan apapun, untuk mendapatkan tujuan mereka. Dan yang paling membuat Dera takut adalah, di mana saat Mirabel hampir membuat ia kehilangan harta paling berharganya. Sejelek-jelek apapun Dera, mempertahankan keperawanan adalah harga mati tidak bisa di ganggu gugat. Sebelum menikah, ia tidak akan pernah mau bermain pada hal satu itu. Karena penting bagi seorang gadis menjaganya sebelum berubah menjadi seorang wanita! Dan bagi Dera lebih baik mati daripada kehilangan itu.
"Jika aku hanya pelampiasan saja. Aku tidak apa-apa, Nona. Karena seseorang butuh tempat untuk mengobati luka. Aku malah senang, karena menjadi tempat persinggahan untuk mengobati luka dari lelaki yang aku cintai," balas Dera yang mampu membuat kepala Luna berasap.
"Ck! Menjijikan," desis Keyra.
Meski hati Dera terluka kala kata hinaan dilemparkan padanya. Sebagai seorang gadis yang lebih tua dari Keyra. Ia mencoba bersikap dewasa dengan tidak memaki.
"Kenapa? Kau marah aku menghinamu?" tanya Keyra yang tampak perubahan air wajah Dera, meski terkesan tenang namun, ada yang berubah.
Dera tak menjawab, ia tak munafik jika ia merasa marah. Dan tidak bisa mengatakan iya ataupun tidak.
"Jika kau merasa tidak menjijikan. Maka keluar dari rumah kakakku. Bukankah kau bilang Tuhan yang menentukan takdir. Jadi, kita bisa melihat setelah kau keluar dari rumah dan kehidupan kakakku. Apakah kau masih akan bersamanya?" Keyra dengan senyum penuh kelicikan.