Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 33



Mobil sport merah metalik memasuki pekarangan mewah milik Yamato. Lelaki tampan itu keluar dari dalam kemudi mobil. Menyerahkan kunci mobil miliknya pada salah satu anak buah Hiro. Langkah kakinya seringan kapas, wajah tampan itu terlihat dingin di penuhi oleh pesona yang begitu besar. Seorang wanita paruh baya membungkuk pelan pada salah satu kolega sang Majikan.


"Mohon maaf Tuan Zhang, tuan Yamato tidak di rumah saat ini. Apakah ada keperluan atau ada yang ingin di sampaikan," serunya begitu saja.


Leo melirik wanita itu sesaat. Sebelum netra hitam dingin itu menyapu perlahan ruangan tamu yang bersekat. Membatasi ruangan utama dengan ruangan tamu. Leo Zhang tau dengan pasti, jika Hiro tidak berada di Jakarta saat ini. Lelaki ini datang bukan untuk lelaki itu. Namun ingin melihat Dera, melihat istri dari saudara tirinya ini. Apakah ada yang di ketahui oleh Dera tentang keluarga nya. Atau wanita itu tidak mengetahui apa-apa. Tidak memiliki maksud yang buruk pada Dera. Namun setidaknya, ia tau perasaan itu. Perasaan kehilangan orang-orang berharga. Kehilangan dengan cara yang tak wajar. Kehilangan dengan rasa yang menakutkan. Leo ingin menyokong wanita kelahiran Padang itu. Ingin menjadi sosok yang penting untuk wanita itu.


Tunggu. Tolong tunggu dulu, apakah tadi Leo ingin menjadi sosok yang mampu menyokong Dera? Tidak bermaksud apa-apa? Sungguh lucu. Tidak tau bagaimana hati menciptakan sebuah rasa. Banyak orang-orang yang salah mengartikan sebuah rasa. Termasuk lelaki tampan ini. Ia mungkin berpikir tidak memiliki maksud apa-apa. Hanya ingin berbagi dengan wanita itu. Namun siapa sangka, tanpa kata sengaja, Leo Zhang memiliki maksud lain. Hatinya! Sungguh. Hatinya bermaksud ingin dekat dengan Istri dari saudara satu Ayahnya itu.


Ingin lebih dari sekedar teman. Mungkin! Tanpa tau jika hatinya menyimpan rasa kagum dan ingin menjadi sosok yang spesial di hati Dera. Meski tau, dan sangat sadar jika Dera sudah menjadi Nyonya Yamato. Secara Hukum dan Agama.


"Di mana De——Clara?" lidah itu hampir saja tergelincir karena terlalu licin. Dengan cepat ia menghentikan laju nama yang hampir ia sebutkan. Tanpa mau menjawab pertanyaan yang awalnya di lontar oleh kepala Maid Rumah besar itu.


Belum sempat bibir tua itu menjawab. Wanita cantik dengan kulit putih pucat itu telah berada di pintu pembatas, antara ruangan tamu dan ruangan pribadi. Ia berdiri dengan dahi berlipat.


"Ada apa mencari ku?" seruan keras itu membuat ke duanya menoleh ke arah Clara.


Wanita cantik memakai dress biru laut itu menatap lambat ke arah kolega sang Bos. Sebelum melangkah menuju ke arah ke duanya. Melihat Clara menghampiri mereka. Wanita paruh baya itu menunduk pelan pada ke duanya. Sebelum melenggang pergi, karena kewajiban nya telah usai.


"Ada yang ingin aku bahasa dengan Hiro. Namun karena Hiro tidak di sini aku mungkin bisa membahasnya dengan mu," bohong Leo dengan nada santai. Seolah-olah apa yang telah ia paparkan bukanlah ke bohongan. Darah Mafia memang begitu kental menyesatkan. Berbicara dengan lawan, bisa menipu tanpa ekspresi dan nada patah. Lelaki Zhang ini terlihat seperti biasanya. Seperti apa dia yang selama ini.


"Ah! Begitu. Kita bisa membicarakan nya di halaman belakang," ujar Clara setelah menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan. Di sini tidak ada Yeko, biasanya Yeko lah yang akan melakukan apapun. Saat Bos Yakuza tidak di tempat. Karena ke duanya akan sampai di Jakarta dua jam lagi. Mau tak mau Clara yang akan menangani apa yang di rasa penting.


***


Beberapa kali lelaki berkaca mata itu membenahi kaca mata yang membingkai wajah tampan nya. Sesekali tangan kekar itu bergerak lincah di atas kertas. Menuliskan resep obat yang harus di tebus oleh pasien nya. Senyum hangat tidak pernah surut di wajah letih nya. Beberapa kalimat menjadi pengakhiran pembicaraan antara Bian dan sang Pasien. Sebelum Pasien terakhir itu keluar dari ruangan prakteknya.


Lelaki Winata ini melepaskan kaca mata yang bertengger nyaman di hidung banggir nya. Memijat pelan pangkal hidung, sebelum mendesah kasar dari mulut. Pintu besar itu terbuka, perawat cantik itu tersenyum pada sang Dokter.


"Lelah, Dok?" seru Susan sekedar basa basi.


Dokter tampan yang bisanya di sapa dengan Bi itu hanya mengangguk pelan. Memejamkan ke dua matanya dengan perlahan. Menutupi manik mata hitam cerah hangat miliknya. Sebelum membuka kembali dengan perlahan. Punggung kokoh itu di sandarkan di sandaran kursi senyaman mungkin.


"Mungkin secepatnya tidak akan lelah lagi Dok. Kalau Dokter Bi menemukan wanita tempat untuk di ajak berumah tangga. Saat pulang ada yang menyambut dengan senyuman. Membuat rasa letih itu mengulang begitu saja Dok," goda Susan membuat garis kecil di wajah Bian terangkat tinggi.


"Ya. Saya maunya juga begitu. Namun sepertinya, belum terwujud." Ujar Bian melipat ke dua tangannya di depan dada.


Susan memasang Jaket tebal miliknya. Mengingat udara malam sangat buruk untuk tubuh nya. Ia tersenyum lembut, ia sudah mendengar cerita kisah cinta sang Dokter. Kalau dia berada di posisi Dokter tampan itu. Sudah Susan pecat adiknya itu, karena ikut campur dalam urusan yang seharusnya tidak ia ikuti. Beruntung jika adik Susan tidak segila dan seangkuh adik Bian.


"Aku doakan secepatnya ketemu, Dok!" tutur Susan dengan tulus.


"Aamiin! Terimakasih doanya, Su!" balas Bian lembut.


"Sama-sama Dok. Kalau begitu aku pulang duluan. Pacarku sudah menunggu di luar," pamit Susan dengan nada ceria.


"Ya. Pergi lah dulu," balas Bian pelan.


Gadis cantik itu langsung pergi setelah berpamitan. Tangan yang di depan dada di turun kan. Bian membuka laci meja kerjanya, meraih dompet kulit miliknya. Air wajahnya langsung berubah, manik matanya menyedu. Kehilangan Dera membuat hatinya resah. Di sisi lain, Bian ingin sekali marah pada adiknya. Namun mengingat adik nya adalah seorang wanita dan masih remaja. Ia hanya bisa menelan mentah-mentah kemurkaannya.


"Maafkan aku, De!" Seru Bian mengusap foto yang sengaja ia cetak.


Di lain tempat di waktu yang bersamaan wanita yang telah di rindukan setengah mati. Malah mengomel tak jelas pada lelaki berwajah dingin itu. Hiro hanya dapat mengulum senyum. Tidak ada kemarahan di wajah nya. Baru Lima belas menit dia sampai di Rumah besar. Setelah mengurus rumah sakit dan ruangan perawatan adik iparnya. Ia langsung bergerak untuk pulang.


Saat pulang ia mendapat kan banyak Omelan dari Dera. Istri nya itu sudah mulai berani padanya. Mengomel banyak hal, terutama karena Hiro tidak memberitahu kan jika ia pergi keluar kota. Tanpa membalas pesan dari dirinya.


"Baiklah. Aku tidak akan melakukan nya lagi. Aku salah, nanti jika ada urusan yang mendadak aku akan langsung memberikan kabar pada Istri cantik ku. Dan akan meneror mu dengan pesan." Ujar Hiro menarik pinggang Dera. Membuat wanita yang berdiri dengan ke dua tangan berada di ke dua sisi pinggang itu langsung jatuh di pangkuan Hiro.


Wajah kuning langsat itu langsung merona. Kemana larinya, kejengkelan yang sudah ia pendam seharian. Kata-kata yang ingin ia paparkan dengan amarah. Namun semua nya menguat bagaikan angin lalu. Hanya sepuluh menit saja Dera menyalurkan kejengkelan nya.


Bahu Dera memberat. Kala kepala sang Ketua Mafia itu jatuh di bahunya. Dengan perlahan Hiro menghirup kan aroma khas bunga mawar itu menguar. Memasuki Indra penciuman nya. Wajah tampan itu begitu lelah. Sungguh lelah.


"Aku senang mendapat omelan mu. Kau tau, De! Ibuku tak pernah melakukan hal-hal yang di lakukan oleh Para Ibu pada umumnya. Ia hanya akan diam melototi ku dengan mata tajam sebelum menyeret ku masuk ke dalam ruangan yang menakutkan," ujar Hiro dengan nada berat.


Dera diam. Wanita itu tidak menyahut. Ada rasa perih di hatinya kala mendengar perkataan lemah Hiro. Ia memang tidak tau seperti apa kehidupan yang di jalani oleh Hiro. Hingga bisa sekuat dan sebesar ini.


Tangan Dera terangkat dan mengusap kepala belakang Hiro dengan lembut. Memberikan rasa nyaman dan pejamman di mata Hiro. Apa jadinya jika lelaki Mafia besar ini kehilangan Dera?! Apakah ia masih sanggup untuk menjadi kuat dan juga hangat. Seperti saat ini. Tangan kasar itu tak lagi berlumuran darah. Hanya terbiasa menyentuh pena. Bukan lagi beda mematikan.