
Jangan Lupa Like, Vote dan Komentar nya ya all.. Maaf jika jarang update. 🙏☺️😅😅😅
.
.
.
Kuas menari bersama cat di atas kanvas putih bersih yang kini sedikit demi sedikit telah berubah warna. Manik mata indah seakan tak mau lepas dari torehan noda tarian tangan lembut nya. Hembusan nafas kasar dari mulut menjadi penutup irama jemari yang menari. Selalu indah, setidaknya itulah yang orang-orang akan pikir kan kala melihat lukisan yang telah jadi. Derap langkah kaki menyentuh rungu sang wanita berambut coklat terang. Sang pemilik tubuh memilih acuh akan nada yang mengalun di antara deru napas stabil miliknya.
"Apa nama lukisan indah ini, Bu?" tanya suara lembut bak semilir angin yang bersedia bersama angin pagi.
Kepala Nomi tidak menoleh ke samping. Di mana tubuh ramping berdiri di samping kursi singel yang tengah wanita cantik ini duduki. Senyum setipis kertas di tampilkan dengan apik. Bibir tipis tanpa pewarna bibir ataupun pelembab bibir itu terbuka pelan.
"Bunga yang merindu," jawab Nomi dengan nada lirih.
Tindihan tangan di ke dua bahu membawa kepala wanita cantik ini terangkat. Menatap wajah cantik anak gadis nya.
"Ibu merindukan nya lagi?" tanyanya yang sudah pasti tepat sasaran tanpa harus menjawab,"Temui lah Kakak. Katakan padanya, siapa Ibu sebenarnya. Jangan menjadi pecundang akan sebuah kisah Bu!" lanjut nya mengingat kan.
Entah sudah beberapa kali gadis satu Ibu dengan Mafia Yakuza ini memberikan saran pada wanita berdarah Jepang ini. Nomi adalah wanita yang tangguh. Banyak rasa yang tersembunyi di balik raut wajah datar dengan bibir terkatup rapat ini. Dan gadis cantik ini tau dengan sangat akan hal itu. Perjalanan sang Ibu, tak lah mudah. Banyak yang terjadi di sini. Dan wanita yang telah melahirkan dua orang anak ini. Harus bungkam untuk berbaik semuanya.
"Sudah tidak perlu di bicarakan."
Pada akhirnya Nomi hanya akan memilih menjadi pecundang hanya untuk melindungi orang-orang yang berharga baginya.
Di tempat yang berbeda. Layar monitor gelap menjadi lebih menarik kala gumpalan bernyawa menjadi pandangan yang begitu membahagiakan. Oh! Lihat lah. Bibir Hiro tak pernah berhenti tersenyum lebar hanya karena gumpalan kecil itu sebentar lagi akan memiliki detak yang kencang sebelum berubah bentuk lagi. Genggaman penuh kasih sayang tak pernah lepas dari ke duanya.
"Janin nya terlihat sehat, Tuan!" Seru Dokter wanita kala menarik alat dari atas permukaan perut yang masih agak rata. Mengingat tubuh kecil Dera yang memang tidak terlalu besar.
Hiro membantu Dera membenahi baju nya. Sebelum membantu istri tercinta nya duduk dan turun dari ranjang. Ke duanya mengikuti Dokter Dina ke ruangan sampai. Tanpa mempersilahkan ke dua calon orang tua itu duduk di kuris. Ke duanya tentu sudah terbiasa duduk terlebih dahulu. Mengikuti Dokter Dina yang kini terlihat mencatat beberapa vitamin yang akan di konsumsi oleh Dera ke depannya.
***
Sesekali tisu mengusap sudut bibir tipis Dera. Wanita yang tengah hamil itu terlihat begitu lahap memakan Sate Ayam. Sedangkan Hiro, Bos Mafia itu terlihat berbinar-binar melihat kerakusan Dera. Manik mata coklat bening Dera menatap layar lebar yang kini tengah mempertontonkan bayi-bayi mungil nan imut.
"Bukan kah bayi itu terlihat begitu imut, Kak?" Tanya Dera menghentikan pergerakan tusuk sate yang ingin masukan ke dalam mulut. Kala kepala nya menoleh ke arah lelaki berwajah animasi yang duduk tepat di samping Dera.
"Iya. Imut," jawab Hiro seadanya.
"Kakak suka anak perempuan atau laki-laki?"
"Aku suka ke duanya. Yang terpenting mereka sehat," jawab Hiro lembut.
Dera mengulas senyum. Hiro memang cenderung lembut padanya. Meski awal pertemuan lelaki ini agak menakutkan dan juga begitu menyeramkan. Masih ingat dengan jelas. Kala pertemuan ke duanya. Saat kepala menggelinding sampai ke Ibu jari kakinya. Kegilaan berlanjut kala Hiro memotong Buaya Amazon yang begitu besar di depan matanya. Ah—benar. Itu adalah kenangan yang menakutkan.
Clara. Gadis itu menceritakan betapa malang hidup Hiro. Lelaki yang di bunuh saat pertama kali mereka bertemu adalah lelaki yang korup pada negara. Sedangkan Buaya besar yang di jadikan sepatu. Adalah makhluk yang menjadi mimpi buruk bagi Hiro kecil. Dimana di saat lelaki itu gagal, maka ia akan di kurung di kandang Predator itu semalaman. Membayangkan saja mampu membuat manusia manapun merinding.
Banyak rasa sakit yang lelaki tampan ini lalui. Rasa sakit yang tak pernah selesai. Banyak bekas luka yang menjadi saksi akan perjalanan hidup Hiro. Luka samar begitu besar di kakinya. Di karenakan gigitan Buaya besar itu. Menerima satu-dua timah panas bukanlah hal aneh. Suaminya ini menerima banyak timah panas yang hampir membawa nyawanya ikut melayang.
"Hei! Ada apa dengan mu? Apa ada yang salah? Atau apa ada yang sakit?" Tutur Hiro panik kata air mata Dera mengalir menatap nya dengan pandangan sendu."Atau aku salah bicara?" Lanjut nya menghapus lembut tetesan air mata yang mengalir di ke dua pipi Chubby Dera.
Dera meletakan tusuk sate di atas piring di depannya. Sebelum masuk ke dalam pelukan Hiro. Setelah beberapa saat ia melamun. Ibu hamil adalah wanita yang paling sensitif di dunia. Tidak ada angin atau hujan, mereka bisa saja menangis tanpa sebab. Namun, seperti nya berbeda dengan Dera. Wanita ini menangis kala mengingat kan masa lalu Hiro.
"Hei!" Seru Hiro dengan panik kala tangisan Dera bukan nya berhenti malah bertambah.
"A—ku...hiks..hiks.." Seruan pernyataan tak bisa di lanjutkan kala hatinya merasa nyeri.
"Maafkan aku jika jawaban aku membuatmu menangis, sayang!" Ujar Hiro dengan nada berat mengelus punggung belakang Dera.
Air mata membasahi kemeja hitam Hiro. Hiro tak tau bagaimana cara menangani wanita yang menangis. Seumur hidup, Dera adalah wanita pertama yang ia sentuh. Wanita pertama yang membuat Hiro memiliki komitmen dalam hubungan. Membawa kata yakin dalam hidupnya. Berjanji akan melindungi nya sampai akhir napas nya.
"Jangan menangis!" Cicit Hiro pada akhir kata panik. Raut wajahnya begitu lucu.
Dera mendorong pelan dada bidang Hiro. Mendongkrak dengan ke dua pipi yang basah. Tersenyum tipis. Ah! Raut suaminya membawa kata gemas ikut hadir. Seperti nya wajah Hiro lebih mengemaskan dan imut dari pada bayi-bayi yang ada di layar televisi yang tengah menonton ke duanya saat ini.
"Aku jadi ingin mencium mu!" Seru Dera dengan nada serak.
***
Deburan ombak menghempas karang terdengar kasar. Tubuh kekar yang tak lagi muda menghadap mentari yang terlihat turun perlahan. Meredup dengan warna oranye. Semilir angin senja membawa damai meresap ke dalam dada. Di samping nya berdiri lelaki gagah yang melakukan hal yang sama. Tidak ada kata yang keluar dari bibir ke duanya. Seakan diam, menjadi hal yang menyenangkan bagi ke duanya. Membiarkan sepi mengigit rasa yang tak bisa di jelaskan dengan kata.
"Kau mencintai istri temanmu, huh!" seru suara berat itu mencemooh.
Senyum miring di tebar. Mampu melumpuhkan angin senja, kala evil smile menyapa mereka. Wajah tampan itu begitu sempurna.
"Apa ada undang-undang melarang nya?" tuturnya balik bertanya dengan congkak.
Zeo menoleh. Di ikuti oleh Leo, pemuda ini juga melakukan hal yang sama. Ayah dan anak, yang memiliki kisah yang unik.
"Tidak ada. Namun dalam dunia gelap itu jelas begitu menjijikan, anak muda!"
"Tidak masalah. Terkadang rasa hadir tak selalu suci. Seperti tuan yang menikah wanita kala sudah menikah dengan sah dengan wanita lain. Tidak sebanding dengan aku. Yang hanya mencintai istri temanku," jawab Leo dengan seringai di akhir kata.
TBC....
vote+Like+Komen
di tunggu ☺️🙏🙏❤️❤️❤️