Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 8



Mohon Like dan Komentarnya, di akhir ya All..^^



.


.


.


.


.


"Kumpulkan semua orang," teriak Hiro keras.


Yeko langsung melaksanakan titah dari sang bos, sedangkan Clara bergetar ketakutan. Di bawah lantai tepat di kaki Hiro, mayat seorang gadis berambut pirang tergeletak penuh darah. Lantai marmer putih terlihat begitu menyeramkan.


Dari maid, penjaga rumah, sampai bodyguard dikumpulkan menjadi satu ruangan tengah, orang-orang susah payah hanya untuk meneguk air liurnya. Manik mata mereka semua bergetar melihat bagaimana salah seorang maid mati mengenaskan.


"Siapa yang membawanya masuk bekerja di rumah ini?" tanya Hiro dengan nada yang begitu berat.


Tidak ada yang berani menjawab Yeko terlihat bolak balik antara ruangan tengah dan juga ruangan bawah tanah. Sebelum teriakan membuat sang bos mafia berlari ke ruangan bawah tanah rumahnya.


"Bos! Kami sudah menemukan di mana Nona Dera disekap!" seru Martin sang ahli peretas.


"Segera siapkan orang-orang kita," titah Hiro dengan keras.


"Siap, Bos!" jawab Yeko dan Martin serentak.


Di lain tempat waktu yang bersamaan, hadis berambut sebahu itu mengerang keras. Kelopak matanya terbuka perlahan. Tertutup kembali, ia menggerjab beberapa kali. Netra coklat teduhnya terlihat memicing kala menerima cahaya yang masuk pada retina mata.


Awalnya terlihat samar, sebelum dapat melihat dengan jelas. Manik mata coklat hangat itu menyapu sekitar. Gudang kumuh terbangkalai. Dera menunduk melihat apa yang membelit kaki dan tubuhnya. Hampir saja makian keluar dari bibir ranum itu.


Kakinya d ikat sangat kuat begitu juga dengan tangannya, hanya saja bedanya mulutnya tidak diplester ataupun di sumpal dengan sapu tangan. Otaknya mulai mencoba merangkai ingatnya, malam itu ia tengah tidur nyenyak di tempat tidur. Sebelum Hiro ikut tidur di sampingnya merasa haus dan tidak ada air di kamarnya. Dera turun ke bawah, saat sampai di dapur, ia meletakan teko di atas meja. Setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi.


Derap langkah kaki nyaring membuat gadis berkulit sawo matang itu panik, sudah pasti ia diculik bukan? Hanya saja ia tak tahu apa motif dari penculikan. Jika meminta uang, orang itu pasti bodoh. Bagaimana bisa ia menculik untuk uang, Dera saja tak pegang uang sepeserpun.


KREAT!


Decitan pintu kayu tua menimbulkan kata gaduh kala dibuka, dua orang mendekati kursi di mana gadis itu terikat kuat. Dera memejamkan kedua matanya dengan merapalkan ribuan doa. Agar penculikan gila itu tidak melakukan hal aneh padanya sudah cukup Hiro saja melakukan hal aneh padanya. Menjadikannya binatang peliharaan yang begitu disayang, meski sebenarnya hati Dera kesal. Karena takut pada Hiro, ia hanya bisa pasrah dan menyerah.


"Apa benar dia yang menjadi gadis kesayangan Hiro?" tanya lelaki tua dengan mata satu. Menelisik wajah gadis yang ia tangkap dan sekap.


"Menurut informan kita benar dia, Bos!" jawab sang anak buah yang begitu meyakinkan.


Langkah kaki kembali terdengar. Lelaki tua berbau tembakau itu mengapit dagu Dera. Mencoba melihat dengan jelas.


"Wajahnya jelek," tuturnya sebelum menelengkan wajah Dera ke kanan dan ke kiri.


Dera memaki dengan semua isi kebun binatang. Ok! Dera tahu dia jelek namun, jangan terlalu memperjelasnya. Hatinya terluka, sudah jelek dibilang jelek, berarti sudah berapa persen kejelekannya. Karena sudah terlalu dijelaskan.


'Lelaki sialan! Beraninya dia menghina wajah sederhanaku! Aku tidak jelek tahu. Hanya saja sedang-sedang saja!'


Kata protes itu hanya bisa tertahan di hati dan tenggorokan, meski Hiro Yamato adalah lelaki yang dibenci oleh Dera. Setidaknya, lelaki itu tidak mengatainya jelek. Hanya panggilan kucing liar, kitty dan juga binatang peliharaan. Tidak sampai kekata jelek, kasihan sekali nasib Dera.


"Ya, Bos. Awalnya aku tidak percaya dengan informasi yang diberikan. Namun, setelah beberapa kali melihat bagaimana Tuan Yamato kalang kabut mencari gadis ini saat kabur. Saat itulah aku yakin, jika gadis ini begitu berarti baginya," jelas anak buah lelaki tua itu.


"Apa yang dilihat oleh Mafia gila itu. Jika benar ia mencintai gadis ini. Seperti nya matanya sudah katarak kalau begitu," tutur Gery sebelum tertawa lantang diikuti oleh anak buahnya.


Ingin rasanya Dera menangis saat ini, penghinaan yang tepat di depan mata hanya bisa ditelan mentah-mentah. Gery melepaskan jadi yang mengapit dagu Dera dengan perlahan.


Setelah bisnisnya dihancurkan oleh Hiro, Gery bertekad akan menghancurkan Hiro seperti apa yang pria berdarah dingin itu lakukan padanya. Namun, saat ini belum tepat Gery harus mengumpulkan banyak uang untuk bisa melawan Hiro. Setidaknya ia bisa menukar Dera dengan tambang emas.


"Siap Bos!" seru lelaki berwajah sangar itu.


Lelaki dengan gaya bak bajak laut itu keluar dari gudang, bunyi gaduh dan tebakan senjata api mampu membuat kedua gendang telinga pecah. Toto terperanjat, ia menatap Dera yang masih memejamkan mata lalu beralih ke luar. Suara teriakan dari Gery membuat ia kalang kabut dengan langkah cepat, Toto berlari keluar meninggalkan gudang.


Setidaknya ia harus melihat situasi terlebih dahulu. Kekacauan terjadi, banyak darah yang tumpah di rerumputan. Ia mengedepankan matanya mencari sang bos. Dengan cepat ia berlari mendekati bos yang hampir saja mendapatkan hadiah timah panas dari Hiro.


"Jangan biarkan siapa pun lepas! Jika mereka tidak bisa di ltangkap! Maka bunuh mereka!" seru Hiro dengan bahasa Jepang.


Teriakan kesakitan serta timah panas mulai terdengar, Hiro melangkah menuju gudang kumuh. Ia tak perlu bersusah payah, menangkap lelaki bau tanah itu. Yeko dapat diandalkan dalam hal ini.


Pintu kayu di buka dengan keras, membuat sebelah daun pintu reyot itu roboh. Dera terperanjat, kedua mata terbuka ia tak bisa pura-pura belum sadar lagi. Langkah kaki lebar Hiro membuat tubuhnya bergetar. Dera tak berani mengangkat wajahnya, gadis itu menangis ketakutan.


"Ja——jangan sakiti aku. Kasihanilah aku Pak! Aku tidak ada uang. Lagipula aku, kan tidak cantik, tidak seksi jadi aku mohon jangan apa-apa kan aku!" pinta Dera dengan tangis keras.


Hiro merasa tergelitik melihat bagaimana Dera menangis dan memohon.


"Jika dendam dengan lelaki gila itu. Silakan bunuh saja dia. Tolong bebaskan aku," lanjut Dera di sela tangisnya.


"Lelaki gila?" ulang Hiro dengan suara besarnya.


Bukannya berhenti menangis Dera semakin menangis sejadi-jadinya, ia kira yang datang adalah lelaki yang menculiknya. Setidaknya ia bisa lepas jika ia berkata seperti itu. Namun, siapa sangka berpikir keluar dari lubang buaya malah masuk ke lubang Singa.


'Mati saja kau hari ini Dera,' maki hati gadis itu, kala kata-kata yang di kontrakan tak mungkin bisa dirubah.


...***...


"Sudahlah. Ayo makan," bujuk Clara menyodorkan sesuap nasi ke depan mulut Dera.


Gadis itu menggeleng pelan, jujur saja tulangnya terasa begitu lemas. Untung saja Dera tidak mati di tangan Hiro, setelah ia mengatai lelaki itu gila. Beruntung! Sungguh gadis ini beruntung. Jika saja bukan Dera mungkin lidahnya sudah tak lagi di tempat.


"Aku tidak napsu," bantah Dera.


"Sedikit saja. Jika kau tidak makan. Maka kau akan mati bukan di tangan Bos. Tapi di tangan malaikat maut," kelakar Clara.


Dera memanyunkan bibirnya, ia masih menggeleng keras kala sendok berisi makanan disodorkan ke arah mulutnya.


"Aku tidak mau!"


"Sesuap saja," bujuk Clara lagi.


"Biar aku saja yang menyuapi kucing nakal ini!" seruan di ambang pintu membuat Clara menoleh.


Jika ditanya Dera, gadis itu terlihat semakin menggigil dan lemah. Derap langkah kaki Hiro terasa seperti langkah kaki malaikat mautnya.


"Keluarlah. Kucing nakal ini hanya akan mau di suapi oleh tuannya." Hiro bersuara mengambil alih piring dari tangan Clara.


"Baik Bos!" seru Clara sebelum melangkah keluar.


Dera menatap Clara dengan pandangan tak rela, ia tak ingin Clara meninggalkannya berdua dengan Hiro. Lelaki itu duduk dipinggir ranjang.


"Mau makan atau di makan?" tanya Hiro membuat Dera langsung membuka mulut.


Lebih baik ia makan dari pada dimakan, Ia masih ingin hidup. Mewujudkan impian besarnya menikah dengan Bian, dokter tampannya.


Bersambung....